Sang Penakluk Naga

Oke~ berhubung ajang Fantasy Fiesta 2012 kemarin udah resmi selesai dengan diumumkannya pemenangnya.  Dan berhubung saia masih belom sempat nulis apapun untuk melanjutkan entry Publishing Rants 101 part 1 dan part 2

Maka di awal Oktober ini saia ingin membagikan salah satu cerpen lama saia. Sebenarnya cerpen ini udah selesai ditulis sejak lama, dan saia rencanakan untuk cadangan entry saia di ajang FF2012 tapi akhirnya saia putuskan untuk mengirimkan cerpen yang berjudul “Herakles” dan membiarkan yang ini tertumpuk begitu saja di dalam folder karya terbuang ^^;

Jadi dari pada membiarkannya jadi mubazir saia pikir mendingan diposting aja sekalian ke blog ini. So without further ado, saia persembahkan “Sang Penakluk Naga” hope you ejoy and let me know what you think 🙂

***

Valeria mengedip-ngedipkan mata sementara Chris terus mengguncang bahunya. “Bangun pemalas!” Chris menarik selimutnya. Pemuda itu beranjak membuka jendela kayu. Sinar matahari membajiri kamar Valeria. “Aku sudah menunggumu dari tadi, kenapa kau selalu terlambat sih?”

Valeria duduk di tepi dipan, menyisir rambut merahnya dengan jari. “Maaf,” katanya. “Tidak sepertimu, pekerjaanku banyak.” Gadis itu bangun lalu meraih tongkat panjang yang tersimpan diatas laci kamarnya. Tongkat itu berbahan logam ringan, sangat pas digenggamannya. Ujungnya bertakhtakan logam lain yang dipahat menyerupai sayap merpati. Sebuah kristal es  yang memancarkan cahaya biru misterius tersemat di dalamnya.

Tanpa sadar Valeria berdecak kagum, ia sangat menyukai tongkat sihir barunya. Ia harus berkerja keras, mati-matian mengumpulkan uang melalui berbagai misi yang diambilnya demi membeli benda ini.

“Jangan bengong terus,” panggil Chris. Pemuda berambut gelap itu sudah mendahuluinya ke pintu. “Klien kita sudah menunggu!”

Valeria menyusul Chris. Dengan rekannya memimpin di depan Valeria menuju ke alun-alun kota. Seperti biasa, tempat itu selalu ramai. Dari gerbang kota Valeria melihat para Pemburu yang  baru kembali, mereka membawa berbagai macam anggota tubuh monster untuk diperjual belikan.

Chris terus berjalan sampai mereka tiba di sebuah kedai. Seorang pria setengah baya berpakaian mahal telah menunggu mereka disalah satu bangku di dalam kedai. Melihat dari penampilannya pria itu pastilah seorang Archon atau Tuan Tanah. Pria itu menyesap minuman dari cangkirnya yang mengepulkan asap. “Kalian terlambat,” katanya. “Hampir saja kukira kalian mundur.”

Chris mengangkat alisnya. “Kami? Mundur?” desisnya. “Tuan Irwin, aku yakinkan Anda kami tak pernah mundur dari tugas apapun.” Pemuda itu lalu mengambil sebuah kursi di depan Irwin dan duduk. Ekspresi wajahnya penuh percaya diri—sedikit pongah—seperti biasa.

Valeria menggeleng lemas. Ia lalu duduk di sebelah Chris. “Maaf Tuan Irwin,” kata Valeria. “Aku terlambat bangun tadi. Jadi, Anda punya pekerjaan untuk kami?”

Irwin mengangguk lemas. “Aku memiliki tanah luas di sisi selatan pegunungan,” Ia menjelaskan. “Tapi akhir-akhir ini  para Petaniku mengeluh karena seekor monster membakar sawah dan ladang, juga mencuri ternak kami.”

“Monster?” tanya Chris. “Jenis apa? Kalau hanya monster-monster kelas C dan D  aku bisa merekomendasikan Pemburu level rendah kepada Anda.”

Irwin balas menatap Chris. “Apa aku akan memanggil kalian kalau masalahku hanya makhluk-makhluk rendahan itu?” katanya. “Tidak, yang ini istimewa. Aku percaya kita berhadapan dengan monster kelas S. Seekor Naga!”

Valeria terbelalak. “Naga?” ulangnya. “Anda yakin?”

Sepanjang karirnya sebagai Pemburu Valeria hanya pernah mendengar tentang Naga satu dua kali. Makhluk yang amat langka dan kuat. Tidak ada Pemburu kelas rendah yang berani mencoba menantang Naga, itu bunuh diri. Bahkan rumornya dibutuhkan sepasukan Pemburu kelas A –seperti dirinya dan Chris– untuk mengatasi seekor Naga di Negeri sebelah.

Irwin mengangguk yakin. Ia lalu menyodorkan beberapa lembar gambar pada Valeria. “Para Petani-ku mempertaruhkan nyawa mereka untuk merekam gambar-gambar ini,” jelasnya. “Silahkan kalian amati sendiri.”

Valeria mengernyit mengamati gambar itu dengan seksama, memeriksa apakah gambar itu otentik atau tipuan. Bukan pertama kalinya ia dan Chris berurusan dengan klien palsu yang menyerahkan gambar rekayasa, untuk menipu tentang jenis monster yang harus mereka hadapi agar dapat mencurangi pembayaran.

Setelah memastikan keaslian gambar itu, barulah Valeria mengamati isinya. Ia melihat sosok seekor reptilia berkaki empat dan bersayap lebar melayang diatas sawah. Valeria memang tak pernah melihat Naga sebelumnya, tapi ia cukup yakin itu memang Naga. Ukurannya tidak terlalu besar seperti yang didesas-desuskan, entah Naga ini memang masih muda, atau orang-orang hanya membesarkan ukuran mereka.

Ia lalu menyerahkan gambar-gambar itu pada Chris seraya mengangguk. Partnernya mengamati gambar-gambar itu dan segera mata Chris dipenuhi kobaran semangat. “Anda datang ke orang yang tepat Tuan Irwin,” kata Chris. “Kami akan mengatasi Naga ini untuk Anda dengan imbalan sebesar dua ratus juta Gald.”

Irwin membanting gelasnya di meja. “Apa!?” hardiknya. “Itu pemerasan!”

Chris mengangkat bahu. “Ini monster kelas S yang sangat langka,” katanya. “Kalau Anda ingin membasminya dengan harga murah, aku dengan senang hati merekomendasikan Pemburu kelas rendah. Tapi mereka hanya akan menimbulkan semakin banyak kerusakan di tanah Anda, jadi terserah Anda saja.”

Irwin mengerutkan bibirnya gemas sebelum akhirnya mengangguk setuju. “Akan kutranfser dulu separuhnya ke rekeningmu,” katanya. “Sisanya menyusul setelah kau membawakan kepala Naga itu untukku!”

Chris tersenyum puas dan bangkit dari duduknya. “Senang berbisnis dengan Anda,” katanya. Ia berpaling kepada Valeria. “Ayo, kita bersiap.”

“Hanya kau dan dia?” tanya Irwin menunjuk Valeria dan Chris bergantian. “Kalian tidak akan memanggil bala bantuan dari Perserikatan kalian?”

Chris menggeleng dan menyeringai. “Apa serunya kalau begitu?”

***

“Kau itu benar-benar gila, tahu!” Rutuk Valeria. Ia dan Chris tengah memanjat lereng gunung tak jauh dari tanah milik Irwin. Menurut para Petani yang tinggal di sekitar sini, kemungkinan si Naga bersarang di gua vulkanis yang banyak terdapat di gunung ini.

“Apanya?” tanya Chris tanpa menoleh ke belakang. Ia memanjat sebuah tebing lalu melongok ke dalam lubang di dinding tebing itu. “Ah kurasa disini juga tak mungkin, terlalu sempit.” Chris bergerak ke sisi tebing lainnya.

Valeria buru-buru mengikuti. “Melawan seekor Naga berdua saja!?” tanyanya. “Kupikir kau tadi hanya membual di depan klien, tak kusangka kau benar-benar nekat melakukan ini sendiri. Kenapa tidak memanggil teman-teman dari perserikatan, aku yakin ketua akan turun tangan dan membantu dengan senang hati!”

“Aku sudah bilang, kan,” jawab Chris. “Apa serunya kalau begitu?”

“Ini bukan main-main!” hardik Valeria. “Aku sudah bekerja keras hingga menjadi Pemburu kelas A. Aku tak mau mati konyol gara-gara kegilaanmu dan obsesi sintingmu untuk menjadi yang terkuat!”

“Tenang dong,” kata Chris. “Itu tak akan terjadi, aku yang akan maju di depan. Selama kau terus mendukungku dengan serangan-serangan sihirmu semua akan baik-baik saja!”

Valeria mendengus. “Begitu ada tanda-tanda Naga itu akan menelanmu, aku akan langsung lari meninggalkanmu!” ancamnya.

Chris hanya tertawa sambil meneruskan pencariannya. Valeria mengikuti dengan gemas. Chris adalah teman satu perserikatannya, sekaligus teman berburunya sejak Valeria memulai karir sebagai Pemburu.

Ada banyak pilihan karir di dunia Aldrant. Petani, Peternak, Pengerajin, Pedagang, Prajurit, dan Pemburu. Tapi profesi yang menarik minat Valeria hanya Pemburu.

Walau dikenal sebagai profesi berbahaya dengan risiko kematian tertinggi. Pemburu –sesuai namanya– memburu apa saja, mulai dari hewan buruan biasa sampai monster yang meresahkan penduduk. Seorang Pemburu juga memiliki lisensi khusus untuk menjelajahi lokasi-lokasi yang tertutup bagi warga Aldrant lainnya. Setiap Pemburu bergabung dalam Perserikatan dan diklasifikasikan sesuai kemampuan dan prestasi mereka. Kelas A adalah tingkatan tertinggi kedua, dibawah kelas S.

Valeria mungkin tidak bisa mencapai posisinya saat ini secepat itu tanpa bantuan –atau kenekatan—Chris. Pemuda itu kesatria yang cakap. Dia berani kalau tidak boleh dibilang  nekat dan gila. Ketangkasan dan kecekatan Chris diatas rata-rata, dia juga sangat profesional. Tidak seperti partner-partner yang pernah dimiliki Valeria sebelumnya. Makanya Valeria betah saja berpartner dengan pemuda itu walau terkadang kesintingannya membuat jantung Valeria nyaris lepas.

Mereka akhirnya mencapai mulut sebuah gua yang terpisah dari gua-gua lainnya. Gua ini juga berukuran jauh lebih besar. Chris menunduk di depan terowongan, mengamati lantai gua baik-baik. Ia berbalik, menyeringai. “Naga itu disini.”

Valeria langsung menyiapkan perlengkapan berburunya. Ia melepas jaket yang dikenakannya dan mengenakan jubah terkuat yang dimilikinya. Ia membeli jubah itu dari seorang Pengerajin terkenal. Jubahnya terbuat dari kulit yang dikeraskan secara khusus dengan lilin langka. Walau Valeria ragu apa jubah ini akan banyak menolong kalau si Naga berniat membakar dirinya sampai hangus.

Dia mengamati Chris yang juga sudah berganti pakaian. Pemuda itu kini mengenakan zirah yang menutup seluruh tubuhnya, termasuk kepala. Setelah mengenakan zirah, Chris tampak berbeda sekali. Sosok pemuda badung dan tinggi hati itu berubah menjadi kesatria yang kuat dan bisa diandalkan.

Logam pembentuk Zirah Chris seolah memancarkan cahaya kemerahan. Valeria langsung paham, Chris mengenakan zirah khusus yang dapat menahan api. Bahkan perisai Chris pun terbuat dari bahan sama. Seluruh tubuh Chris seolah diselimuti cahaya merah temaram, kecuali pedang yang tergenggam di tangannya. Pedang Chris memancarkan aura biru terang,. Logam pada pedang Chris telah ditempa dengan kristal es seperti yang terdapat pada tongkat sihir Valeria.

Mereka telah mengenakan perlengkapan yang tepat untuk menghadapi seekor Naga yang dapat menyemburkan api. Valeria mengangguk pada Chris. Rekannya memasang penutup helmnya dan memasuki gua.

Bagian dalam gua gelap gulita. Cahaya kebiruan dari tongkat Valeria memberi mereka penerangan seadannya. Valeria meraih kantongnya dan memasang kacamata pada salah satu matanya. Itu adalah kacamata khusus, perlengkapan standar yang dimiliki tiap Pemburu. Benda itu dapat mengukur kekuatan musuh, mengetahui jenis musuh dan merekam seluruh peristiwa yang dilihat oleh Valeria.

Nantinya Valeria dapat membawa kacamata itu ke ruang Perserikatan dan membayar untuk menyimpan hasil rekamannya dalam sebuah cakram khusus. Rekaman-rekaman semacam itu terkadang diperlukan sebagai bukti kepada klien bahwa ia telah menunaikan tugas. Atau untuk syarat mengikuti ujian kenaikan tingkat di pusat Perserikatan Pemburu.

Mereka terus menjelajah semakin dalam. Gua itu luas, simpang siur dengan belokan-belokan yang membingungkan. Tapi Valeria tidak takut, ia mencatat kemana mereka pergi dengan kacamatanya. Saat hendak keluar nanti ia hanya tinggal menampilkan peta yang sudah direkamnya.

Di depan sebuah kelokan yang menuju ruangan besar Chris mendadak berhenti. Tangannya beralih perlahan ke gagang pedangnya. Pemuda itu merunduk dan melanjutkan degan perlahan. Valeria melihat kebalik pundak partnernya dan melihat alasan kewaspadaan Chris. Di hadapan mereka adalah sebuah ruang bundar. Berbagai tulang hewan berserak di tepi ruangan, sementara di tengahnya ada sebuah sosok besar berwarna ungu gelap.

Sekilas sosok itu terlihat seperti seekor trenggiling raksasa. Sisik-sisik besar dan mengilat memenuhi tubuhnya, sementara sayapya yang perkasa dilipat di belakang punggungnya. Mereka sudah memasuki sarang Naga.

Makhluk itu tengah tertidur, perlahan Chris terus mendekatinya. Valeria berharap rekannya itu akan bertindak waras dan mencoba menghabisi si Naga dalam tidurnya. Alih-alin mencoba berbuat tolol seperti membangunkan Naga dan menantangnya.

Tapi harapan Valeria melayang sia-sia saat Chris meraung keras. Jeritan tantangan untuk membangunkan si Naga.

Raungan Chris dibalas dengan raungan membahana si Naga. Valeria menepuk keningnya. “Sudah kuduga!” rutuknya.

Si Naga menggeliat bangun merentangkan sayapnya lebar-lebar dalam sikap mengancam. Ia segera menyadari keberadaan Chris dan Valeria. Naga itu menghantam tumpukan tulang di depan Chris dengan tangan depannya. Membuat tanah bergetar. Chris tidak gentar, ia mengayunkan pedangnya dan menggores tangan si Naga. Makhluk itu mundur sambil menarik tangannya.

“Apa dia luka?” tanya Chris.

“Sedikit!” balas Valeria. “Kau harus menusuknya lebih dalam.”

Melalui kacamatanya Valeria dapat melihat apa yang tidak dapat dilihat Chris. Kekuatan lawan dan daya tahannya. Menurut perkiraan dari data yang dilihatnya, ini akan menjadi pertarungan yang panjang dan alot.

“Tidak akan seru kalau mudah!” Kata Chris seolah bisa membaca pikiran Valeria. Pemuda itu maju berusaha mendekati area di bawah perut Naga, tapi si Naga menghalaunya dengan cakar. Chris balas menyerang dengan pedangnya, mereka saling bertukar serangan.

Terdengar suara deting logam yang menyakitkan telinga saat pedang Chris menghantam sisik kokoh si Naga, atau sebaliknya saat Chris menggunakan perisai untuk menahan cakar si Naga. Sementara itu, Valeria sudah mulai merapalkan mantera terkuatnya. Ia tahu serangan elemen air dan es level rendah tidak akan banyak melukai si Naga. Valeria harus menggunakan sihir terkuatnya, dan itu artinya ia harus merapal lebih lama.

“Chris menunduk!” seru Valeria. Sesuai komandonya Chris menunduk sementara Valeria mengayunkan tongkatnya dan melemparkan lembing-lembing es sebesar dahan pohon ke tubuh si Naga.

Sebagian besar lembing es menghantam sisik Naga yang tebal, tidak melakukan kerusakan sebesar yang diharapkan Valeria. Tapi salah satu lembing es Valeria menancap tepat disela tangan si Naga, mengenai kulit lunak di ketiaknya. Makhluk itu meraung sejadi-jadinya. Valeria melukainya cukup dalam.

“Bagus!” kata Chris. “Teruskan.” Ia sudah menyerang si Naga dengan pedangnya lagi, memberi kesempatan Valeria untuk merapal mantera.

Namun serangan barusan hanya membuat si Naga semakin murka. Ia melompat mundur dan menurunkan lehernya lalu menyemburkan api ke arah Chris.

Valeria buru-buru merapalkan mantera pelindung. Ia menyihir kubah kasat mata di depan Chris dan dirinya, melindungi mereka dari semburan api. Setelah beberapa detik yang menguras tenaga akhirnya semburan api itu berakhir. Si Naga berhenti untuk mengambil napas.

Chris memanfaatkan kesempatan untuk memperpendek jarak. Ia melesat maju mencegah si Naga sebelum menyemburkan api. “Pulihkan tenagamu lalu serang lagi!” instruksinya.

Sementara Chris menahan si Naga, Valeria menengak sebotol obat untuk memulihkan tenaganya. Ia baru saja hendak merapal mantera lagi ketika tiba-tiba sebuah pusaran hitam terbentuk dibelakang punggung Chris.

Pusaran itu menyedot Chris. Dalam sekedipan mata baik sosok Chris maupun pusaran itu hilang dari pandangan. Valeria ternganga.

Kini setelah Chris menghilang, pandangan si Naga terkunci pada Valeria. Ia tahu ia tak bisa menghadapi Naga itu, seorang diri. Valeria merapalkan mantera level rendah. Ia mengirimkan pusaran es ringan untuk mengelabui mata si Naga lalu ia berbalik dan lari sekencang-kencangnya.

Ini tak mungkin terjadi! Rutuknya dalam hati. Dari semua kesempatan, Chris harus memilih sekarang untuk menghilang?

Dari belakangnya Valeria dapat merasakan panas. Si Naga mengejar, langkah kakinya membuat seluruh gua bergetar, napas apinya terasa sampai kesini. Valeria tak berani menoleh ia terus berlari. Valeria bersumpah ia sendiri yang akan membunuh Chris kalau ia berhasil selamat dari sini nantinya.

Tapi dalam kepanikannya Valeria salah membelok, alih-alih jalan keluar ia justru membelok ke dalam gang buntu. Saat Valeria berbalik si Naga sudah menghadang jalannya.

Nyaris bersamaan dengan semburan api si Naga, Valeria merapalkan pelindung sihirnya. Dia tahu itu sia-sia, cepat lambat ia akan kehabisan tenaga. Bila itu terjadi si Naga akan memanggangnya hidup-hidup atau mencabiknya dengan cakar dan giginya.

Valeria memejamkan matanya.

Sial! Rutuknya. Ia akan kehilangan semua yang telah dicapainya. Tidak seharusnya ia mendengarkan ide gila Chris. Melawan Naga hanya berdua saja, apa yang dipikirkannya tadi hingga Valeria tidak menolak?

Panas api semakin terasa, pelindung Valeria semakin lemah. Ia sudah pasrah menerima nasibnya ketika tiba-tiba si Naga meraung keras. Semburan api terhenti. Makhluk itu bergeliat, darah memercik kemana-mana dari tengkuknya.

Valeria menajamkan pandangan dan menyadari apa yang terjadi. Chris sudah kembali. Pemuda itu mengendap di belakang si Naga dan melompat ke punggungnya sembari menusukkan pedang diantara sela sisiknya. Si Naga meraung keras, mengangkat dua kakinya untuk menjatuhkan Chris dari punggungnya. Bagian bawah tubuhnya yang lunak terlihat jelas.

“Sekarang!” seru Chris.

Valeria memilih mantera terkuat yang bisa dirapalnya dalam waktu singkat. Ia menyihir sebatang anak panah es dan melontarkan benda itu tepat ke jantung si Naga. Panah es Valeria menancap dalam. Si Naga meraung semakin keras sebelum akhirnya roboh dan tak bergerak lagi. Mereka telah menang.

***

Valeria tak pernah melihat pesta kemenangan semeriah ini sebelumnya. Dalam sekejap kabar kemenangan mereka atas si Naga telah tersebar luas. Saat ia dan Chris kembali ke tanah milik Tuan Irwin semua orang menyambut dan mengelu-elukan mereka.

Sang Penakluk Naga! Begitulah orang-orang itu menjuluki dirinya dan Chris sekarang.  

Chris lebih menikmati suasana pesta ketimbang dirinya. Pemuda itu sibuk mengkisahkan kepahlawanannya pada orang-orang sambil menikmati makanan dan minuman. Sementara Valeria tak banyak bicara sepanjang acara.  Ia masih marah pada Chris karena meninggalkannya begitu saja tadi. Apalagi alasan yang diberikan Chris setelah itu sungguh tidak masuk akal.

Aku harus mengusir Nenek Sihir dari rumahku!  Alasan macam apa itu?

“Valeria!” panggil Chris. “Ceritakan pada mereka bagaimana kau menghabisi Naga itu dengan sihirmu!”

“Aku tidak mau,” balas Valeria ketus.

Chris menghampirinya. “Ayolah, kan tidak seru—,” ucapannya tidak pernah selesai. Pusaran hitam itu muncul kembali dan menyedot Chris seperti sebelumnya.

Semua orang tertawa. Valeria menghantamkan tangannya dengan gusar diatas meja.

Chris, sialan! Menghilang dua kali dalam sehari, hanya ada satu jawabannya. Koneksinya pasti sedang tidak stabil.  Pemikiran bahwa Chris nekat mengajaknya melawan seekor Naga saat koneksinya tidak stabil membuat Valeria semakin geram. Hampir saja ia kehilangan Avatar-nya.

Valeria meninggalkan pesta dengan gusar. Ia masuk ke dalam penginapan dan membaringkan diri diatas dipan. Valeria memejamkan matanya. Hiruk pikuk perayaan terdengar semakin sayup sebelum akhirnya hilang sama sekali. Valeria mengejapkan mata dan mendapati dirinya berbaring diatas tempat tidur kamarnya. Ia sudah terbangun.

Valeria melepaskan headset dan konektor dari kepalanya. Ia duduk dan mematikan koneksi internetnya.  Valeria melirik ke jendela. Matahari baru mengintip dari sela-sela gedung bertingkat di sekitar apartemennya. Ia beranjak dan mematikan alarmnya sebelum benda itu meraung. Valeria meraih handuk dan melangkah ke shower, ia sebaiknya bersiap untuk kerja.

Tidur malam Valeria tidak sama lagi dengan sebelumnya sejak permainan online Dunia Aldrant diluncurkan setahun lalu.  Sebuah permainan bersetting di dunia fantasi medieval. Dunia Aldrant memberi kesempatan pemainnya untuk memilih profesi apapun dan melarikan diri sejenak dari kejenuhan dunia nyata.

Menggunakan teknologi mutakhir untuk mengirim dan membaca data gelombang otak, permainan ini dapat dilakukan saat pemain dalam keadaan tidur. Permainan ini tidak akan menghabiskan waktu produktif pemainnya. Selain cara bermain. Perbedaan utama Dunia Aldrant dengan permainan lain adalah kematian di dalam game yang bersifat mutlak. Tidak ada pilihan ‘hidup kembali’ atau ‘mengulang dari titik simpan posisi akhir’. Pemain yang mati akan kehilangan Avatar-nya beserta seluruh harta dan reputasi yang telah dibangunnya. Dia harus memulai lagi dari nol.

Itulah sebabnya Valeria kesal. Kegilaan Chris membuatnya hampir mati di Aldrant. Ia bersumpah akan menghajar pemuda itu nanti malam.

Valeria sudah selesai mandi dan sarapan. Ia menyikat gigi sambil menyaksikan siaran televisi melalui kaca wastafelnya. Valeria menggeser jarinya di cermin untuk memilih-milih saluran. Ia berhenti di salah satu stasiun berita lokal. Ada sesuatu yang menarik perhatian Valeria, logo Dunia Aldrant yang terpampang di samping sosok pembawa acara. Valeria menggerakkan jari untuk mengeraskan volume.

“Seorang pria pengangguran  berusia tiga puluh ditangkap oleh kepolisian pagi ini pukul lima lebih tiga puluh menit”’

Kaca wastafel Valeria menunjukkan sebuah rumah kecil dengan garis polisi mengelilinginya.

‘Tetangga melaporkan, bahwa mereka melihat tersangka berdebat dengan korban. Tersangka memaki korban ‘Nenek Sihir’ sebelum menghantamnya berkali-kali dengan asbak. Tersangka lalu meracau tentang korban yang berniat meyabotase tugasnya sebagai pembantai Naga”

Wajah Valeria memucat. Ia teringat ucapan Chris sebelumnya.

“Diduga saat korban datang untuk menagih sewa. Tersangka sedang asyik bermain Dunia Aldrant marah karena dibangunkan. Bahkan saat polisi datang untuk menahannya tersangka masih asik bermain. Petugas kepolisian harus memutus paksa koneksi untuk menahan tersangka.”

Gambar pada kaca wastafel berubah lagi. Kali ini menunjukkan sosok pria kurus. Wajahnya pucat, pipinya cekung. Rambutnya gondrong, kusam, dan tak terurus. Dagu dan rahangnya dipenuhi jenggot.

“Menurut keterangan para tetangga, tersangka yang sebelumnya bekerja di perusahaan piranti lunak mulai kecanduan bermain Dunia Aldrant sejak delapan bulan lalu. Kebiasaan tersebut mengakibatkan tersangka dipecat dari perusahaan tempatnya bekerja. Semenjak dipecat, tetangga menyatakan tersangka terobsesi dengan permainan online tersebut. Bahkan saat ditahan tersangka masih merasa dirinya berada dalam permainan.”

Valeria mengedipkan matanya berkali-kali. Sementara itu pria kurus di kaca wastafelnya mulai meronta dan menjerit saat polisi hendak memasukkannya ke kursi belakang mobil patroli.

“Lepaskan aku! Aku adalah Sang Penakluk Naga! Aku Penakluk Naga, kau dengar!? Sebentar lagi aku akan cukup kaya untuk menjadi Archon, kali ini nenek sihir itu yang harus membayar uang sewa kepadaku! Kalian dengar? Aku Sang Penakluk Naga!”

Valeria ternganga, sikat giginya terlepas dari tangan.

~ f i n ~

Advertisements

6 thoughts on “Sang Penakluk Naga

  1. Td komen d hape tp gagal 😡
    Astaga… aku kira.. ini genrenya fantasy,spt biasa
    Eh eh, wkt d bag bwh2..
    *hape terlepas*(bc lwt hp)
    Itu game? x___x bnr2 nggk menyangka! Berasa real bgt XD
    mau dong ada game spt itu.. Hahaha XDD utk para pembuat game diluar sana: ini ide game br dr c Shienny, ditunggu game sbnrnya 😀 *loh==
    Intinya, aku sk bgt sm cerpen ini >w<b keren tingkat tinggi!! :3

    • sama-sama ^_^ makasih udah baca, cerpen yang ini memang tidak untuk diterbitkan, kalau ingin membaca karya2 yang udah diterbitkan jangan lupa mengoleksi tetralogi fantasi Ther Melian 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s