Book Publishing 101 #Part 1

Yoshhh apa kabar semua ^o^

Maaf udah ngga update hampir dua minggu. Ok berhubung setelah update blog kemarin mengenai Menulis Cerpen, saia mendapat banyak email yang menanyakan tentang gimana cara menerbitkan buku, mulai entry ini saia akan bahas tentang Book Publishing atau industri penerbitan di Indonesia.

Kalo udah ngomongin penerbitan nih, topik bahasannya bisa jadi panjang. Jadi supaya enak bacanya saia akan split dalam beberapa bagian ya.

Nah, untuk bagian pertama saia akan bahas dulu perbedaan mendasar antara Self / Indie Publishing dengan Major Publishing House.

Kenapa saia bahas ini, karena salah satu pertanyaan yang pa~ling sering saia dapat adalah. “Untuk menerbitkan buku perlu biaya nggak sih?”

Untuk menjawabnya kita perlu tahu dulu bahwa ada dua cara yang bisa ditempuh untuk nerbitin buku. Yaitu melalui Self Publishing atau Major Publication House.

Self Publishing

Dari namanya kayaknya udah jelas kan… Self Publishing atau kadang disebut indie publishing adalah saat penulis menerbitkan sendiri buku karyanya melalui penerbit pribadi miliknya sendiri. Hal ini pernah dilakukan salah satu komikus Indonesia Is Yuniarto saat menerbitkan karya komiknya Knights of Apocalypse

Jadi semua proses penerbitan buku mulai editing, pra-cetak, cetak, distribusi, promosi dan penjualan semua dilakukan sendiri oleh penulis. Tentunya semua proses itu butuh biaya.  Yang namanya cetak itu dimana-mana kan pasti bayar, bahkan jika kalian hanya memfotokopi dan menjual karya kalian ke teman-teman dekat atau di bazaar sekolah itu juga butuh biaya, kan?

Nah kalo teman-teman memilih jalur ini, maka jawaban atas pertanyaan tadi adalah YA! Kalian harus mengeluarkan biaya. Biaya yang dikeluarkan bisa bervariasi tergantung besarnya jumlah dan kualitas cetak yang kalian inginkan. Kalau kalian ingin buku kalian berkualitas sebaik buku-buku yang  terpajang di toko buku. Maka kalian harus menyiapkan biaya yang nggak bisa dibilang sedikit.

Keuntungannya apabila memilih proses ini, penulis memiliki kendali penuh atas proses kreatif dan produksi buku mereka. Seluruh profit hasil penjualan akan menjadi hak penulis.

Nah bagaimana dengan penulis yang memilih menerbitkan buku melalui Major Publication House? Kita akan bahas sekarang.

Major Publication House

Ok, kalo menerbitkan secara indie tadi kan, penulis harus siap rogoh kocek dalam jumlah besar. Gimana kalo kocek lagi kering? Maka jawabannya adalah, terbitkan bukumu lewat penerbit-penerbit besar yang sudah ada.

Tapi tentu saja, karena kalian akan meminta pihak lain  untuk membiayai proses produksi, distribusi, dan promosi karya kalian. (dalam hal ini penerbit tentunya nggak ingin merugi dong) Penulis harus mampu meyakinkan penerbit bahwa mereka memiliki karya yang bernilai jual dan akan diserap oleh pasar.

Langkah pertama yang harus kalian lakukan adalah menyelesaikan dulu naskahnya. Nggak mungkin memprospek penerbit besar agar mempertimbangkan karya yang belum jadi kan? Apalagi dengan persaingan yang semakin ketat saat ini. Hanya karya yang sudah jadi dan terkemas dengan baik lah yang akan dilirik. Jadi pastikan naskah kalian sudah selesai dan diketik dengan baik sebelum mengirimkannya.

Kalau kalian penulis yang baru berkecimpung dalam dunia penerbitan, sebaiknya tulislah sebuah karya yang tamat dalam sekali baca. Usahakan jangan menulis karya yang berlogi-logi dahulu. Atau kalau kalian benar-benar ingin, maka tulislah seluruh logi itu sampai selesai. Pilihan lainnya buatlah masing-masing buku mampu berdiri sendiri dan memiliki akhir yang memuaskan. Kalau naskah buku pertama sudah lolos dan terbit, memasukkan naskah kelanjutannya akan lebih mudah, apalagi kalau buku itu disukai.

Nah langkah kedua adalah mengirim naskahnya. Di sini biasanya banyak yang membuat kesalahan dasar, sehingga akhirnya naskahnya tidak dibalas oleh penerbit atau bahkan ditolak.

Sebelum mulai mengirim naskah, alangkah baiknya kalau teman-teman melakukan riset penerbit dulu.

Wait.. what?? Research????

Err ok jangan ngeri dulu dengan kata riset, sebenanrnya nggak berat kok menyenangkan malah ^_^ Yang harus kalian lakukan hanya berjalan-jalan ke toko buku. Amati rak buku yang memajang karya-karya sejenis dengan karya yang kalian buat. Misalnya kalian menulis teenlit, cari novel teenlit/ sejenis, kalau kalian menulis fantasi cari juga karya-karya bertema fantasi. Lalu ambil pen dan kertas CATAT nama penerbit buku-buku tersebut.

Kenapa langkah ini penting? Karena banyak sekali penulis yang mengirimkan naskah mereka ke penerbit yang salah. Misalnya penerbit yang biasanya hanya menerbitkan buku tentang cara bercocok-tanam, tentu akan menolak mentah-mentah semua naskah fiksi yang masuk ke meja redaksinya. Dengan mengetahui penerbit apa saja yang menerbitkan genre yang kalian tulis akan menghemat waktu kalian dan membantu fokus kalian saat mengirimkan naskah.

Jadi jangan lupa, Catatlah selengkap-lengkapnya nama dan alamat penerbit, termasuk websitenya apabila dicantumkan.

Selanjutnya teman-teman hanya tinggal memeriksa penerbit tersebut menggunakan situs pencari seperti Google. Kalau ada website penerbit, kalian tinggal menjelajahi web  yang bersangkutan. Yang harus kalian cari tahu di tahap ini adalah “Apakah penerbit tadi menerima naskah penulis lokal?”

Karena ada beberapa penerbit yang hanya menerbitkan karya terjemahan dan tidak menerima naskah dari penulis lokal. Kalau kalian mengirimkan naskah ke penerbit tersebut tentunya ditolak kan?

Apabila penerbit yang teman-teman incar menerima naskah, maka pastikan teman-teman membaca baik-baik panduan penerimaan naskah mereka. Dan ikuti panduan itu sampai titik koma nya. Kalau tertera tebal naskah maksimal 100 halaman A4 jangan mengirimkan 400 halaman A4 (mungkin ada yang beranggapan kalau naskah kita keren editor pasti akan membacanya juga walau nggak memenuhi syarat) Errr… sayangnya nggak begitu >.<

Ada ratusan naskah masuk ke meja editor sehari-harinya. Sebelum mereka sempat menyadari betapa keren-nya naskah kalian, naskah itu  sudah akan didiskualifikasi karena tidak memenuhi syarat. Jadinya sayang dan mubazir, kan?

Untuk membantu teman-teman berikut saia cantumkan link yang memuat beberapa syarat dan ketentuan pengiriman naskah dari beberapa penerbit besar di Indonesia (courtesy of Kastil Fantasi on Goodreads)

Nah setelah naskah siap, dan kalian sudah menemukan penerbit yang sesuai, selanjutnya apa?

Selanjutnya tentu saja menyiapkan paket pengiriman naskah. Naskah tentunya nggak bisa dikirim begitu saja tanpa pengantar apapun kan? Berikut adalah hal-hal yang harus / sebaiknya dilampirkan saat mengirim naskah ke penerbit

1. Cover letter atau surat pengantar.
Cukupkan dalam selembar saja. Pastikan dalam surat ini kalian memperkenalkan diri dengan baik, mencantumkan nama dan alamat serta nomor telepon yang bisa dihubungi. Karya yang pernah diterbitkan (kalau ada) Dan jelaskan mengapa menurut kalian karya ini layak diterbitkan dan mampu bersaing dengan buku sejenis di pasaran.

2. Loglines
Seperti yang pernah saia bahas di entry sebelumnya, loglines adalah 1-2 kalimat singkat yang mampu menjelaskan cerita kalian itu mengenai apa. Mengutip dari komentar sis Luz Balthazar

“Tema, logline, premis, arc words atau apapun nyebutnya, selalu penting di dalam suatu cerita. Kalimat singkat itu adalah jawaban yang harus bisa dikeluarkan si penulis kalau ia ditanyai, “gambarkan cerpen kamu di dalam satu kalimat.”  

Loglines bisa dicantumkan dalam cover letter

3. Synopsis
Mengingat editor/ penerbit kadang menerima ratusan naskah, terkadang mereka bergantung pada sinopsis untuk memutuskan apakah naskah kamu layak baca untuk dipertimbangkan lebih lanjut atau tidak.  Jadi pastikan kamu sudah menulis sinopsismu dengan jelas dan baik. Cukupkan dalam 9-10 lembar A4 saja dan kupas tuntas plot naskahmu dari awal hingga akhir (jangan khawatir spoiler, tujuan sinopsis adalah memberi gambaran jelas pada editor tentang isi naskah bukan sebagai teaser untk calon pembaca)

Lebih lanjut mengenai bagaimana mempersiapkan manuskrip, logline, cover letter dan sinopsis yang baik akan saia bahas di entry bagian dua yah

Sekarang kita simak dulu keuntungannya menerbitkan melalui Major Publishing House. Yang jelas teman-teman  nggak perlu keluar biaya cetak, distribusi, promosi, dan lain-lain. Sedikit biaya mungkin masih perlu dikeluarkan untuk print naskah, dan mengirim paket. Tapi tentunya jumlah itu sangat kecil apabila dibandingkan dengan mencetak sendiri sebanyak tiga ribu eksemplar buku kan? ^_^

Kekurangannya, teman-teman harus mau dan rela naskahnya diedit oleh editor. Bagi sebagian orang mungkin nggak masalah dengan anggapan toh editor tau apa yang mereka lakukan, dan itu juga demi agar naskah kalian lebih diterima oleh pasar. Tapi, kadang-kadang ada juga penulis yang nggak rela idealismenya dibelenggu oleh permintaan penerbit dan pasar. Nah untuk penulis tipe kedua nampaknya Self Publishing bisa dijadikan alternatif.

Selain itu karena biaya produksi dan lain-lain udah ditanggung oleh penerbit, maka penulis hanya akan memperoleh keuntungan dari penjualan bukunya dalam persentase tertentu saja (tidak sebesar profit apabila menerbitkan sendiri) Nah persentase keuntungan ini yang biasa disebut ROYALTI. Mengenai apa dan bagaimana menghitung Royalti, kita bahas lain kali yah ^_^

Kayaknya untuk bagian pertama ini cukup dulu ya, kalau ada pertanyaan silahkan dilontarkan, kalau topiknya menarik bisa dijadikan bahan entry selanjutnya.

Oh iya, sekali lagi… Entry ini dibuat berdasar pengamatan dan pengalaman pribadi, apabila teman-teman punya pengalaman berbeda, silahkan di share di kolom komentar supaya kita semua bisa sama-sama belajar ^_^

Advertisements

19 thoughts on “Book Publishing 101 #Part 1

  1. Kayaknya yang vital untuk presentasi naskah ke penerbit ini adalah Logline, Sinopsis, dan Ketentuan Panjang Halaman. Kalau itu sudah dilirik, baru isi naskah dilirik…

    I see! Nembak penerbit itu kayak ujian CPNS ternyata! Ada persyaratan administrasi, baru tes substansi!! :)) :))

    • well said XD

      eh tapi, tes lamaran masuk perusahaan swasta juga gak beda benernya, kelayakan CV sama kelengkapan lamaran dilihat dulu, kalo oke baru manusianya diinterview 😀

  2. Tiba-tiba terpikir kirim naskah pake surat rekomendasi, macam surat lamaran pekerjaan gitu. Asik kan, klo di balik halaman judul naskah ada tulisan “proofreaded by Shienny M.S.” Ehehehe…. XD *dikeplak Vrey*

    Anw, good info. Siip. 🙂

    • yup, editor gak cuma mengurusin typo dan bahasa, mengenai ini tunggu entry bertitel Book Publishing 101 selanjutnya ya, kebetulan mirip ama pertanyaan Riderz 🙂

    • bergantung antrian di penerbit yang dituju, makin populer penerbitnya makin banyak antriannya ^^

      makanya presentasi dan kelengkapan saat mengirim naskah penting, untuk memastikan naskah nggak lost in the stack :))

  3. Pingback: Book Publishing 101 #Part2 « Shienny's Rants

  4. tambahan kak,
    bisa minta contoh surat pengantar gak?
    Ini sudah kedua kalinya saya baca klo untuk menerbitkan sebaiknya mencantumkan surat pengantar
    tapi bayangan saya terhadap surat pengantar itu masih terlalu vague
    gak jelas dan entah kenapa, tidak menurut pendapat sendiri sama sekali gak mirip surat pengantar, jadi bisa tolong liatin contoh salah satu surat pengantar yang kak shienny bikin gak–klo emang gak boleh gak papa sih -_-

    hanya buat pembelajaran kok kak–biar nulis suratnya bagus
    maklum kebanyakan orang wlopun bisa nulis cerita tapi nulis surat resmi biasanya kaku -_-a

    • astaga maaf ini udah saia reply tapi kayaknya reply saia dikorupsi ama wordpress, contoh surat pengantar kayaknya bisa jadi materi tersendiri nih, ini hitung2 belajar menulis one-page pitch/ proposal kalo gak keberatan idenya saia tampung dulu untuk entri2 y.a.d yah 🙂

  5. Pingback: Sang Penakluk Naga « Shienny's Rants

  6. Pingback: Book Publishing 101 #Part 3 « Shienny's Rants

    • sayangnya saia ggak punya kenalan, saran saia coba aja bergabung dengan forum-forum penulis untuk mencari rekomendasi editor yang bisa dipercaya 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s