“100 Days Before Revelation” oleh Jessica Nathania

“Hutan di dekat kota Terraven?” Vrey meneguk segelas susu yang disediakan Blaire untuknya. “Jadi, aku cuma perlu mencari bunga bernama Amor… apa namanya tadi?”

“Amor Aeternus,” koreksi Blaire. “Ya, begitulah. Seorang saudagar kaya sedang mencarinya dan meminta bantuan kita.”

Vrey mengangguk-angguk tanpa memalingkan perhatian dari gelas yang kini kosong di tangannya. Kebetulan sekali dia diberi misi untuk pergi ke hutan itu, sudah lama dirinya ingin ke sana. Dari gosip yang dia dengar –menguping pembicaraan pelanggan kedai lebih tepatnya– hutan itu menyimpan sejuta harta karun. Mulai dari tanaman hingga hewan langka yang harga jualnya tidak tanggung-tanggung ada di sana. Tapi, itu hanya gosip, lagipula kalau memang benar, kenapa jarang ada pemburu atau pencuri seperti Vrey yang pergi ke hutan dekat Terraven? Lalu kenapa Terraven hanyalah kota yang kumuh kalau di dekatnya ada sumber uang? Untuk menjawab pertanyaan itu, Vrey berniat pergi ke sana namun belum mendapat kesempatan. Akhirnya hari ini dia mendapatkannya.

“Omong-omong,” Blaire melanjutkan. “kamu nanti akan ke sana sendirian. Nggak apa, kan? Yang lain sudah punya misi masing-masing, aku harus mengurus kedai, dan Clyde entah pergi ke mana.”

“Ha! Kamu pikir siapa aku?” Vrey menyeringai. “Tentu nggak ada masalah!”

“Sudah kuduga,” Blaire tertawa kecil sembari mengeluarkan suatu gulungan kecil beserta barang-barang lain dari peti tua di pojok ruangan, “Ini peta dan beberapa obat-obatan. Bawa saja untuk berjaga-jaga. Kudengar di sana ada Daemon ganas, ya setidaknya itu yang dikatakan orang-orang.”

Vrey meraih gulungan itu dan menyapukan bola mata ungunya pada permukaan kertas. Tempatnya tidak begitu jauh dari Mildryd. Sebelum hutan ada kota Dominia, dia dapat singgah di sana. Dan tidak akan ada si bocah ingusan, Evan, di misinya, sempurna. Barang-barang yang disodorkan Blaire telah dimasukkannya ke dalam tas.

“Waktunya sepuluh hari. Tapi, kurasa kamu akan bisa menemukannya lebih cepat dengan kemampuanmu. Ini gambar bunganya.”

“Pasti,” sahut Vrey penuh percaya diri sambil mengambil secarik kertas bergambarkan Amor Aeternus. “Aku akan berangkat setelah sarapan.” Vrey mengoleskan selai coklat pada roti tawar di tangannya.

“Gill masih tidur, jadi kamu nggak perlu pamit padanya atau kamu nggak akan keluar hidup-hidup.”

Vrey mengangguk dan memasukkan perlengkapan lain yang mungkin dibutuhkannya ke tas, termasuk belati tuanya. Setelah yakin semua hal yang penting sudah dibawa, Vrey meraih rotinya dari piring. “Oh, jangan beri tahu Aelwen soal hutan di dekat Terraven atau dia akan menjejaliku dengan pertanyaan bahkan mungkin memaksa ikut. Jadi..”

Belum sempat Vrey menyelesaikan kalimatnya, Aelwen justru sudah berdiri di belakangnya.

Oh, sial. Maki Vrey.

“Vrey, kamu mau ke mana?” tanyanya polos.

“Jangan tanya!” Vrey langsung melarikan diri, berangkat sebelum melahap sarapannya untuk menghindari rentetan ucapan teman sekamarnya itu. Vrey dengan gesit meraih sebuah roti dari salah satu stan pedagang untuk sarapan. Pagi itu Mildryd sudah ramai, banyak orang berlalu-lalang di jalanan. Udara masih sangat segar, Vrey menarik napas dalam-dalam merasakan nyamannya udara pagi di kota Mildryd. Dia tidak menyesal meninggalkan Falthemnar dan pindah ke kota kecil itu. Falthemnar memang indah, namun tidak seindah tatapan para penghuninya pada Vier-Elv seperti Vrey.

Berjalan kaki menuju hutan di dekat kota Terraven dan kembali ke Mildryd akan memakan waktu kira-kira enam hari. Vrey sesekali beristirahat untuk makan dan tidur dalam perjalannya. Beruntung, dia sudah biasa berpetualang di Hutan Telssier. Hingga berada dalam hutan-hutan di sepanjang jalan menuju Terraven bukan hal baru baginya. Tidak terasa dua hari telah berlalu dan Vrey makin dekat dengan Dominia.

“Amor Aeternus, ya..” Vrey memperhatikan gambar bunga yang menjadi misinya. Mirip seperti mawar berwarna merah, daunnya hijau dan panjang seperti daun bunga lily.

Saat Vrey mendongak, kakinya telah menapak pada gerbang masuk kota Dominia. Kota kecil itu lumayan ramai saat siang hari. Banyak orang sedang mendagangkan berbagai macam barang di sepanjang jalan. Di tengah kota terdapat air mancur besar, di sekeliling air mancur ada beberapa bangku kayu. Anak-anak kecil dengan gelak tawa berlarian, membuat Vrey harus sedikit bergeser saat mereka berlari melewatinya agar tidak tertabrak.

Vrey belum pernah pergi ke Dominia, dia benar-benar menikmati pemandangan kota kecil itu. Dominia tidak jauh berbeda dengan Mildryd, kecil tapi ramai. Berada di sana membuat Vrey merasa berada di Mildryd.

“Ah, Nona, silahkan mencoba roti terbaru kami,” ucap salah seorang pedagang sambil menyodorkan roti yang terlihat baru dipanggang saat Vrey melintasi stan tokonya.

Vrey tentu merasa tidak enak jika mengambil roti itu dari penjualnya yang sudah berbaik hati menawarkan tanpa membayar. Meskipun dia seorang pencuri, tetap saja dia punya hati. Dengan sedikit enggan, dia merogoh tasnya dan mengambil uang. Ternyata, roti itu sangat enak. Rasa menyesalnya benar-benar terhapuskan. Vrey memutuskan untuk memakannya sambil menelusuri kota Dominia. Kepalanya menoleh kanan dan kiri memperhatikan sekeliling. Hingga akhirnya dia menabrak seseorang karena tidak melihat ke depan.

“Hei, Nona, kalau jalan lihat-li.. Vrey?”

Vrey mendongak menatap wajah pemilik suara yang begitu dikenalnya. “Clyde?!”

Clyde, salah seorang anggota komplotannya berdiri dengan kedua tangan di pinggang. “Ah, kupikir aku ditabrak seorang gadis cantik. Ternyata hanya si kuping lancip bodoh.” katanya dengan nada kecewa.

“Sialan kamu,” maki Vrey. “Tunggu, kenapa kamu di sini? Harusnya kamu kerja jadi prajurit, kan?”

Clyde mengangkat bahu. “Anggap saja aku sedang berlibur.”

Vrey mendengus sambil menarik rambut Clyde. “Kamu pikir aku bisa dibohongi? Katakan yang sebenarnya.”

“Baiklah! Baiklah! Astaga!”

Clyde mengusap-usap kepalanya setelah Vrey berhenti menarik rambutnya. “Aku memang sedang berlibur! Kepala prajurit memberiku libur seminggu. Dan aku sedang menderita kantung kering, aku baru saja menuntaskan misi dari seorang pelanggan yang tinggal di sini.”

“Jadi, kamu menghilang selama beberapa hari terakhir dan nggak memberi kabar gara-gara ini?”

“Oh, aku pasti sudah gila kalau memberi tahu kalian. Kamu tahu keadaan ekonomi kita sedang di ujung tanduk. Gill pasti akan membabat habis uang hasil pekerjaanku kalau dia tahu. Sama saja aku akan kembali pada kondisi kantung kering.”

Meskipun kesal, Vrey memahami maksud Clyde.

“Kamu sendiri sedang apa di sini?” tanya Clyde.

“Misi. Apa lagi.” Vrey mengambil gambar Amor Aeternus dari sakunya. “Aku harus mengambil bunga ini di hutan dekat Terraven.” katanya sambil menunjukkan gambar itu pada Clyde.

Clyde meliriknya sekilas kemudian berpikir sebentar. Menurut kabar yang tidak pasti, ada Daemon ganas di hutan itu. Clyde tentu tidak tega membiarkan Vrey ke sana sendirian. Meskipun selama ini kerjaannya hanya mengerjai Vrey, sebenarnya itu dilakukannya untuk menarik perhatian gadis Vier-Elv itu. Bagaimana pun, Clyde menyukai Vrey sejak dulu. Hanya saja Vrey tidak peka dengan perasaan Clyde.

Clyde mengangguk yakin setelah berpikir. “Aku ikut.”

“Apa?” Vrey menatapnya heran.

“Apa kuping lancipmu rusak?” ejek Clyde. “Aku bilang aku ikut. Di sana berbahaya, aku bisa melin– membantumu kalau ada apa-apa.”

Vrey makin heran. Jarang-jarang Clyde bersikap baik padanya. Biasanya laki-laki itu hanya mengerjainya siang-malam, membuatnya sakit kepala. “Memangnya kamu yakin bisa bertarung kalau ada Daemon?”

“Oh, tolong!” Clyde memutar bola matanya. “Aku sudah melewati tahap seleksi yang ketat untuk menjadi prajurit dan tentu aku harus bisa bertarung untuk lulus. Dan nggak bisakah kamu lihat pedang yang kugantung di ikat pinggang ini?”

Meskipun awalnya agak merasa aneh, Vrey akhirnya menerima tawaran Clyde. Tanpa buang-buang waktu lagi, keduanya beranjak meninggalkan kota Dominia. Vrey memperkirakan mereka akan tiba di tempat tujuan besok siang karena hari itu warna langit sudah berubah menjadi jingga.

***

Vrey memasang pendengaran dan pengelihatannya yang tajam. Dua ekor tupai yang akan jadi makan siang mereka semakin mendekat ke dalam jaring jebakan. Vrey memberi isyarat pada Clyde untuk memotong tali di samping laki-laki itu yang terhubung pada jaring jebakan dengan pedang tipisnya. Sedetik kemudian, tupai-tupai itu sudah terjerat. Akhirnya, perut kosong kedua anggota komplotan Kucing Liar yang dari tadi sudah meraung-raung terisi juga.

Hutan di dekat Terraven ternyata sangat tenang, mengingatkan Vrey pada Hutan Telssier. Tanaman tumbuh dengan lebatnya. Beberapa tanaman bahkan tergolong langka sepeti gosip para pelanggan kedai. Hewan-hewan hutan bersembunyi di balik pepohonan dan semak-semak. Tapi, dengan mata tajamnya, Vrey tahu hewan-hewan itu sangat beraneka ragam. Alamnya masih sangat alami, belum tersentuh. Entah apa yang membuat para pemburu dan pencuri tidak pernah menelusuri hutan itu sampai dalam. Vrey dan Clyde mengambil beberapa tanaman langka untuk dijual dengan harga tinggi di kota nanti. Tentu keduanya telah sepakat untuk merahasiakannya dari yang lain.

Sebenarnya sedari tadi perasaan Vrey tidak menentu. Hutan itu entah bagaimana membawa ingatannya pada Valadin. Saat di mana dia duduk bersama Elvar itu di padang rumput Hutan Telssier. Jantungnya berdetak dua kali lebih cepat tiap kali mengingat wajah Valadin. Kelembutan Valadin membuat Vrey merasa tenang. Satu hal yang mungkin disesali Vrey saat meninggalkan Falthemnar adalah dia harus meninggalkan Valadin. Tanpa disadari, dia telah jatuh cinta pada Valadin.

“Apa kamu punya petunjuk tentang sifat bunga ini?” tanya Clyde membuyarkan lamunan Vrey. “Seperti misal bunga ini suka dengan air atau semacamnya.”

Vrey menggeleng. “Blaire hanya memberiku gambar.”

Clyde menghela napas. Akan lebih susah untuk mencarinya tanpa sifat spesifik.

“Bagaimana kalau kita cari di sebelah sa– AAAAA!!!” teriak Vrey saat kakinya terpeleset batuan tebing yang licin. Tanpa bisa melawan gaya gravitasi, tubuh Vrey jatuh bebas dari tebing.

“VREY!!” Clyde berlari secepat mungkin ke arah tebing di mana Vrey jatuh. Jantungnya berdebar tidak karuan, takut terjadi apa-apa dengan Vrey. Dilihatnya dari ujung tebing Vrey jatuh terduduk sambil mengusap-usap pantat. Clyde menghela napas lega, sangat lega. Kemudian dia melompat turun dan mendarat di bawah tebing dengan mulus.

“Kamu nggak apa?” tanyanya seraya mengulurkan tangan.

Vrey menyambut uluran tangan Clyde dan berdiri. “Nggak apa.”

“Dasar kuping lancip bodoh. Ceroboh sekali.”

“Apaan sih, kuping lancip, kuping lancip,” protes Vrey geram. “Kenapa kamu selalu saja memanggilku begitu? Karena aku Vier-Elv?”

“Bukan!” tolak Clyde cepat. Dia sama sekali tidak pernah membenci kaum Vier-Elv. Apalagi Vrey. “Itu karena.. karena aku..” Clyde meremas bagian samping celananya. Haruskan dia mengatakannya? Clyde menelan ludah. Dia memutuskan untuk nekat saja menyatakan perasaannya. “Aku padamu.. su..”

“Wangi apa ini?” potong Vrey. Kepalanya berputar ke arah wangi itu berasal. “Ah!”

Clyde mengikuti arah pandang Vrey. Tampak sekumpulan Amor Aeternus di sana. Vrey dan Clyde langsung menghampiri bunga itu. Keduanya terkesima melihat keindahan Amor Aeternus. Bunga merah besarnya memancarkan cahaya putih, daunnya begitu hijau dan segar. Tanaman itu mengeluarkan aroma yang begitu wangi. Belum pernah Vrey melihat bunga seindah itu.

Clyde memalingkan wajah untuk menyembunyikan wajah merahnya saat melihat wajah Vrey yang tersenyum lebar. Tanpa menyadari hal itu, Vrey memetik sepuluh tangkai Amor Aeternus seperti jumlah yang tercantum dalam kesepakatan dengan pelanggannya.

Tiba-tiba bayangan hitam besar menutupi cahaya dari belakang Vrey dan Clyde. Tangan Clyde langsung meraih pedang yang tergantung di ikat pinggangnya, sementara Vrey mengambil belati tuanya.

Daemon.

Vrey dan Clyde melompat ke dua tempat berbeda saat cakar Daemon hendak merobek tubuh keduanya.

“A, apa itu?” Vrey tercengang melihat Daemon di depannya. Tubuhnya berbentuk seperti serigala, namun lima kali lipat lebih besar. Warna bulunya putih bersih, kontras dengan matanya merah menyala. Gigi dan cakarnya begitu tajam. Ekornya ada tiga dan ukurannya besar semua. Vrey tidak sempat berpikir lagi saat Daemon hendak menyerangnya untuk kedua kali.

“Vrey, awas!” teriak Clyde memperingati.

Refleks Vrey membuatnya berguling ke samping untuk menghindar. Secepat mungkin dia kembali berdiri lagi.

Clyde berlari ke arah Daemon dan melompat tinggi dengan pedang terhunus. Namun, kibasan ekor Daemon melontarkannya ke belakang. Clyde bersalto dan mendarat dengan mulus.

Giliran Vrey yang menyerang. Dia berlari zig-zag, berharap dapat membuat Daemon itu bingung. Saat jaraknya tinggal kira-kira dua meter, Vrey melompat tinggi. Dia mengincar mata Daemon, namun sama seperti Clyde, tubuhnya dihempaskan oleh ekor Daemon. Sayang, Vrey tidak mendarat dengan baik. Dia jatuh dan belum sempat berdiri saat cakar Daemon hendak menerjangnya.

“ECENDIUS!!” teriak Vrey kencang. Dari tangannya yang terulur muncul pusaran api, Daemon itu menarik cakarnya dan Vrey mengambil kesempatan itu untuk berlari menjauh.

“Vrey, aku akan mengalihkan perhatiannya. Serang saat dia fokus padaku!”

Vrey mengangguk mengerti. Dia membiarkan Clyde maju duluan. Laki-laki itu mempercepat larinya, melewati sang Daemon hingga Daemon itu membalikkan badan dan kepalanya. Melihat kesempatannya datang, Vrey maju menerjang dan melompat tinggi. Belatinya sukses menusuk punggung Daemon. Daemon itu mengerang dan menggeliatkan tubuhnya dengan brutal. Vrey terhempas dan menabrak pohon.

“VREY!!” Clyde hendak menuju tempat Vrey, namun dihalangi oleh Daemon. Terpaksa dia harus menghindari serangan-serangan Daemon itu sambil beberapa kali mencoba menyerang balik. “Vrey, kamu nggak apa?!” tanya Clyde di sela-sela perjuangannya.

Kedua tangan dan kaki Vrey gemetaran menopang tubuhnya yang penuh luka. Banyak goresan-goresan kecil bahkan ada yang dalam akibat terkena dahan dan ranting pohon. Darah segar mulai menetes ke tanah. Vrey mengerang, mendesah merasakan nyeri di sekujur tubuhnya. Dia tidak menjawab pertanyaan Clyde karena Vrey sendiri tidak yakin apakah dia baik-baik saja.

Clyde terkesiap saat ekor Daemon menebas pedangnya. Pedang tipis itu terbelah menjadi dua. Tidak ada lagi senjata baginya. Berikutnya, ekor Daemon kembali menebasnya. Dia terlontar dan menabrak batu besar. Pandangannya kabur, tulang punggungnya seakan hancur. Clyde memaki diri, dia begitu tidak berguna. Dia tidak bisa melindungi gadis yang disukainya. Clyde pasrah ketika cakar Daemon menghantamnya.

“TIDAK!!” teriak Vrey sejadi-jadinya. Dia tercengang melihat di tubuh temannya terdapat tiga goresan dalam yang mengucurkan darah. Vrey jatuh terduduk dengan tubuh gemetar saat Daemon ganas itu mendekatinya. Kini dia tahu kenapa para pemburu dan pencuri tidak ada yang berani menelusuri hutan itu hingga bagian dalam.

“Ecendius! Ecendius!! ECENDIUS!!” Vrey berusaha menyerang dengan sisa tenaganya. Tapi, apinya makin lama makin kecil. Sama sekali tidak mempengaruhi Daemon itu. Dia takut. Takut setengah mati.

“Tolong..” desahnya. “Tolong aku!! Valadin!!” Nama itu terlontar keluar dari mulutnya tanpa disadari. Vrey menyilangkan kedua tangannya di depan wajah dan menutup mata rapat-rapat saat cakar Daemon akan mengoyaknya. Tapi, tidak ada yang terjadi. Vrey membuka kembali matanya perlahan, mendapati seseorang dengan jubah dan bertudung berdiri membelakanginya. Tangan kanannya menggenggam sebilah pedang yang berlumuran darah Daemon. Daemon tadi tergeletak di depannya tak bernyawa.

Vrey merasa tubuhnya lemas. Pandangannya kabur. Dia ingin tahu siapa orang yang telah menolongnya, tapi suaranya tidak keluar. Hal terakhir yang dilihat olehnya hanya rambut panjang berwarna pirang yang keluar dari tudung sebelum kesadarannya hilang.

***

  “Ah, Vrey, kamu sudah sadar?”

Vrey mengerjapkan matanya beberapa kali. “Blaire?”

Blaire tersenyum lega melihat temannya telah siuman. “Maafkan aku, Vrey. Nggak kusangka benar-benar ada Daemon ganas di sana.” katanya dengan nada menyesal. “Beruntung kamu nggak benar-benar sendirian, kamu masih bersama Clyde.”

“Clyde!” Vrey langsung bangkit dari posisi tidur ke posisi duduk. “Bagaimana dia? Lukanya parah, kan?”

“Tenang saja, dia nggak apa-apa. Lukanya sudah ditangani, hanya saja dia belum sadar. Barang-barang kalian juga lengkap beserta Amor Aeternus-nya.”

Vrey menghela napas lega. Sedetik kemudian raut mukanya berubah. Dia kembali teringat pada orang bertudung yang menyelamatkannya. Dan bagaimana dia bisa ada di Mildryd sekarang padahal dia tidak ingat berjalan pulang?

“Kalian membuat kami semua panik. Tiba-tiba seseorang bertudung membawamu dan Clyde kemari dengan tubuh penuh perban.”

Vrey langsung menatap Blaire lekat-lekat. “Seseorang bertudung?”

Blaire mengangguk. “Saat aku sibuk dengan kepanikanku, orang itu sudah pergi. Aku belum berterima kasih padanya.”

Vrey mengurungkan niat untuk bertanya karena Blaire pasti juga tidak akan tahu siapa orang itu. Tapi, mengingat warna rambutnya, hanya satu orang yang ada di benak Vrey. Valadin. Benarkah orang itu Valadin?

Tirai yang berfungsi sebagai pintu kamar dibuka. Tampak Aelwen sedang membawa buket bunga Amor Aeternus di tangannya. “Ah, Vrey!” Aelwen menghampiri tempat tidur Vrey dengan senyum mengembang. “Syukurlah, kamu sudah sadar.” katanya sambil memberikan buket itu pada Blaire.

“Indah sekali, Aelwen. Aku akan segera mengantarkannya pada saudagar itu,” Blaire bangkit berdiri dan keluar dari kamar.

“Memangnya untuk apa, sih, bunga itu?” tanya Vrey setelah sosok Blaire menghilang di balik tirai.

Aelwen menarik sebuah kursi dan duduk di samping tempat tidur Vrey. “Kudengar untuk ditaruh di makam almarhum istrinya.”

“Haaah?” Vrey membelalakkan mata. “Hanya untuk itu saja? Bukankah bunga itu sangat mahal harganya?”

“Kamu tahu arti Amor Aeternus, Vrey?”

Vrey menggeleng. Apa yang dipikirkan Aelwen, mana mungkin Vrey mengerti bahasa asing.

“Artinya “Cinta Abadi”,” Aelwen tersenyum. “Meskipun istrinya telah tiada, cinta di antara mereka akan tetap ada. Karenanya dia rela mengorbankan harta untuk almarhum istrinya, cinta abadinya.”

Vrey terdiam sejenak untuk mencerna kata-kata Aelwen, kemudian tersenyum tipis. “Sesuai dengan bunganya,” katanya. “Indah.”

Aelwen mengangguk setuju. “Ah, Vrey, ini untukmu,” Aelwen menarik tangannya yang dari tadi disembunyikanya di belakang pinggang. Setangkai bunga Amor Aeternus diserahkannya pada Vrey. Vrey menunjuk dirinya dengan penuh keheranan.

“Untukku?”

“Iya,” Aelwen tertawa kecil. “Karena kamu berharga untukku. Teman yang kusayangi. Ambilah, Vrey.”

Vrey tersipu malu sambil meraih bunga itu. “Tapi, bukannya aku cuma mengambil sepuluh tangkai? Dan jumlah yang diinginkan saudagar itu sepuluh.”

“O, oh?” Aelwen terlihat sedikit bingung. “Saat kamu dan Clyde datang, aku memeriksa barang bawaan kalian dan ada sebelas tangkai Amor Aeternus, jadi kuambil satu.”

“Sebelas?”

Belum sempat Aelwen menjawab, tirai kembali dibuka. Kini Evan yang masuk membawa buah-buahan segar. “Aelwen?” ucapnya heran. Vrey tidak menyangka justru nama Aelwen yang disebutkan Evan pertama kali.

“Kamu dari mana saja? Tiba-tiba menghilang enam hari terakhir ini,” tanya Evan pada Aelwen. Buah-buahan yang dibawanya diletakkan di meja kecil dekat tempat tidur Vrey.

“Aku mendapat misi,” jawab Aelwen. “Jadi, aku harus pergi selama enam hari.”

“Apaaa?” Mata Evan melebar. “Curang! Kenapa kamu boleh menjalankan misi sendirian? Kenapa aku nggak boleh?”

Aelwen tersenyum sambil mengusap-usap kepala Evan. “Tunggu sampai kamu lebih besar, ya. Nanti pasti ada waktunya.”

“Itu karena kamu cuma bocah ingusan pembuat masalah. Seenggaknya untuk sekarang,” timpal Vrey sambil mengangkat bahu.

Evan memberengut sebal. “Lihat saja, aku pasti akan lebih hebat darimu, Vrey!”

“Oh? Begitukah? Bertapa dulu seribu tahun baru bisa, Bocah.” Vrey menjulurkan lidah mengejek.

Vrey dan Aelwen mentertawakan bocah itu, membuat Evan makin jengkel.

Meskipun tertawa, pikiran Vrey masih berkutat pada orang bertudung penyelamatnya itu. Siapa gerangan dia? Valadin atau orang lain? Vrey tidak tahu.

***

Bola mata ungu Vrey memandangi wajah laki-laki berambut pirang panjang di sampingnya dengan seksama. Tiap detil wajahnya dia perhatikan.

“Apa ada sesuatu di wajahku?”

“Ah?” Vrey sedikit kaget karena Leighton tiba-tiba menoleh. “Nggak. Aku cuma teringat sesuatu.”

Leighton tersenyum kecil. “Apa?” tanyanya.

“Misi untuk mencari bunga Amor Aeternus,” jawab Vrey. “Aku masih penasaran dengan orang bertudung yang menyelamatkanku dan Clyde waktu itu. Tapi, setelah kupikir-pikir, jangan-jangan orang itu kamu?”

Leighton mengangguk. Memang dia orangnya. Dia tahu tentang Daemon ganas itu, sehingga memutuskan untuk menyusul Vrey sejam setelah Vrey berangkat dengan alasan dia akan menjalankan misi di dalam kota selama enam hari. Beruntung, dia tidak terlambat datang. Dia segera memberikan pertolongan pertama pada Vrey dan Clyde. Sebelum membawa keduanya kembali ke Mildryd, Leighton –Aelwen– memetik sebatang bunga Amor Aeternus lagi.

“Astaga..” gumam Vrey. “Ternyata kamu.”

“Memangnya kamu pikir siapa?”

Vrey sedikit menunduk sebelum menjawab. “Valadin.”

“Valadin?”

“Karena rambutnya pirang!” Vrey cepat menambahkan. “Maksudku.. Tunggu, rambut Valadin berwarna emas.. Dan kamu waktu itu bukan  Leighton, tapi Aelwen, jadi..” Vrey menggeleng. “Ah, sudahlah!”

Leighton tertawa kecil sambil membelai rambut Vrey lembut. “Apa kamu masih ingat arti Amor Aeternus?”

“Eee.. Aku nggak ingat,” jawab Vrey jujur. Dia memang tidak ahli di bidang bahasa asing.

“Artinya “Cinta Abadi”, Vrey,” kata Leighton lembut. “Memang tidak salah aku memberinya padamu dulu.”

Wajah Vrey merona merah. Tangan Leighton meraih pipi gadis itu. Tampak sebuah cincin melingkari jari manisnya, cincin yang sama dengan yang melingkari jari manis Vrey. Leighton menatapnya lembut. “Cintaku abadi untukmu, Vrey.”

Vrey tersenyum mengingat hari di mana dia dan Leighton mengikat janji suci, mengikat cinta abadi. Ya, cinta mereka abadi untuk selamanya, seperti arti dari bunga Amor Aeternus. Vrey yakin tidak akan ada yang bisa menggoyahkan cinta mereka, begitu pula Leighton.

Photobucket

Advertisements

3 thoughts on ““100 Days Before Revelation” oleh Jessica Nathania

  1. Penulisan yang rapi, penjelasan yang benar2 jelas
    Ouwooo~ aku suka XD

    Clyde kasian banget XD waktu mau menyatakan perasaannya pada Vrey, eh, gagal x___x

    Waktu baca bagian Vrey n Clyde diserang daemon, terasa banget keadaannya saat itu, bener2 menegangkan…

    Wkt ada yg menyelamatkan Clyde n Vrey, sudah ada satu nama yg muncul di pikiranku, “Leighton”

    Eh, bnr XD

    Cinta Leighton Vrey memang abadi <3<3

    Hore untuk Leighton n Vrey~~!! *tebar confetti* ^^

  2. Pingback: Ther Melian fanfiction contest FINALE! « Shienny's Rants

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s