Short story: Sirena

Dalam rangka Halloween  lomba Cerpen Bulanan alias CerBul Periode Oktober yang selalu diadakan di forum ini saia memutuskan untuk mengetik kilat cerpen ini dalam waktu kurang dari 6 jam XD

Dan~ inilah hasilnya, selamat menikmati ^_^

Tirai-tirai cahaya putih menembus diantara hijaunya air, di sini jauh di dasar samudra hanya tirai itu saja yang mampu menembus pekatnya gelap. Sementara di sekelilingku tanaman-tanaman air bagaikan sulur menari-nari tertiup arus, aku berenang sehati-hati mungkin diantara tanaman-tanaman itu agar rambut panjangku—yang sewarna sulur—tidak terjerat. Tak lama aku telah meninggalkan kerumunan sulur di belakang, kini aku dapat melihat hamparan air yang berbatasan dengan Udara, Permukaan tak jauh diatasku. Bagaikan cermin yang bergelombang, Permukaan telihat berkilau oleh pendaran-pendaran warna perak.

Aku mengambil ancang-ancang lalu menggerakkan sirip belakangku kuat-kuat menambah kecepatan saat aku melesat ke atas. dengan satu kibasan ekor yang aku mengaduk kuat-kuat air di sekelilingku lalu terbang, berputar menembus Permukaan. Udara menyambutku, memenuhi paru-paruku melalui hidung, alih-alih insang yang ada di sisi-sisi leherku. Dengan wujudku ini aku memang bisa bernafas melalui insang maupun hidung. Namun ada kerinduan tak terbantahkan yang meluap dalam dadaku tiap kali aku menghirup udara segar dengan hidungku.

Saat akhirnya aku mencapai titik tertinggi yang bisa dihantarkan oleh kekuatan ekorku aku bersalto kebawah dan kembali dalam air. Namun satu gerakan berputar kemudian aku sudah mencapai Permukaan lagi. Kali ini aku keluar dengan perlahan. Bulan purnama menyinari wajahku saat aku mencapai Udara, aku berenang perlahan menuju gugusan karang yang sudah sangat kukenal. Setelah mencapainya aku mengistirahatkan tubuh bagian atasku—bagian Manusiaku—diatas salah satu karang.

Aku berbaring tengkurap, melihat sekilas pucatnya wajahku yang terpantul di Permukaan. Kulitku yang dulu cokelat keemasan kini sepucat rembulan, telingaku telah ditumbuhi semacam sirip. Sirip yang sama juga tumbuh di sela-sela jari tanganku. Kesal, aku mengibaskan ekorku yang masih dalam air. Siripku menyembul ke atas dan mengaduk-aduk Permukaan, menimbulkan gelombang-gelombang kecil agar aku tak perlu memandang diriku lagi.  Aku mengalihkan pandanganku pada gugusan karang di sekitarku, kumpulan batu-batu hitam sebesar rumah terserak di sepanjang perairan. Beberapa mencuat begitu tinggi diatas Permukaan, sisanya timbul tenggelam diantara ombak.

Tidak ada kapal yang berani berlayar di dekat gugusan ini—wilayah perairan yang mereka sebut Terkutuk—karena takut akan Kaum Mer, seperti diriku. Biasanya kami tidak membiarkan diri kami terlihat, kecuali saat kami ingin memperlihatkan diri kami. Namun kadang kala, saat kami tak bisa menahan kerinduan kami akan Udara dan menuju Permukaan. Kami tak sengaja membiarkan diri terlihat oleh pelaut yang melintas. Kuduga dari penampakan-penampakan itulah Manusia berbagi kisah tentang kami.

Sebagian percaya bahwa Kaum Mer membawa nasib buruk. Bahwa kami akan memikat mereka dengan nyanyian kami sehingga mereka menyerahkan seluruh harta yang mereka bawa pada kami. Dan konyolnya beberapa pelaut percaya bahwa mereka bisa menggelapkan barang-barang yang mereka muat di kapal lalu menyalahkannya pada kaum kami. Di kisah-kisah lain kami diceritakan memangsa para pelaut dengan menyeret mereka ke dasar lautan. Ada juga yang mengatakan bahwa kaum kami adalah roh-roh penasaran dari gadis-gadis yang mati muda di lautan. Atau putri raja samudra yang naik ke Permukaan untuk mencari pangeran yang dicintainya.

Begitu banyak cerita tentang kami, aku tak bisa mengingatnya. Aku mendengar semua itu kala aku berenang di bawah bayang-bayang kapal mereka, bersembunyi diantara kegelapan sambil mengamati mereka. Mencoba mengingat kembali bagaimana rasanya saat aku masih serupa dengan mereka.

Ya… Wujud kami tidak selamanya seperti ini. Dulu… Dulu kami adalah mereka, Manusia. Berjalan dengan sepasang kaki kami, menghirup udara segar langsung ke dalam paru-paru kami. Tapi takdir berkehendak lain, kami dikutuk, dan diubah menjadi wujud kami saat ini.

Kaum kami tak banyak jumlahnya. Masing-masing dengan kisahnya sendiri, kami tidak saling berbicara satu sama lain, kami sudah lupa bagaimana caranya. Lagipula sang penyihir laut mengambil suara kami saat kami membuat perjanjian dengannya. Dia hanya menyisakan kemampuan untuk bernyanyi, agar kami dapat membayar hutang kami padanya. Jadi aku tak tahu bagaimana kisah yang lain sampai mereka menjadi seperti saat ini, tapi kisahku diawali pada malam purnama seperti ini, dulu sekali. Saat itu aku dikenal dengan nama lain, satu-satunya hal yang tak akan kulupakan hingga sekarang walau bibirku tak bisa lagi mengucapnya, Sirena.

Sirena—tidak seperti diriku—dia adalah gadis muda yang cantik. Kulitnya cokelat keemasan, rambutnya panjang sepinggul selalu berayun tiap kali ia bergerak. Aku tidak ingat banyak tentang Sirena, yang kuingat dia tinggal di sebuah kota kecil yang berbatasan dengan sungai. Air tawar dari sungai membelah kota dan mengalir hingga ke lautan. Sirena sangat menyukai sungai itu. Dia selalu pergi berenang kapanpun ia bisa, bahkan sampai melupakan tugas-tugas dan kewajibannya untuk berenang. Seakan tiada hal yang lain yang dapat membahagiakannya selain berenang.

Malam itu purnama penuh seperti malam ini. Tanpa mempedulikan waktu Sirena berenang walau bulan sudah berada di tengah langit. Udara musim gugur sudah terasa dingin namun Sirena tak dapat menolak panggilan dari air sungai yang menyegarkan. Ia melupakan pesan ibunya agar langsung pulang setelah membeli arang dan kayu bakar. Ia meletakkan belanjaannya di tepi sungai dan berenang.

Sirena lupa sama sekali bahwa itu adalah malam terakhir di Bulan Panen. Orang-orang percaya bahwa itu adalah malam yang sakral, karena batas antara dunia dimana Manusia tinggal dengan dunia dimana Yang Lain hidup, terbuka lebar. Mereka percaya malam ini hal-hal mustahil dan buruk dapat terjadi, menimpa siapa saja. Orang-orang menyalakan api unggun di alun-alun kota untuk mengusir roh jahat, mereka menutup pintu dan melarang anak-anak keluar saat gelap agar terhindar dari nasib buruk. Sirena tidak peduli akan semua itu, tidak pula ia percaya. Namun karena takut pada ibunya, Sirena berniat akan pulang sebelum hari benar-benar gelap. Tapi malam itu air benar-benar membuainya. Ia benar-benar lupa akan janjinya sampai nyala api unggun di alun-alun kota terlihat diantara rerimbunan di tepi sungai. Menyadari bahwa ia akan kena masalah saat pulang nanti, Sirena semakin enggan meninggalkan air. Dia terus berenang berputar-putar, tanpa sadar dia bergumam… “Andai saja aku seekor ikan, aku tak perlu pulang lagi dan dapat berenang sesukaku.”

Aku mendesah. Betapa aku berharap dapat kembali ke masa lalu dan melarang diriku menggumamkan kata-kata tersebut. Segala hal yang dikatakan orang-orang mengenai malam terakhir Bulan Panen ternyata benar.

Entah roh jahat, dewa dewi, atau bahkan sang penyihir laut sendiri yang mencuri dengar perkataanku, yang jelas sesaat kemudian aku menyadari, aku berenang jauh lebih cepat dari biasanya. Aku bahkan dapat berada di dalam air lebih lama, dan akhirnya aku tak dapat lagi naik ke Permukaan. Aku tak mampu menghirup Udara langsung ke dalam paru-paruku. Sepasang kakiku telah berubah menjadi buntut ikan, sekujur tubuhku telah dipenuhi sisik. Aku berubah menjadi seekor ikan.

Ngeri dan takut menyadari perubahan diriku, aku terus berenang mengikuti aliran sungai menuju ke lautan lepas. Aku terus berenang semakin jauh dan semakin dalam ke dasar samudra. Aku bahkan tidak ingin lagi kembali ke Permukaan, aku ingin mati dan menghilang selamanya diantara air yang sebelumnya sangat kusukai. Disanalah aku akhirnya bertemu dengan Kaum Mer lainnya. Sekali pandang mereka tahu apa yang menimpaku. Tanpa bicara Kaum Mer membawaku ke hadapan sang penyihir laut.

Mulanya sang penyihir laut membuatku ketakutan, sekilas dia memang terlihat seperti Kaum Mer lainnya, tubuh bagian atas serupa Manusia dan tubuh bagian bawah seperti ikan. Tapi sang penyihir laut memiliki tubuh bagian bawah yang berbeda dengan kaum Mer lainnya, bukan ikan, melainkan sejenis ular laut raksasa dengan sisik-sisik besar berkilau bagai zirah logam. Sebuah mahkota duri menghiasi rambutnya yang perak, pendek, tajam, bagai paku. Matanya yang kosong—sekosong dasar samudra yang gelap—menatapku tajam. Sekali pandang aku langsung merasa jiwaku dihisap oleh mata itu.

Aku berdoa, memohon dalam hatiku pada sang penyihir agar aku dikembalikan sebagai Manusia, sebagai Sirena.  Sang penyihir menyanggupi, namun dia hanya dapat menghapuskan separuh dari kutukan yang menimpaku. Aku mendapatkan separuh wujud Manusiaku kembali, dan aku dapat kembali ke Permukaan untuk mencicipi Udara sebulan sekali saat purnama, namun dengan harga mahal. Sangat mahal.

Memandang kembali pantulan wajahku di permukaan laut yang beriak, aku mengenali sedikit sisa-sisa Sirena. Namun sekian lama di dalam lautan dan hanya sesekali mencicipi Udara wujud fisikku pun berubah. Diawali dengan warna kulit, warna rambut, dan pada akhirnya sirip-sirip pun tumbuh di sela jari dan telingaku. Aku juga kehilangan suaraku sebagai bagian dari perjanjian. Lagipula tidak ada Udara di dalam lautan sehingga kita tidak dapat bicara disana. Penyihir laut hanya mengijinkan kami bersuara saat kami berada di Udara.  Itu adalah harga-harga yang harus kubayar, tapi itu tidak seberapa dibanding sisanya…

Lamunanku terputus saat aku menangkap bayangan sebuah kapal berlayar di kejauhan. Kapal itu besar, lambungnya tampak menjulang apalagi dengan dengan empat tiang layar besar di sepanjang deknya. Aku mengambil Udara sebanyak mungkin sebelum menyelam kembali dan mendekati kapal itu.

Saat  tiba dibawah gugusan karang terluar aku muncul ke Permukaan perlahan. Aku tidak takut ada yang melihatku, karena saat ini kapal itu tengah berlayar menjauh dari tempat dimana aku berada. Itu wajar, malam ini purnama tak tertutup awan. Kapten  manapun dapat melihat gugusan karang yang berbahaya ini dan menjauhinya.  Tapi ini juga malam terakhir dari Bulan Panen, bulan kesepuluh dalam setahun. Ini malam sakral, batas antara dunia dimana Manusia tinggal dengan dunia dimana kami hidup, terbuka lebar. Malam ini hal-hal yang mustahil dan buruk, akan terjadi.

Bibirku tertarik ke atas menyunggingkan seulas seringai. Pada jarak ini aku menyadari bahwa kapal itu jauh lebih besar dari dugaanku, aku menebak ada ratusan jiwa diatas kapal ini. Pelaut, awak kapal, dan penumpang. Lebih dari cukup untuk membayar sang penyihir lautan sampai tahun depan, maka aku mulai bernyanyi…

 ~END~

Advertisements

3 thoughts on “Short story: Sirena

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s