“Chronicle: Desna Kildea” oleh Kanakarina F.P.

“Nah, Desna, mulai hari ini kamu adalah pengawal si bungsu Puteri Ascha. Lindungilah dia dengan segenap jiwamu.”

Desna masih ingat ucapan ayahnya di hari ia pertama kali bertemu Puteri Ascha. Desna pun masih ingat mengikuti jari telunjuk ayahnya dan menatap sosok Puteri yang akan ia layani hingga akhir hayatnya. Dan pandangannya jatuh pada sosok seorang bayi yang dibalut pakaian dari kain merah marun, ingus dan liur bereleran dari hidung serta mulutnya, sedang berusaha ditenangkan oleh dayang istana yang menepuk-nepuk punggung kecil itu.

Sampai detik ini pun, Desna masih ingat reaksinya begitu melihat sosok tuannya itu untuk yang pertama kali. “Bayi! Yang benar saja!”

~

Menilik patokan umur bangsa Draeg dan Manusia, pada umur 17 tahun Desna tidak memiliki ekspektasi yang tinggi-tinggi amat. Paling tidak, ia berharap akan melakukan sesuatu yang lebih bermartabat dari pada disuruh memotong rumput halaman Istana Naian Mujdpir—atau paling tidak bekerja di pertambangan, lah. Pertambangan memang sudah seperti panggilan alam bagi kaum draeg, dan meski Desna merasa pekerjaan itu agak monoton dan stereotipical, paling tidak itu sudah memenuhi standar draeg.

Sekarang, Desna berharap dapat berada di hamparan rumput hijau yang terpapar sinar terik matahari itu dan mencabutinya. Dan setiap helai rambut yang berhasil dijambak Puteri Ascha dari akar kepalanya, Desna semakin tertarik untuk melompat dari jendela ini dan mendarat di atas halaman, masa bodoh dengan fakta bahwa ini lantai empat.

Desna berusaha menahan rentetan makian yang mengancam keluar dari mulutnya ketika tangan kecil Puteri Ascha mulai menggapai-gapai rambutnya lagi. Sebagai gantinya ia mendesah dan melirik ke gendongan di dadanya dengan tatapan tidak senang.

“Awas kau, kalau bukan karena perintah Ayah, kau sudah kutenggelamkan di sungai Yami, tahu.”

Puteri Ascha memamerkan giginya yang masih imut-imut ke arah Desna. Pipinya yang gembul berkontraksi ke atas ke bawah seraya ia menggerak-gerakkan mulutnya mengeluarkan lengkingan-lengkingan yang tidak dimengerti Desna.

Butuh beberapa lama sebelum tangan Puteri Ascha berhasil merain kain yang terikat di sekeliling kepala Desna, dan draeg cilik itu mengaduh saat sejumput helai rambutnya tertarik seraya pengikat kepalanya terlepas. Ia terlihat senang melambai-lambaikan kain yang tadinya terlilit di sekitar kepala Desna itu. Namun tawanya segera berubah menjadi tangisan. Tanpa sengaja ia menjatuhkan kainnya ke lantai.

Desna mendengus dan kemudian berjongkok untuk mengambil kain itu sambil menggerutu. “Sebentar ketawa, sebentar nangis. Huh! Dasar bayi!”

***

Setelah menyibak hampir setiap gorden di seluruh lorong serta kamar, mengecek setiap kolong meja, kolong kasur, bahkan dibalik bantal serta dibalik lemari pun, Desna akhirnya tahu bagaimana nasib hidupnya sekarang: tamat.

“Puteri Aschaaaaaaaaaa!” teriakan Desna bagai lolongan serigala yang tersesat kehilangan induknya. Seluruh gerak gerik, penampilan, serta setiap kata yang keluar dari mulutnya menyiratkan kepanikan yang tiada tara. Bagaimana tidak, ia telah kehilangan satu-satunya hal yang harus ia jaga dengan segenap jiwanya. Padahal baru sebentar ia mengalihkan pandangan dan ikut nimbrung dengan para draeg dan manusia dewasa lainnya dalam sebuah tontonan perkelahian yang tak sengaja terjadi di dapur staf istana. Tahu-tahu Puteri Ascha sudah hilang tanpa jejak dari tempat terakhir ia menaruhnya.

Dalam hati Desna merutuk. “Huh, dasar manusia! Kemarin saja belum ngomong, hanya bisa gumaman nggak jelas. Besoknya sudah bisa merangkak kemana-mana. Bikin repot saja, ah!” Tapi Desna tahu, ia harus segera menemukan Puteri Ascha sebelum terjadi apa-apa pada Puteri kecil itu. Meski sudah bisa merangkak, bayi tetaplah bayi. Tak bisa membela diri sendiri, bahkan berteriak minta tolong pun tidak bisa. Yah, selain berteriak nangis untuk minta makan dan minta popoknya diganti. Dan kalau ayahnya sampai tahu, ia pasti akan disuruh melakukan hal-hal yang lebih buruk ketimbang mengganti popok bayi.

Ketika langit berganti warna sore dan Desna masih belum menemukan keberadaan Puteri Ascha, draeg cilik itu membenamkan lututnya ke lantai dengan pasrah dan mengacak-acak rambutnya. Berakhir sudah. Tujuh belas tahun ia baru hidup di dunia ini, dan baru beberapa bulan berlalu semenjak ia diberikan tugas penting oleh ayahnya untuk melindungi seorang Puteri. Dan ia telah gagal. Ia tidak bisa menemukan Puteri Ascha dimanapun. Dan begitu ayahnya mendengar, hanya menghitung menit hingga hukuman cambuk menantinya. Mungkin kali ini tidak sekadar cambuk saja. Mungkin bisa saja sampai ke tiang gantungan… bagaimanapun juga Puteri Ascha masih termasuk anggota kerajaan, meski ia hanya bayi tak berdaya.

Paling tidak ia berharap Puteri Ascha sedang merasa nyaman dimanapun ia berada, dan kali ini ada dayang-dayang yang bersedia memberinya susu dan mengganti popoknya dengan penuh kasih sayang dan memiliki rambut yang cukup tebal untuk dicabuti sampai gundul.

Yah, sekarang sudah terlambat. Tapi lebih baik mengaku duluan daripada dituduh belakangan. Dengan kebulatan tekad itu, Desna pun berdiri dan berjalan lunglai menuju ruang tempat ayahnya biasa bekerja.

“Desna.” Langkahnya pun terhenti. Glek. Belum siap mentalnya tertata, tahu-tahu sang ayah sudah muncul entah dari mana didepan matanya. Desna pun tidak mengabaikan suara ayahnya yang terdengar dingin dan seakan bersiap meledak, seolah ia sudah mengetahui apa yang telah puteranya perbuat.

Tapi yang membuat kedua matanya terbelalak bukan karena kemunculan ayahnya yang tiba-tiba. Tapi buntalan yang ia gendong di dadanya. Buntalan yang sedang tertidur pulas, Puteri Ascha yang hilang dari pengawasannya sedari pagi tadi.

***

Desna meringis perih sambil berjalan tertatih-tatih memegangi punggungnya. Lima puluh cambukan memang bukan apa-apa dibanding tiang gantung. Tapi tetap saja sakit. Entah kapan ia bisa kembali berjalan normal, bukannya seperti orang tua yang kena encok seperti ini. Mana ia dikirim kembali ke rumah keluarganya yang terletak di pinggiran kota selama 3 hari, lagi. Dan coba tebak ia harus melakukan apa sebagai gantinya—ia harus membersihkan kandang komodo milik keluarga mereka.

“Ha-ha-ha, bagus. Aku harus berurusan dengan susu dan popok untuk makhluk berbeda,” ujar Desna nyinyir pada dirinya sendiri, seulas seringaian membentang di wajahnya yang masih terlihat seperti bocah remaja awal. Setelah beberapa lama tertawa garing dan mengasihani diri sendiri, Desna pun terdiam. Ia menyandarkan punggungnya perlahan di tembok, berusaha senyaman mungkin duduk di lantai dengan punggung yang berteriak nyeri sehabis dicambuk.

Pintu disebelahnya terbuka sedikit, membiarkan cahaya dan pemandangan dari dalam ruangan itu  terlihat oleh orang luar. Desna melihat Puteri Ascha sedang duduk didalam keranjangnya, bermain-main dengan salah satu boneka yang berjejer didalam. Desna menatap Puteri Ascha dengan tatapan sayu.

Hanya 3 hari, tapi hukuman itu adalah bukti bahwa ia lalai dalam tugasnya. Bagaimana bisa ia menjadi seorang pengawal dan penjaga seorang puteri kerajaan kalau menjaga bayi saja dia tidak bisa? Saat ini ia merasa tidak berhak menyandang nama Kildea.

***

Hari pun berganti tahun…

Diluar pengetahuan penduduk setempat, saat ini istana Naian Mujdpir sedang kebakaran. Tidak sampai menyebar dan membuat geger seisi istana sih, tapi cukup untuk membuat Puteri Ascha kebakaran jenggot.

Karena api itu berasal dari arah kamarnya.

“Puteri Ascha, jangan! Jangan masuk kedalam sana, bahaya, Puteri! Tunggu sampai para prajurit memadamkan apinya!” teriak salah satu dayang sambil berusaha menahan kedua lengan Puteri Ascha.

“Lepaskan aku, Anta! Kamu tidak mengerti—aku harus menyelamatkan sisa-sisa penelitianku sebelum habis dilahap api—“ gadis belia yang memiliki rambut hitam legam itu meronta dari pegangan dayangnya, Anta. Celakanya, si Puteri bungsu berhasil meloloskan diri dan tanpa fikir panjang langsung meluncur masuk menembus kamarnya yang sedang terbakar itu.

Pekikan horror dari para dayang yang menyaksikan di pinggiran pun tak terelakkan. Namun mereka tidak bisa melakukan banyak selain berteriak meminta tolong dan agar Puteri Ascha kembali keluar.

Sebuah terpaan angin melesat diantara mereka tanpa ada yang menyadari. Namun setelah difikir-fikir lagi, yang barusan mereka lihat bukanlah angin. Memang agak kabur karena gerakannya yang cepat, tapi mereka 85% yakin bahwa itu adalah sosok seseorang.

Sementara para dayang menggigiti kuku mereka dengan cemas, dari kejauhan terlihat sosok para prajurit yang membawa ember-ember berisi pasir berlari mendekat. Saat itulah sebuah suara hantaman suatu benda juga bersamaan terdengar, mengembalikan perhatian para dayang kembali ke arah ruangan yang masih dipenuhi api.

Sesosok draeg remaja muncul diambang pintu dengan menggandeng lengan Puteri Ascha—atau menyeret, untuk lebih tepatnya—wajahnya tercoreng arang hitam sana-sini, ekspresi di wajahnya kesal setengah mati. Sementara itu, ‘barang bawaannya’ masih meronta-ronta dan berteriak ingin masuk lagi. Tapi tidak ada yang memerhatikan apa yang diucapkan Puteri Ascha—pandangan semua orang tertuju pada sosok Desna.

“Lepaskan aku, Desna! Aku nggak akan membiarkanmu membiarkanku melihatnya terbakar begitu saja—“

Ocehan protes Puteri Ascha terpotong oleh Desna yang melempar tubuh gadis itu ke tangan salah satu dayang, Anta. “Kalian, pegangi Puteri Ascha dengan erat dan cek apakah dia terluka. JANGAN lepaskan dia dari pandangan kalian barang sedetikpun,” ujar Desna sambil melotot ke arah para dayang, dan lalu berakhir pada sosok sang Puteri. “Huh, baru kutinggal sebulan, dan anda sudah membakar kamar anda sendiri? Saya tidak terkesan, Tuan Puteri.”

Mengabaikan kerutan alis dan mulut yang sudah siap melontarkan kata-kata balasan, Desna beralih pada para prajurit istana yang sempat terhenti karena pintu masuknya terhalangi oleh draeg itu. “Mau tunggu sampai seluruh istana ikut terbakar? Segera padamkan!”

Dan dengan satu perintah itu pun, ember-ember berisi pasir mulai ditebarkan ke sumber api. Butuh beberapa perjalanan bolak balik dari tempat penimbunan pasir dan ke kamar sang Puteri, tapi selang beberapa lama kemudian, api pun dengan sukses dipadamkan tanpa menyebar kemana-mana.

***

Desna keluar dari dalam ruangan Ratu Adrisha diikuti oleh Puteri Ascha beberapa langkah dibelakangnya. Wajah Desna berkerut kesal karena alasan yang berbeda dengan kerutan di wajah Puteri Ascha.

Barusan, Ratu Adrisha baru saja menjatuhkan hukuman pada si Puteri bungsu agar menghadiri jamuan-jamuan serta pesta kenegaraan yang dilaksanakan oleh negara tetangga. Sekilas Desna tidak melihatnya sebagai hukuman sama sekali, tapi terbukti cukup membuat Puteri Ascha kesal. Nampaknya pada saat ini, satu hari dimana ia tidak boleh berkutat dengan penelitiannya bisa membuatnya mencakar tembok.

Dan begitulah, selama perjalanan menelusuri lorong, tidak ada yang berniat untuk memecah keheningan.

Tapi nampaknya sumbu kesabaran Puteri Ascha lebih pendek dari milik Desna. “Kamu tahu ini benar-benar keadaan yang buruk untukku, kan, Desna?”

“Tak bisa kubayangkan bagaimana buruknya keadaanmu, Puteri,” sahut Desna sambil tetap memberengut. “Tapi menurut cerita anda tadi, berarti ini semua terjadi karena salahmu sendiri. Coba kalau anda menurut sedikit pada Paduka Ratu—atau pada kakak-kakak anda—dan tidak melakukan penelitian aneh-aneh di kamar. Kali ini hanya mengorbankan kamar anda—saya rasa itu harga yang terbilang murah ketimbang runtuhnya seluruh istana atau bahkan nyawa anda—“

“Aduh, Desna, peduli setan dengan kamarku ataupun istana,” Puteri Ascha dengan gemas menyela omongan Desna. Langkah draeg itu pun terhenti dan rasanya kedua bola matanya mendadak membesar seperti bola golf. “Kamu tahu bukan itu yang kukuatirkan. Buku-buku yang berisi risetku terbakar, alat-alat untuk melakukan penelitianku semuanya juga terbakar. Tak ada satupun yang tersisa selain serpihan-serpihan gosong tak berguna. Sekarang aku harus memulai semuanya dari nol lagi, dan entah berapa lama sampai aku paling tidak bisa memiliki setengah dari apa yang kumiliki dulu.”

“Itu yang anda kuatirkan?” tanya Desna takjub. “Kok rasanya aku seharusnya tidak terkejut. Dan Tuan Puteri, tolong jaga cara bicaramu. Itu bukanlah kata-kata yang pantas diucapkan oleh seseorang seperti anda.”

Gerutuan keluar dari mulut si bungsu. Tapi Desna tidak menghiraukannya.

***

“Membangun ateliya diluar istana?” didalam ruang latihan prajurit yang sedang kosong, Desna mengulangi kata-kata yang diucapkan Ascha. “Anda serius, Puteri? Anda tahu kan, hal itu tidak dapat dilakukan semudah membalikkan telapak tangan. Pertama anda butuh izin dari Yang Mulia Ratu, belum lagi nanti kalau para dewan menyuarakan ketidaksetujuan mereka. Lalu anda juga harus—“

“Aku tahu kok, Desna. Aku tidak berharap akan segampang itu. Tentu saja aku akan menyiapkan segalanya. Tapi coba katakan padaku, lebih baik aku melanjutkan penelitianku disini dan meledakkan istana beserta seluruh keluarga kerajaan, atau merelakan satu bangunan terpencil yang jauh dari keramaian dan hanya dihuni oleh kita berdua? Lagipula kita juga tidak akan berada disama 24 jam penuh, kok. Tentu saja kecuali penelitianku membutuhkan waktu selama itu untuk rampung. Bagaimana?” Ascha menawarkan senyuman lebar pada Desna yang masih bertampang skeptis. Ia kemudian menyodorkan buku yang ada di pangkuannya ke depan wajah Desna. Draeg muda itupun menyarungkan pedangnya yang sedang ia pakai untuk berlatih dan melihat lembar yang ditawarkan sang Puteri. “Itu rancangan awal untuk tempatnya. Masih agak kasar sih, tapi kurang lebih seperti itulah tempat yang kubayangkan.”

Selagi Desna mempelajari desain yang tergambar di buku Puteri Ascha sambil sesekali memberi komentar (“Apa tempatnya tidak terlalu sempit?”), gadis itu menggunakan kesempatan ini untuk mengendap-endap dibelakang pengawalnya. Ia mengambil sebilah pedang yang tergeletak di pinggir arena dan berjinjit, berusaha untuk tidak mengeluarkan suara sehalus apapun. Tepat ketika Desna bertanya “Apa tidak sebaiknya menambahkan toilet dan dapur? Bagaimana anda akan membersihkan semua botol dan mangkuk kotor bekas percobaan?”, Ascha mulai menerjang dan menghunuskan pedangnya ke arah Desna, berniat menebas pundak draeg itu.

Ascha hanya terbengong-bengong ketika Desna menahan tebasan pedang yang ia ayunkan hanya dengan dua jarinya.

“Aku bisa mendengar langkahmu sejelas derapan kaki 100 Komodo, Puteri,” ujar Desna tanpa membalikkan badannya. Ketika ia memutuskan untuk berbalik, kerutan tidak setuju terbentuk di alisnya, dan Ascha hanya cengengesan.

“Oh iya, aku lupa menambahkan toilet dan dapur di desainku. Terima kasih sudah mengingatkanku, Desna.”

“Sama-sama,” balas Desna dengan senyuman yang jika dibedah lebih dalam, akan terlihat sedikit mencemooh.

Tapi bukannya menjatuhkan pedang dan mengambil kembali bukunya dari Desna, Ascha malah kembali menebaskan pedangnya ke arah Desna. Pemuda itu dengan santai menghindar ke samping, walau ia harus menjatuhkan buku tulis Ascha karenanya.

“Anda sedang apa, Tuan Puteri?” tanya Desna, nada malas terdengar di suaranya.

“Rasanya setiap aku melihatmu mengayunkan pedang terlihat sangat mudah. Tapi ternyata cukup berat juga, ya,” Ascha meringis. Ia terlihat kewalahan menangani pedang yang ia pegang.

Desna menghela nafas. Perlahan ia mendekati Ascha, lalu dengan dagunya ia mengisyaratkan ke arah lengan sang Puteri. Saat Ascha hanya terdiam bingung menatap Desna, pengawalnya itu tiba-tiba meraih pergelangan tangannya dan menariknya ke atas.

“Pertama, bagaimana kalau anda mencoba menahan gagangnya dengan satu tangan saja, bukannya dua?”

Beberapa ayunan pedang kemudian, Ascha terbaring dilantai kayu dengan tangan terlentang, nafasnya tersengal-sengal.

“Aduh, tanganku! Rasanya aku tidak bisa merasakannya…” seru Ascha ditengah-tengah usahanya mengatur kembali ritme nafasnya.

“Ngomong-ngomong, Puteri, mengenai ateliya anda,” tiba-tiba saja Desna mengubah topik, sambil kembali menyarungkan pedangnya dan mengambil pedang yang tergeletak tak jauh dari tempat Ascha. Berbeda dengan tuannya, Desna sama sekali tidak terlihat ngos-ngosan. “Jika proposalnya disetujui, kurasa akan dibutuhkan beberapa orang lebih untuk mengawal anda keluar istana. Bagaimanapun juga, anda tetap puteri Lavanya. Keselamatan anda tetaplah yang utama.”

“Iya, aku mengerti, Desna,” ujar Ascha sambil melambaikan tangannya ke arah Desna. “Aku ingin bangunannya cepat-cepat dibangun. Kalau sudah selesai, menurutmu apa aku bisa mengundang beberapa orang untuk pesta peresmiannya?”

“Kurasa boleh. Memangnya anda ingin mengundang siapa?” tanya Desna. Selama 14 tahun ia mengenalnya, Puteri Ascha memiliki lingkar pergaulan yang cukup luas. Semua karena sifatnya yang easy going dan cenderung melihat kebaikan di setiap individu—bahkan Desna sering menasihati sang Puteri mengenai sifatnya yang terlalu mudah memercayai orang ini. Jadi ia agak was-was ketika sang Puteri menyebutkan ‘beberapa’. Bisa-bisa saking banyaknya yang ia undang, pesta peresmian ateliya yang seharusnya sederhana berubah menjadi pesta dansa mewah.

Dalam menjawab pertanyaan Desna, Ascha bergumam sambil menyunggingkan senyuman diwajahnya, “Desna, apa menurutmu Pangeran Leighton akan datang kalau kuundang?”

Mendadak langkah Desna menuju tempat penyimpanan senjata terhenti. “Pangeran Leighton? Kenapa anda ingin mengundangnya?” Desna merasa suaranya seraknya mengkhianati dirinya sendiri.

“Waktu kemarin kita ke Granville untuk melaksanakan hukuman dari Ibu, kamu ingat kan ketika Pangeran Leighton menyelamatkanku di lantai dansa?”

Ah, tentu saja, Desna masih mengingatnya. Menurutnya sang Puteri agak berlebihan dalam menanggapi sikap sang Pangeran dari Granville itu, tapi tahu apalah dia tentang beban bangsawan.

“Semenjak kejadian itu selama aku menetap di Granville, aku dan Pangeran Leighton cukup banyak berbincang-bincang. Ialah yang secara tidak langsung memberiku ide untuk membangun ateliya-ku sendiri, kamu tahu?” ucap Puteri Ascha selayaknya mengenang kenangan manis.

Sejujurnya, Desna tidak tahu mengenai dari mana ide ateliya itu berasal. Tapi ia tidak menyangka sang Pangeran Granville ikut andil dibelakangnya.

“Karena itulah, aku ingin ia datang dan melihat ateliyaku saat sudah jadi. Apa menurutmu statusnya sebagai pangeran akan memungkinkannya untuk datang, Desna? Atau malah… dia akan terlalu sibuk?” nada suara Puteri Ascha terdengar seperti gadis remaja yang cemas memikirkan kekasih hatinya. Mungkin keadaan Puteri Ascha sekarang memang persis seperti itu—gadis remaja yang sedang kasmaran. Desna memutuskan remasan kecil di hatinya itu pertanda bahwa ia tidak perlu tahu dan tidak mau tahu tentang masalah gadis manusia. Meski tumbuh di lingkungan manusia, terkadang ia masih tidak mengerti cara kerja fikiran mereka.

~

“Kau! Menjauh dari Puteri Ascha! Cepat!” Pedangnya telah dicabut dari sarung, dan saat ini Desna siap menebas siapapun yang dianggapnya ancaman terhadap keselamatan Ascha.

“Desna, tahan dulu, dia ini—“Ascha tidak sempat menyelesaikan kata-katanya karena ia tiba-tiba meringis memegangi pinggang kirinya yang kesakitan. Pria disebelahnya, manusia lusuh yang memiliki bekas luka diwajahnya itu ikut membungkuk dan berusaha merenggut tangan sang Puteri. Desna yang melihat pria itu tidak mengidahkan peringatannya tambah meledak,

“Hei, kau tidak dengar, ya! Kubilang menjauh sebelum kau merasakan sabetan pedangku!”

“Aku hanya ingin membantunya,” ucap pria itu sambil mengangkat kedua tangannya diudara. “Jika tidak segera dirawat, lukanya hanya akan bertambah parah—“

“Omong kosong! Kau hanya akan menggunakan kesempatan itu untuk membawanya kabur!”

“D-Desna… tunggu dulu…” sambil berusaha menahan rasa sakit yang ketara di wajahnya, Ascha berusaha mengulurkan tangannya pada pengawalnya itu. Namun melihat Ascha yang merintih kesakitan dan darahnya yang mengalir di atas rumput seakan telah membuat Desna kesetanan. Ia sama sekali tidak mengidahkan apa yang Ascha coba katakan, matanya dibutakan kepanikan melihat tuannya terluka.

“Oke, ini nggak akan berlangsung seperti yang kuharapkan,” ujar pria berkulit merah yang nampaknya blasteran itu sebelum tiba-tiba merenggut lengan Ascha dari bawah. Entah dari mana, ia telah mengambil sebilah belati dan sekarang benda itu berada terlalu dekat dengan leher sang gadis. Otot-otot Desna langsung berubah tegang, tapi sebelum ia bisa melakukan apa-apa, pria itu memberikan peringatan, “Bergerak sedikit saja, dan kamu bisa ucapkan selamat tinggal pada Puteri tersayangmu.”

Desna mematung. Diberi ancaman seperti itu, siapapun juga akan melakukan hal yang sama. Ia menatap pria bercodet itu lekat-lekat.

“Bagus, sekarang lempar pedangmu ke bawah kakiku,” ujar pria itu lagi. Ketika Desna tidak bergerak sedikitpun, pria itu mengulangi ucapannya sambil mendekatkan belatinya ke leher Ascha. “Kamu tidak dengar, ya? Kubilang lempar pedangmu kesini!”

Lama Desna menatap pria itu dengan semua kebencian yang bisa ia pancarkan. Tapi akhirnya ia mengayunkan pedangnya ke arah kaki sang pria.

“Bagus. Sekarang berlutut dan taruh kedua tanganmu dibelakang kepala. Benar, begitu. Diam ditempat.” Pria itu kemudian menyeret Ascha kedepan dengan perlahan, lalu berjongkok dan mengambil pedang milik Desna dan melemparnya jauh kebelakang. “Sekarang, jangan bertindak macam-macam selagi aku berusaha mengobati luka Puteri-mu, oke? Aku tidak tahu seberapa dalam lukanya, tapi jika dibiarkan terbuka, pendarahannya bisa bertambah parah.”

Desna menyaksikan pria itu membaringkan Puteri-nya diatas tanah, lalu menginspeksi luka di pinggangnya. Kemudian ia menurunkan ranselnya dan merogoh sesuatu dari dalam. Dengan ragu, Desna menurunkan lengannya.

“Kalau kamu berjanji tidak akan menebasku, kamu boleh membantu.”

Tanpa perlu diberitahu dua kali, Desna segera menghambur ke samping Ascha. Dibelainya wajah sang Puteri yang nampak kesakitan itu, “Puteri, anda bisa mendengar suaraku? Bertahanlah, Puteri. Kamu akan segera baikan.”

“Desna…” Ascha mengujar lemah. “Maaf ya, aku pergi diam-diam. Habisnya… kamu cerewet, sih. Padahal aku tidak berencana pergi jauh-jauh…”

“Shh… diamlah. Aku mengerti.”

“Maaf, ya… kamu… pasti marah, ya… padaku?” tanya Ascha terbata-bata.

“Tentu saja aku marah! Tapi aku tidak akan memarahami sampai kamu sembuh sepenuhnya, Puteri, tenang saja.”

“Haha… ha… kalau begitu… aku harus… bersiap-siap… ya… tapi… sakit sekali…”

“Puteri? Puteri, bertahanlah! Ascha, kamu harus bertahan. Kamu harus bertahan, Ascha. Bukankah kamu masih harus mengadakan pesta peresmian ateliya-mu? Sebentar lagi selesai, jadi kamu harus bersabar. Dan kita bahkan belum sempat melanjutkan pelajaran berpedang kita. Kamu masih ingat apa yang kuajari, kan?”

“Ya… tentu saja… berikutnya… aku akan bisa… pegang dengan… satu tangan…” ucapan Ascha terputus ketika gadis itu kembali terbatuk-batuk. Desna berusaha menenangkan Ascha, tapi usahanya tidak menghasilkan efek yang begitu besar. Ia pun menoleh pada si pria blasteran,

“Ia harus segera dibawa ke tabib!”

“Aku setuju,” ujar pria itu, tangannya mengusap sebagian rambut yang menutupi sebelah matanya. “Lukanya lebih dalam dari yang kukira. Aku sudah menghentikan pendarahannya, tapi hanya sementara. Lebih cepat kita membawanya ke tabib, lebih baik.”

Dalam sekejab mata, Desna pun melupakan kebencian yang tadi ia pancarkan pada pria ini. Sambil bahu membahu, mereka pun segera berjalan secepat yang mereka bisa ke tempat yang diarahkan Desna.

***

“Apa maksudmu ia terjatuh dari pohon? Begitu-begitu ia seorang pemanjat yang handal.” Desna menatap pemuda itu—Rion namanya—dengan skeptis.

“Bahkan tupai terlihai pun pernah jatuh, kan? Hari ini adalah hari sial gadis itu. Aku hanya kebetulan bertemu dengannya di sebuah kedai dan aku kebetulan tahu tentang suatu tanaman yang sedang dicarinya. Kami pun pergi mencari bersama, tapi ia keras kepala dan ingin mengambil bunga itu sendiri, padahal letaknya di atas dahan pohon yang lumayan tinggi,” jelas Rion sambil menyeruput minuman jahe yang diberikan oleh salah satu dayang. “Lalu ia terpeleset, dan ternyata ia kebetulan terkena ujung dahan yang tajam. Lalu tiba-tiba kamu muncul setelah mendengar teriakannya.”

Saat ini mereka sedang berada di istana, di sayap tabib istana. Ascha akan tetap hidup. Dan Rion tidak seheboh yang dikira Desna ketika ia melihat kemana mereka menuju, tapi itu kan hanya luarnya.

“Begitu. Terima kasih, Rion. Jika bukan karena kamu…”

“Hei, aku hanya berusaha membantu, kok,” ujar Rion. “Tapi tentu saja, kalau kamu mau memberiku balasan, aku tidak akan menolak. Dia—maksudku Puteri-mu—tadi menjanjikan balasan jika aku membantunya mencari tanaman itu.”

Mendadak rasa terima kasih Desna terhadap orang ini menurun sedikit. “Tentu saja. Kamu akan diberi balasan yang setimpal atas jasamu. Tapi kurasa perjanjianmu dengan Puteri tadi bisa dibilang batal—bukan apa-apa, tapi aku tidak melihat tanaman obat yang ia cari ada padanya.” Desna berhenti sebentar, “Kecuali bendanya ada padamu…?”

“Aku tidak tahu soal itu. Gadis itu bilang aku hanya perlu membantunya mencari tanaman yang ia cari, tidak lebih,” ujar Rion tegas.

Detik itu juga, terlebih dari rasa terima kasihnya karena telah menolong Ascha, Desna memutuskan bahwa ia tidak menyukai Rion titik.

***

Tahun pun kembali bergulir…

Hari ini seharusnya seperti hari-hari biasanya, tapi sepertinya dunia tidak lagi terasa membosankan. Seorang prajurit bahkan memergokinya sedang bersiul. Padahal Desna tidak pernah bersiul seumur hidupnya.

Mungkin benda yang berada dibalik kain didadanya adalah penyebabnya?

“Aku hanya ingin kita… tidak perlu menjadi siapa-siapa lagi selain diri kita sendiri ketika kita hanya berdua. Bukan Puteri dan Pengawalnya. Bukan pula si Gadis Manusia dan Pemuda Draeg. Hanya Ascha… dan Desna. Dua individu bebas yang saling menyayangi.”

Kata-kata Ascha terngiang-ngiang dalam kepalanya ketika ia memberi Desna emblem kerajaan miliknya. Meski ia tahu bahwa banyak penghalang yang berdiri jika ia dan Ascha memang berniat ingin bersama. Tapi entah kenapa ia ingin percaya bahwa masa depan dimana ia dan Ascha—draeg dan puteri manusia—bisa bersatu tanpa ada cecaran dari pihak-pihak manapun.

Tiba-tiba lamunannya dibuyarkan oleh seorang pengawal yang memberitahukan kehadiran Rion. “Oh, bagus, anak itu datang,” ujar Desna dalam hati. Ia tidak benci pada Rion—justru pemuda itu sudah memberikan kontribusi banyak untuk Puteri Ascha dan pekerjaannya di ateliya. Tapi tetap saja… ada sesuatu dalam diri Rion yang tidak sepenuhnya disukai Desna.

Ia pun berjalan keluar bangunan mewah yang memiliki papan kayu bertuliskan ‘Ateliya Puteri Ascha’ dan melihat Rion, beserta dua orang bertudung dibelakangnya. “Kamu membawa sesuatu untuk Tuan Puteri?”

***

One story end, the other begins…

Photobucket

Advertisements

3 thoughts on ““Chronicle: Desna Kildea” oleh Kanakarina F.P.

  1. 1. “Bayi! Yang benar saja!”
    2. Rambut Desna dijambak2

    Ga bisa berhenti ketawa bacanya xD aih~

    Desna jd spt babysitter putri Ascha xD

    Tp.. Smakin ke bawah, mulai serius2..

    Paniknya Desna wkt putri Ascha terluka itu tdk biasa, tanda2 .. Ehem.. Cinta xD

    ~~

    Suka~
    Semua trgambar jelas di sini 😀

  2. Babysitter Desna, bagi yang berminat hubungi xxx-xxx-xxxx XD
    Overall bagusm tp mungkin lebih baik ditambahkan sedikit adegan mesra antara Desna & Ascha yah ^^

  3. Pingback: Ther Melian fanfiction contest FINALE! « Shienny's Rants

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s