“Alasan Hidup” oleh Evan

Alasan Hidup by Evan

klik untuk memperbesar

“Sial! Menyebalkan! Bodoh!” Gerutu seorang Elvar berambut abu-abu kebiruan sambil mengayun-ayunkan tongkat sihirnya dengan kesal, seolah-olah ada seeokar lalat yang hinggap disana dan tidak beranjak sama sekali. Entah sudah berapa omelan dan cercaan yang ia ucapkan semenjak Valadin masuk ke Menara Zelbiell seorang diri untuk membunuh Odyss, sang Magus Kerajaan Bangsa Aetheral.

“Zen, aku tahu kalau kau sangat gusar karena tidak dapat menggunakan sihirmu. Tapi kurasa akan lebih baik bila kita menunggu Lourd Valadin dengan tenang. Mengingat tempat ini sangat tidak nyaman….bagi kita.” Karth berusaha sebisanya untuk menenangkan Eizen yang tidak bisa menggunakan sihirnya sama sekali. Dalam situasi seperti ini, hanya Karth lah yang mampu mencairkan ketegangan diantara mereka berempat. Ellanesse diam seribu bahasa dan sama sekali tidak berkomentar atas apapun yang diucapkan Eizen, padahal biasanya dialah rekan sejati Eizen bila harus berdebat dalam semua hal, entah itu relik, tujuan mereka dan bahkan Valadin! Laruen? Gadis ini meringkuk disamping Karth. Laruen membetulkan mantel yang dipakaikan Karth padanya dan sekali lagi –ia menoleh ke suatu arah dengan pandangan ngeri dan menggigit bibir bawahnya sambil menggeleng.

Bila kita mengingat kembali, perjalanan panjang mereka dalam mengumpulkan ketujuh relik elemental memang telah berakhir, namun justru pada saat inilah, Valadin merasa berada dijalan sempit dan sebuah batu besar menutupi jalan satu-satunya itu. Ada kebimbangan yang meraung di lubuk hatinya. Seolah-olah penjelasan para Aether mengenai asal-usul Benua Ther Melian adalah rantai kasat mata yang membuat dirinya seperti diperintah oleh para Aether secara tak langsung. Iya, bila ini adalah permainan, Valadin dan kawan-kawannya adalah bidak yang rela dikorbankan oleh pemain demi meraih kemenangan.

Kini, mau tak mau mereka harus tetap maju dan menepis semua keraguan yang ada. Seperti yang dikatakan Ellanesse, bahwa tidak ada gunanya bila mereka mundur sekarang. Semua pihak telah sepakat memberi gelar “penjahat” dan sangat sulit bagi mereka untuk menerimanya karena mereka merasa melakukan hal yang benar.

Sosok Valadin yang menghilang beberapa menit setelah ia masuk kedalam Menara Zelbiell seolah-olah terasa sudah berjam-jam. Tidak ada yang berubah diantara Karth dan yang lainnya kecuali Eizen yang memilih untuk berdiam diri di jembatan. Sesekali dia mengutuki para jenazah Bangsa Aetheral sebagai pelampiasan kekesalannya dengan kata-kata yang keterlaluan dan membuat Karth tidak bisa berbuat apa-apa. Sejujurnya, Karth merasa agak menyesal menasihati Eizen. Dengan menyendirinya Eizen di jembatan membuat atmosfer diantara dirinya, Laruen dan Ellanese semakin berat.

“AAAH!!”

Suara jeritan Laruen memecahkan keheningan mereka. Karth , Ellanesse –dan tak terkecuali Eizen dibuatnya terkejut. Eizen tergopoh dari jembatan sambil mengacung-acungkan tongkat sihirnya.

“Kuharap kau membuatku terkejut karena setan-setan yang berkeliaran disini! Bukan karena..hmph…Daemon! Hah..! Dan sepertinya begitu!” Cerocos Eizen dengan nafas tersengal-sengal.

“Huh..padahal biasanya kau yang paling bersemangat, tapi tanpa kekuatan sihirmu, kau seperti tikus tua yang kehujanan, wahai Eizen sang Magus terhebat di Terra.”

Eizen mendelik kaget pada Ellanesse. Murka dan mual, semuanya bercampur didalam diri Eizen. Berbagai cacian ia lontarkan, bahkan ini pertama kalinya Eizen berani mengatakan “Nenek Lampir” secara langsung pada Ellanesse.

Laruen yang tadimenyembunyikan wajah dibalik telapak tangannya kini berbalik memandang mereka berdua, begitu pula Karth. Ellanesse, dengan gayanya yang angkuh, menghampiri Eizen sambil mengacungkan tongkat kristalnya. Ia menyipitkan mata ambernya dan berkata “Terima kasih, tapi sebagai seorang Vestal aku merasa tak layak membalas hinaanmu. Semoga berkat para Aether selalu besertamu.”

Ellanese meninggalkan Eizen yang gemetar hebat. Bila mana mereka tidak terkurung dalam Ruang Waktu, ingin rasanya Eizen menggunakan sihir terkuatnya untuk menghanguskan Ellanesse hingga tulang-tulangnya. Laruen tiba-tiba saja bangkit dari duduknya. Dengan langkah lunglai, ia menghampiri Ellanesse.

“Leidz Ella…apakah tadi Anda tidak merasakan ada sekumpulan ‘roh’ yang mengelilingi diri Anda…? Mereka terlihat seperti..seperti akan menyerang Anda!” Laruen memberikan penekanan pada kata terakhirnya. Ellanesse membuang wajahnya dari Laruen dan meninggalkan gadis Vier-Elv itu dengan mengatakan hal yang lebih menyakitkan daripada hinaan “Nenek Lampir” Eizen.

“Mata merahmu yang kotor itu membuatmu melihat hal-hal yang seharusnya hanya dapat dilihat oleh kami, para Vestal. Sebagai seorang Vestal aku merasa sangat malu dapat melihat dan merasakan hal yang sama denganmu. Oh tapi terima kasih sudah memperingatkanku. Lain kali cobalah untuk berteriak lebih keras agar para ‘roh’ yang ada di tempat terkutuk ini dapat kembali ke alam mereka yang seharusnya.”

Memang bukan tabiatnya, tapi Karth sudah hampir membalas hinaan Ella pada Laruen. Beruntung Laruen menahannya sebelum terjadi perang mulut diantara mereka. Matanya terasa sangat panas dan ia berlari menjauhi Karth. Ketika melewati Eizen yang berada dibelakang Karth, ia dapat melihat Eizen yang memasang raut wajah penuh murka. Entah karena Ella menghina dirinya ataukah karena hinaan Ella pada Eizen sebelumnya.

***

Di sisi lain jembatan setelah Laruen menyeka air matanya, sayup-sayup ia mendengar sebuah suara yang amat dikenalnya. Nada suara yang terdengar memekik itu bercampur antara kesedihan dan kerinduan. Tahu-tahu saja, Laruen telah menyiapkan busur dan memasang sebuah anak panah. Laruen menyipitkan matanya yang masih basah, memperkuat indera pendengarannya dan menengok ke segala arah, berusaha mencari tahu. Kali ini, semakin ia mencari tahu semakin banyak pula ‘roh’ yang muncul. Laruen menelan ludah dan ia berbisik “Oh Hamadryad, Sang Aether pelindung pepohonan dan segala makhluk hutan, aku mohon berkatmu.” “Oh Hamadryand, Sang Aether…” begitu Laruen mengulang-ulang doanya hingga akhirnya ia menemukan sumber suara yang dikenalnya tadi.

Mata Laruen tertuju pada seoggok pilar batu yang masih berdiri tegak diantara pilar-pilar lainnya. Seakan-akan, pilar itu berada disana hanya demi Laruen seorang. Sebuah sosok yang sudah sangat dikenal Laruen bertengger disana. Laruen masih tak percaya pada apa yang ia lihat. Tanpa sadar ia membuang busur dan anak panahnya dan  sebulir air mata mengalir setiap kali ia melangkah mendekati pilar tempat sosok itu berada. Sosok itu mengepakkan sayap perkasanya yang kini berwarna kelabu. Nada pekikannya terdengar sangat memilukan. Helai-helai bulu kelabu berguguran disekitar pilar. Laruen mencoba menyentuh sehelai bulu namun sia-sia. Bagai seonggok debu yang tertiap angin, begitulah bulu itu lenyap. Kali ini, Laruen tak kuasa lagi  membendung perasaannya.

“Pe..Peregrine..”

Suara Laruen terdengar sengau dan ia jatuh bertelut. Ia sangat ingin berteriak, menumpahkan semua emosinya. Semuanya terasa campur aduk dan sebenarnya sangat sulit dipahami untuk seusianya. Ia teringat saat-saat pertama ketika ia diangkat sebagai Ierre, ia merasa bangga dan ibunya membuatkan sari buah jambu kesukaan Laruan satu guci besar dan akibatnya, ia tidak mau melihat jambu selama beberapa minggu. Ia  lalu  seekor elang jantan yang paling kecil diantara elang lainnya karena ia merasa memiliki kesamaan –kecil dan dikucilkan. Para Ierre lain telah memperingatkan Laruen kalau elang yang paling kecil ini sangat susah dilatih, tapi Laruen pura-pura tak mendengar omongan mereka. Hari-hari pertama ia berlatih dengan Peregrine dilaluinya dengan omelan sendiri karena Peregrine tidak mau mematuhi Laruen, bahkan meski telah diberi umpan makanan kesukannya.

Pekikan Peregrine membuyarkan lamunan Laruen. Peregrine yang kini berupa roh, terbang rendah kehadapan Laruen dan melayang dihadapannya. Laruen memandang sosok kelabu Peregrine dengan mata merahnya yang kini dipenuhi warna kesedihan. Laruen mencoba menyentuh roh elang kesayangannya itu, namun sekali lagi bagian yang disentuhnya lenyap bagai debu.

Laruen kembali teringat pada saat sayap kiri Peregrine tak segaja terpanah oleh panah Ierre lain ketika mereka berlatih di Hutan Telssier. Laruen teramat cemas pada saat itu. Ia tak dapat tidur selama satu minggu penuh dan  memutuskan untuk menginap di rumah tabib para makhluk hutan di Falthemnar. Meskipun dengan kekuatan sihir para Vestal ataupun Eddlyn dapat mengobati luka luar Peregrine, jiwa Peregrine sendiri ‘rusak’. Ia sangat trauma dengan apa yang dialaminya. Setiap kali Peregrine mencoba mengembangkan sayapnya, ia memekik ketakutan dan menjadi tak terkontrol. Disinilah, hubungan Laruen dan Peregrine terbina. Dengan seluruh kasih sayangnya sebagai Ierre, majikan dan sahabat, Laruen berhasil memulihkan luka batin Peregrine. Keberadaan Laruen pada saat itu, memberikan kekuatan dan alasan bagi Peregrine untuk tetap hidup dan mengembangkan sayapnya demi dirinya sendiri dan gadis Vier-Elv sahabatnya, Laruen.

Laruen meraung-raung sambil memukuli salah satu batu reruntuhan yang ada disana. Ia benar-benar menumpahkan semua emosinya. Laruen teringat kembali saat pertama kali ia memutuskan  bertualang dengan Lourd Valadin. Disaat Ellanesse mencela darahnya yang separuh Elvar, Peregrine selalu ada untuk menghiburnya. Sebagai ucapan terima kasih, Peregrine hanya meminta tengkuknya dielus. Peregrine sesekali berbisik pada Laruen, ia berkata bahwa disepanjang perjalanan, ia dapat melihat binatang-binatang lain iri dengan kedekatan mereka. Laruen tertawa kecil dan mengelus tengkuk Peregrine.

Bisa dikatakan, Peregrine lah yang selalu mewarnai hari-hari Laruen selama perjalanan panjang mereka alami demi mengumpulkan relik elemental. Semuanya tidak ada yang salah hingga pada suatu hari yang menyedihkan di Templia Undina. Pada saat Putri Ascha terpaksa bertarung melawan Laruen, Peregrine merelakan dirinya menjadi sasaran bahan peledak sang Putri, demi melindungi Laruen.

Semuanya berputar dikepala Laruen. Ia teringat saat-saat menyedihkan ketika bertemu ayah yang ia kira telah meninggal di Templia Hamadryad, bahkan ia ternyata memiliki saudari kembar, tidak lain adalah Vrey! Laruen ingin sekali bercerita banyak pada Peregrine pada saat itu, namun baginya, dunia telah berwarna kelabu tua. Karth? Meskipun Laruen mempercayai partnernya, namun tidak semudah itu Laruen dapat membagi hal yang bersifat pribadi pada Karth, apalagi bila hal itu berhubungan dengan Vrey. Memikirkannya saja sudah membuat Laruen jijik.

“Pa..padahal kau berada tepat dihadapan..ku, tapi aku tak dapat menyentuhmu..” Isak Laruen pada Peregrine yang dibalas dengan pekikan pelan.

“Tahukah kau, Peregrine…tidak ada elang lain yang..yang mampu menggantikanmu. Pada saat misi ini usai dan bangsa Elvar telah mendapatkan kejayaannya kembali, aku memutuskan untuk berhenti sebagai Ierre dan menghabiskan sisa hidupku..untuk..untuk meneliti tanaman obat. Mung-mungkin aku juga akan belajar menjadi tabib bagi….para binatang, yeah kau ingat ‘kan, dulu aku..aku sampai tidak tidur berhari-hari demi menemanimu di tabib. Karth sampai-sampai berkata kalau wajahku seperti rakun gara-gara kurang tidur…ha..ha…”

Air mata Laruen kembali menyerbak dan Peregrine memekik pelan. Seolah ia mengatakan sesuatu padanya. Laruen memandang sosok kelabu Peregrine dan berusaha memasang senyuman terbaiknya.

“Terima kasih atas rohmu yang kau korbankan, Peregrine. Aku akan tetap hidup demi dirimu juga.”

“Alasan untuk tetap hidup demi seekor elang yang telah mati? Sangat menyentuh hati sekali, Laruen, aku sungguh terharu.”

Laruen terperanjat mendengar suara yang sangat ia kenal ini. Sindiran yang disampaikan dengan sangat halus, siapa lagi kalau bukan Ellanesse.

“Kau! Leidz Ellanesse! Anda..sejak kapan berada disini, dan Anda mendengar semua pembicaraanku dengan Peregrine??” Laruen menoleh dan menyadari kalau Peregrine tidak ada lagi disana.

“Maaf bila saya lancang, Leidz Ellanesse, tapi apa yang sedang Anda lakukan disini?” Laruen mencoba mengatur emosinya. Ia merasa sangat marah mengetahui suatu hal yang sangat pribadi baginya diketahui oleh orang lain, apalagi oleh Ella.

“Sederhana, dari kejauhan aku merasakan banyak roh yang tiba-tiba berkumpul disini. Dan karena kita semua tahu kau ada ditempat itu, maka KAMI memutuskan untuk kemari. Benar bukan, Karth? Dan Elvar yang satu lagi?”

Karth menampakkan sosoknya dari balik puing-puing reruntuhan. Meskipun ia sudah sangat sering menguping, tapi kali ini perasaan bersalah dan malu jelas terlihat dari raut wajahnya.

“Oh? Dimana Magus terhebat kita, Karth? Bukankah tadi ia bersamamu?” Ellanesse memincingkan matanya kepada Karth. Karth menjawab sekenanya kalau Eizen meninggalkan tempat ini begitu mengetahui dengan ‘siapa’ Laruen berbicara.

“Lalu, kau sendiri?” Tanyanya kembali pada Karth. Entah karena alasan apapun, Ellanesse terlihat jauh lebih mirip ular berbisa hari ini.

“Maaf Leidz Ellanesse, tapi Saya adalah partner Laruen, saya rasa sudah seharusnya saja menjaganya, jadi saya…”

“OH!  Jadi hanya karena kau partnerku, kau berhak mengetahui semua rahasia dan perasaanku, Karth?? Apa kamu tidak pernah mengerti bahwa setiap diri kita membutuhkan waktu untuk urusan pribadi?” Bentak Laruen pada Karth.

Karth tidak dapat membalas perkataan Laruen. Ia menyadari kesalahan fatal yang baru saja dibuatnya. Iya, meskipun Karth adalah partner Laruen, tidak semestinya ia berada disini untuk hal pribadi seperti ini. Mungkin, meskipun Eizen sangat tidak bisa mengatur kata-kata yang terucap dari bibirnya, ia masih memahami dengan baik arti dari sebuah urusan pribadi.

“Kurasa, lebih baik aku meninggalkan kalian berdua sekarang, Karth dan Laruen.” Ella memberikan senyum masamnya pada mereka berdua dan ketika ia hendak membalikkan badannya dari Laruen, sebuah keberanian muncul dalam diri Laruen.

“Leidz Ellanesse. Saya rasa Andalah yang tidak boleh pergi. Karth, aku MOHON, agar kau pergi dahulu. Ada yang ingin aku bicarakan dengan Leidz Ellanesse. Berdua saja.”

Setelah mengucapkannya, Laruen memandang Ella dengan tanpa ekspresi. Tanpa membantah sedikitpun, Karth meninggalkan mereka berdua.

“Laruen sang Ierre yang saat ini masih dirundung kesedihan karena kematian elang tercintanya.” Ella mendekati Laruen yang masih memandangnya datar. “Jujur, aku merasa kagum dengan keberanianmu tadi. Meskipun aku sangat mual dan jijik harus berduaan dengan setengah Elvar di tempat gelap semacam ini.”

“Leidz Ellanesse, aku sudah MUAK dengan apa yang Anda ucapkan padaku –dan juga atas sindiran-sindiran berbisa ANDA pada Eizen. Dan JANGAN berpura-pura tidak tahu kalau aku tahu Anda juga mencoba mengadu domba aku dan Karth!”

“Meskipun intelegensiku tidak setinggi Anda, tapi disini, di otakku, aku masih memiliki akal sehat. Kekuatan sihir Anda tak dapat digunakan di Ruang Waktu ini. Meskipun ada puluhan atau ribuan roh yang mengelilingku, dengan cara apa Anda mengusir mereka?”

Ella mematung ditempat. Ia tak menyangka bahwa Laruen yang selama ini selalu diam dan bersembunyi dibalik Karth dan Valadin, kini menghujaninya dengan kata-kata seperti ini.

“Aku sudah MUAK dengan perjalanan ini! Aku jauh dari rumahku! Aku kehilangan Peregrine! Aku berkata kepadaMU kalau aku juga MUAK dengan semua sindiran-sindiran berbisaMU! Aku mual dengan apa yang kau lakukan pada Lourd Valadin! Berani-beraninya kamu merusak waktuku bersama Peregrine tadi!! Apa pedulinya darahku dengan darahmu? Meskipun darah manusia mengalir di tubuhku, aku juga tetap mempertaruhkan nyawa demi bangsamu, bangsa ELVAR! Apa kamu tidak sadar itu, hai Leidz Ellanesse? Tidak sekali aku mempertaruhkan nyawaku demi relik-relik itu! Untuk alasan apa? Karena aku MENGASIHI darah Elvarku! Aku mengasihi bangsa Elvar!”

“TUTUP MULUTMU SETENGAH ELVAR! Kau tahu apa soal Elvar? Mungkin dulu ayahmu, Lourd Reuven adalah seseorang yang sangat terhormat, tapi kini dia adalah Elvar menyedihkan dan kau lahir dari darah menyedihkan itu, kau tahu? Darahmu terlalu menyedihkan sebagai darah Elvar!!”

Keheningan datang memecah mereka berdua. Laruen dan Ella saling memandang. Laruen berusaha mengatur napasnya. Ia teringat kembali, terkahir kali Laruen meledak seperti ini pada saat salah seorang pemimpin Ierre menghendaki Laruen untuk memilih elang baru, karena kondisi Peregrine dianggapnya tak layak sebagai pendamping para Ierre.

Pada saat itu, ia tak peduli meski yang ia hadapi adalah atasannya dan bahkan sopan santun yang berlaku di kalangan Bangsa Elvar. Ia sangat menyayangi Peregrine, apapun sosok, sifat dan kondisinya.

Ella sudah tidak tahan lagi, ia lalu memegang erat lengan Laruen dengan erat seperti yang pernah dilakukannya dulu. Dengan nada berdesis, ia membisikkan pada Laruen berulang-ulang “Vier-Elv, darah campuran…Vier-Elv…”

Laruen meronta berusaha melepaskan cengkraman Ella. Namun sayang justru Ella semakin kuat mencengekram Laruen. Laruen menatap mata amber Ella yang dekat sekali dengan wajahnya. Dulu, mata Amber Ella memang teduh, namun saat ini hanya ada warna kebusukan yang tercermin di warna Amber itu.

“Leidz Ellanesse, bila kau bukan kawan kami, anak panahku pasti telah menembus lehermu!” Geram Laruen

“Hoo..rupanya kau benar-benar sudah bukan gadis kecil yang pemalu dan penakut seperti dulu, Laruen. Aku yakin bila Lourd Valadin mendengar perkataanmu, ia pasti akan menendangmu dari kelompok kita! Kau akan hidup di dalam penderitaan! Di tengah-tengah kejayaan bangsaKU ketika Lourd Valadin berhasil mengalahkan Odyss!” Ella menguatkan cengkramannya dan kali ini Laruen merintih kesakitan.

“Meskipun..meskipun Lourd Valadin mengeluarkanku dari kelompok, meskipun aku hidup di dalam penderitaan, aku tetap hidup! Kau tidak mengatakan kalau aku mati! Iya, Leidz Ellanese, aku akan tetap hidup dan berjuang karena aku memiliki mereka yang menyayangiku!”

“HA HA HA HA! Memang Siapa yang menyayangimu, VIER-Elv??”

“Yang pasti, ibu Laruen sendiri, Leidz Ellanesse.”

Tahu-tahu, Karth berdiri dibelakang Ella. Kedua tangannya terlipat di dada. Ia memandang Ella dengan wajah tersenyum puas dan sangat menyebalkan bagi seorang Ellanesse,

Laruen hendak membentak Karth tapi buru-buru Karth menjelaskan alasan mengapa ia ada disana. “Eizen berkata bahwa ada perubahan dengan Ruang Waktu ini. Dia merasakan bahwa tenaga sihirnya mulai pulih dan pastinya saat ini Odyss pasti sedang terluka karena Lourd Valadin. Kurasa alasanku berada disini masuk akal kan, Laruen?”

Ella melepaskan cengkramannya di lengan Laruen dengan canggung. Dengan angkuhnya dan seolah-olah tak terjadi apapun, ia berjalan melewati Karth dan berbisik “Usaha yang bagus, tuan Shazin, aku tak merasakan tenaga sihirku kembali. Kau adalah pembohong yang buruk bagi para pengguna sihir.”

“Oh benarkah? Saya tidak merasa berbohong Leidz Ellanesse. Saya hanya mengatakan apa yang ada dipikiran saya, sebelum melihat warna lengan Laruen berubah seperti mereka, para Bangsa Aetheral  yang mengapung di kolam.”

Kali ini tak sepatah kata pun meluncur dari lidahElla yang tajam. Ia meninggalkan Karth dan Laruen berdua disana.

Sambil merintih, Laruen mengambil busur yang tadi ia jatuhkan, tapi ia tak dapat menemukan sebuah anak panahnya yang tadi. Karth memanggil nama Laruen dengan lembut dan membuat Laruen terkejut dari lamunannya diantara puing-puing.

“Laruen, mungkin Peregrine mengambil anak panahmu, sebagai tanda mata terakhir darimu.”

“Bukan, Karth.” Laruen menengadahkan kepalanya, memandang langit Ruang Waktu yang muram.”Setelah mengutarakan semuanya tadi, ada sebuah beban yang terlepas dari pundakku. Bahkan, busur ini terasa ringan sekali. Kurasa tanpa adanya Peregrine tadi, aku tak memiliki kesempatan untuk mengutarakan apa yang mengangguku selama ini.”

Laruen lalu menunjukkan pada Karth, ia menemukan anak panahnya. Karth terkekeh dan berkata bahwa sebagai seorang Shazin iapun merasa perlu mengambil kelas literatur untuk menarik hati wanita. Laruen nampaknya paham apa yang dimaksud Karth. Cepat-cepat ia merapikan perlengkapannya dan untuk terakhir kalinya, ia memandang pilar tempat Peregrine bertengger tadi.

“Selamat tinggal, Peregrine. Terima kasih atas pengorbananmu padaku. Aku tahu, selama aku tidak tenang disini, kau tidak akan dapat beristirahat dengan tenang. Selamat tinggal, sahabatku. Aku akan terus hidup, aku tak mau menyia-nyiakan pengorbananmu.”

Karth menghampiri Laruen yang sedang memanjatkan doa bagi Peregrine. Ia memang tidak pernah mendoakan elang kesayangannya itu, karena selama ini ia masih tidak dapat menerima kematian Peregrine. Karth menepuk ringan pundak Laruen. Ia berdeham dan memberikan sebuah bunga berwarna lembayung yang indah.

“Bunga ini adalah tanaman obat biasa digunakan untuk menutupi kulit yang melepuh akibat luka bakar. Aku menemukanya di sekitar gua tempat kita semua bermalam kemarin.” Karth merogoh tas pinggang kecilnya “Aku memetik beberapa, yeah kurasa kau bisa memberikannya pada Peregrine. Setahuku ia mati karena ledakan ‘kan?”

Laruen menerima beberapa bunga obat Karth. Ia menata bunga itu dibawah pilar tadi. Ia tersenyum puas dan menyeka air matanya yang tiba-tiba menetes. Mereka berdua bertelut dan memanjatkan doa Hamadryad untuk makhluk penghuni hutan yang mati.

Sebuah guncangan tiba-tiba memecah keheningan Karth dan Laruen. Mereka teringat pada Valadin dan Odyss. Dengan segera, mereka berlari kearah Menara Zelbiell. Dengan tergopoh, mereka melihat Eizen yang berkacak pinggang di ujung jembatan.

“Bagus! Demi para Aether! Mau berapa lama kalian berada disana dan seenaknya meninggalkanku berdua dengan si Nenek Lampir!! Bila kalian tak ingin mendapatkan julukan dari aku, ayo cepat kemari! Valadin sepertinya berhasil mengalahkan Magus sialan itu!”

Untuk yang pertama kalinya, omelan Eizen menjadi angin segar bagi Karth dan Laruen.

Laruen berhenti sejenak. Ia melepaskan sarung tangan Ierre yang biasanya menjadi tempat Peregrine bertengger. Ia melipat rapi sarung tangan itu dan menyimpannya didalam tas kecil yang melingkar di pinggangnya. Ia melepaskan mantel pemberian Karth, menyiapkan busurnya lagi dan menarik dua buah anak panah dari tabungnya.

“Aku memiliki alasan untuk terus bertahan hidup. Demi Ibuku, demi Peregrine, demi Lourd Valadin yang menerimaku dan demi mereka semua yang menyayangiku.” Laruen mengakhiri kalimatnya dengan melirik Karth.

Photobucket

Advertisements

3 thoughts on ““Alasan Hidup” oleh Evan

  1. Ini komen yg udah ada di notes facebook, tp.. aku mau komen jg di sini =.=v

    Susah utk mmbuat cerita yg berada d tgh2 sbuah cerita, & ini.. Wow..

    Salah satu hal yg penting d TherMelian, yaitu cinta, cinta persahabatan. Yg dicritakan d sini cinta antara Laruen & Peregrine…. Trs bgmn dulu awalnya Laruen bisa menjalin hub dgn Peregrine..

    Alasan hidup, kita hrs hidup demi semua orang yang peduli dan sayang sm kita

    Suka sm pesan yg tersembunyi di sini.. :3

    “Wow” aja nggak bisa menjelaskan fanfic ini.. :Db

  2. Pingback: Ther Melian fanfiction contest FINALE! « Shienny's Rants

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s