“Ascha dan Sang Pengawal Kecil” oleh Zen Horakti

Tidak boleh ini, tidak boleh itu.  Ah, menyebalkan.  Tidak boleh semua.  kenapa harus seperti ini?  Hidup dalam kandang yang dikontrol oleh yang ada di atas.  Yah, itulah yang dirasakan oleh Ascha.  Sebagai seorang putri, keselamatannya jelas menjadi prioritas yang amat utama di samping Raja dan Ratu di kerajaan Lavanya.

Ascha menghela nafas panjang lagi di kamarnya.  Gadis berumur 12 tahun itu benar-benar tidak ingin bertemu dengan orang tuanya.  Semua gadis seumuran dengan dirinya bisa bermain di luar.  Bertemu dengan santai tanpa ada rasa canggung dan juga rasa hormat berlebihan.  Tapi, tidak bagi Ascha.  Dia hanya bisa di dalam lingkup kastil, hanya bisa berteman dan bermain dengan anak-anak dari kalangan kerajaan.

Sementara dirinya ingin sekali mengenal anak-anak lain yang juga ada di luar.  Tapi, setiap dia keluar, dirinya harus dijaga ketat oleh pengawal-pengawal dewasa dengan wajah menyeramkan.  Setiap orang yang mencoba mendekat selalu diinterogasi dan juga diperiksa.  Menyebalkan, bukan?

Akhirnya gadis seumuran dirinya yang ada di luar kerajaan tidak lagi mau mencoba mendekatinya.  Yang dilakukan mereka hanya membungkuk hormat dan tidak berkata-kata lagi.  Seolah-olah, menegur sang putri maka bisa membuat kepala mereka terpenggal.  Karena itu Ascha semakin kesepian.

Dia juga kesal dengan kejadian adanya penyelinapan seseorang ke dalam kastil Lavanya dan membuat segalanya jadi lebih ketat.  Semua orang yang masuk kastil selalu dicurigai.  Ascha jadi semakin dikurung dan lebih dijaga.  Pintu kamar selalu dijaga, jendela juga diberi jeruji agar tidak ada yang bisa menyelinap di sana.

Suatu ketika sang Ratu Lavanya atau Mama dari Ascha mendatanginya yang masih berdiam di kamar.  Makanannya tidak tersentuh sama sekali.  Ascha pasti sedang tidak berminat dengan makanannya.  Karena dirinya merasakan kekosongan di dalam sebuah dinding-dinding beton yang menutup dirinya di dalam kastil.

“Ascha, sayang.  Maafkan Mama, ya.”

“Tidak apa-apa, Ma.  Aku harus berusaha untuk beradaptasi dengan keadaan.  Mengingat aku adalah seorang Putri.  Aku pasti dijaga baik-baik.  Hanya saja, aku merasa kalau semua ini benar-benar…” kalimat Ascha terputus.  Dia menarik nafas panjang lalu melanjutkan kalimatnya, “mengikatku begitu kuat. Sepertinya aku adalah boneka yang dikendalikan.  Harus mengikuti semuanya.”

Ratu Lavanya menatap sedih putri tunggalnya itu.  Dia elus rambut Ascha dengan lembut dan penuh perhatian.   Dia ingin membuat anaknya tersenyum, dia ingin anaknya bisa berteman dengan anak lain tanpa rasa canggung, tapi apa yang bisa dilakukan selain melakukan prosedur tersebut.  Ini juga demi kebaikan anaknya, dia tidak mau anaknya terluka nanti.  Terutama para Shazin dari Elf yang bisa membunuh dengan cepat dan akurat.

“Bagaimana kalau Mama carikan kamu pengawal pribadi?  Jadi kamu tidak dijaga oleh banyak orang lagi.  Hanya satu orang, tapi dia kuat dan mampu menjagamu dengan sekuat tenaganya.”

“Memangnya ada, Ma?”

“Tentu ada, Mama akan carikan yang terbaik untukmu.”

Perlahan Ascha memeluk Mamanya.  Dia tahu Mamanya selalu melakukan yang terbaik untuknya.  Jika hanya ada satu pengawal yang akan mengikutinya.  Dia begitu bahagia sekarang.

***

Ascha menatap seorang lelaki yang tinggi tidak jauh beda darinya, bahkan tampak lebih pendek darinya membawa sepasang belati, telinganya digantungi oleh anting dan berambut cokelat.

“Siapa kamu?” tanya Ascha saat Mamanya memintanya untuk menemui seseorang

“Ini adalah pengawal pribadimu, Ascha.  Namanya Desna, dia adalah seorang Draeg.”

“Draeg?”

“Iya, dia adalah salah satu sekutu kita.  Dia akan menjagamu, dia yang terbaik dari kerajaan di sana.”

Ascha memiringkan kepalanya sedikit.  Bocah kecil itu yang terkuat dari sana.  Bagaimana mungkin, pikir Ascha.  Dia mungkin melawan satu prajurit saja sudah kelelahan apa lagi.

Desna membungkuk lalu berlutut perlahan, “Dengan segala yang saya miliki, saya bersumpah akan menjaga Putri Ascha.”

Ascha kaget mendengar suara Desna.  Benar-benar seperti lelaki dewasa.  Tapi, melihat fisik dari Desna. Ascha masih ragu. “Coba tunjukkan kekuatanmu, Desna!”

“Saya siap diuji dengan apa saja, Tuan Putri.”

Sang Ratu Lavanya menjentikkan jari.  Lima orang prajuritnya dengan senjata lengkap mendekati Desna yang ada sendirian di tengah.  Semua bersiap bertarung begitu pula Desna dengan dua belatinya.

Serangan pertama dimulai dari prajurit di belakang.  Dengan serangan tusukan tombak, dia mengincar punggungnya, tapi Desna seolah merasakan serangan itu mendekatinya, dia langsung menyerang ke arah musuh yang ada di sampingnya.  Belatinya bertabrakan dengan pedang sang prajurit yang berhasil menangkis serangan tersebut. Tapi, bagian perutnya terbuka dan menerima tendangan dari Desna.

Ternyata bertubuh kecil, ternyata Desna begitu lincah, serangan-serangan yang dia lancarkan sangat akurat dan efektif.  Tubuhnya yang kecil, justru membuat orang yang lebih besar darinya kelimpungan karena kelincahannya.  Karena serangan harus dilancarkan lebih rendah dari pada orang dewasa yang ada.

Satu per satu mereka lumpuh. Tapi, tentu saja Desna tidak membunuh mereka.  Semua hanya dilukai sedikit dengan menggores bagian tubuh mereka yang tidak terlindung zirah. Semua takjub dengan aksi Desna.  Tubuh kecilnya jelas bukan penghalang untuk membuat dirinya menjadi seorang petarung yang hebat.

Ascha pun terkagum-kagum menatap aksi Desna.  Benar-benar salah dia telah meragukan kemampuan Desna.  Perlahan Desna kembali mendekati Sigasana dan berlutut.  “Apa itu sudah cukup membuktikannya, Tuan Putri?”

“Ya, kini aku tidak ragu lagi.  Terima kasih karena sudah mau menjadi mengawalku.”  Ascha tersenyum polos.

***

“Desna, kamu itu ditugaskan untuk melindungiku, bukan mengatur-atur aku.  Sekarang kan ada kamu yang menjagaku.  Kemanapun aku pergi, tidak masalah lagi bukan?  Itulah gunanya kamu, bukan?”

“Tapi, bukan berarti Tuan Putri bisa pergi sebebasnya.  Pergi ke sebuah tempat yang tidak dikenal dan tidak ada persiapan itu jelas berbahaya.”

“Pokoknya, bawa aku ke hutan segera.  Aku mau melihat yang ada di balik pagar beton besar itu.  Ini perintah!”

Desna terdiam.  Dia benar-benar tidak menyangka. Setelah beberapa Minggu ditugaskan menjaga Ascha, pelan-pelan Ascha malah semakin ingin melihat dunia luar.  Dia ingin mengetahui apa yang ada di luar istana.  Hal itu jelas semakin berbahaya baginya.  Namun, rasa penasaran Ascha sepertinya tidak bisa dibendung lagi.

“Kamu mau menemaniku atau tidak?”

“Baiklah, Tuan Putri.  Tapi, janjilah satu hal!”

“Ya?”

“Jangan berjalan jauh-jauh dari saya, Tuan Putri.”

“Baik, Desna.  Aku janji.”

Akhirnya mereka keluar dari perbatasan Kastil.  Mereka berdua bisa melewati gerbang dan melihat apa yang ada di baliknya.  Ascha benar-benar takjub melihat pepohonan, satwa-satwa yang berkeliaran di tengah  hutan.  Terutama yang paling membuat Ascha terkesan adalah di tengah hutan terdapat sebuah ladang bunga yang begitu cantik.  Berbagai macam warna dan jenis.

Ascha sampai ternganga tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.  Selama ini dia hanya melihat bunga di dalam sebuah pot, tapi kini dia bisa melihat begitu banyak bunga dalam satu tempat.  “Indah sekali, aku tidak pernah melihat bunga sebanyak ini.”

Ascha langsung berlari mendekati ladang bunga itu.  Dia memetik beberapa bunga dan mencium wanginya.  Benar-benar menenangkan dan berbagai wangi tersebut tidak pernah Ascha rasakan sebelumnya.

Tidak Cuma itu, Ascha bahkan mendengar sesuatu yang lebih menarik.  Sebuah aliran air yang terdengar begitu lembut.  Ascha melangkah ke sana seolah terhipnotis untuk berjalan ke sana, walau  tanpa sadar meninggalkan Desna yang masih menatap bunga-bunga tersebut.

Sang putri berambut hitam panjang dan berkilau itu mendekati sungai dan takjub karenanya.  Sungai itu begitu bersih dan banyak sekali kapal-kapal yang melintas di sana.  Yah, kerajaan Lavanya adalah sebuah kerajaan yang sangat besar dan jadi jalur sungai.  Ascha memang mengetahui itu, tapi dia tidak pernah melihat secara langsung hal tersebut.

“Impianku menjadi nyata.  Pergi keluar dari kastil dan melihat semua yang aku tahu langsung.”

Ascha justru semakin terhanyut di hari pertama dia bisa menjelajah.  Dia semakin jauh dan jauh berjalan.  Dia mengikuti aliran sungai dan ingin cari tahu di manakah ujung sungai tersebut.  Hingga, tiba-tiba saja Deimos berbentuk seperti serigala menyerangnya.

“ARRGHH!”  jerit Ascha.  Dia langsung berlari menjauhi deimos tersebut.  Dia sama sekali tidak tahu ada makhluk seperti itu di luar kerajaan. “Desna, Desna!! Dimana kamu? Desna!”  teriak Ascha dengan seluruh tenaganya.  Tapi, tidak ada sahutan.  Dia berlari masuk ke hutan.  Dia mencoba bersembunyi di pohon.

Perlahan tangisnya pecah.  Dia berusaha menahan suara tangis dan isakannya.  Dia tidak mau kalau sampai tempat persembunyiannya ketahuan.  “Mama… Desna, kemana kalian.  Tolong aku,”  Ascha meremas sebuah kalung yang melingkar di lehernya.  Kalung itu adalah kalung pemberian Mamanya.

Dia mencoba mengintip dari balik pohon.  Berharap si Deimos tidak mengejarnya.  Syukurnya tidak ada tanda-tanda Deimos.  Ascha bernafas lega.  Segera dia berdiri untuk mencoba mencari tahu jalan pulang.  Ternyata, di hadapan Ascha ada lima ekor Deimos berbentuk serigala.

Bibir bawah Ascha bergetar hebat.  Keringat dingin mulai bercucuran.  “Tolong, siapa saja, tolong.  Aku janji, jika aku bisa selamat. Aku akan menurut, aku tidak akan nakal lagi. Aku janji!”

Ascha hanya bisa menutup wajahnya saat salah satu Deimos menyerang.

Ascha merasakan sesuatu mengenai wajahnya.  Apa itu cakar?  Tapi kenapa tidak sakit?  Perlahan Ascha membuka mata dan melihat Desna ada di hadapannya dan membelah kepala dari sang deimos. “Ascha, kau tidak apa-apa?” tanyanya sambil menghalau serangan Deimos tersebut.

Ascha hanya bisa menggeleng.  Dia tidak sanggup berbicara.

Desna berhasil mengalahkan lima deimos tersebut.  Perlahan dia mendekati Ascha, tapi tiba-tiba ada satu Deimos di belakang Ascha dan dia langsung melompat menerjang Ascha.  Tapi, tubuh Ascha terlindungi oleh pelukan dari Desna.

“Ergh….”  terdengar suara rintihan tertahan Desna.

Desna langsung mencoba menebas Deimos itu, tapi sayang deimos itu sudah lari menjauhi mereka.  Saat itulah Desna langsung jatuh berlutut, di punggungnya tampak bekas cakaran sang Deimos.

Perlahan darah mengalir dari punggungnya.  Dia merintih tertahan.  Dia berusaha tetap tampak teguh dan berusaha kuat.  “Ukh…” perlahan dia berlutut.  “Kita harus pergi dari sini.  Ayo, Tuan Putri!”

Mereka berusaha menjauh dari hutan.  Mereka akhirnya sampai di sungai lagi karena mengikuti suara aliran air.  Mereka melihat sebuah kapal angkutan,  Ascha langsung melambaikan tangannya berharap dia dapat tumpangan.  Desna sedang tidak bisa berjalan lebih jauh.  Ascha takut kalau sampai Desna sampai kehilangan darah terlalu banyak.

“Tolong, bawa kami ke ibu kota Lavanya segera, Tuan.  Tolong!”  Ascha menahan air matanya dan menunjukkan wajah memelas.

***

Tidak perlu ditanya lagi.  Ascha benar-benar mendapat ceramah panjang dan berbagai macam ancaman dan rencana hukuman untuknya.  Ascha tidak seperti biasanya, dia benar-benar diam, dia hanya ingin Desna tidak apa-apa.  Dia benar-benar merasa bersalah.  Dia tidak akan berani melakukan tindakan gegabah lagi.  Dia sadar atas semua larangan yang selama ini selalu mengekangnya.  Dia tidak tahu sama sekali bahaya yang ada di luar.

Kini yang dilakukan Ascha adalah menunggu dan merawat Desna sampai dia bisa sembuh.  Desna sudah membaik setelah tiga hari dirawat intensif oleh tabib kerajaan.

“Desna bagaimana keadaanmu?”

“Aku sudah membaik Tuan Putri.  Maaf karena kelalaianku…”

“DIAM!” tiba-tiba Putri Ascha menjerit dan membuat Desna terkejut dan terdiam.

“Jangan bilang begitu lagi.  Ini semua salahku, jelas salahku. Aku sudah membuat kamu terluka, aku memaksamu untuk pergi keluar dari kerajaan. Ini semua salahku.  Jadi diamlah dan jangan salahkan dirimu lagi!”

Setelah mengutarakan kalimat tersebut mereka berdua terdiam begitu lama dan berusaha menyerap dan menyadari apa yang baru saja terjadi.  Mereka berdua saling menunduk.

“Tuan Putri, aku memang ditugaskan untuk mengawalmu, tapi…”  perlahan Desna membuka pembicaraan.

“Tapi apa, Desna?”

“Tapi, aku tidak bisa selalu ada di sisi Putri.  Ada saatnya Putri sendirian dan saya tidak ada di sana untuk menjaga Putri Ascha. Maka Putri Ascha harus bisa berdiri sendiri dan setidaknya bisa bertahan sampai aku datang untuk melindungi Putri Ascha.”

“Desna…”  Ascha menatap Desna lekat-lekat mencoba mengerti apa yang ingin disampaikan oleh Desna dari kata-katanya tadi.

Perlahan Ascha mengerti maksud dari Desna.

“Desna, ajarkan aku bela diri!”

***

“Tahan kuda-kuda Anda Tuan Putri.  Pegangan Anda pada pedang begitu rapuh.  Sepertinya Tuan Putri perlu lebih melatih kekuatan jari dan tangan Tuan Putri.  Karena bagaimana pun jika pegangan kita terhadap senjata tidak kuat, maka itu akan jadi amat fatal,” Desna mencoba mengajarkan Ascha dasar-dasar untuk memegang pedang dan juga melakukan kuda-kuda.

“Seperti ini!”  Ascha mencoba untuk melakukan sesuai dengan yang dikatakan oleh Desna.

Desna sepertinya sudah cukup sering melatih, tapi dia benar-benar canggung melatih sang Putri.  Dia seharusnya tegas dan juga keras dalam melatih seperti saat dia melatih prajurit lain.  Tapi, yang dia latih kali ini berbeda.  Dia adalah seorang Putri Mahkota, dia harus dihormati dan jika dikerasi, kepalanya bisa jadi taruhannya.

“Desna, aku ingin kau memang melatihku seperti layaknya militer.  Di sini, aku adalah muridmu, bukan majikanmu.”

“Tapi, Putri…”

“Tolonglah, ini perintah!”

***

Ascha menatap langit dari jendela kamarnya.  Melihat burung-burung yang terbang dengan bebas dan tanpa beban.  Mereka terbang dengan riang dan juga berkicau dengan lembut.

“Indah sekali.”

Terdengar suara ketukan pintu.

“Tuan Putri, saya bawakan makanan untuk Tuan Putri,” terdengar suara Desna dari balik pintu.

“Masuk Desna.”

Desna tampak membawa makanan di atas sebuah nampan.  “Sedang apa Tuan Putri Ascha?”

“Desna… boleh aku minta sesuatu padamu?”

“Tentu, keinginanmu adalah perintah bagiku.”

“Jika kita berdua saja, bisakah kamu berhenti bersikap formal seperti itu. Bicara seperti biasa.  Kau bisa kan?”

Desna terdiam sejenak.  “Maaf, Tuan Putri. Saya tidak bisa.”

“Desna, tolong.  Kita sudah dua tahun bersama.  Aku sudah muak dengan keformalan yang terjadi selama ini.  Aku ingin kita jadi seperti sahabat saja, jika kita berdua saja.  Jika di luar, tidak apa jika kau ingin kita bersikap formal.  Jadi, Desna bisa kan?”

“Ba-baik Tuan Putri.”

“Ssshh, panggil aku Ascha saja. Jika kita hanya berdua.”

Ascha makan sedikit makanan yang dibawakan oleh Desna, “Desna, kau punya cita-cita?”

“Hm, Entahlah.  Aku sebenarnya tidak terlalu memikirkan itu.  Aku hanya ingin, melakukan yang sekarang aku bisa lakukan. Lakukan yang terbaik saja saat ini, maka aku akan mendapatkan terbaik di masa depan.  Kalau Tuan… Maksudku Ascha sendiri?”

Ascha menatap langit dari jendela kamarnya, “Aku ingin terbang, dengan mesin terbang yang aku rancang.  Sebuah mesin terbang yang terbaik yang pernah dibuat dalam sejarah.”

***

3 Tahun kemudian

Ascha sedang berdua dengan Sang Ratu alias Mamanya.  Mereka tampak mengobrol dengan lembut dan begitu terasa kekeluargaannya.  “Ascha, kini dirimu sudah tujuh belas tahun.  Kamu sudah semakin dewasa.  Kamu bahkan menjadi seorang Alchemis terbaik di kerajaan, mengalahkan para mentormu.  Kini, kita harus memikirkan masa depan kerjaan ini.”

“Masa depan?  Maksud Mama?”

“Apa ada seseorang yang kamu sukai?”

Deg.

Jantung Ascha langsung berdetak jauh lebih cepat tiba-tiba.  Saat ditanya seperti itu.  Hanya satu lelaki yang muncul di kepalanya.  Yah, hanya dia.

Ascha berhasil kembali sadar atas kekagetannya, dia segera menggeleng.  “Tidak ada, Ma.”

“Begitu ya.  Kalau begitu…” Ratu Lavanya mengambil sesuatu di kantung kecilnya.  Sebuah lambang kerajaan Lavanya.  Dia ambil telapak tangan Ascha dan menaruhnya di sana.  “Jika kau sudah menemukan lelaki itu.  Berikan ini padanya dan jika kau sudah berikan.  Tolong katakan pada Mama,” ujar Ratu Lavanya sambil senyum lembut pada putrinya.

Ascha menatap lembut Lambang Kerajaan yang berada di tangannya lalu menimang-nimangnya lembut Lambang itu.  “Terima kasih, Ma.”

Sang Ratu tersenyum lalu membelai rambut Ascha lembut.

“Oh ya, bagaimana proyekmu dalam membuat mesin udara itu?”

Belum saja Ascha menjawab, Tiba-tiba saja malam itu terdengar teriakan dan jeritan di mana-mana.  Selanjutnya terdengar ketukan pintu yang begitu terburu-buru dan cepat. “Tuan Putri… terjadi kebakaran di Ateliya,”  ujar seorang pelayan dengan nafas memburu.

Mata Ascha membesar.  “De… Desna masih di sana. Aku memintanya mengawasi Ateliya karena masih ada beberapa teman-temanku yang masih ada di sana.  Gawat…”

Ascha langsung meninggalkan Mamanya dan berlari keluar dari kastil dan menuju Ateliyanya.  “Sial, Desna!  Tolong, Desna…!”  Ascha terus berlari tanpa sadar air matanya mengalir di pipinya.

Mata Ascha membesar melihat kobaran api di Ateliyanya.  Dia tahu banyak cairan-cairan berbahaya yang bisa membuat api tersebut semakin membesar.  Semua orang mencoba memadamkannya, hanya saja tidak semudah itu.  Api yang membakar Ateliya Ascha bukanlah api biasa.

“Desna? Di mana Desna?”  tanya Ascha panik.

“Dia di dalam Yang Mulia.  Dia terjebak bersama dengan salah satu alchemis bawahan Anda,”  jawab salah seorang warga yang terus menyirami Ateliya itu dengan air yang berada di dekatnya.

“TIDAK, DESNA!!”  Ascha nyaris menerobos masuk ke Ateliya jika saja seorang yang tadi dia tanya tidak menahannya.

“Tuan Putri, jangan gegabah.  Anda bisa ikut terbakar.”

“Tapi, Desna!!”

“Tentara kerajaan akan membawa air.  Tolong sabar sedikit.”

Ascha terdiam.  “Benar juga.”  Ascha melepaskan satu persatu perhiasannya.

“KUMPULKAN AIR SEBANYAK MUNGKIN!” perintah Ascha dengan suara lantang.

Kebetulan sang tentara kerajaan sudah membawa air satu gentong besar.  Ascha mengambil satu perhiasannya dan memecahkannya di dalam gentong itu.  Perlahan airnya menjadi warna biru tua.  “Semuanya siram air ini ke api!”

Semua bekerja sama melakukannya.  saat menyiram ateliya dengan air tersebut.  Api mulai mengecil dengan cepat.  Mereka seperti mengembun dengan cepat dan membuat Ateliya lepas dari Api dengan cepat.  Ascha menggabungkan air dengan bahan pendingin membuat air tersebut bisa memadamkan api lebih cepat.

Tanpa menunggu lagi, Ascha masuk ke Ateliya-nya dan melihat Desna tertindih oleh sebuah lemari, tapi dia melindungi seorang gadis yang berada di bawahnya.  Walau tubuh Desna kecil, tapi dia mencoba melindungi gadis yang lebih tinggi darinya.

“Desna…!” Ascha langsung mencoba mengangkat lemari itu, tapi tentu saja dia tidak mampu melakukannya sendiri.

***

Semua orang sedang menyalakan lentera.  Yah, hari ini adalah hari festival lentera di Lavanya.  Ascha duduk berdua dengan Desna setelah Desna pulih dari peristiwa kebakaran itu.  Ascha begitu sedih karena berkali-kali dia membuat Desna dalam bahaya.  Jika saja dia tidak izinkan anak buahnya untuk ke Ateliya malam itu, pasti hal tersebut tidak terjadi.

Desna menunduk, “Hamba benar-benar menyusahkan, Tuan Putri.”

“Desna, kau lupa dengan perjanjiannya?”

“Ah, maaf.  Saya minta maaf Ascha.  Saya sepertinya selalu membuat masalah.”

“Sudahlah, Desna.  Oh ya, apa keinginanmu yang kamu pinta lewat lentera?”

“Keinginan saya adalah… diberi kekuatan untuk bisa terus melindungimu, Ascha.  Kalau Ascha sendiri?”

“Hum, boleh aku minta tanganmu?”

Walau bingung, Desna melakukannya.  Dia menengadah tangan.

Ascha menaruh sebuah Lambang Kerajaan Lavanya di sana.  “Jagalah itu baik-baik.”

“Tapi, Nona… ini…”

“Yah, kau tahu kan apa gunanya ini?”

“Nona, maaf saya tidak bisa menerima…”

Desna tidak berbicara lagi karena keningnya sudah disentuh oleh bibir lembut Ascha.  “Keinginan yang aku kirim lewat lentera itu adalah… aku ingin terus bersamamu.  Desna…”

“Putri Ascha… aku tidak pantas untuk ini.  A-aku… aku memang menyukai Ascha, tapi…”

“Kalau begitu terimalah.  Jagalah ini seperti dirimu menjagaku.”

“Tapi, apa kata orang lain nanti?”

“Mereka tidak perlu menerimamu, tapi mereka harus menerima cintaku padamu.  Sampai suatu saatnya nanti, dimana kita menunjukkan pada semua orang. Bahwa kita saling mencintai dan tidak ada yang bisa memisahkan kita.  Kau bisa janji itu, Desna?”

Desna terdiam.  Dia baru saja mendapat kenyataan yang amat di luar dugaannya.  Putri Ascha menerima cintanya dan mau menjadi kekasihnya.  Dia benar-benar tidak menyangka, “Ascha… yah, aku berjanji.”

Tanpa mereka sadari.  Ascha perlahan membungkukkan tubuhnya sedikit agar bisa setinggi Desna.  Begitu pun Desna, dia mencoba membuat dirinya lebih tinggi dan sentuhan bibir lembut itu terjadi sebagai tanda bersatunya cinta mereka.

Malam itu lentera bersinar dengan lembut menyinari mereka berdua.  Cinta antara sang Putri dan sang Pengawal bersinar lembut seperti layaknya lentera.  Mereka bersama sampai waktunya mereka harus menyadari, terkadang kenyataan memang menyakitkan.

Photobucket

Advertisements

3 thoughts on ““Ascha dan Sang Pengawal Kecil” oleh Zen Horakti

  1. Menarik ^^ interaksi antara Desna & Putri Ascha.. Couple ketiga kesukaanku stlh L-V & K-L 😀

    Mmg pertemuan awal Desna & Putri Ascha ngga jelas di novelnya *hehehe =.=v* tp di sini.. Spt jelas bgt bgitu :3

    Huaaa XD aku suka fanficnyaaa ❤

    Trs, Desna yg bertubuh kecil mmg biasanya disepelekan krn ukuran tubuhnya, semua emosi yg di sini tergambar dg pas & jelas

    Great 😀

  2. Pingback: Ther Melian fanfiction contest FINALE! « Shienny's Rants

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s