Menulis cerpen

Yak selamat weekend bagi yang merayakan ^o^

Sebelum saia sendiri ber weekend ria kayaknya belom sip kalo nggak update blog ini. Jadi mengingat sekarang lagi ramai-ramainya Sayembara Menulis Cerpen Fantasi Tahunan mungkin pas kalo saia share pengalaman saat menulis cerpen. Moga-moga bisa menambah inspirasi bagi teman-teman yang cerpen nya pada belum selesai ya ^_^

Saia sendiri selalu mengikuti tiga pedoman ini tiap kali menulis cerpen: deskripsi, tema, dan karakter.

Pertama soal deskripsi… 

Cerpen adalah media yang paling bagus untuk belajar menulis deskripsi. Keterbatasan kata memaksa kita untuk mau enggak mau jadi super kreatif dalam mengemas segala deskripsi. Bayangkan, dibandingkan dengan novel yang memiliki jatah 50 ribu kata keatas, dalam cerpen kita cuma diberi jatah maksimal 3500 kata. Kita harus mampu mendeskripsikan dunia, setting, tampilan karakter, dan menjabarkan sebuah plot utuh.

Kejam? Nggak juga, justru keterbatasan ini adalah ruang untuk berkembang.

Kebiasaan buruk penulis saya juga pernah memelihara kebiasaan ini adalah kita doyan berpanjang-panjang kata dan mendeskripsikan setiap detil yang udah kita bangun regardless apakah detil itu berkaitan langsung dengan jalannya cerita atau nggak. Padahal tanpa kalimat berbunga-bunga sepanjang tiga paragraf pun mungkin detil-detil itu bisa disampaikan. Entah dengan cara disebar dan diselipkan dalam dialog atau action.  Atau bisa juga disinggung selintas lalu.

Masalahnya, terkadang ego sebagai penulis belum merasa puas kalo belum menjadikan tokoh/ naratornya sebagai guru sejarah yang berdongeng atau berpuisi panjang lebar mengisahkan segala sesuatu (mulai world building, sampe backstory karakter) yang udah capek-capek kita rancang sampe nggak tidur. Hayo-hayo ngaku sapa yang pernah bikin dosa serupa? XD

Nggak ada yang salah dengan menyiapkan deskripsi yang detil dan rinci, justru penulis yang baik harus tahu semua hal yang terjadi di dunianya. Tapi nggak lantas semua hal itu perlu disampaikan ke pembaca bukan?

Jadi melalui cerpen kita belajar menyortir, memilah, menyingkat, menyederhanakan, dan menceritakan dunia ciptaan kita dengan deskripsi seminimal mungkin tanpa mengurangi pemahaman  pembaca. Buatlah setiap kalimat padat dan berarti. Coret yang bisa dicoret, kalau sebuah peristiwa bisa dijabarkan dengan satu dua kata, ngapain buang satu paragraf kan? ^_^

Setelah terbiasa menulis dengan efisien seperti diatas, kebiasaan bagus ini akan terbawa saat kita menulis novel.

Ok itu hal pertama yang paling penting saat menulis cerpen. Editlah cerpenmu sehingga sehingga alurnya menjadi: padat, dan bertempo cepat. Dengan demikian narasi yang kamu buat pun akan lebih enak dibaca.

Sekarang hal kedua yang nggak kalah penting. Tema.

Yap, tema. Bukan genre, tapi tema. Genre itu sederhananya hanya penggolongan jenis cerita yang kita buat, apakah epic fantasi, steampunk fantasi, cyberpunk fantasi ? (saia kasih contoh fantasi semua, soalnya saia sendiri biasa menulis fantasi ^^)

Yang saia sebutkan tadi genre utama, masih ada lagi yang disebut sub genre, misal : komedi, tragedi, horror, romance, dll. Kita bisa gabungkan satu genre dengan dua subgenre, misal : epic fantasi dengan bumbu komedi dan romance.

Nah lalu bedanya apa genre dengan tema?

Tema adalah ide dasar. Atau sederhananya “Apa sih yang ingin kamu sampaikan dalam cerita ini?” Tema cerpen yang baik (berlaku buat novel juga) bisa ditulis dalam satu sampai dua kalimat maksimal. Biasa disebut logline. Atau kalau kamu punya akun twitter cobalah menulis tema ceritamu dalam satu kali tweet. Tema yang baik biasanya muat dalam satu tweet saja.

Sebagai contoh saia ambil logline dari tiga cerpen yang masuk dalam lima besar Fantasy Fiesta 2011 lalu. Kutipan ini saia ambil dari blurb di sampul belakang buku yah…

Sampaikah cinta Pungguk
kepada Sang Gadis Bintang?
(Bagai Pungguk Merindukan Bulan oleh F.A. Purawan)

Apa yang kau perbuat, andai maut memberi waktu enam belas menit bersama orang yang kau sayangi? (Enam Belas Menit oleh Shao An)

Apakah beda dusta dan nyata, jika yang manapun menghasilkan keajaiban?
(Dongeng Kanvas oleh Luz Balthasaar)

Teman-teman bisa baca cerpen mereka di buku INI dan coba buktikan sendiri betapa fokus cerpen mereka nggak meleset dari logline diatas.

Kenapa membuat tema/ logline itu perlu?

Karena basically tema memberi kita sebuah fokus. Fokus tentang apa pesan apa yang ingin kita sampaikan pada pembaca saat mereka selesai membaca cerpen kita. Dari situ kita bisa memilah mana adegan yang benar-benar penting, mulai membuang segala sesuatu yang nggak perlu. Cerpen pun akan menjadi satu jalinan cerita yang padat dan jelas, enggak merembet kemana-mana.

Ok, sekarang kita masuk topik terakhir… Karakter

Sebenarnya nggak ada aturan tertulis tentang berapa jumlah maksimal karakter dalam sebuah cerita pendek. Saia pribadi akan membatasi diri nggak menulis lebih dari 3 karakter penting. Dan 2 karakter pendukung.

Kenapa demikian? Karena pedoman pertama yang saia pegang, yaitu soal deskripsi. Semakin banyak karakter muncul, maka semakin banyak kata terbuang untuk mendeskripsikan karakter tersebut, dan bukan hanya soal deskripsi fisik.

Semakin besar peran seorang karakter, semakin besar pula waktu dan perhatian yang harus kita curahkan untuk memastikan dia mendapat porsi tampil yang cukup. Dan kita juga harus menjalin keterkaitan sang karakter dengan plot utama.

Saia kadang menemukan cerpen yang keren secara plot maupun tema, lalu terakhir merasa digantung  karena motivasi dan latar belakang para karakternya mengambang.

Seolah plot yang baru mereka alami hanya peristiwa sampingan yang nggak berpengaruh signifikan dalam hidup mereka, rasanya kalau tokoh utamanya diganti orang lain pun nggak akan berimbas ke cerita. Padahal cerpen yang baik harusnya  mampu mengajak pembacanya menyelami momen terpenting dalam hidup para karakter itu.

Jadi saat cerpen berakhir pembaca nggak ditinggal dengan rasa gemas dan nggak puas karena mereka nggak memahami, apa makna cerpen ini dan kenapa karakter-karakter itu harus mengalami peristiwa tadi.

Yeah~ saia rasa itu aja deh tiga pedoman saia dalam menulis cerpen. Deskripsi, Tema, dan Karakter.

Nah… Bagi yang mentok saat menulis cerpen, coba deh pedoman ini. Tentukan dulu 1-2 karakter utama. Lalu pilih satu life turning point dalam hidup mereka. Jadikan momen penting itu tema utama ceritamu. Tuangkan dalam deksripsi padat sebanyak 3000 kata.

PS: Semua ini ditulis berdasar pengalaman pribadi, jadi kalau teman-teman punya opini lain tentang bagaimana menulis cerpen yang baik, silahkan ditambahkan di kolom komentar supaya kita bisa sama-sama belajar ^_^
Advertisements

25 thoughts on “Menulis cerpen

  1. *mengacungkan jari* pernah jadi guru sejarah tapi di novel ;p kalo gak salah genesis juga ada sejarahnya tapi disampaikan dgn seru ;p
    Jadi kalo komposisinya 1 karakter utama, 4 karakter pembantu, 3 pendukung dan banyak figuran kira2 masih enak gak yaah? *masih belajar* *btw nice title pix*

    • hehe thanks, benernya ini pedoman yg saia pake buat diri sendiri and so far it works (for me) Untuk cerpen orang lain dengan gaya bercerita yang lain bisa jadi hitungannya beda 🙂 asal porsi pemeran pembantu dan pendukungnya sesuai dan mendukung tema cerita sih why not 🙂

  2. duh… makasih banget yaaa sharingnya, seneng deh sama orang yang baik hati dan selalu berbagi ilmu. boleh add as a friend yah…

  3. Aaah, suman, suman. Baru sempat jalan2 ke sini setelah lama. ^^ Saia sedang masuk mode “bercinta dengan dedline” :DD

    Thanks dah make cerita saia sebagai contoh!

    Definitely agree with your points! Tema, logline, premis, arc words atau apapun nyebutnya, selalu penting di dalam suatu cerita. Kalimat singkat itu adalah jawaban yang harus bisa dikeluarkan si penulis kalau ia ditanyai, “gambarkan cerpen kamu di dalam satu kalimat.” ^^

  4. Pingback: Book Publishing 101 #Part 1 « Shienny's Rants

  5. Pingback: Book Publishing 101 #Part 6 | Shienny's Rants

  6. Aku banget! yang deskripsi
    kebiasaannya keseruan bikin panjang panjang buat rinci rincinya hehe..
    ujung ujungnya kepanjangan…
    aku gak pernah nyelesain cerpen ku, mungkin karena gak fokus kali ya…

    Makasih tips nyaaaa 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s