“Daemon” oleh Elwin

Gelap… aku tidak bisa merasakan apa-apa, dimana ini…, apakah aku terjatuh, atau mengambang, aku juga tidak tahu. Satu-satunya yang kuketahui adalah tempat ini hampa, kosong dan sekali lagi gelap…

‘Dimana aku…? Siapa aku…? Aku ini… apa…?’ sambil tetap memejamkan mata aku bertanya-tanya. Diriku terus mengambang… tidak rasanya bagaikan jatuh perlahan-lahan di dalam sebuah lubang, lubang tak berdasar.

Kucoba membuka mata, tapi tidak terlihat apa-apa, bahkan tidak ada seberkas ‘cahaya’ pun. “Cahaya… itu apa yah…?” Gumamku pelan, sekali lagi aku memejamkan mata dengan pelan.

Aku tidak tahu sudah berapa lama waktu yang berjalan, tidak mungkin aku sendiripun tidak tahu apa itu waktu. “Sudah berapa lama aku disini? Apa sejak awal aku sudah ada disini? Selalu sendirian?”

Lalu aku merasakannya, meski tetap memejamkan mata bisa kurasakan cahaya yang muncul dihadapanku, terasa hangat, dan diriku merasakan kerinduan yang aneh.

Perlahan kubuka mata, mendapati diriku dibawah pohon rindang, seberkas cahaya menembus pepohonan menyilaukan mataku, secara refleks aku mengangkat tangan kananku sambil menyipitkan mata.

Setelah bisa menyesuaikan diri dengan cahaya, aku membuka mata lebar-lebar menatap langit biru yang indah. Sambil tetap terbaring kuulurkan tangan kanan berusaha menggapai sumber cahaya yang bersinar dilangit. “Inikah…. Cahaya…?”

Perlahan aku bangkit melihat pemandangan disekelilingku, aku sepertinya berada di pinggiran hutan, pepohonan dimana-mana. Disebelah kananku terlihat sebuah danau yang besar dengan air yang sangat jernih, ditengahnya terdapat istana besar dengan kaca-kaca bersinar indah yang sepertinya merupakan tempat tinggal orang penting.

Sekeliling istana dipagari tembok batu yang tinggi, dari kejauhan terlihat bayangan beberapa orang yang berkeliaran disekitar istana dengan gerakan yang teratur.

Aku berjalan menuju danau, berdiri di pinggirnya mengagumi pemandangan yang terhampar dihadapanku, airnya sangat jernih bahkan bisa melihat ikan yang berenang didalamnya.

Lalu aku melihatnya, refleksi wajahku yang terpantul oleh permukaan danau, meski tidak begitu jelas – tidak mungkin bahkan tidak butuh refleksi yang jelas, aku bisa melihat diriku. “Inikah… aku…?”

Wajahku tertutup semacam kabut hitam, tidak terlihat apapun kecuali mataku yang bersinar merah yang membalas menatap dengan tajam. Melihat itu aku mengangkat kedua tanganku.

Sebelumnya tidak kuperhatikan, tanganku, tidak hanya tanganku, sekeliling tubuhku diselimuti kabut hitam aneh, aku tidak bisa melihat bagaimana tubuhku, tapi aku juga tidak ingat bagaimana bentuk tubuh asliku.

“Sebenarnya siapa aku?” tanyaku sambil mengepalkan tangan, lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling. “Kenapa aku ada disini?”

Dari kejauhan aku mendengar suara yang mendekat, ketika menoleh terlihat 2 orang berlari kesini. Segera aku bersembunyi dibalik pepohonan. “Ginna!!! Ayo sini!!!” Ujar seorang bocah sambil berlari memanggil orang yang dibelakangnya.

Baju yang dipakainya nampak mahal dan penuh dengan bordiran yang indah. Selain itu rambutnya yang kuning keemasan juga berkilau dengan indah.

Meski masih kecil, wajahnya memiliki kecantikan dan ketampanan yang tidak terlukiskan. “Tuan muda!!! Tunggu!!! Jangan lari terlalu cepat!!!”

Gadis yang dipanggil Ginna itu jika dilihat dari pakaiannya, setelan baju terusan warna coklat dengan apron putih diikat didepannya, serta bando kain putih yang terpasang di rambutnya yang warna coklat dipotong sebahu sepertinya pelayannya. Selain itu dia memanggil bocah itu dengan panggilan ‘Tuan Muda’, itu berarti bocah ini anak orang kaya atau sejenisnya.

Aku kembali menatap bocah yang berlari dengan gembira, wajahnya sangat cerah dan senang.

“… bukan urusanku…” Aku berbalik menuju kedalam hutan, bermaksud mencari jati diriku.

“Tuan muda!!! Tuan muda!!!!” Terdengar teriakan sang pelayan wanita tadi. Segera aku berbalik dan mendapati bocah itu tenggelam di danau, nampaknya dia tidak bisa berenang. Sedangkan sang pelayan hanya bisa kalang kabut disamping tidak jelas, ingin menolong tapi kelihatannya dia juga tidak bisa berenang.

Tidak tahu apa yang terjadi, tanpa sadar aku berlari kearah danau dan menceburkan diri. Sekilas aku melihat wajah kaget sang pelayan, tidak tahu kaget karena ada yang datang atau kaget karena melihat tubuhku yang aneh.

Bocah itu nampaknya sudah tidak sanggup bertahan lagi, perlahan dia mulai tenggelam karena lemas. Dengan cepat aku menyelam dan menarik tangannya, untungnya aku bisa menyentuhnya meski tubuku diselumuti kabut hitam aneh ini.

Dengan cepat aku menarik tubuhnya dan berenang ke permukaan, wajah sang pelayan yang terduduk nampak antara campuran lega dan takut. Lega karena Tuan Muda-nya terselamatkan, takut karena melihatku. Mungkin dia mengira aku akan membunuhnya atau sejenisnya.

Perlahan kuletakkan tubuh bocah di tepi danau dan naik ke permukaan, aku berlutut melihat keadaannya. Sepertinya dia hanya pingsan karena lemas, kuletakkan tangan kiriku dikepalanya, mendadak muncul cahaya biru yang terang. Tepat ketika cahaya itu padam, bocah itu membuka matanya sambil terbatuk.

“Tuan muda !!!” Pelayan yang sedari tadi terbengong langsung berdiri menghampiri bocah itu dan memeluknya dengan erat. “Tuan muda…syukurlah anda tidak apa-apa…” ujarnya sambil menangis tersedu-sedu, air mata mengalir dari matanya yang berwarna biru.

Sang bocah menatap pelayannya dengan lemas bergumam pelan. “Ginna.. maaf sudah membuatmu khawatir.”

Aku menatap tangan kiriku dengan takjub. ‘Apa itu tadi?’

“Daemon…” terdengar suara lirih dari mulut bocah itu. Aku melihat mereka yang nampaknya ketakutan, hal ini bisa dipahami, kurasa siapapun pasti akan kaget melihat tubuh seperti ini.

“Daemon… apa itu? Itukah sebutan kalian untuk makhluk sepertiku?” mendengar itu nampaknya mereka merasa heran, bocah itu berusaha duduk dibantu pelayannya. “Bukankah itu kamu sendiri? Sebentar, aku tidak pernah dengar ada Daemon bisa bicara. Kalau kamu bukan Daemon, lalu kamu siapa?”

Aku menggeleng pelan. “Aku juga tidak tahu, mendadak aku muncul disini, tidak punya ingatan tentang apapun, baik itu masa laluku, ataupun siapa diriku, juga.” Aku mengangkat kedua tanganku dan mengepalnya. “Kenapa tubuhku seperti ini.”

Bocah itu menatap diriku dengan aneh lalu berdiri menghampiriku. “Tuan muda, jangan.” Sang pelayan berusaha menahannya, tapi bocah itu tersenyum membalas. “Tidak apa-apa Ginna, kalau dia memang jahat harusnya dia tidak akan menolongku, bahkan menyembuhku.”

“Menyembuhkanmu…” Aku menggeleng kepala pelan. “Tidak, sebenarnya aku juga tidak mengerti…”

“Tidak apa-apa.” Bocah itu menjulurkan tangannya. “Namaku Leighton, dan dia Ginna, pelayan pribadiku. Kita berteman yah.”

Senyum itu… benar-benar senyum paling cerah yang pernah kulihat, aku melirik ke Ginna, sang pelayan itu nampak ragu, tapi sepertinya dia mencoba mengikuti keinginan tuan mudanya.

“Leighton yah… namaku…” Seketika aku teringat kembali namaku, lalu kuulurkan tanganku. “Namaku Vern, salam kenal, Leighton, Ginna.”

Atas permintaan Leighton aku tetap tinggal di hutan dekat danau Laguna Biru. Pada dasarnya diriku sama sekali tidak butuh makan ataupun minum jadi tinggal dimanapun tidak masalah.

Sebenarnya aku juga tidak mengerti kenapa mau saja mengikuti permintaan bocah yang baru kukenal, tapi kupikir tidak ada salahnya juga, toh aku juga tidak ada tujuan dan tidak tahu mau kemana.

Selain itu, tidak tahu kenapa tapi rasanya kalau terus berada didekat Leighton sepertinya aku akan mendapatkan suatu petunjuk.

Hampir setiap hari mereka datang mengunjungiku. Terkadang mereka membawa makanan buatan manusia yang meski bisa kumakan, tapi tidak bisa kumengerti rasanya. Terkadang membawa buku-buku atau gulungan yang berisi cerita-cerita.

Sang pelayan, Ginna, awalnya masih ragu untuk mendekatiku, bahkan pandangan ketakutannya sama sekali tidak lepas dariku. Tapi perlahan nampaknya dia sudah mulai terbiasa.

Setiap malam aku akan beristirahat diatas pohon, memandangi bulan yang bersinar terang dilangit, yang entah kenapa membawa sebuah perasaan rindu didalam dadaku.

“Masuk ke istana?” Tanyaku dengan heran, hari ini mereka juga datang. Kali ini Leighton tidak membawa apapun, dia duduk diatas hamparan kain yang seperti biasa dihamparkan oleh Ginna.

Leighton mengangguk. “Benar, aku berencana untuk menceritakan tentang dirimu ke ayahanda dan memasukkanmu ke istana. Dengan begitu aku tidak akan repot-repot datang ke danau kalau mau bertemu denganmu.” Ceritanya dengan wajah yang riang.

Ginna mengehela nafas pelan. “Tuan muda, anda tahu kalau hal itu tidak akan terjadi, Baginda Raja tidak mungkin mengijinkan anda memasukkan orang tidak jelas seperti Vern kedalam istana.” Sadar perkataannya agak kasar, Ginna refleks menutup mulutnya dan membungkuk minta maaf.

Bagiku hal itu tidak penting, tapi perkataan Ginna tadi menangkap perhatianku. “Baginda Raja?” Leighton mengangguk dengan muram. “Ya, ayahku pemilik istana Laguna Biru, raja kerajaan Granville.”

“Kalau kamu memang pangeran, kenapa Ginna memanggilmu tuan muda?”

Wajah Leighton menjadi masam, “Karena aku tidak senang dengan panggilan tersebut.” Dia menarik kakinya hingga lututnya menyentuh dadanya dan meletakkan kepalanya diatas lutut. “Sejak dulu aku sudah dilatih sebagai calon penerus, diajari berbagai hal, dilatih dalam berbagai bidang di militer. Tapi aku sama sekali tidak punya teman.”

Dia memandang Ginna yang duduk disampingnya. “Ginna adalah pelayan pribadi yang sudah sejak dulu bersamaku, jadi bagiku dia merupakan teman terdekat lebih dari siapapun. Aku sudah sering bilang padanya untuk jangan memanggil pangeran, panggil Leighton saja, tapi dia sama sekali tidak mau.”

Mendengarnya Ginna langsung kalang kabut menggelengkan kepala sambil melambaikan tangannya. “Tuan muda, anda bicara apa? Anda itu pangeran, tidak mungkin saya memanggil nama anda dengan sembarangan. Memanggil anda dengan tuan muda saja sudah lebih dari cukup.”

Aku menahan tawa melihat reaksi Ginna, Ginna menatapku tajam. “Apa yang kamu tertawakan?”

“Tidak, hanya saja, melihat reaksimu seperti itu membuatku merasa kamu imut juga, padahal kukira selama ini kamu judes.”

Mendengar ucapanku wajah Ginna langsung memerah, dia membuang muka sambil melipat tangannya. “Kamu kira kata-katamu membuatku senang.”

“Kalau begitu aku minta maaf.” Entah aku salah lihat atau memang wajah Ginna nampak senang, aku juga tidak mengerti.

“Ternyata kamu bisa tersenyum juga.”

Mendengar itu aku menatap Leighton dengan heran. “Tersenyum? Tidak mungkin, aku bahkan tidak bisa melihat wajahku sendiri, apalagi kamu.”

“Memang tidak kelihatan, tapi aku bisa merasakannya.” Ujarnya sambil tersenyum.

Aku kembali menatapnya dengan heran, Ginna yang disampingnya masih curi-curi pandang dengan wajah memerah.

“Aku berterima kasih atas kebaikan hatimu Leighton, tapi itu tidak mungkin bisa. Seperti kata Ginna, kalau kamu memang pangeran dan ayahmu adalah Raja, dia tidak mungkin akan mengijinkan orang yang asal usulnya tidak jelas sepertiku masuk istana.”

Aku mengangkat tangan kananku ketika melihat wajah Ginna yang serba salah, aku mengerti, kata-katanya tadi bukan bermaksud buruk dan aku tidak ambil hati.

“Tapi… kamu juga temanku, aku ingin selalu dekat denganmu. Aku takut suatu hari kamu akan hilang.” Ujar Leighton murung. Aku berlutut menyentuh pundak anak berambut emas itu. “Kalau kamu menganggap aku teman, maka aku adalah temanmu. Aku tidak akan kemana-kemana, aku akan selalu disini bersamamu.”

“Janji yah?” Aku mengangguk pelan menanggapinya. “Ya, aku janji.”

Malam itu aku kembali menatap bulan yang sudah lama tidak muncul, dalam hati diriku bertanya. ‘Kenapa aku bisa segampang itu membuat janji yang aneh.

Kuulurkan tangan seolah berusaha menggapai bulan, ‘Lagi-lagi… setiap kali melihat bulan ini, kenapa rasanya ada yang mengganjal di hatiku…’

Tiba-tiba aku merasakannya, seseorang… tidak, mungkin lebih tepatnya sesuatu mengawasiku dengan pandangan tajam. Aku menoleh dan seketika hawa yang dipancarkan hilang.

“Apa itu?” Gumamku pelan sambil menatap arah hawa tadi.

Esoknya Leighton dan Ginna datang mengunjungiku lagi, kali ini dia membawa sebuah buku dan menceritakan tentang legenda benua mengapung yang hilang, Ther Melian.

“Jadi menurut legenda, benua Ther Melian itu sebuah tempat makmur yang bagaikan surga.” Ceritanya dengan antusias, Ginna yang berada disampingnya sedang menuangkan minuman.

Aku sendiri tidak terlalu memperhatikannya, pandanganku tetap kearah hutan. Mereka memperhatikanku dengan heran, ikut melihat kearah hutan.

“Ada apa Vern?” Tanya Leighton was-was

Aku tidak segera menjawabnya, pandanganku tetap menuju arah hawa yang dipancarkan semalam.

“… Leighton, kamu pernah bilang kalau sekeliling kota ini ada tembok bukan?” Tanyaku tanpa melepas pandangan.

“Ya, kota ini dikelilingi tembok tinggi yang dilapisi oleh sihir, sihir-sihir ini diperbaharui setiap 24 jam oleh penyihir istana untuk menghalau Daemon supaya tidak masuk. Selain itu di atas tembok juga ada penjaga, manusia biasa juga tidak akan bisa memanjatnya.”

“Kenapa bertanya seperti itu?” Tanya Ginna.

‘Mungkin hanya perasaanku.’ Pikirku, lalu menggeleng kepala pelan menatap mereka berdua. “Tidak, tidak ada apa-apa. Maaf sudah bengong, padahal kamu sudah berusaha menceritakan cerita yang menarik.”

Leighton tersenyum, lalu kembali menceritakan tentang Ther Melian dengan antusias.

Malamnya aku terpikir kata-kata Leighton. ‘Tembok kota ini dilindungi lapisan sihir… kalau begitu kenapa aku bisa mendadak muncul disini?’

Aku pernah lihat peta kota ini, danau ini terletak ditengah-tengah kota, kalau memang ada Daemon, atau apapun yang mereka juluki, harusnya tidak bisa masuk.

Tiba-tiba aku kembali merasakannya, aura membunuh yang menusuk dari arah yang sama, lagi-lagi ketika kupandangi auranya hilang.

Tapi kali ini ada suara aneh yang sepertinya bukan suara manusia, “Pengkhianat…. Pengkhianat…” Suaranya terkesan mengerikan dan penuh dendam.

‘Pengkhianat? Aku kah?’ Aku berpikir sebentar sambil tidak melepaskan pandangan ke dalam hutan. “… Maaf Leighton, nampaknya aku tidak bisa menepati janji untuk tetap bersamamu…” Ujarku sambil menatap istana.

Hari berlalu, dan seperti biasa, Leighton dan Ginna kembali muncul. Kali ini mereka membawa makanan dan juga setumpuk perkamen, menurut Ginna itu tugas yang diberikan guru Leighton.

“Aku heran, kalian sering kesini apa tidak dipertanyakan orang-orang istana?” Mendengarnya Leighton berhenti menulis. “Tidak masalah kok, mereka sudah tahu aku sering kesini bersama Ginna.”

“Tapi apa tidak ada salah satu dari mereka yang memantau dari dalam istana? Seharusnya ada yang mengawasi keamanan kalian bukan?”

Kali ini Ginna yang menjawab pertanyaanku dengan percaya diri. “Tidak apa-apa. Mereka sepenuhnya sudah mempercayakan tuan muda padaku, aku selalu berhati-hati supaya tidak terjadi masalah.” Lalu dengan malu-malu dia menambahkan. “Kecuali kejadian tenggelam kemarin.”

“Selain itu.” Tambah Leighton. “Maxen akan selalu mencari alasan yang tepat jika kami kesini.” “Maxen?” Leighton mengangguk. “Maxen, kepala pengurus rumah tangga istana. Dia orangnya baik, selalu telaten menjalankan tugasnya. Dan aku hanya menceritakan tentangmu padanya saja.”

Mendengarnya aku kaget. “Kamu menceritakan keberadaanku pada yang lain?” Menyadari kata-katanya Leighton langsung menimpali. “Tidak apa-apa kok, yang tahu tentang kamu selain kami hanya Maxen. Maxen sudah berjanji tidak akan bicara apa-apa soal kamu.”

Aku kembali berpikir soal hawa beberapa malam lalu. ‘Jika yang mengawasiku memang bukan orang istana… berarti mereka dalam bahaya…’

“Leighton, Ginna, sebenarnya berat bagiku mengatakan ini pada kalian.” Ucapku dengan serius, mereka melihatku dengan pandangan tidak mengerti, tapi sepertinya Leighton mengerti apa yang ingin kukatakan. “Jangan-jangan… Vern… kamu…”

Aku mengangguk dengan enggan. “Ya, aku akan meninggalkan tempat ini.” Leighton menggeleng kepala menolak pernyataanku. “Tidak, aku tidak mau. Bukankah kamu sudah janji tidak akan meninggalkanku?”

“Leighton… maafkan aku, tapi…” Aku berusaha menjelaskan, tetapi Leighton tetap menolaknya. “Tuan muda, Vern pasti punya alasan yang bagus, kita dengar dulu yah.” Ginna berusaha menenangkan Leighton, meski dirinya juga nampak tidak rela dengan kepergianku. Leighton menutup telinga dengan kedua tangannya tidak mau mendengarkanku.

Aku berlutut memegang pundaknya. “Leighton, dengar, aku juga sebenarnya tidak ingin pergi, tapi ini terpaksa kulakukan. Demi diriku dan juga demi keamanan kalian.”

Air mata mulai keluar di ujung mata Leighton, Ginna juga nampaknya mati-matian menahan perasaannya, aku tidak mengerti, kenapa hanya hal ini saja mereka menangis.

“Tidak mau, Vern temanku, aku ingin kamu selalu bersamaku.” Kata Leighton sambil terhisak-hisak memelukku.

“Leighton…” Kembali aku berusaha menjelaskannya, tapi terpaksa tertunda karena aku merasakan hawa membunuh yang kuat dari arah hutan disertai teriakan yang mengerikan. “Pengkhianat!!!! Matilah!!!”

Dari balik pepohonan keluar beberapa hewan… tidak, makhluk yang menyerupai anjing dengan kepala, ekor, telinga serta cakarnya berbentuk kucing. Bulunya yang tebal berwarna kecoklatan berdiri tegak diatas punggung mereka, begitu juga dengan ekor rubah mereka.

Salah satunya dengan cepat mengeluarkan cakar dan berusaha menyabetku, dengan refleks aku melompat mundur sembari mendorong Leighton kearah Ginna yang membuat mereka terjungkal ke belakang. Serangan yang dilancarkannya meleset mengenai udara kosong.

Aku bersiaga melihat segerombolan makhluk aneh itu. “Itu… Daemon Gullon!!! Kenapa mereka bisa masuk kesini!?!?” Tanya Ginna heran.

‘Gullon? Jadi itu nama mereka?’ Pikirku. “Itu tidak penting, kalian cepat masuk istana dan panggil bantuan!!” Teriakku, Ginna mengangguk memeluk Leighton berlari ke arah istana.

“Memangnya kubiarkan.” Terdengar teriakan dari salah satu Gullon, beberapa Gullon dengan cepat mengepung jalan ke istana membuat Ginna terpaksa mundur.

Aku segera berlari mendekati untuk melindungi mereka berdua.

“Pengkhianat… berani-beraninya kau bergaul dengan makhluk seperti mereka!!!” Teriak Gullon yang berusaha menyerang kami tadi. “Apa maksudmu pengkhianat!? Aku bukan Daemon seperti kalian!!”

“Diam!!! Kau memiliki bau yang sama dengan kami, jelas-jelas kau Daemon!! Tapi kau malah bergaul dengan mereka!!” teriak salah satu Gullon yang menghambat jalan tadi.

“Vern, sedari tadi kamu bicara dengan siapa?” Ginna bertanya dengan heran sambil tetap memeluk Leighton dengan erat, Leighton sendiri sepertinya ketakutan memalingkan mukanya tidak berani menatap para Gullon.

“Siapa? Tentu saja para Daemon ini, kamu juga bisa dengar bukan?” Ginna menggeleng kepalanya, menatapku dengan pandangan cemas. “Tuan muda sudah pernah bilang bukan? Daemon tidak bisa bicara.”

Mendengarnya aku kaget, suara Daemon itu terdengar jelas bagiku, apa berarti aku ini memang Daemon? Pikiranku menjadi kosong.

“Pengkhianat!! MATILAH!!” Salah satu Gullon datang menerjang, tapi aku sudah tidak bisa berpikir lagi, hanya berlutut pasrah tak berdaya.

“VERN!! AWAS!!” Terdengar teriakan yang diikuti percikan darah yang mengenai wajahku. Ketika sadar tubuh Ginna sudah melayang dihadapanku menghalangi salah seekor Gullon. Dia melihatku dengan muka lega, darah segar mulai mengalir dari mulutnya.

Tepat ketika Ginna terjatuh, dari belakangku terdengar teriakan Leighton, “GINNA!!!” Dengan cepat aku memeluk tubuhnya. Bagian dadanya terdapat luka cakaran dari Gullon yang juga merobek pakaiannya, darah segar mulai mengalir dari luka itu.

“Ginna!! Ginna!! Bertahanlah!!” teriakku tidak karuan. “Kenapa?! Kenapa kamu sebodoh itu!? Kenapa kamu melindungiku?!”

Napas Ginna terputus-putus, berusaha menjawab pertanyaanku. “Karena… kamu teman tuan muda…” Dia terbatuk memuntahkan darah, Leighton yang berada disampingnya nampak tidak berdaya memandangi Ginna.

Aku menggeleng dengan keras. “Aku tidak pantas ditolong, aku bukan manusia, aku Daemon, aku tidak pantas jadi teman kalian, aku… aku…”

Ginna mengangkat tangan kanannya dengan susah payah menyentuh pipiku yang diselimuti kabut, aku menggenggam erat tangannya. “Bukan, kamu teman tuan muda… jujur saja, awalnya aku juga takut dengan keberadanmu, tapi setiap hari bersamamu membuatku sadar… kita tidak boleh melihat orang hanya dari penampilan saja…”

Sekali lagi Ginna terbatuk darah, sambil berusaha tersenyum dia kembali berkata. “Meski tubuh kamu seperti itu, tapi aku bisa melihatnya, kamu memiliki hati yang baik… aku… aku menyukaimu… dari lubuk hatiku…”

Mendengarnya aku kaget, diriku yang tidak jelas ini, bahkan mungkin saja adalah Daemon, tapi ada orang yang menyukaiku.

Ginna tersenyum, lalu terbatuk sekali, tangannya mulai lemas dan terlepas dari genggamanku. Aku tidak menyadarinya, air mata mulai mengalir dari mataku.

“Ginna!! Ginna!! Jangan mati!!” Isak Leighton menjadi.

“Manusia!! Setelah ini giliran kalian!! Jadi jangan ganggu!!” Teriak salah satu Gullon.

“Diam…” Ujarku dengan nada mengancam sambil mengeluarkan hawa yang berat, membuat beberapa Gullon mundur beberapa langkah.

Perkataan dan perasaan Ginna membuatku tersadar, meski tidak tahu kenapa, dari dalam hatiku aku bisa merasakannya. Ada sesuatu yang keluar, sesuatu yang sangat kurindukan.

Aku mengangkat tangan kananku, seketika sebagian kabut hitam yang berada ditanganku mengalir dan mulai membentuk sebilah pedang hitam pekat.

Bentuknya berupa pedang panjang satu tangan, mata pedangnya, gagangnya, bahkan pembatasnya berwarna hitam. Ditengah-tengah pembatas pedang yang menyerupai sayap terdapat sebuah permata ungu yang bersinar dengan kelam.

“Apapun yang kamu lakukan sia-sia!! MATILAH!!” Kali ini mereka menyerang bersamaan dari segala arah, tapi anehnya aku tetap tenang. Dengan kecepatan yang tidak terlihat aku melakukan sapuan yang kuat mementalkan para Daemon itu.

Setelahnya tanpa membuang waktu aku bergerak dengan cepat menyabet salah satu Gullon, lalu langsung meninggalkannya dan kembali menyabet yang lain dengan kecepatan tinggi.

Menyelesaikan sabetan terakhir aku langsung kembali ke tengah-tengah, tempat Leighton dan Ginna berada. Darah hitam menyembur dari para Daemon dan mereka terjatuh satu persatu.

Salah satu Gullon terdekat memandangiku dengan pandangan tidak percaya. “Pedang hitam itu… jangan-jangan kamu…” Aku langsung menghujamkan pedangku ke kepalanya tanpa ampun sambil menatapnya dengan pandangan dingin.

“Ginna… Ginna…” terdengar isakan dari belakang, kusimpan kembali pedangku menghampiri Leighton. “Vern… Ginna… Ginna dia…”

Aku melihat Ginna, nafasnya pendek, namun masih ada. ‘Masih ada harapan.’

“Tenanglah Leighton, Ginna masih hidup. Aku bisa menyelamatkannya.”

“Benarkah?” Terdengar suara gembira ditengah isakan Leighton.

Aku mengangguk pelan. “Tapi mungkin harga yang harus dibayar cukup mahal.”

“Eh…?” kupegang tangannya dengan lembut. “Aku akan menggunakan sihir khusus, sihir ini bisa menyembuhkan luka separah apapun, tapi keberadaankulah bayarannya, dan kalian akan melupakanku.”

Mendengar itu Leighton menolak dengan keras. “Tidak mau…Aku tidak mau kehilangan kamu Vern…”

“Leighton, dengar. Dibandingkan aku, nyawa Ginna lebih penting, dia adalah temanmu yang berharga. Tanpa dia kamu akan benar-benar kesepian.”

“Tapi… tapi…” Leighton terisak, dia ingin Ginna sembuh, tapi nampaknya dia juga tidak rela kehilanganku.

“Leighton, meski aku tiada, tapi aku percaya diriku akan tetap dilubuk hati kalian. Jadi kita akan tetap bersama bukan?”

Aku memeluk tubuh Ginna, meletakkan tanganku di lukanya sambil bergumamkan suatu mantra dengan pelan. Leighton berdiri disamping mengamatiku.

Diatas tanah tempat kami berpijak muncul lingkaran sihir yang diikuti dengan cahaya terang menyilaukan.

Pelan namun pasti luka didada Ginna mulai menutup, tapi tubuhku juga mulai menghilang. Melihat itu Leighton mulai berteriak. “Vern!! Aku tidak akan melupakanmu, bagaimanapun juga aku tidak akan melupakanmu!!”

Aku melihatnya dengan ‘tersenyum’. Kupandangi wajah Ginna yang mulai hidup kembali, “Terima kasih sudah menyukaiku…” Lalu kukecup dengan lembut bibirnya.

***

Cahaya terang dari lingkaran sihir mulai redup, yang tersisa didalamnya hanyalah tubuh Ginna yang sudah sembuh dari lukanya.

“Ginna!!” Leighton berlari memeluk Ginna dengan erat, Ginna membalas memeluknya. “Tuan muda… maaf sudah membuat anda khawatir.”

“Tidak apa-apa, yang penting kamu masih hidup…” Jawab Leighton dengan terisak-isak.

“Benar juga, kenapa aku bisa hidup ya? Bukankah kita tadi duduk di tepi danau… lalu segerombolan Daemon muncul… lalu… apa… yang…” Jawab Ginna dengan terheran-heran.

Disekeliling mereka terdapat banyak mayat Gullon, dan dari kejauhan nampak prajurit istana berlari ke tempat kejadian. Mereka memandangi sekeliling dengan pandangan tidak mengerti.

“Kenapa yah Ginna, rasanya ada yang hilang, tapi aku merindukannya.” Ujar Leighton dengan muka sedih.

Ginna menyentuh bibirnya dan merasakan ada suatu sensasi yang hangat, seolah-olah ada yang mengecupnya dengan lembut. Ketika mengingat itu, air matanya mulai mengalir dan langsung menangis sejadi-jadinya.

***

Aku kembali terombang-ambing di dalam kegelapan, tapi entah kenapa kali ini aku merasa ada suatu kepuasan yang aneh, mungkin karena pertemuanku dengan Leighton dan Ginna membuatku merasa sedikitnya aku hidup kembali.

“Mungkin kita akan bertemu lagi suatu saat… Leighton… Ginna…” Ucapku sambil tersenyum, perlahan aku memejamkan mata, melanjutkan kembali tidurku yang panjang.

Photobucket

Advertisements

4 thoughts on ““Daemon” oleh Elwin

  1. Don’t judge a book from its cover
    Tak pandang bulu dlm berteman, bs2 yg kelihatan plg jahat itu malah yg plg baik melebihi yg lain

    Aku suka banget sm baik cerita, penulisan, penyampaian, amanat, & emosi yg trgambar di sini..

    Pengorbanan n kasih sayang.. Aww :’)

  2. Pingback: Ther Melian fanfiction contest FINALE! « Shienny's Rants

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s