Ther Melian : Pencuri Jurnal

Kali ini saia mencoba menulis sebuah cerita pendek tentang Vrey dan Aelwen. Mengisahkan kehidupan mereka di Kedai Kucing Liar, cerpen ini mengambil waktu sekitar setahun sebelum kisah di Ther Melian Revelation dimulai. Moga-moga bisa menjadi pengantar buat teman-teman yang belum pernah membaca novelnya secara utuh. Enjoy~ ^_^

Pencuri Jurnal

“Mencuri buku?” Vrey memicingkan matanya. Gadis berambut cokelat itu memelototi Gill,  matanya jelas mengatakan kalau dia tidak memercayai perintah atasannya itu.

“Betul,” jawab Gill datar sambil meneguk habis tuaknya. Alis tebalnya mengerut saat dia balas memandangi Vrey. “Tugasmu menyelinap ke rumah si nenek sihir dan mencuri satu buku untuk penyewa kita.”

Vrey menggaruk rambutnya. “Menyelinap ke rumah nenek sihir aneh di tengah hutan itu saja sudah merepotkan. Kenapa yang diincar cuma buku?”

“Dia nggak mau bilang,” jawab Gill. “Yang jelas uang muka sudah dibayar, sisanya setelah pekerjaan selesai. Tenang saja kamu nggak akan pergi sendiri, kok.”

Vrey menghela napas. “Baiklah. Jadi siapa yang akan menemaniku? Rufius? Clyde?”

“Bukan,” jawab Gill. “Kali ini, kamu dengan si anak baru.”

“Jangan si Evan!” bantah Vrey langsung. Tidak heran emosi Vrey meledak. Evan adalah anak bau kencur yang baru beberapa bulan bergabung dengan komplotan mereka. “Anak itu nggak berguna. Mending aku sendirian saja!”

“Evan?” Gill memutar-mutar cangkir kosongnya di atas meja. “Siapa yang bilang begitu? Aku menyuruhmu membawa Aelwen.”

Vrey melongo, rahangnya seolah lepas dari tempatnya. “Kamu bercanda, kan?” desisnya. “Aelwen itu cuma bisa masak, mencuci, dan bersih-bersih. Tolong katakan kamu bercanda!”

“Aku nggak bercanda,” balas Gill. Sebelum Vrey sempat membantah, dia menjelaskan. “Penyewa kita bilang, buku yang kita incar disimpan dalam sebuah rak bersama dengan ratusan buku lain. Kamu nggak akan bisa menemukannya.”

Vrey mengerutkan bibirnya gemas. “Kenapa nggak bisa? Sebutkan saja ciri-ciri bukunya, aku pasti bisa menemukannya.”

Gill merogoh saku bajunya dan menyerahkan sebuah buku pada Vrey. Vrey mengamati-amati buku itu. Sampul kulitnya sudah lapuk dimakan usia, tidak ada judul atau penanda apa pun di situ. Dia membolak-balik bagian dalamnya yang penuh berisi tulisan cakar ayam.

“Apa ini?” tanyanya

“Sebuah jurnal,” Gill menjelaskan. “Kamu lihat, kan? Itu hanya buku catatan biasa yang sudah sangat tua. Nggak ada ciri-ciri mencolok yang membedakannya dengan buku lain. Pelanggan kita ingin jurnal lanjutan dari buku ini. Satu-satunya caramu menemukannya adalah dengan membaca isinya.”

“Biar kutebak, cuma Aelwen yang bisa mencari lanjutan dari tulisan cakar ayam ini?” tanya Vrey.

Gill mengangguk. Vrey mendengus kesal dan menoleh ke arah pintu yang memisahkan dapur dengan ruang makan. “Masuklah,” katanya. “Aku tahu kamu menguping.”

Aelwen menelan ludah. Seharusnya dia bisa menduga Vrey pasti menyadari dari tadi dia menguping pemibicaraan mereka.

Gadis itu menarik napas dalam-dalam lalu mendorong pelan pintu dapur. Dia menatap Vrey serba salah, lalu mengibaskan rambut pirangnya yang tergerai sampai punggung. “Maaf,” ujarnya. “Aku tidak bermaksud mencuri dengar. Tapi aku penasaran, Gill sudah membicarakan misi ini denganku tadi sore. Kuharap kamu tidak keberatan aku membantumu kali ini.” Aelwen menarik bangku dan duduk di antara Vrey dan Gill.

Vrey memutar bola matanya. “Apa aku punya pilihan lain?”

Senyum Aelwen terkembang. Sudah lebih dari setahun sejak Aelwen bekerja dan tinggal di kedai, teman-teman yang lain juga sudah memercayakan rahasia mereka padanya—bahwa kedai ini hanya kedok bagi gerombolan Kucing Liar, komplotan pencuri terbaik di Mildryd. Tapi baru kali ini dia dipercaya ikut serta dalam pekerjaan mereka.

Tapi Vrey memotong kegembiraan Aelwen. “Ingat, ini misiku. Kamu hanya ikut untuk mencari buku. Setelah misi ini selesai, kamu kembali pada tugas mencuci dan memasak! Jelas?”

Aelwen urung tersenyum. “Baiklah,” katanya lesu. “Kapan kita berangkat?”

“Aku perlu mengamati rumah sasaran,” jawab Vrey. “Paling cepat akhir pekan ini. Pelanggan kita nggak keberatan menunggu, kan?”

Gill menggeleng. “Dia memberi kita waktu dua minggu. Jangan sampai kalian gagal.” Selesai mengatakannya, Gill beranjak meninggalkan dapur.

Aelwen menyadari Vrey menatapnya dengan tajam. “Jadi, apa yang kamu ketahui tentang misi ini?”

“Pelanggan kita sepertinya dari kalangan terhormat di Ibukota Granville,” jawab Aelwen. Dia menimang-nimang buku tua yang tergeletak di atas meja itu. “Lihat, ini hanya jurnal tua yang berisi catatan kehidupan pemiliknya, kan? Orang biasa tidak akan berminat. Tapi aku tahu beberapa kolektor kalangan atas yang suka mengoleksi jurnal tua macam ini. Mereka bersedia membayar mahal untuk melengkapi koleksinya, bahkan kalau perlu dengan mencurinya.”

Vrey tersenyum, terlihat puas dengan penjelasan Aelwen. Aelwen memang memiliki pengetahuan yang luas, tidak seperti gadis desa kebanyakan, dia juga berasal dari keluarga terhormat di Granville. Aelwen melarikan diri karena suatu masalah. Pelariannya membawa Aelwen ke Mildryd yang terpencil ini. Tapi saat dia tiba, seluruh uangnya habis. Dia juga tidak menemukan tempat yang mau menerimanya bekerja. Saat hari sudah larut dan hujan turun, dia terlunta-lunta di kota yang asing, untung dia bertemu Vrey.

“Bagus,” kata Vrey. “Tapi pekerjaan kita bukan mengamati pelanggan, melainkan sasaran. Apa yang kamu tahu tentang wanita itu?”

Aelwen mengerutkan alisnya sebentar. “Hmm… tak banyak. Hanya dari gosip. Dia seorang Elvar, walau terlihat muda tapi tidak ada yang tahu usianya yang sebenarnya. Dia hidup sendirian di sebuah rumah kecil, di sisi timur Mildryd dan jarang sekali datang ke kota. Orang-orang menjulukinya nenek sihir.”

“Jadi, apa kesimpulanmu?”

“Misi ini akan sulit,” jawab Aelwen. “Dia Elvar, artinya dia punya indra di atas Manusia. Kita harus memikirkan cara untuk menyelinap tanpa diketahui. Selain itu… dia mungkin dijuluki ‘nenek sihir’ karena dia seorang Magus, jadi kita harus sangat berhati-hati saat berhadapan dengan pengguna sihir.”

Vrey kembali tersenyum puas. “Bagus! Kamu paham risikonya. Jadi jangan berbuat aneh-aneh kalau nggak ingin membuat kita berdua tertangkap. Tugasmu hanya mencari buku, paham?” Vrey menatap Aelwen dalam-dalam.

Aelwen mengangguk antusias. “Tentu saja,” sahutnya. “Ini pertama kalinya aku terlibat dengan pekerjaan kalian. Aku tidak ingin menggagalkannya. Tapi…” Aelwen menambahkan dengan hati-hati. “Kalau misalnya wanita itu memergoki kita, kamu mampu melawannya tidak?”

Vrey mengangkat bahu. “Entah,” jawabnya enteng. “Aku berharap itu nggak terjadi. Lagian kita, kan, pencuri. Kita akan mengambil jurnal itu tanpa disadari pemiliknya.”

***

 

Aelwen berjalan melintasi hutan, rumah Elvar wanita itu terlihat beberapa puluh meter di depan, sebuah bangunan sederhana yang terbuat dari kayu, atap jeraminya berwarna kuning kecokelatan.

“Kamu yakin rumahnya kosong, Vrey?” tanya Aelwen yang berjalan persis di depan Vrey.

Vrey tidak memperlambat langkahnya. “Tentu saja. Aku sudah mengamati sasaran kita seminggu penuh. Tiap dua hari sekali dia mengurus kebun sayurnya di pinggiran hutan. Kita masuk, lalu keluar sebelum dia kembali.”

“Tapi kalau dia kembali saat kita di dalam?”

“Nggak bakalan,” sanggah Vrey. “Dia baru kembali saat matahari tenggelam. Saat itu kita sudah di rumah, menghitung bonus dari Gill.”

Vrey berhenti berlari saat mereka tiba di jajaran pepohonan yang mengitari rumah itu. Ada halaman kecil tak berpagar yang ditumbuhi bermacam-macam semak dan bunga. Vrey menajamkan pendengarannya dan mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru rumah.

Saat yakin semuanya aman, dia memberi tanda pada Aelwen agar mengikutinya. Vrey melesat ke samping, ada sebuah jendela terbuka di bawah atap rumah. Dia mengambil ancang-ancang dan melompat ke salah satu balok mendatar yang ada di bawah atap. Vrey berhasil menjangkaunya, tapi tak disangka balok itu berlumut, permukaan kayunya yang licin membuat pegangan Vrey terlepas,  dan dia terjun bebas. Bokong Vrey tanpa ampun menimpa wajah Aelwen yang tak sempat menghindar.

Vrey buru-buru melompat berdiri. Aelwen melangkah mundur sambil memegangi wajahnya yang terasa panas, dia amat sangat yakin wajahnya pasti merah padam.

“Maaf,” ujar Vrey cepat-cepat. “A-aku nggak berniat jatuh menimpa wajahmu. Kamu nggak apa-apa, kan?” tanyanya sambil mendelik memandangi Aelwen.

Aelwen buru-buru menguasai diri dan menggeleng. “Eh… Ti-tidak apa-apa kok.” Wajahnya semakin panas,  dan dari lubang hidungnya menetes darah segar.

“Astaga,” desis Vrey. “Sakit banget, ya? Sampai mimisan begitu. Apa kamu masih bisa melanjutkan?”

Aelwen buru-buru menyumbat hidungnya dengan jari dan mendongak ke atas selama beberapa saat. Tak lama kemudian dia melepas pegangan tangannya dan mengusap darah di wajahnya.

“Su-sudah tidak apa-apa kok,” kata Aelwen tergagap. Jantungnya masih berdebar-debar. Dia berdeham untuk melancarkan suaranya. “Sebaiknya kita cepat masuk, bahaya kalau ada yang melihat kita.”

Vrey mendesah. “Baiklah, tapi bilang padaku kalau kepalamu mulai sakit, ya!”

Aelwen buru-buru mengangguk. Vrey meraih pasir untuk membuat tangannya kesat sebelum memanjat lagi. Kali ini usahanya berhasil. Segera setelah dia masuk ke rumah dari jendela itu, Vrey melemparkan seutas tali dan membantu Aelwen memanjat naik.

Bagian dalam atap rumah itu tidak terlalu luas, cahaya matahari yang masuk dari lubang udara kecil di dinding memberi penerangan yang cukup. Aelwen mengedarkan pandangan dan menemukan lemari buku yang dimaksud Gill.

Lemari kayu besar berbentuk segitiga itu memenuhi salah satu sisi dinding, dari atas langit-langit sampai lantai. Di dalamnya berderet-deret buku memenuhi seluruh raknya, pasti ratusan jumlahnya.

Sebagian kecil merupakan buku yang tebal dan mahal, mungkin dibeli di kota. Tapi sisanya berupa buku sederhana bersampul kulit seperti jurnal yang diinginkan penyewa mereka.

Aelwen tahu banyak orang yang suka mengoleksi jurnal tua, tapi dia tidak pernah melihat koleksi jurnal sebanyak ini. Mungkinkah jurnal-jurnal itu ditulis oleh pemilik rumah ini sendiri, lalu disimpan sebagai kenang-kenangan atau catatan.

“Mulailah mencari,” kata Vrey. “Aku akan mengawasi keadaan dari jendela.”

Selama beberapa saat rumah itu kembali hening, hanya suara lembaran kertas yang dibolak-balik yang terdengar. Aelwen membaca dan memeriksa isi setiap buku yang diambilnya. Setiap kali menyadari dia membuka buku yang salah, Aelwen langsung mengembalikan bukunya di tempat semula, tidak ingin si pemilik rumah menyadari perpustakaan pribadinya sudah diobrak-abrik sepasang pencuri.

“Sebenarnya jurnal yang pertama itu isinya apa, sih?” tanya Vrey tiba-tiba.

“Catatan harian seorang bangsawan muda bernama Lloyd,” jawab Aelwen.

“Bagaimana isi jurnal itu bisa membantumu menemukan yang kedua?”  tanya Vrey lagi.

“Mudah saja. Jurnal pertama berakhir saat Lloyd bertemu seorang wanita bernama Rielis. Kurasa jurnal kedua akan berisi lebih banyak tentang wanita itu—” ucapan Aelwen terhenti.

Dia mengamati buku di tangannya baik-baik, di halaman pertamanya terdapat sketsa seorang wanita; tulang pipinya tinggi, bentuk matanya khas, rambut panjangnya tergerai lurus melewati bahu. Di bawah sketsa itu tertulis sebuah nama, Rielis.

Aelwen tersenyum, lalu memasukkan buku itu ke dalam sakunya. “Ketemu,” katanya girang. “Ayo pergi.”

“Kamu yakin?” Vrey memicingkan matanya. “Kita nggak bisa kembali untuk menukarnya lagi, lho.”

“Percayalah, ini buku yang benar.”

***

 

Aelwen memanjat turun setelah Vrey memastikan semuanya aman. Kemudian, Vrey menyusul sambil membawa turun tali yang dia gunakan untuk naik tadi.

Ini mudah sekali, pikir Aelwen. Dia pikir misi pertamanya—dan mungkin terakhirnya—akan lebih menegangkan. Mau tak mau, dia merasa sedikit kecewa.

Setelah membereskan tali, mereka bersiap untuk kembali, tapi dari balik pepohonan yang mengelilingi rumah, seorang Elvar wanita menghadang mereka.

Aelwen mendelik. Tapi wanita itu justru tersenyum, seolah sudah menantikan kehadiran mereka.

“Sudah kuduga. Kalau kubiarkan jendela atas terbuka, dua kucing liar akan masuk dan mencuri ikan,” katanya dingin. Tanpa peringatan, wanita itu mengibaskan tangannya sambil menyerukan mantra. Dari telapak tangannya keluar semburan dingin yang menerpa mereka tanpa ampun.

Aelwen menyilangkan kedua tangannya di depan wajah, menahan semburan itu. Setelah wanita itu selesai melancarkan serangannya, pelan-pelan Aelwen menurunkan lengannya. Dia terpana saat menyadari Vrey bergeming di sampingnya.

Selaput es bening menyelimuti tubuh gadis itu, membekukannya bagai patung kristal.

Wanita di hadapan Aelwen memicingkan matanya. “Mantra tadi seharusnya membekukanmu juga,” katanya. Lalu dia tersenyum. “Kamu tidak selemah seperti yang terlihat ya, nona?”

Aelwen tidak menghiraukannya. “Bagaimana kamu tahu kami akan datang?”

“Tidak sulit. Beberapa hari lalu ada seorang pria tua bernama Griffith yang datang dan memaksa membeli jurnal itu. Saat aku menolak, dia mengancam akan mengirim pencuri macam kalian.”

Aelwen meremas tinjunya geram. Griffith adalah penyewa mereka. Misi mereka digagalkan oleh penyewa mereka sendiri, bahkan sebelum mereka memulainya.

Wanita itu menjulurkan tangannya pada Aelwen. “Kembalikan buku itu,” katanya.

Aelwen tidak menurutinya, dia malah mengerutkan alisnya. “Kenapa buku ini begitu berarti bagi kalian berdua?” tanyanya. “Ini hanya jurnal biasa. Bahkan untuk dijadikan koleksi pun, umur jurnal ini kurang tua.”

Wanita itu tampak heran dengan ketertarikan Aelwen. “Menarik,” gumamnya sambil tersenyum. “Bagi orang lain itu mungkin memang hanya jurnal biasa. Tapi bagiku, jurnal itu adalah kenangan dari Lloyd, pria yang kucintai.”

Aelwen ternganga. “Ka… kamu wanita dalam jurnal ini? Kamu Rielis?” Tak heran Aelwen tidak mengenalinya, Rielis yang asli jauh lebih cantik dibanding sketsa yang ada di dalam jurnal.

Rielis memandang Aelwen, tertarik. “Kamu bisa membacanya? Kamu benar-benar bukan pencuri biasa ya? Benar, aku Rielis, Elvar yang diusir dari Falthemnar karena menikahi Manusia.”

“Kamu istri Lloyd?” tanya Aelwen.

Rielis menggeleng. “Bukan. Suamiku meninggal puluhan tahun sebelum aku bertemu Lloyd. Lloyd adalah seorang bangsawan dari ibukota Granville. Tapi kewajiban memaksanya kembali ke ibukota, dia meninggalkan jurnal ini untukku agar aku selalu bisa mengenangnya. Griffith adalah adik Lloyd. Beberapa minggu yang lalu, dia datang dan mengabarkan Lloyd sudah meninggal. Dia menuntut jurnal kakaknya dikembalikan. Tapi aku tidak peduli, jurnal itu terlalu berarti bagiku. Jadi tolong tinggalkan jurnal itu dan katakan pada majikanmu sebaiknya dia melupakan keinginannya.”

Aelwen menggeleng. “Aku tidak bisa melakukan itu,” katanya. “Kami hanya orang suruhan, pimpinan kami tidak menerima kegagalan. Lagipula kalau kami mengembalikannya, bisa saja Griffith menyuruh orang lain. Kali berikutnya, dia mungkin tidak akan menyewa pencuri seperti kami.”

Rielis tertawa. “Daripada memikirkanku, sebaiknya kamu khawatirkan temanmu. Kamu tak berniat membiarkannya begitu terus, kan?”

“Tidak,” jawab Aelwen. “Tapi rasanya aku punya pemecahan untuk masalah ini.”

“Apa yang kamu pikirkan?”

“Aku akan bicara pada Griffith. Aku akan meyakinkannya buku ini lebih baik berada di sini bersamamu ketimbang di dalam perpustakaan pribadinya.”

Rielis tertawa ringan. “Ya, silakan saja. Aku sudah berusaha menjelaskan, tapi pria itu tidak mau mendengar, seolah buku ini adalah urusan hidup mati baginya.”

“Kalau begitu, akan kucari tahu duduk pekaranya,” kata Aelwen. “Pasti ada alasan kenapa dia begitu menginginkan buku ini. Tapi untuk itu, aku perlu meminjamnya sebentar. Aku berjanji akan mengembalikannya secepat mungkin.”

Rielis mengernyit. Dia mengamati Aelwen dari atas kepala sampai ujung kaki. “Hmm…” desahnya. “Aku pasti sudah gila karena melakukan ini, tapi kamu terlihat berbeda dengan pencuri kebanyakan, ada kejujuran dan kehormatan di matamu. Baiklah, kamu boleh membawa buku itu. Tapi kamu harus kembali sebelum matahari terbenam atau temanmu akan jadi patung selamanya!”

***

 

Tak berapa lama Aelwen sudah kembali ke Mildryd. Dia langsung menuju pusat kota, tepatnya ke penginapan terbesar dan termahal di kota itu. Kalau Griffith pria kaya dan terhormat seperti yang diduganya, dia pasti bermalam di sana.

Dugaan Aelwen benar, penginapan itu dijaga prajurit bayaran, Griffith menyewa seluruh penginapan untuk dirinya sendiri. Pengamanan di pintu penginapan sangat ketat, mereka bahkan mengusir pengunjung lain yang hendak bermalam di sana.

Tapi Aelwen sudah memperkirakan hal itu, jadi dia sudah menyiapkan rencana. Aelwen berjalan melewati pintu belakang penginapan menuju tanah lapang di ujung gang.

Di sana banyak wanita yang sedang mencuci, mulai dari kain seprai sampai seragam pelayan penginapan. Aelwen bergabung dengan para pencuci baju, saat tak ada yang memperhatikan, dia meraih satu setel seragam dari jemuran.

Aelwen cepat-cepat berganti pakaian, mengikat rambut panjangnya dan membentuknya menjadi sanggul sederhana. Dengan samaran itu, tidak ada yang melirik dua kali saat dia memasuki pintu belakang penginapan. Seorang prajurit bersiul nakal saat dia lewat, tapi Aelwen hanya menatapnya geram lalu mengabaikannya.

Aelwen mengambil setumpuk seprai bersih. Berpura-pura mengganti seprai, dia memeriksa tiap kamar sampai akhirnya menemukan ruangan tempat Griffith menginap.

Hanya ada seorang penjaga di situ. Griffith duduk di meja kerjanya, pria berambut putih itu tengah memeriksa setumpuk perkamen, kelihatannya urusan pekerjaan.

Griffith meliriknya saat dia masuk, mata birunya memancarkan ketidaksukaannya. “Aku sudah bilang tidak ingin diganggu,” gerutunya. “Dasar penginapan kampung!” Dia melirik ke pengawalnya, mengisyaratkan agar prajurit berbadan kekar itu mengusir Aelwen.

“Rielis mengutusku,” kata Aelwen.

Pria tua itu meletakkan penanya. “Oh,” katanya. Griffith merentangkan tangan untuk menghentikan pengawalnya. “Wanita itu akhirnya mempertimbangkan tawaranku? Berapa yang dia inginkan? Sepuluh? Dua puluh keping emas?”

Aelwen tersenyum. “Tidakkah itu terlalu mahal?”

“Tidak ada yang terlalu mahal bagiku,” jawab Griffith ketus. “Jurnal itu milik kakakku, tempatnya adalah di perpustakaan keluarga kami.”

“Tidak. Tidak ada yang membayar semahal itu untuk sekadar koleksi pribadi. Pasti ada sesuatu yang kamu inginkan.”

Griffith mendengus. “Tahu apa gadis kampung sepertimu tentang masalah ini?”

“Nyonya Rielis sudah menyatakan dia tidak bersedia menjualnya. Tapi kamu bersikeras, bahkan sampai menyewa pencuri untuk mendapatkan jurnal ini.” Aelwen mengeluarkan jurnal dari sakunya.

Mata Griffith berkilat liar. “Jurnalnya,” desisnya. “Ambil! Rebut jurnal itu!” perintahnya.

Si pengawal itu melesat ke depan, berusaha merebut jurnal dari Aelwen. Tapi Aelwen menangkap pergelangan tangan pria itu dan memuntirnya. Sebelum bisa membebaskan diri, Aelwen merebut pedang yang tersampir di pinggang si pengawal dan menggunakan gagangnya untuk menghantam kepala pemiliknya.

Melihat pengawalnya dilumpuhkan dengan mudah, Griffith berusaha lari. Tapi Aelwen menghadangnya, lalu menghunuskan pedang ke leher pria itu. “Kalau kamu bersuara sedikit saja, aku tidak ragu-ragu menggunakan pedang ini!” ancamnya.

Griffith mundur dan meringkuk ketakutan di depan meja kerjanya. “Tolong… jangan… am-ampuni aku… Berapa yang dibayar wanita itu? Akan kubayar dua kali lipat,” pintanya.

“Aku tidak tertarik pada uang,” hardik Aelwen. “Katakan, kenapa kamu menginginkan buku ini? Pasti ada alasannya, kan?”

“Tidak ada! Tidak ada alasan lain.”

Aelwen memainkan ujung pedangnya di leher Griffith. “Kamu bohong!”

“Aaahh! Hentikan-hentikan! Aku butuh buku itu untuk melindungi keluargaku!”

Aelwen memundurkan ujung tajam pedangnya. “Jelaskan. Dan jangan coba-coba berbohong!”

“Kakakku meninggal setahun yang lalu, dia tidak pernah menikah. Berdasarkan hukum yang berlaku di Granville, aku berhak atas warisannya. Tapi saat merapikan jurnalnya, aku menyadari ada satu buku yang hilang; Jurnal masa muda kakakku, saat keluarga kami belum kaya raya. Dia berkali-kali datang ke Mildryd untuk berdagang, dan akhirnya berkenalan lalu menjalin hubungan dengan Rielis…

“Bayangkan kalau kakakku sempat menulis hal-hal bodoh di dalamnya, seperti menjanjikan seluruh kekayaan yang dimilikinya pada Elvar itu. Wanita itu tidak bisa mati. Kalau dia mendadak bosan hidup di gubuknya dan menyadari betapa kayanya kami sekarang, dia bisa menggunakan jurnal itu untuk menuntut kekayaan kami!”

Aelwen nyaris tidak memercayai pendengarannya sendiri. Lalu Griffith merendahkan suaranya. “Hei, Nona… kamu Manusia sepertiku, kan? Saudara sebangsa harusnya saling menolong. Kalau kamu menolongku sekarang, aku akan membalas budimu. Aku punya banyak harta di Granville. Putraku akan dengan senang hati menjadikanmu istri mudanya, kamu bisa hidup enak, tak perlu lagi hidup di kampung seperti ini.”

Rasa muak tak tertahankan menyeruak dalam perut Aelwen, dia menjatuhkan pedangnya dan menghantam wajah Griffith keras-keras sampai pria itu terjerembap.

“Kamu membuatku jijik!” seru Aelwen. “Apa kamu tahu apa isi jurnal ini?” Aelwen membuka jurnal itu dan menyodorkannya ke depan hidung Griffith. “Tak lebih dari curahan hati kakakmu yang sedang dimabuk cinta! Tak ada satu kata pun yang menyinggung-nyinggung soal harta!”

“Mustahil!” gantian Griffith yang berseru. “Kalau begitu untuk apa wanita itu bertahan menyimpan jurnal kakakku?”

Aelwen memelototinya gusar. Dia melemparkan jurnal itu ke pangkuan Griffith. “Tidak semua orang menghargai segala sesuatunya dengan uang sepertimu!” hardiknya. “Bacalah! Baca dan lihat dengan mata kepalamu sendiri!”

Griffith membolak-balik halaman jurnal itu, membaca isinya berkali-kali, seolah tak ingin kelewatan satu kata pun. Tubuhnya gemetar saat menyadari kebenaran ucapan Aelwen. Jurnal itu hanya berisi curahan hati Lloyd, tak lebih.

Saat Griffith selesai, Aelwen merebut kembali jurnalnya. “Tuan Griffith, Anda tahu Rielis adalah Magus yang kuat, kan? Dia juga wanita dengan harga diri yang tinggi. Ia tidak akan senang mendengar tuduhanmu barusan. Kalau aku membocorkan pembicaraan kita sore ini, dia akan memburumu sampai ke ujung dunia. Dia bisa menghanguskanmu dalam satu kedipan mata kalau dia mau.”

“Tidak…” bisik Griffith. “Jangan… Dia boleh menyimpan jurnalnya, tapi kumohon, jangan katakan apa-apa padanya.”

Aelwen tersenyum puas. “Jangan khawatir. Aku akan merahasiakannya, dengan harga yang sesuai tentunya.”

***

Vrey mengejapkan matanya beberapa kali. Gadis itu tersentak saat bangun dan mendapati dirinya berada di dalam rumah Rielis.

“Ah, kamu sudah bangun,” kata Aelwen. Dia meletakkan buku yang dibacanya dan memanggil Rielis. “Nyonya, dia sudah bangun.”

Rielis masuk dari lubang tangga di atas lantai, Vrey ternganga. Dia nyaris melompat bangun, tapi Aelwen menenangkannya.

“Tidak apa-apa. Dia hanya akan memeriksamu.”

Rielis menghampiri Vrey dan memeriksanya sebentar. “Pengaruh sihir bekunya sudah hilang,” katanya. “Dia akan baik-baik saja. Kalian bisa pulang kalau mau.”

Vrey menyipitkan matanya. “Apa-apaan ini?” Dia memelototi Aelwen sembari berbisik pelan. “Apa yang terjadi dengan misi kita?”

“Oh, jangan khawatir tentang itu,” jawab Aelwen. “Ternyata penyewa kita hanya ingin membaca jurnal kakaknya. Aku sudah meminjamnya dari Nyonya Rielis dan mengantarkannya pada Griffith. Setelah itu dia membayar kita dengan pantas dan aku mengembalikan jurnalnya.” Aelwen menunjukkan sekantong penuh uang.

Tentu saja Aelwen tidak menceritakan kebenarannya pada Rielis atau Vrey. Griffith memberikan uang itu sebagai jaminan agar Aelwen merahasiakan segalanya, dan dia berniat menepatinya.

Rielis tersenyum pada Vrey. “Temanmu ini sangat cerdas,” katanya. “Dengan begini, misi kalian tidak gagal, aku juga tak perlu kehilangan jurnalku.” Dia menimang-nimang jurnal itu dalam pangkuannya dan tersenyum lembut. “Kebersamaanku dengan Lloyd memang hanya sesaat, tapi setidaknya aku memiliki benda ini untuk selamanya.”

Vrey mengerutkan alisnya. “Itu, kan, cuma buku tua.”

“Tidak,” kata Rielis. “Bukan cuma buku. Ini adalah kenangan yang tidak akan pudar. Setiap kali membacanya, Lloyd hidup dalam ingatanku.” Dia mengedarkan pandangannya ke rak buku di sekeliling ruangan. “Dia juga yang mengajariku menulis jurnal, dan sejak saat, itu aku tak pernah berhenti.”

Aelwen menatap rak buku dengan kagum. “Semua ini jurnal pribadi Anda?”

“Tentu saja.” Rielis tersenyum. “Semua orang yang pernah kukenal, semua kejadian yang kualami, tersimpan di sini untuk selamanya.”

Vrey menggaruk rambutnya. “Aku nggak mengerti. Tapi selama Gil nggak memarahiku, kamu boleh menyimpan jurnal itu.” Dia bangkit berdiri. “Ayo, Aelwen, kita pulang.”

Aelwen buru-buru menyusul Vrey, tapi Rielis mencegahnya. “Aku belum berterima kasih padamu.”

“Untuk apa?” tanya Aelwen.

“Sudah lama aku tidak menulis,” Rielis menjelaskan. “Berkat kamu, aku tahu apa isi jurnalku selanjutnya.”

Aelwen mengerutkan alisnya. “Apa?”

“Sudah jelas, kan?” Rielis tertawa ringan, lalu berbisik di telinga Aelwen, “Tentang seorang gadis pencuri dan kesatria pelindungnya!”

Aelwen ternganga, matanya membelalak mendengar ucapan Rielis. “A-anda melihat semuanya?”

Rielis mengangguk. “Entah kenapa aku merasa kalau mengikutimu, aku akan menyaksikan sesuatu yang menarik untuk ditulis,” katanya. “Jadi aku mengikutimu dan menyaksikan semuanya dari atap gedung seberang penginapan. Dan dugaanku benar, kamu  memang bukan orang biasa. Caramu bertarung sangat luar biasa, benar-benar seperti seorang kesatria.”

Aelwen langsung merasa sesak napas. “Nyonya… eh… Aku harap Anda bisa merahasiakan hal ini.”

Rielis tersenyum. “Tenang saja,” katanya. “Aku hanya akan menceritakannya pada jurnalku. Kamu tahu betapa aku sangat menyanyangi dan melindungi mereka, kan?” Dia mengedipkan matanya.  “Rahasiamu aman bersamaku. Setidaknya, untuk sekarang.”

~Fin~

Karakter Utama:

 

Advertisements

7 thoughts on “Ther Melian : Pencuri Jurnal

  1. begitu lihat pengumuman, langsung semangat ikut!

    .. tapi begitu baca syarat pendaftarannya …

    *mojok*

    *suram*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s