“Cinta Sejati Ziggy” oleh Maria Rosari

“Aku ingin kalian bekerja di peternakanku selama dua minggu. Dengan begitu kalian akan tahu bagaimana cara mengurus komodo. Aku juga akan menyediakan tempat untuk tidur dan makanan dua kali sehari,” kata Edern.

Begitulah Aelwen dan Vrey akhirnya tinggal di lumbung jerami milik Edern dan berlatih menunggangi serta belajar merawat komodo Edern sambil menunggu kapal udara menuju Granville tiba di Kynan.

Dipagi ketiga Aelwen sedang belajar menunggang komodo hingga menyusuri ladang jagung yang tak jauh dari peternakan Edern saat ia melihat seorang pria gembul pendek. Kulitnya cokelat terbakar sinar matahari. Rambutnya cepak dan berwajah bulat. Pria itu memakai baju cerah yang sangat tidak serasi dengan kulitnya. Sepertinya sudah berusia tiga puluhan tahun. Dia berjalan melewati komodo yang sedang mencari makan sambil tersenyum  sumringah dengan membawa setangkai mawar merah di tangannya.

Dengan mantap pria itu berhenti di sebuah rumah yang tak jauh dari situ. Aelwen penasaran jadi dia mengikutinya. Ditambatkan komodonya lalu berdiri sedikit merunduk di dekat gerobak penuh jagung yang terparkir di ujung rumah.

Dia melihat pria itu mengetuk pintu kayu rumah tiga kali. Tak lama kemudian seorang wanita separuh baya keluar. Wanita tersebut sangat berbeda dengan si pria. Kulitnya kuning langsat, rambut panjang cokelat kayu tergerai bergelombang di belakang bahunya, matanya bulat dan hidungnya mancung. Pakaian yang dikenakannya pun sangat rapi dan bersih. Seperti sedang bersiap mau pergi ke pesta besar.

Saat melihat pria tersebut, senyum wanita itu langsung hilang seketika dan air mukanya berubah masam. Dia mengangkat dagunya tinggi-tinggi. “Apa yang kau lakukan di sini?”

Si pria menundukkan kepalanya dan bicara terbata-bata, “ A… aku sedang berjalan-jalan di kota dan… dan errhh… aku melihat..” dia tarik napas dalam-dalam. “Melihat bunga mawar merah yang dijual teman lamaku di sana. Dan… dan… erhh…” tarik napas lagi. “Dan saat aku melihat bunga ini aku langsung teringat padamu.” Pria gembul itu menyodorkan setangkai mawar merah yang digenggamnya. Tangannya gemetar membuat bunga mawarnya ikut bergoyang. Aelwen bersumpah ia sempat melihat satu kelopak bunganya jatuh karena saking bergetarnya pria itu.

Oh,, sedang merayu wanita idamannya, pikir Aelwen.

Si wanita cantik yang di hadapannya itu memicingkan matanya ke arah si pria, merapatkan kedua bibirnya rapat-rapat, dan menaruh kedua tangannya di pinggang. Tampangnya jadi seperti nenek sihir yang siap merapalkan mantra kutukan pada mangsanya. Aelwen bersiap-siap di posisinya. Siapa tahu si wanita itu akan merapalkan mantra sungguhan ke arah si pria gembul itu.

“APA YANG KAU LAKUKAN!?” kata wanita itu tiba-tiba sambil mencengkeram kerah baju pria gembul dan mengangkatnya.

Aelwen harus menutup mulutnya agar tidak menjerit. Busyet! Hebat bener nih cewek!

“Kau sedang mengigau, ya? Pagi-pagi begini pakai baju aneh begitu, mengetuk pintu orang dan mengucapkan kata-kata yang nggak jelas! memalukan!” bentak wanita itu. “Dan kau pikir kau ini siapa datang ke rumahku dan melakukan semua itu padaku! Apa kata orang jika melihatmu di depan rumahku? Awas kau ya! Kalau berani datang ke rumahku sekali lagi kau akan tahu akibatnya!” Setelah itu si wanita melepaskan tangannya dengan kasar dan berbalik menutup pintu rumahnya keras-keras.

“Kasihan sekali pria itu,” Aelwen akhirnya bicara.

“Namanya Ziggi Nebalka,” seru seorang pria di belakangnya. Edern. “Yah, dia memang menyedihkan,” katanya yang entah sejak kapan berada di belakang Aelwen. “Dia memang sudah lama mengincar Talia. Tapi sayangnya Talia sangat jual mahal,” lanjut pemilik peternakan sambil mengajak Aelwen kembali ke tempat istal.

Edern melanjutkan ceritanya tanpa diminta Aelwen. “Ziggi. Dia sebenarnya pria yang sangat baik. Dia punya pendirian yang sangat kuat. Tidak mudah menyerah dan harus kuakui ia juga seorang yang keras kepala.”

“Lalu kenapa Talia menolaknya? Kulihat tampaknya Ziggi orang yang sangat baik. Yah, walaupun aku tahu dia sangat unik. Tapi apa yang salah dengannya?” tanya Aelwen.

Edern tersenyum simpul. “Talia Vargaz adalah keturunan dari klan Vargaz yang terhormat. Keluarga Vargaz adalah pemilik ladang jagung terbesar di sini. Dan Talia sangat menjaga lingkungan sosialnya agar bisnis keluarganya tidak rusak. Sedangkan Ziggi hanyalah seorang Nebalka.

“Zaman dahulu, entah berapa generasi yang lalu, seorang Nebalka melakukan hal yang sangat memalukan di desa ini. Aku tak tahu apa itu karena aku juga baru pindah kemari sejak aku menikah dengan istriku beberapa tahun lalu. Tapi yang jelas seluruh keluarga Nebalka mendapat sialnya. Tak satupun dari kami yang mau bergaul dengan anggota keluarga Nebalka. Sampai saat ini. Begitu juga dengan Talia”

Aelwen mengernyit, “tapi itu tidak adil kan? Masa’ hanya dengan satu kesalahan yang dilakukan oleh leluhurnya, seluruh keturunan lain terkena sialnya.”

Edern menghembuskan napasnya berat. “Hidup ini memang tidak adil anak muda.” Aelwen hendak memprotes lagi ketika Edern menimpali “Ah, sudahlah! Jangan dipikirkan. Masalah ini tidak baik untuk wanita muda sepertimu. Sudah waktunya makan siang. Sebaiknya kita cepat pulang. Sebelum temanmu yang suka makan itu menghabiskan jatah kita.”

Aelwen berkerut dan tertawa renyah, “ya, baiklah.”

***

Keesokan harinya Vrey sedang mengembalakan komodo-komodo Edern ke tengah lapangan untuk mencari makan. Bergantian dengan Vrey, sekarang Aelwen sedang membantu istri Edern membuat makanan.

Ketika Aelwen sedang mencari sayur mayur di pasar. Saat itulah ia melihat seorang pria gembul lewat di depan matanya. Ziggi. Aelwen langsung mengenalinya. Pakaiannya tidak terlalu berbeda dengan kemarin. Tidak cocok dengannya. Tapi kali ini Ziggi tidak membawa setangkai bunga mawar. Melainkan sebuah kotak mungil berwarna merah muda yang manis.

Ziggi tampaknya sangat bahagia dengan apa yang ada di tangannya. Senyum sumringah terus menempel di bibirnya.

Tampaknya ia menuju rumah wanita itu lagi, tebak Aelwen. Ia jelas langsung mengikuti Ziggi. Ingin tahu bagaimana keadaan Ziggi nanti jika Talia mendampratnya lagi.

Ziggi tiba-tiba berhenti. Aelwen melihat alasannya. Talia ada di hadapannya bersama teman-temannya  sedang membeli buah-buahan di kios buah dekat situ.

“Erm.. hai..!” kata Ziggi lirih.

Talia tidak mendengarnya.

“Talia?”

Talia masih tidak mendengarnya atau sengaja tidak mendengarnya. Sampai pedagang buah memberitahunya. “Heh,, kau lagi. Tidak puas dengan yang kau lakukan kemarin?” Kata Talia enggan. Teman-temannya pun ikut menoleh.

“I… ini. Aku bawakan kau sesuatu.” Ziggi menyodorkan bungkusan kecil itu kepada Talia. “aku mohon. Terimalah aku menjadi pacarmu.” Sambil berlutut pada sebelah lututnya.

Talia terpatung. Tak hanya dia. Bahkan semua orang yang melihat mereka menahan napas dan menutup mulutnya.

Aelwen membelalakkan matanya. Tak mungkin ia seberani itu.

Talia melirik kanan dan kirinya. Merasa malu, iapun mengambil napas panjang dan… “DASAR TAK TAHU MALU! Sudah berapa kali kukatakan padamu jangan datang lagi di hadapanku. Nggak ngerti juga, ya!”

Sesuai dugaan Aelwen, Talia pasti mengeluarkan semburan naganya. Ziggi yang lagi-lagi mendapatkan semburannya harus menunduk untuk menghadapi Talia. Sepertinya tubuhnya mengkerut dari ukuran sebenarnya.

“Sampai kapanpun aku tak akan mau denganmu! Asal kau tau saja ya, jika aku menyukai seorang pria, pria itu harus tinggi dan tampan. Memberikan setangkai bunga mawar untukku setiap hari, dan makan malam romantis di tepi pantai sambil membacakan puisi cinta padaku. Kau sanggup melakukannya?” lanjut Talia tak beri ampun.

“Ta,,, tapi setidaknya aku sudah membawakanmu bunga mawar kemarin,” kata Ziggi lirih. “Dan sekarang aku membawakan kalung ini. Yah, walaupun bukan permata asli, tapi kukira kau akan lebih cantik jika memakai ini.”

“wow, Talia. Dia pernah membawakanmu bunga mawar? Romantis sekali,” sela salah satu teman Talia diselingi kikikan tak jelas.

Mendengar itu wajah Talia menjadi sangat merah. Langsung saja Talia meraih kalung yang Ziggi sodorkan. Dan melemparkannya tepat ke wajah Ziggi. “Pokoknya sudah kubilang. Jangan datang lagi padaku!” setelah itu dia pergi meninggalkan Ziggi di tengah kerumunan.

“Huu, payah! Ditolak wanita,” seru seseorang di belakang Ziggi.

“Memangnya siapa dia? Berani sekali dia menembak seorang Vargaz,” kata yang lain.

“Bukankah dia Ziggi? Ziggi Nebalka.”

“Nebalka? Tak mungkin. Jika aku seorang Nebalka, aku akan pergi  jauh dari desa ini.”

“Ah, siapa peduli. Yang penting dia pengecut,” kata yang lain sambil lalu.

Masih banyak lagi cacian dari orang-orang pasar yang melihat kejadian tadi. Tentu saja Ziggi mendengar semuanya dengan baik tapi ia tetap diam saja. Begitu juga dengan Aelwen. Bedanya, Aelwen menjadi geram. Ia tidak tahan melihat seseorang diperlakukan tidak adil seperti itu.

“Bangunlah!” kata Aelwen menghampiri Ziggi sambil mengulurkan tangan.

Ziggi hanya menengadah.

“Aku bilang bangun. Kau tidak pantas mendapat ini. Bangun dan ikut aku,” desak Aelwen.

Entah apa yang membuat Ziggi mau menuruti kata wanita asing ini. Ia langsung menyambut tangan Aelwen dan berdiri.

“Kau ini, seperti tidak ada wanita lain saja. Ayo ikut!” gerutu Aelwen saat Ziggi membersihkan debu dari lututnya. Baru beberapa langkah dia berhenti dan  membalikkan badannya. Mendapati Ziggi tidak mengikutinya. “Apa yang kau lakukan? Kau tidak mau ikut?”

Ziggi membungkuk dan sibuk mencari-cari di tanah. “Aku,, aku sedang mencari kalungnya. Tadi dia melemparkannya ke sini.”

Aelwen memutar bola matanya. Mau tak mau ia membantu Ziggi mencari kalungnya. Untung Aelwen langsung melihat sesuatu yang berkilauan di ujung meja si pedagang buah. Dengan cepat dia ambil dan berikan pada Ziggi. Ziggi meraihnya dan mengelapnya dengan lengan bajunya. Lalu menyimpannya di dalam kantong baju. Aelwen sempat melihat sekilas Ziggi tersenyum saat melihat kalungnya kembali.

Aelwen dan Ziggi berjalan di samping bantaran sungai kecil di sisi sebelah desa. “Kau ini kenapa sih? Kenapa kau mau saja ditindas seperti itu? Di mana martabatmu sebagai seorang pria? Kau tidak mau membela dirimu sendiri?” cecar Aelwen pada Ziggi.

Tapi yang dicecar malah menundukkan kepala dan memainkan sesuatu di atas tanah dengan kakinya.

Aelwen menghela napas. “Dengar, aku tahu semua orang bebas memilih siapa pasangan hidupnya. Dan dia sangat berarti bagimu. Tapi ini sudah keterlaluan. Merendahkan dan menertawaimu di depan umum? Hah, ini sangat memalukan. Dan kau tahu apa yang lebih memuakkan lagi? Melihatmu diam saja diperlakukan seperti itu!”

“Memangnya kau siapa?” tanya Ziggi.

Aelwen tergelak. Ia lupa mengenalkan dirinya. “Ah,, ma,, maafkan aku. Aku lupa mengenalkan diriku. Namaku Aelwen,” katanya sambil membungkuk dalam.

Ziggi tersenyum, “kamu bukan warga Kynan ya?”

“Ah,, iya. Aku dari desa yang jauh dari sini. ta,, tapi bukan itu tujuan kita kemari. Aku hanya ingin,, ingin,,, entahlah,, maafkan aku. Aku tak tahu apa yang aku lakukan. Kita baru saja saling kenal. Kau bahkan tak tahu siapa sebenarnya aku. Maaf, aku hanya emosi. Melihatmu, sungguh aku tidak tahan melihatnya. Kau boleh saja menganggapku orang gila. Tapi,,”

“Tapi aku tak menyalahkanmu,” kata Ziggi seraya duduk di atas batu dekat situ. “Kau pasti ingin bilang kalau aku ini payah. Selalu kalah terhadap wanita..”

“Ah bukan. Hanya saja kenapa kau tidak melawan?”

Ziggi tersenyum membalas pertanyaan Aelwen, “Untuk apa? Untuk menambah kepuasan mereka menertawaiku? Dan setelah itu mereka tidak akan meremehkan aku lagi? Toh itu tidak akan membuat Talia jatuh cinta padaku.”

“Kau tidak marah?”

“Kenapa harus?”

Semakin dalam saja kerutan di dahi Aelwen. Ia tak tahu kenapa Ziggi  mau saja menerima semua perlakuan warga Kynan padanya.

“Kau pernah jatuh cinta nona muda?” tanya Ziggi mendadak.

Pertanyaan itu sungguh membuat Aelwen tersentak. Selama ini wanita yang paling dekat dengannya hanyalah Vrey. Itu karena Vrey lah yang menyelamatkan Aelwen saat ia sedang kesusahan. Tapi Aelwen tidak berani memikirkan hal yang lebih jauh lagi hubungannya dengan Vrey. Tidak dalam keadaaannya yang seperti ini.

“Ah, sudah kuduga. Kau pasti belum pernah kan? Akan kuberitahu kau bagaimana rasanya.” Mata Ziggi menerawang. Kabut sangat tipis kali ini, jadi mereka bisa sedikit melihat jauh ke atas langit.

“Jika ia datang, jantungmu selalu berdegup kencang. Kau akan dibuatnya melayang. Matamu tak akan pernah lepas darinya. Kau pasti akan selalu memperhatikan semua tingkahnya entah kau sadar atau tidak. Kau ingin selalu bersamanya di manapun dia berada. Menjadi awan di bawah teriknya matahari. Menjadi bayang-bayang di bawah kakinya. Hanya untuk menjadi satu dengannya tidak peduli apapun yang terjadi,” kata Ziggi. Matanya terpejam menghadap sinar matahari.

Aelwen terdiam sesaat. “Aku tahu perasaan itu. Maksudku kata orang memang begitulah cinta. Tapi kau tak menjawab pertanyaanku. Kenapa kau tidak marah? Mereka memperlakukanmu seperti itu. Tidakkah itu membuatmu muak? Kenapa kau tidak cari wanita lain saja? Aku yakin masih banyak wanita cantik yang mau denganmu di Kynan ini.”

“Kalau seorang pria sudah menetapkan wanitanya. Maka dia tidak akan melepaskannya. Itulah prinsipku.”

Aelwen menyerah. Ia tak tahu bagaimana jalan pikir Ziggi. “Humph, baiklah jika itu memang prinsipmu. Tapi apa kau yakin Talia akan menerimamu? Bukannya aku meragukan kemampuanmu. Tapi,,,”

“Yah, memang aku akui Talia sangat keras. Tapi aku tak akan menyerah. Siapa tahu besok dia akan sedikit melunak.”

Ziggi bangun dan membersihkan pantatnya. “Baiklah, kalau begitu sebaiknya kita akhiri saja dulu perbincangan kita ini. Aku ingin mencari inspirasi untuk puisi cintaku. Kenapa selama ini aku tidak memikirkannya? Semua wanita pasti menginginkan pria yang romantis.”

Akhirnya mereka berdua berpisah. Ziggi melanjutkan perjalanannya mencari inspirasi di sisi sungai Desa Kynan dan Aelwen kembali ke desa.

Saat menuju rumah Edern, Aelwen melihat seorang wanita sedang duduk termenung di bawah pohon dekat ladang jagung. Wanita itu sedang memainkan sebatang ilalang kering dengan malas. Angin meniup rambutnya yang panjang terurai namun wanita itu tidak keberatan rambutnya acak-acakan. Pandangannya menghilang di antara kerumunan capung yang saling berterbangan di atas padang jagung.

Aelwen sadar betul siapa itu. Talia. Bahkan dari jarak sejauh ini saja ia bisa mengenalinya. Saat mendekatinya Aelwen melihat Talia mengelap matanya dengan  sebelah tangan. Kenapa dia?

Aelwen terus melangkah maju ke hadapan Talia. Sinar matahari yang tertutupi oleh Aelwen membuat Talia mendongak. “Mau apa kamu?” tanyanya ketus.

“Seharusnya aku yang tanya. Mau apa kamu?” balas Aelwen sewot.

“Apa maksudmu bicara seperti itu padaku? Jelas-jelas kamu yang mendekatiku. Memangnya salah kalau aku yang bertanya padamu? Lagipula siapa kau?”

Aelwen memukul keningnya. Ya ampun! Lupa perkenalan lagi deh! Bagaimana bisa aku jadi  begini? Namun Aelwen mengacuhkannya. Ia memutuskan untuk tidak memperkenalkan dirinya pada Talia.

“Kau tak perlu tahu siapa aku. Yang penting bagaimana kau bisa memperlakukan Ziggi seperti itu?” damprat Aelwen.

Talia menghindar dari tatapan Aelwen. “Kau melihatnya?”

“Siapa yang tak melihatnya?”

Talia makin menyembunyikan wajahnya.

Aelwen menghela napas. Dan akhirnya berbicara dengan nada lunak kepada Talia. “Kenapa kau membohongi dirimu sendiri?”

“Apa?”

“Aku tahu. Sebenarnya kamu perhatian dengan Ziggi, ‘kan? Kamu suka padanya ‘kan?”

“Kau tahu apa?”

“Jangan pura-pura nggak tahu. Aku melihatmu berdiri di balik jendela saat Ziggi pergi dari rumahmu kemarin. Aku juga melihatmu bersembunyi di balik tembok saat kau meninggalkan Ziggi di pasar tadi pagi. Matamu tak bisa lepas darinya. Kau memperhatikan Ziggi, ‘kan?” kata Aelwen yakin.

Talia terbelalak. Selama ini tidak ada yang tahu bagaimana perasaannya terhadap Ziggi. Sebenarnya ia selalu merahasiakan perasaan ini dari semua orang karena takut dengan reaksi orang sekitar.

“Mungkin lidahmu bisa berbohong. Tapi matamu tidak.”

Talia tak bisa mengelak. Matanya nanar, ia tahu suatu saat semua ini akan terungkap. Tapi ia tak mau secepat ini.

“Lalu apa maumu, hah? Mengadukannya pada ayahku?”

“Apa peduliku ayahmu tahu?”

“Kau bohong!”

Memang susah bicara dengan Talia. Tapi Aelwen tidak menyerah. “Dengar, aku memang tak peduli apakah ayahmu tahu atau tidak. Aku hanya ingin tahu kenapa kau tega berbuat seperti itu pada Ziggi. Padahal kau sangat menyukainya.”

“Apa pedulimu?” kini Talia balik bertanya pada Aelwen.

Aelwen terdiam. Talia benar. Ia dan Vrey tinggal di Kynan hanya sebentar. Hanya menunggu kapal udara menuju Granville tiba. Tidak lebih. Tapi kenapa Aelwen peduli pada masalah ini? Ia juga tidak tahu.

“Tuh, kan. Pergilah dan jangan ganggu aku.”

“Kau takut pada ayahmu, ya?” potong Aelwen.

Talia mengerang. Tangan kanannya terentang. Menyuruh—mengusir—Aelwen pergi.

“Baiklah-baiklah. Aku akan pergi dari sini. Tapi kau tahulah. Sebagai seorang wanita, aku selalu penasaran. Setidaknya katakan padaku, kenapa kau tidak mau jujur pada hatimu sendiri?” tawar Aelwen.

Tak mau berkutat dengan Aelwen lebih lama lagi akhirnya Talia mengalah. Dengan bibir terkatup dan tangan mengepal, dia duduk kembali di posisinya semula. “Apa yang kau inginkan?”

Aelwen tersenyum puas. “Jawab pertanyaanku.”

Talia menarik napas panjang sebelum menjawabnya. “Mungkin pertanyaan yang tepat adalah kenapa aku  tidak bisa jujur pada diriku sendiri.”

Aelwen menaikkan sebelah alisnya.

“Kau tahu siapa aku?” Tanya Talia.

“Kata orang kau adalah Talia Vargaz. Putri dari klan Vargaz yang terhormat,” jawab Aelwen.

“Benar. Kata orang. Lalu apa katamu sendiri?”

Aelwen duduk di samping Talia saat berkata, “Menurutku, kau ini seorang yang kesepian. Seperti burung di dalam sangkar emasnya.”

“Ya, itulah aku. Seorang anak yang menjadi tulok ukur keluarganya. Jika aku berperilaku baik, maka nama keluargaku akan aman. Tapi jika aku berkelakuan buruk, maka semua yang telah lama kami bangun akan hancur berantakan. Bisa kau bayangkan itu?”

Tentu saja Aelwen bisa membayangkannya. Ia sendiri juga mengalaminya. Namun dia tidak berkomentar apa-apa.

“Seandainya saja Ziggi bisa berubah,” tanya Talia.

“Apa?”

“Aku ingin Ziggi berubah. Aku harap dia bukanlah seorang Nebalka.” Kata Talia sambil menyembunyikan wajahnya di antara kedua lutut.

Aelwen mengerjap-ngerjapkan matanya, “Hei, tunggu! Tunggu dulu. Berubah?”

“Oh, ayolah! Kau tahu kan, ayahku nggak akan mau berdekatan dengan orang lain kecuali jika orang itu adalah orang penting setidaknya di Kynan ini.”

Aelwen menghela napasnya. “Talia, biar aku katakan padamu kata orang bijak yang pernah kudengar dulu saat aku masih kecil.”

Talia memperhatikan. Baru kali ini ia benar-benar menatap Aelwen tepat di matanya.

“Cinta adalah saat kau menyukai dan menyayangi seseorang apa adanya. Jika kau cinta setelah adanya perubahan itu bukan cinta namanya, tapi perjanjian. Dan tidak ada perjanjian dalam cinta. Sama sepertimu, jika kau menyukai Ziggi setelah ia berubah, itu berarti kau tidak benar-benar cinta padanya. Dan sebaiknya kau lupakan itu. Itu akan lebih menyakitkan bagimu dan Ziggi.”

“Tapi itu mustahil. Bagaimana keluargaku mau menerima Ziggi jika ia seperti itu? Apalagi apa kata orang-orang sekitar?” Tanya Talia.

Hmm,, benar juga. Bagaimana caranya, ya? Tiba-tiba Aelwen seperti disambar gledek. Ia bangkit dan berpamitan dengan Talia. “Serahkan saja semuanya padaku,” katanya sambil menyunggingkan cengiran kuda padanya.

***

Siang menjelang sore lima hari kemudian. Talia dan temannya hendak pulang setelah membeli perlengkapan rias di desa sebelah. Jalanan begitu sepi. keremangan merayapi bulu kuduk  mereka. Tiba-tiba dua orang berbaju tertutup menghentikan mereka. Yang satu memegang sebilah belati kecil dan yang satu lagi memegang pedang tajam.

“Serahkan semua barang yang kau punya,” kata salah satu penjahat. “Atau kalian akan kami bunuh!”

Talia dan teman-temannya berteriak histeris, “Tolong! Jangan ganggu kami. Jika kau butuh uang katakan saja pada ayahku dan dia pasti akan memberimu sebanyak yang kau mau. Asal jangan bunuh kami. Aku mohon!” Pekik Talia

Penjahat yang lebih pendek maju. “Kau berani juga nona manis. Tapi kita lihat apa nyalimu akan sebesar ini jika belati ini tertancap di lehermu?”

Talia dan teman-temanya berteriak makin keras. Mereka semua saling berangkulan sedangkan si penjahat malah tersenyum kegirangan. Dia mengayun-ayunkan belatinya ke arah leher Talia lalu ke leher teman-temannya dan kembali lagi ke leher Talia.

“Hentikan!” Sebuah suara mengejutkan dari belakang. “Jangan sentuh Talia!” Dengan cekatan suara itu langsung berdiri menghadang belati.

“Ziggi aku takut!” kata Talia bersembunyi di belakang Ziggi.

Ziggi yang lebih pendek dari Talia menegakkan badan setegap-tegapnya. Belati yang tadinya diarahkan pada leher Talia kini berada tepat di depan mata Ziggi. “Tenanglah Talia, untukmu aku akan melindungimu!”

“Ck,,ck,,ck,, romantis sekali pria pendek. Tapi sayang itu tidak akan menolong mereka. Minggirlah. Jangan sampai kau menangis karena pisau ini.”

Tak disangka Ziggi menangkap pergelangan penjahat itu dengan cepat dan memuntirnya hingga belati di tangannya terlepas. Si penjahat satunya bermaksud membela temannya, namun ia keburu mendapatkan tendangan memutar dari Ziggi. Para penjahat pun mundur teratur setelah mendapat serangan tak terduga dari pria pendek.

“Uh! Beraninya dengan wanita. Kemari dan hadapi aku!” teriak Ziggi.

“Ziggi kau berani sekali!” seru teman Talia.

“Kau pahlawanku Ziggi,” kata teman Talia yang lain.

Namun perhatian Ziggi langsung tertuju pada Talia. “Kau tak apa-apa Talia?”

Talia mengerjap-ngerjapkan matanya. “Oh Ziggi,,” ia jatuh dalam dekapan Ziggi. “Aku takut sekali. Bagaimana jika tadi mereka melukaimu atau bahkan membunuhmu?” kata Talia mulai terisak.

“Tenanglah, aku tak apa-apa. Aku bahkan lebih takut jika kau yang terluka.”

“Tidak apa-apa gimana?” protes Talia. “Mereka membawa senjata sedangkan kau tidak.”

“Hmm,,, Sebenarnya aku sedikit bisa bela diri. Lihat kan? Sekali pukul penjahat itu langsung kabur.” jawab Ziggi tenang.

“Tapi kenapa kau mau menolong kami? Padahal kami sudah bertindak buruk padamu,” tanya teman Talia.

“Itu gampang,” kata Ziggi sambil melihat Talia. Mata mereka beradu pandang. “Karena dirimu seluruh duniaku. Tak ‘kan kubiarkan kau terluka.”

“Kau mencintai benar-benar mencintai Talia, ya?” kata teman Talia. “Maafkan kami ya Ziggi. Jika selama ini kami menyakitimu. Kami kira kau itu pecundang tua yang tak bisa apa-apa. Tapi setelah kejadian ini, kami yakin kalau kau sebenarnya pria yang hebat. Kau boleh berpacaran dengan Talia.”

“Sssttt,,,!” Talia memelototi temannya.

“Ah, Talia! Kami tahu kok kalau sebenarnya kau juga suka sama Ziggi.”

Merekapun pulang dengan membawa kabar. Ziggi meyelamatkan Talia dan teman-temannya dari komplotan perampok. Semua orang menceritakan kejadian itu selama berhari-hari. Tak satupun orang yang tidak menyapa atau berjabat tangan atau bahkan hanya sekedar melirik Ziggi saat ia lewat. Semua orang di desa sudah melupakan kejadian masa lalu keluarga Nebalka. Akhirnya Ziggi dan Talia bisa bersama.

“Ah, Seperti dalam dongeng, ya Vrey!” kata Aelwen tersenyum senang.

“Huh,, dongeng sih dongeng. Tapi lihat dong!” Vrey mengangkat tangannya yang dibebat. “Sakit nih!”

“Hehe,,, maaf deh! Aku juga nggak tau kalau Ziggi bisa bela diri,” sahut Aelwen.

Mereka berdua menunggang komodonya ke istal. “Huh, kenapa baru tahunya sekarang? Lagian kenapa kau mau ikut campur urusan mereka sih? Itukan bukan tujuan kita kesini,” tanya Vrey kesal.

“Bukannya ikut campur tapi membantu.”

Vrey memutar bola matanya.

“Aku membantunya karena aku percaya pada cinta sejati.”

“Heh?”

“Saat pertama kali melihat Ziggi aku tahu kalau cintanya sangat tulus. Begitu juga dengan Talia. Tapi sayangnya semua orang di sini tidak mau menerimanya. Jadinya, ya aku bantu. Yah, hitung-hitung itu bisa jadi pelajaran bagiku jika pengalaman cintaku akan sama seperti mereka nanti.”

Vrey mengerutkan jidatnya. “Pengalaman cinta? Aelwen kautidak bermaksud,,,” tapi Aelwen sudah keburu memacu komodonya lebih cepat.

Kau tidak tahu itu Vrey. Kuharap kau tidak akan tahu.

Photobucket

Advertisements

4 thoughts on ““Cinta Sejati Ziggy” oleh Maria Rosari

  1. Ziggy? Aku agak menggaruk kepalaku wkt baca nama itu, “siapa ya? Siapa?”

    Ternyata, seorang pemuda yg kisah cintanya , aw…

    ~

    Masalah ini tidak baik untuk wanita muda sepertimu.
    Edern blm tau rupanya xD

    ~

    Meringis sedih. Kesal. Talia DX responmu trhadap pernyataan cinta Ziggi sungguh menyakitkan hati DX

    ~

    Eh, tapi dibalik itu semua, trnyt mereka saling mencintai :O

    Dan berkat bantuan Vrey & Aelwen, mereka bisa bersatu, n org2 melupakan ‘kejadian’ yg dilakukan leluhur Ziggi ~

    Horeee~^^

  2. Plot biasa anak2 sma dalam sinetron XD
    Tp yah ini juga yg menggambarkan terkadang kita harus berusaha dalam menggapai cinta ^^

  3. Pingback: Ther Melian fanfiction contest FINALE! « Shienny's Rants

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s