“Amore” oleh Sakihellish13

Tiga tahun setelah perang besar di dunia Terra berlalu, Vrey dan Leighton telah menikah. Meski mereka telah menikah dua tahun yang lalu, Very belum terlalu terbiasa dengan kehidupan di istana dimana pada saat makan malam, acara formal,dan kegiatan kerajaan lainnya memerlukan tata cara dan aturan sesuai budaya kerajaan Laguna Biru.

Terlebih lagi sudah beberapa hari Leighton pergi bertugas ke kerajaan Lavanya membuat Vrey sangat kesepian. Memang banyak pelayan dan orang – orang di istana Laguna tetapi tetap saja seorang Ratu tidak boleh berbicara sembarangan kepada orang lain.

Hari ini adalah hari kepulangan Leighton dan Vrey sangat menunggunya.Setiap kali mengingat Leighton, Vrey menghentak-hentak hak tingginya ke lantai kamarnya. Ia sangat kesal terhadap Leighton sebab Leighton tidak memperbolehkan Vrey ikut dengannya ke kerajaan ratu Ratana dengan alasan akan sangat melelahkan dan berat. Apa-apaan itu?! Ia pikir siapa Vrey? Tuan putri yang lemah?. Mengingat hal itu membuat Very semakin kesal.

“Leighton bodoh!”, Vrey melempar bantal ke arah pintu tepat ketika Maxen membuka pintu.

“Ah! Maxen!”,Ujar Vrey yang terkejut melihat Maxen terkena lemparannya tepat di wajah. “Kenapa kamu tidak mengetuk pintu dahulu sebelum membuka pintu?,Ucap Vrey yang berusaha mengalihkan kesalahannya.

Maxen memungut bantal yang dilempar Vrey dan memberikannya kembali kepada Vrey dengan sopan, “Saya sudah mengetuk berkali-kali jadi saya pikir terjadi sesuatu karena tidak ada sahutan dari anda nona Vrey”.

Vrey mengambil bantalnya dengan perasaan sedikit malu. “Maafkan aku Maxen, tadi aku sedang tidak berpikir jernih”.

“Tidak apa-apa nona, saya datang kemari ingin memberitahukan kalau Tuan Leighton tidak dapat kembali hari ini dikarenakan masih harus mengurus beberapa urusan lagi, dan beliau juga mengirimkan perkamen ini untuk nona”,ucap Maxen yang memberikan Vrey perkamen dengan ikatan tali pita berwarna biru tersebut.

Dengan wajah kecewa Vrey menerima surat itu, “Aku mengerti, kau boleh keluar,Maxen”.

Maxen membungkukkan badan sebagai tanda hormat undur diri dan meninggalkan Vrey. Setelah Maxen pergi, Vrey membuka surat Leighton dengan perasaan kesal.

Untuk Vrey-ku Tercinta,

Maafkan aku menunda kepulangan yang telah ku janjikan padamu, Vrey…

Ada beberapa hal penting lagi yang harus kuselesaikan

Kuharap kamu dapat mengerti

Aku akan kembali ke Granville besok pada hari Amore

Selalu Memikirkanmu

Leighton

Vrey mematung selama beberapa detik,sejujurnya Vrey tidak bisa marah pada Leighton. Namun tetap saja rasa kesal Vrey mengalahkan rasa rindunya kepada Leighton.Vrey kemudian berpikir untuk mengunjungi Karth dan Lauren daripada memikirkan Leighton yang sibuk.Lagipula sudah lama Vrey tidak mengunjungi Adik kembarnya akibat sibuk berlatih tata cara sebagai Ratu Granville.

Dengan kereta milik kerajaan tanpa pengawalan atas permintaan Vrey walaupun Maxen tidak begitu setuju bila tanpa pengawal, ia pun sampai di kediaman Lauren dan Vrath. Terlihat di pekarangan bunga depan Lauren bermain bersama Lyra dan Reuven dengan gembira. Vrey agak ragu untuk memanggil Lauren sampai Lauren melihat dan memanggilnya.

“Vrey? Oh! Vrey, ayo kemari!”, Sahut Lauren bersemangat. “Lyra! Reuven! Bibi Vrey datang! Ayo sambut dia.”, Ujar Lauren kepada Lyra dan Reuven yang diikuti dengan anggukan mereka.

Lyra berlari menuju Vrey dan memeluk Vrey, “Bibi Vrey! Selamat Datang!”, Senyum Lyra dengan lebar.

“Selamat Datang bibi Vrey”,kata Reuven sambil tersipu malu.

“Terima kasih Lyra, Reuven, bibi senang sekali kalian menyambut bibi”, Senyum Vrey sambil mengelus kepala kedua keponakannya itu.

Lauren menghampiri Vrey dan memeluknya, “Selamat datang Vrey, kenapa kamu tidak memberitahu dulu kalau kamu ingin kemari? Aku kan bisa menyiapkan makanan yang lezat untukmu”.

“Tidak,aku sengaja tidak memberitahukan kepada mu sebagai kejutan, dan lagi pula aku juga sudah bosan dengan makanan mewah,jadi kau tak perlu menyediakan makanan istimewa. Cukup makanan sederhana saja”, tawa Vrey.

“Dasar kamu ini”, ucap Lauren tertawa. “Ayo masuk,ini sudah sore. Udara akan sangat dingin menjelang malam”

Vrey menganggukan kepala dan ikut bersama Lauren masuk kerumahnya. Vrey membantu Lauren menidurkan anak-anak Lauren. Setelah Reuven dan Lyra tertidur Lauren mulai menyiapkan makan malam. Vrey yang tidak mahir soal memasak pun duduk di ruang makan.

“Dimana Karth?”, tanya Vrey. Sejak tadi ia tidak melihat Karth dimana-mana.

“Karth? Ia sedang mengumpulkan tanaman obat yang ku minta, mungkin sebentar lagi ia akan pulang”, jawab Lauren.

Belum sampai lima menit setelah Vrey bertanya Karth pun muncul di ruang makan membawa sekeranjang tanaman obat-obatan.

“Loh? Vrey? Sejak kapan kamu kemari?”, Senyum Karth. “Dan lagi…dimana Leighton? Tumben dia tidak ikut”, tanya Karth lagi.

Mendengar pertanyaan Karth membuat wajah Vrey kembali kecut. Pertanyaan yang sedang tidak ingin dijawabnya. Melihat perubahan wajah Vrey, Karth menyadari kalau Leighton pasti telah membuat sesuatu yang membuat Vrey tidak senang.

“Ngomong-ngomong, Vrey, kamu tahu kan,besok adalah hari Amore?, ujar Karth mengalihkan pertanyaan yang dilontarkannya barusan tentang Leighton.

“Aku tahu kok”, jawab Vrey pendek.

Hari Amore adalah hari khusus dimana seluruh penduduk dunia terra menunjukkan rasa kasih sayang kepada orang-orang yang mereka sayangi sekaligus mengunjungi memorial Terra, tempat yang pernah menjadi medan perang besar Terra dan makam-makam pejuang yang gugur. Tradisi ini dibuat oleh Leighton sebagai bentuk penghormatan kepada para pejuang perang Terra 3 tahun silam yang baru akan dijalankan tahun ini

“tetap saja, Leighton akhir-akhir ini menjadi sangat sibuk, aku bahkan hampir seminggu tidak melihatnya, aku tidak yakin dia akan kembali besok”, ucap Vrey dengan nada kesal.

Karth meletakan keranjangnya diatas meja makan dan duduk untuk mengambil rehat, “Begitu ya, walaupun Leighton tidak bersama denganmu dihari kasih sayang bukan berarti kamu tidak mencintainya lagi kan?”.

“Iya, kamu benar…aku hanya rindu padanya, itu saja..”,aku Vrey.

“Bagaimana kalau kamu memberikan sesuatu yang berkesan kepada Leighton?”, ucap Lauren sambil membawa nampan berisi 3 mangkuk sup sayur hangat. “Aku yakin Leighton pasti akan sangat senang meski ia sibuk akan pekerjaannya”.

Karth langsung menyantap sup buatan istri-nya dengan lahap. “Aku setuju dengan Lauren. Sekarang Leighton sedang berada dimana?”,tanya Karth.

“Dia sedang berada di kerajaan ratu Ratana”,jawab Vrey. ” Memang ada apa Karth?”.

“Aku yakin Leighton akan kembali besok, ia pasti juga menunggu hari Amore bersamamu”,ujar Karth yang masih menyendokkan sup sayur Lauren ke mulutnya.

Perkataan Karth dan Lauren ada benarnya. Vrey mulai berpikir, apa yang harus diberikan kepada Leighton untuk membuatnya senang?. Beberapa saat Vrey mendapatkan ide. Masakannya! Selama ini ia tidak pernah memasakan sesuatu untuk Leighton karena kemampuan memasaknya yang kurang.

“Lauren! Apakah kamu pandai memasak?”, tanya Vrey dengan bersemangat.

Lauren yang melihat kakak kembarnya bersemangat lagi pun mengangguk, “Tentu Vrey, kamu boleh mengandalkanku!”

“Ajari aku cara memasak! Aku ingin memasak pie dengan apel dan selai arbei”,ujar Vrey.

“Tentu! Kita bisa memulainya besok,bagaimana?”,kata Lauren.

Vrey menggelengkan kepala, “Tidak, aku ingin sekarang”.

“Kita tidak bisa membuatnya sekarang karena aku belum menyiapkan bahannya”,ucap Lauren.

“Tenang saja,aku akan menyuruh pelayan istana untuk mengantarkan bahannya sekarang, kamu hanya perlu menulis apa saja bahannya”, ujar Vrey sambil menyeringai puas. Baru kali ini ia merasa ada untungnya menjadi seorang ratu.

Satu jam setelah Vrey meminta pelayan istana mengantarkan bahan yang ia perlukan, Mulailah Lauren dan Vrey membuat pie apel sementara Karth menemani kedua anak kembarnya tidur dikamar mereka. Beberapa kali Vrey membuat pie gosong atau kurang matang, bahkan sesekali jari Vrey teriris pisau dapur saat memotong apel namun hal itu tetap tidak mematahkan semangatnya. Dua jam pun berlalu, akhirnya Vrey berhasil membuat dua pie apel dengan selai arbei secara sempurna.

“Akhirnya berhasil! Selamat Vrey!”, ujar Lauren senang.

Vrey mengangguk bangga. “Terima kasih Lauren, ini semua juga berkat saran darimu”,senyum Vrey.

“Tapi, kenapa kamu membuat dua pie? Bukankah hanya untuk Leighton?”, tanya Lauren heran.

Vrey tersenyum pahit.”Yang satu lagi….kuberikan untuk ayah. Besok di makamnya”.

Lauren memegang tangan Vrey dengan lembut seolah mengerti apa yang dirasakan Vrey. “Hari sudah mulai larut,sebaiknya kamu cepat kembali ke istana, Maxen pasti mencemaskanmu”, kata Lauren memberikan mantel hangat kepada Vrey.

“Maxen tidak mungkin mencemaskanku, mungkin dia hanya mencemaskan Leighton”, ucap Vrey tersenyum nakal. “Aku kembali dulu ya, Lauren,salam untuk Karth, Lyra dan Reuven”.

“Tentu, hati-hati di perjalanan”, ucap Lauren seraya mengantar Vrey sampai depan pekarangan rumahnya.

Vrey melambaikan tangan dari kereta miliknya sampai menghilang dari pandangan Lauren. Ketika Vrey sudah tidak terlihat lagi, Karth muncul sambil tersenyum nakal kepada Lauren bahwa misi rahasia mereka telah berhasil.

“Bagaimana persiapan Leighton disana?”, tanya Lauren penasaran.

Karth memberikan secarik perkamen kepada Lauren. “Sepertinya Leighton sudah mempersiapkan semua. Dia hebat”, senyum Karth mengangkat kedua bahu.

Lauren terkekeh. “Vrey pasti membelalakan matanya hingga keluar bila tahu hal ini”.

“Pasti, mungkin juga dia akan menendang Leighton”, tawa Karth terbahak-bahak membayangkan kalau semua khayalannya tentang Vrey menendang Leighton menjadi kenyataan.

***

Malam semakin larut, namun Leighton masih terjaga menatap ke bulan dari balik jendela ruangannya. Leighton memikirkan Vrey, tentang apa yang dilakukan Vrey sekarang, apa Vrey merindukannya sama seperti dia merindukan Vrey?. Walau begitu Leighton harus bersabar. Ia tidak ingin rencana indahnya untuk Vrey gagal besok.

Saat Leighton sedang asyik berpikir, terdengar ketukan pintu yangt membuyarkan lamunan Leighton. “Siapa?”.

“Ini aku, Ashca”, jawab putri Ashca dengan lembut.

Leighton beranjak dari bangkunya dan membuka pintu untuk putri Ashca. “Selamat malam putri Ascha,ada keperluan apa mencari saya?”, tanya Leighton mencium tangan putri Ashca.

Putri Ashca tersenyum . “Kamu tidak perlu berbicara formal, Leighton, aku hanya ingin memberitahukan bahwa kapal udara tercepat milik kerajaan Lavanya telah kukirimkan untuk menjemput Vrey besok, Rion juga ikut didalam kapal, ia akan sampai pada sore menjelang malam,waktu yang pas bukan?” , ujar Putri Ashca berkacak pinggang bangga.

Leighton tertawa. “Terima kasih banyak putri Ashca, aku tahu bisa mengandalkanmu dan yang lain”, kata Leighton puas.

***

Mentari pagi di Granville semakin tinggi. Tibalah hari Amore, hari yang paling dinantikan semua penduduk dunia Terra. Semua orang tertawa, menari, dan memberikan hadiah kepada orang yang mereka sayangi. Festival Amore di Granville sangatlah ramai dan megah. Parade musik dari penduduk Granville mengelilingi kota Granville diikuti dengan lemparan kelopak bunga setiap kali mereka lewat.

Vrey sangat senang melihat penduduk Granville melakukan parade musik tersebut di kota. Entah kenapa ada seberkas rasa bahagia melihat semua penghuni Terra bersuka-cita, selama ini sebelum ia bertemu Leighton, Ascha, dan teman-temannya yang lain, ia selalu memikirkan dirinya sendiri. Setelah menikmati parade musik jalanan Granville, Vrey berkeliling di festival melihat makanan unik dan benda menarik yang dijual penduduk.Saat Vrey sedang sibuk melihat festival, seseorang dari belakang Vrey menepuk bahunya.

“Vrey!”

Vrey terkejut dan seketika langsung membalikkan badan, ternyata yang menepuknya adalah Rion. “Rion?!, kok kamu bisa ada disini?”, tanya Vrey kaget.

“Putri Ashca memintaku untuk menjemputmu, ia bilang ingin kamu merayakan Amore bersamanya di Lavanya”, jawab Rion tertawa.

“Menemaninya? Aku tidak bisa Rion”, kata Vrey menggeleng kepalanya. “Aku harus menunggu Leighton kembali ke Granville dan lagi ada yang harus kuberikan padanya….”.

Tanpa ingin bertransaksi dengan Vrey, Rion menggendongnya dan membawanya pergi. Vrey cukup kaget dengan perlakuan Rion.

“Hey! Turunkan aku!”, ujar Vrey sambil memukul punggung besar Rion.

Rion pura-pura tidak mendengar Vrey. “Sudah,nikmati saja perjalanannya, Ratu Vrey”. Rion makin mempercepat langkahnya. “Jarang-jarang loh aku menggendong anda”, tawa Rion.

“Apa maksudmu?! Turunkan aku! Ini penculikan namanya!”, ucap Vrey yang masih memukul Rion.Penduduk Granville yang melihat hal tersebut tertawa.

Rion yang menggendong Vrey melambaikan tangan ke penduduk Granville. “Selamat Hari Amore penduduk Granville, izinkan saya meminjam ratu kalian!”

“Selamat Hari Amore! Silahkan tuan Rion!”, ujar penduduk Granville bersamaan dengan riuh.

Vrey akhirnya pasrah karena Rion telah membawanya jauh dari keramaian kota menuju ke padang rumput yang luas. Disana ada kapal udara milik kerajaan Lavanya. Rupanya putri Ashca serius membawanya ke Lavanya.Setelah berada didalam kabin kapal, baru Rion menurunkan Vrey.

“Aku akan menghajarmu karena telah menculikku!”, ucap Vrey menyipitkan matanya.

“Kamu bisa memberitahukannya kepada Ashca”, balas Rion enteng.

Bunyi machina pada kapal udara pun terdengar. Kapal udara mereka siap berangkat menuju Lavanya. Para awak kapal sibuk mengawasi jalannya kapal. Vrey yang belum dapat mencerna apa yang terjadi hanya berjalan mondar-mandir sambil berwajah masam. Sementara Rion hanya terkekeh melihat sikap Vrey.

“Berapa lama kita akan sampai di Lavanya?”, tanya Vrey.

“Mungkin sekitar malam hari”, jawab Rion tersenyum iseng.

***

“Bagaimana? Semua sudah siap?”, sahut putri Ashca memberi aba-aba kepada pelayan istana.

“Kami sudah siap tuan putri”, ujar para pelayan yang berdiri di ruang khusus untuk mengontrol pencahayaan seluruh kerajaan dan perairan di Lavanya.

“Bagus! Sekitar 10 Menit lagi Ratu Vrey akan sampai di istana.Pada saat ada seberkas cahaya kecil melesat di langit, kalian langsung melepaskan ribuan lenteranya, kalian mengerti?”, ujar putri Ashca

Semua pelayan mengangguk.Sementara Leighton bersembunyi dibalik kapal air didekat perairan Lavanya yang telah gelap total, dekat dengan tempat Vrey yang akan muncul sesuai rencana.

“Tuan putri! Ratu Vrey dan Tuan Rion sudah di istana, mereka berada di ruang tamu sekarang”, bisik salah satu prajurit yang datang menghampiri putri Ashca.

Putri Ashca mengangguk. “Baiklah, aku akan segera kesana”. Putri Ashca pun melangkah dengan cepat untuk menyambut Vrey

Vrey menatap cangkir teh yang disuguhkan pelayan kerajaan Lavanya. Sesekali ia mengaduk teh namun tidak meminumnya. Pie apel yang telah dibuatnya dengan susah payah akhirnya sia-sia. Ia tidak dapat memberikannya kepada Leighton dan terjebak di kerajaan Lavanya bersama Rion yang cengar-cengir sendiri serta permintaan Ashca yang mendadak sekali.

“Maaf lama menunggu, Vrey!”, putri Ashca berlari menuju Vrey dan memeluknya. “Selamat datang, sudah lama sekali kamu tidak berkunjung kemari”, ucap putri Ashca sambil menjabat tangan Vrey.

Vrey memutar matanya. “Aku butuh penjelasan tentang hal ini Ashca! Tiba-tiba saja Rion menculikku dari Granville karena perintah darimu!”, geram Vrey.

Putri Ashca hanya tersenyum usil. “Itu karena ada hal penting yang harus kuperlihatkan padamu disuatu tempat, tapi aku harus menutup matamu dengan kain hitam ini”. Putri Ashca menunjukkan sehelai kain hitam yang cukup untuk menutup seluruh mata Vrey.

Vrey tidak habis pikir, entah apalagi rencana putri Ashca yang melibatkan dirinya namun ia hanya bisa menurut dan melangkah mengikuti tuntunan putri Ashca. Dari pendengaran Vrey, ia merasa putri Ashca membawanya semakin jauh dari keramaian karena Vrey tidak mendengar suara hiruk pikuk orang-orang di istana lagi.

“Kita sudah sampai”, ujar putri Ashca seraya melepaskan tangan Vrey dari genggamannya. “Oh! Tapi jangan dibuka dulu penutup matanya ya”

“Kenapa? Aku tidak bisa melihat apapun,Ashca! Dan lagi, kamu membawaku kemana?”, protes Vrey.

Tanpa menjawab pertanyaan Vrey, putri Ashca dengan cepat meninggalkan Vrey. Vrey dapat mendengar langkah kaki putri Ashca menjauh. Baru saja Vrey membuka penutup matanya, terdengar langkah kaki lain mendekat dan menutup mata Vrey lembut dengan tangannya dari belakang. Vrey kenal aroma khas pemilik tangan yang menutup matanya.

“Selamat hari Amore,Vrey ”, bisik suara itu lembut ditelinga Vrey.

Vrey melepaskan tangan tersebut dan membalikkan badannya. Ia mendapati Leighton berdiri didepannya sambil tersenyum membawa sebuket bunga berpita biru. Perasaan Vrey bercampur aduk , antara senang, marah, terkejut menjadi satu.

“Lei….Leighton! Kenapa kamu bisa ada disini? Dan kenapa….”

Belum selesai Vrey berbicara, seberkas cahaya melesat ke udara bagaikan kembang api berwarna putih. Saat itu juga Vrey melihat ribuan lentera dilepaskan dari kerajaan Lavanya. Rupanya Vrey baru menyadari dirinya sedang berada di perairan didekat kerajaan Lavanya. Perairan yang tadinya gelap gulita itu, kini bercahaya diterangi ribuan lentera, bagaikan festival lentera yang dilihatnya bersama Leighton beberapa waktu lalu saat pertama kali mengunjungi Lavanya.

“Aku merencanakan semua ini untukmu,Vrey”, kata Leighton yang bersujud dengan melipat satu kakinya seraya mencium tangan Vrey.

“Merencanakan semua ini? Apa maksudmu?”, tanya Vrey yang masih bingung.

“Ya,aku membuat semua ini untukmu”. Leighton memeluk Vrey dengan erat melepas rindu. “Aku meminta bantuan Maxen, Karth,dan Lauren serta penduduk Granville untuk menyibukkanmu dan membuat parade musik, serta putri Ashca dan Rion dibantu oleh pelayan istana dan penduduk Lavanya untuk membuat ribuan lentera ini selama beberapa hari.”

Vrey terperangah, ia tidak menyangka Leighton akan menyiapkan sesuatu yang spesial untuknya. “Jadi…selama ini kamu menunda kepulanganmu..demi hal ini?”, ucap Vrey pelan.

Leighton mengangguk. Vrey yang awalnya berencana untuk memarahi Leighton kini balas memeluk Leighton dan membenamkan wajahnya di dada Leighton yang hangat.

“Bodoh! Dasar bodoh!”, ucap Vrey sambil memukul dada Leighton. “Aku sangat merindukanmu, tapi ternyata kamu malah sibuk membuat semua ini tanpa memberitahuku!”, katanya.

Leighton tertawa. “Maaf ya , Vrey, kalau kuberitahukan padamu ini bukan lagi sebuah kejutan”. Leighton mengangkat wajah Vrey sambil tersenyum nakal. “Lagipula aku harus berterima kasih untuk kue pie apel yang kamu buat untukku, pienya sangat lezat sekali, aku menyukainya”.

Vrey terkejut bukan kepalang sebab ia tidak memberikannya kepada Leighton, dan lagi pie itu tertinggal di istana. “Bagaimana bisa?! Aku saja belum memberikan pie itu padamu!”.

“Maxen yang memberikannya, ia diam-diam ikut di kapal udara yang sama denganmu”. Leighton menunjuk kearah kapal air didekat mereka, tempat ia bersembunyi tadi, “Aku memakannya hingga habis disana”, senyum Leighton.

“Bagaimana dengan pie untuk ayahku?”, tanya Vrey penasaran.

“Tenang saja, Karth telah membawanya ke makan ayahmu, aku yakin ayahmu pasti juga akan memuji masakan putrinya”, jawab Leighton.

Wajah Vrey memerah seketika, ia tak pernah menyangka Leighton memuji masakannya dan Vrey sangat senang ternyata Leighton menyukai pie buatannya.

Leighton memegang tangan Vrey yang mungil membawanya menuju lebih dekat ke perairan. Dari dalam perairan, perlahan muncul ke permukaan lentera kedap air seperti balon yang membentuk sebuah kalimat.

Selalu mencintaimu. Sekarang dan selamanya

“Memang, ini hanya kalimat sederhana tetapi tidak mudah mengucapkannya setiap hari, jadi kurasa ini momen yang tepat untukku menyatakannya”, ucap Leighton ringan.

Mata Vrey terasa perih. Air matanya tumpah melihat tulisan dari lentera air tersebut. Seperti apa yang diucapkan Leighton, sebuah kalimat yang sederhana namun sangat memiliki arti untuk Vrey. Leighton menghapus air mata Vrey dengan lembut. Ia menunjukkan senyuman hangat untuk istri tercintanya.

“Terima kasih untuk semuanya , Leighton”, ujar Vrey yang kembali memeluk Leighton.

“Sama-sama ,Vrey”. Leighton mengelus kepala Vrey.

“Setelah kita kembali dari Lavanya, maukah kamu menemaniku ke makam ayahku? Aku ingin memberinya bunga,juga untuk ayahmu”, pinta Vrey.

“Tentu saja, aku juga ingin mengunjungi makam mereka, bagiku mereka orang yang paling hebat dan berani”, ucap Leighton diikuti anggukan kecil dari Vrey.

Malam yang tenang, semilir angin berhembus seakan ikut meramaikan suasana,sambil melihat lentera berterbangan dengan teratur Vrey dan Leighton duduk menikmati pemandangan indah itu. Tidak hanya mereka, seluruh penghuni Terra bersuka cita dihari itu. Putri Ashca dan Rion berdansa bersama para pelayan istana Lavanya diiringi lantunan musik. Kerja keras mereka terbayar dengan senyuman Vrey.

Vrey menoleh ke arah langit malam dipenuhi bintang. “Hei Leighton…”

“Ada apa ,Vrey?”, tanya Leighton.

“Menurutmu…, jika kita punya anak nanti, apa ia akan menerimaku sebagai ibunya?”, tanya Vrey tanpa menoleh ke Leighton.

Leighton tersenyum lembut, “Tentu saja, kamu akan menjadi ibu yang hebat dan kuat, anak kita pasti akan bangga”.

“Bisa saja kamu”, tawa Vrey.

“Itu kenyataan ,Vrey, aku merasa sangat beruntung bisa bertemu dan bersama denganmu seperti ini”, ucap Leighton tulus. “Segala yang terjadi dulu, pelarianku dari istana telah mempertemukanmu denganku, pengalaman yang kamu berikan padaku begitu berharga dan tak tergantikan”.

“Aku juga merasa begitu”, ujar Vrey sambil mengembangkan senyumnya. “Leighton, apa kamu menyukai anak laki-laki atau perempuan?”, tanya Vrey penasaran.

Raja Granville itu tertawa mendengar pertanyaan Vrey.“Menurutmu?”.

Vrey memutar otaknya selama beberapa menit. “Laki-laki? Karena kamu seorang raja, dan raja butuh pewaris bukan?”.

“Salah, jawabanmu kurang tepat”, senyum Leighton iseng.

“Lalu apa kalau begitu?”,ucap Vrey dengan wajah cemberut.

“Cobalah tebak lagi”, canda Leighton.

Vrey merasa Leighton mulai mengerjainya , dan ia segera memasang wajah cemberut sambil memalingkan wajahnya. Tangan Leighton yang besar meraih wajah Vrey kemudian Leighton mencium Vrey dengan lembut.

Didalam hati Vrey, ia berdoa seiring lentera-lentera yang menerangi mereka agar ia dan Leighton juga seluruh orang-orang yang disayanginya akan selalu diberi cahaya dalam kehidupan seperti lentera-lentera itu dan bahagia selamanya.

Photobucket

Advertisements

10 thoughts on ““Amore” oleh Sakihellish13

  1. Huah, manis banget, fluff :3

    Tak disangka, dibalik batalnya Leighton pulang, trnyt Leighton udah menyiapkan suatu hal yg sweet banget 😀

    Huahaha XD surprise banget, bahkan aku juga kaget XD

    Plg suka di bagian Selalu mencintaimu. Sekarang dan selamanya

    Trs penutupya, XDDD

    No more comment, 😀

  2. Thank You so much for author and the rest
    also for jofiane for liking my story
    this is really nice contest, hope there will be more contest for TM

  3. Pingback: The Last Color Of You

  4. Wah…. Nyerah deh kl yg kyk ginian, paling gk pandai nulis cerita seromantis dan semelelehkan kayak gini XD
    Salut buat penulis ^^

  5. Pingback: Ther Melian fanfiction contest FINALE! « Shienny's Rants

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s