Ther Melian: Valadin Gaiden

Ok~ seperti yang udah saia janjiin pada post sebelumnya, berikut adalah cerpen ‘gaiden’ Valadin yang ditulis oleh seorang pembaca yaitu Elwin Xiao. Setelah proses editing dan approval oleh penulis aslinya maka cerpen ini pun tayang di sini ^o^

Saia suka cerpen ini, karena memberikan sebuah harapan bahwa tidak ada sesuatu yang benar-benar final di dunia ini. Even in the darkest place you can always find a light~

Saia harap kalian juga suka. Selamat membaca and have a nice weekend ^_~

Ther Melian – Valadin Gaiden

By Elwin Xiao

Sesuai janjiku ke penulis, aku membuat gaiden kisah Valadin ^_^ Maaf kalau terkesan aneh, ntah napa waktu habis baca bagian terakhir Ther Melian Genesis aku mendapat ilham beginian >.< Jadi silahkan dinikmati, maaf kalau jelek dan membuat image Valadin di ‘hati’ penulis dan pembaca lainnya (cie….) jadi rusak 😄

———————————————————————————————————

BEYOND THE LONELY DARKNESS AND ETERNAL LOVE

 

Di antara terangnya cahaya, sosok Vrey memudar dari pandangan Valadin. Gadis itu menjerit memanggil namanya, tapi Valadin justru tersenyum untuknya. “Jangan melihat ke belakang lagi, Vrey. Lihatlah ke depan. Hiduplah untuk meraih kebahagiaanmu,” kata Valadin.

Setelah itu sosok Vrey lenyap ditelan cahaya portal. Dan perlahan-lahan portal itupun meredup. Seluruh Rune yang digambar Valadin, yang sebelumnya bersinar terang, kini padam.

Satu-satunya sumber penerangan yang tersisa hanyalah api yang membakar Velith. Tapi tidak lama lagi api itu pun akan padam, tempat ini akan jadi gelap selamanya. Valadin menatap kobaran api kecil itu, lalu dia membuang muka kebawah sambil tersenyum kecut. “Kegelapan abadi,” ujarnya. “Mungkin memang cocok untukku.”

Tiba-tiba terdengar suara dari belakang Valadin “Kegelapan abadi? Apakah kau percaya pada keabadian?”

Valadin menoleh mencari sumber suara. “Siapa? Siapa disana?!” Tapi sejauh mata memandang dia sama sekali tidak melihat siapapun.

Velith? Pikir Valadin. Tidak, suaranya terlalu bijak dan halus untuk Velith yang angkuh. Selain itu yang barusan didengarnya tidak terdengar seperti suara pria maupun wanita. Valadin bahkan tidak bisa menentukan usia orang yang barusan berbicara padanya.

“Namaku tidak penting.” Sahut suara itu. Kali ini terdengar lebih dekat, dari arah samping Valadin.

Ia berbalik dan terkseiap mendapati sosok seseorang. Sosok itu bercahaya, Valadin tak bisa melihat wajahnya. Dari punggung sosok itu sepasang sayap yang seolah terbentuk dari cahaya mencuat keluar.

“Siapa kau ? Salah satu jiwa Bangsa Theia yang terkurung disini?” tanya Valadin.

Namun sosok itu mengabaikannya. “Aku bertanya, apa kau percaya keabadian?”

Valadin menatapnya dengan ragu, tapi ia akhirnya menjawab.  “Mungkin, karena pada dasarnya kami bangsa Elvar bisa hidup lama, jadi…”

Sosok itu menggelengkan kepalanya perlahan. “Keabadian dan umur panjang adalah hal yang berbeda. Bagaikan awal dan akhir.” Dia membuka telapak tangan kirinya dan terciptalah sebuah kobaran api, lalu membuka telapak tangan kanannya dan memperlihatkan sebuah kristal es. “Api ini adalah awal, sedangkan es ini adalah akhir.”

Valadin semakin bingung. Dia  memperhatikan benda-benda di telapak tangan sosok misterius itu. Setelah beberapa saat dia menyadari api itu terus berkobar, sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan padam bahkan semakin terang. Tapi kristal esnya perlahan namun pasti meleleh.

Valadin mendengar sosok itu tertawa kecil. “Sepertinya kau mengerti, ya? Keabadian adalah sesuatu yang kekal, mereka tidak akan terkikis oleh waktu. Sedangkan umur panjang adalah sesuatu yang akan habis dimakan oleh waktu.” Sosok itu mengatupkan kedua tangannya, meleburkan api dan es dalam desisan halus. Saat ia membuka tangannya lagi dua benda itu menghilang.

“Kenapa menanyakan itu padaku?” Valadin menatapnya dengan heran.

“Karena perkataanmu tadi. Kau bilang ‘kegelapan abadi ini cocok untukmu’. Jadi, kutanya lagi. Apakah itu kau percaya pada keabadian?”

Valadin mulai meragukan dirinya. “Tapi kalau tempat ini tidak disebut kegelapan abadi, lantas apa?” Tanyanya sambil membentangkan tangannya. “Tidak lama lagi api yang membakar Velith akan padam, setelahnya hanya ada kegelapan abadi yang menatiku bukan?”

“Hanya gelap, tapi tidak abadi.” jawab sosok itu. “Walau kau tidak bisa merasakannya tapi waktu tetap berjalan disini. Jika kau berikan cahaya, maka tempat ini akan jadi terang juga, maka dari itu ini bukanlah kegelapan abadi. Atau mungkin, ada sesuatu yang mengganjal dihatimu? Sehingga kau menganggap tempat ini tidak lebih dari kegelapan abadi?”

Valadin tertegun, menyadari kebenaran perkataan itu. Dia menatap sosok itu dan walau ia tidak bisa melihat mata lawan bicaranya. Tapi Valadin merasa seolah dirinya sedang dipandang oleh sepasang mata yang tajam dan dapat menembus isi hatinya.

“Apakah… Karena gadis itu?” tanya sosok itu. “Kalau kau mencintainya kenapa tidak ikut bersamanya?”

Valadin memejamkan mata. Ia menengadahkan kepalanya. “Aku tidak lagi berhak mencintainya,” jawabnya. “Tidak setelah semua yang kuperbuat padanya, aku telah menyakitinya sedemikian rupa, memaksanya untuk mengikutiku, memilikinya…”

“Lalu kenapa?” tanya sosok itu. “Bukankah mereka sering bilang cinta itu terkadang harus diperjuangkan untuk mendapatkannya?”

Valadin tersenyum. “Ya, aku juga pernah berpikiran seperti itu. Ketika aku berusaha membuktikan cintaku pada bangsaku, memperjuangkannya dengan segala cara, tapi sekarang apa yang kudapatkan? Tidak ada. Bahkan aku hampir menghancurkan segala yang kucintai.”

“Kalau begitu, berarti cintamu terlalu besar sampai menghancurkan segalanya?” tanya sosok itu.

“Terlalu besar?” Valadin mengangkat alisnya. “Tidak juga, tapi aku sudah mengerti sekarang. Cinta yang dipaksakan dan menghalalkan segala cara untuk memperolehnya bukanlah cinta, dan hanya membawa kehancuran.” Ia menghela napas berat.

“Jadi dengan melepaskan impianmu dan gadis yang kau cintai, apakah kau juga membuang seluruh rasa cintamu?”

Valadin menggeleng. “Tidak,” jawabnya yakin. Valadin mengepalkan telapak tangannya sambil memejamkan mata. “Karena dia masih ada dihatiku, selamanya. Begitu juga dengan teman-temanku. Aku masih menyayangi mereka, mencintai mereka, Eizen, Karth, Laruen, Izahra bahkan Ellanese. Bagiku dia tetaplah temanku.”

“Tapi bagaimana kau akan membuktikan cintamu pada mereka?”

Valadin tersenyum. “Mencintai seseorang, tidak berarti harus memilikinya. Aku  tidak harus membuktikan apapun. Cukup dengan melihat semua orang mendapatkan kebahagiannya sudah cukup bagiku.”

Valadin lalu balik bertanya padanya. “Tadi kau bertanya apakah aku percaya keabadian? Kurasa aku punya jawabannya sekarang.”

Sosok itu menelengkan kepalanya. “Oh? Apakah itu?”

“Aku percaya ada keabadian di dunia ini,” kata Valadin. “Dan bagiku itu adalah cinta.”

Sosok itu mengangguk seolah puas dengan jawaban Valadin. “Sayangnya kurang tepat,” katanya. “Tapi karena kau sudah berusaha menjawab dengan sebaiknya. Aku akan memberitahumu. Ada dua hal yang abadi di dunia ini. Yaitu waktu yang akan tidak berhenti mengalir, dan…”

“Dan?” Tanya Valadin penasaran.

“Cinta yang tulus!” Jawab sosok itu dengan suara riang.

Valadin tertegun sebentar lalu tertawa sejadi-jadinya.

Sosok itu ikut tertawa bersama Valadin. “Akhirnya,” katanya. “Itu wajah yang ingin kulihat. Tidak akan menyenangkan melihatmu melewati kegelapan dengan wajah murung bukan? Tetaplah pertahankan hatimu seperti itu, walaupun kau sendirian disini untuk waktu yang amat lama, aku yakin kau bisa melewatinya. Dan suatu hari, jika sang waktu mengijinkannya, mungkin kamu akan bertemu lagi dengan semua yang kamu cintai.”

Valadin tersenyum mendengarnya. “Waktu adalah sesuatu yang kumiliki, kalau memang harus menunggu, maka akan kutunggu.”

Sosok itu mengangguk pelan, lalu dia menyilangkan tangannya dan mulai menghilang. Melihat itu Valadin segera bertanya padanya. “Tunggu, kau bukan Bangsa Theia. Siapakah kau sesungguhnya?”

“Aku bukan siapa-siapa, aku hanya salah satu pengamat dunia ini,” jawabnya bijak.

“Apakah kau—“   Valadin hendak bertanya lagi tapi sosok itu mengangkat satu tangannya untuk menghentikan Valadin.

“Suatu hari, kau akan mengerti,” jawabnya ramah. “Sampai jumpa, wahai Elvar.”

Sosok itu kemudian menghilang.

Setelahnya Valadin menyadari sesuatu, pembicaraan mereka sangat panjang, tapi selama rentang itu api yang membakar Velith tidak padam sama sekali sedari tadi.  Padahal seharusnya saat ini seluruh cahaya di tempat ini sudah menghilang.

Valadin mengedarkan pandangan dan menyadari api itu terus menyala, walaupun kabut hitam yang menjadi bahan bakarnya sudah habis.

Api abadi? Hadiah dari sosok itu mungkin? Valadin tersenyum.

Ia membalikkan badan dan menatap jauh. Kegelapan yang tiada akhir seolah menantinya. Tapi Valadin tidak takut, ia tidak sendirian. Ia bisa merasakan kehadiran Vrey dan sahabat-sahabatnya. Mereka semua bersamanya, di dalam hatinya.

Advertisements

12 thoughts on “Ther Melian: Valadin Gaiden

  1. bagus kok, kak shienny bkin ceritanya karth ama laruen donggggg, saya suka ama mereka. Tambah seneng lg pas tau mreka nikah trus punya anak. Bkin kisah ttg keluarga mreka donggg

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s