“Event After” oleh Jessica Nathania

“Tunggu, kita mau ke mana?”

Leighton menoleh ke arah Vrey. “Tentu saja ke Istana Laguna Biru, Vrey.”

Mata Vrey terbelalak lebar mendengar ucapan Leighton. Gadis itu baru sadar kalau tadi dia naik ke dalam Nue Azure –kapal udara Leighton– tanpa bertanya ke mana arah tujuan mereka. Sama sekali tidak terlintas keinginan untuk bertanya, otaknya hanya diisi dengan keinginan untuk berada bersama Leighton.

“Istana Laguna Biru? Tunggu, tunggu! Yang benar saja, aku nggak mungkin ke sana.” Vrey menggeleng cepat. Ingatan tentang perlakuan buruk ayah Leighton dan seisi istana padanya dulu masih tercetak jelas di benaknya. Meskipun beliau telah meninggal demi menyelamatkan Benua Ther Melian, tetap saja Vrey yakin –sangat yakin– seisi istana tidak mungkin menerima kehadirannya. Bagaimanapun dia adalah seorang pencuri rendahan dari Mildryd yang tergolong kota kecil, orang yang tidak pantas berada di kerajaan manapun, apalagi di kerajaan sebesar Granville. Vrey juga tidak pernah diajari tata krama atau apapun yang berhubungan dengan kerajaan.

“Kenapa?” Tanya Leighton. “Sihir penyembuhku hanya bisa menyembuhkan luka-luka ringanmu, tapi tidak untuk menutup lukamu yang dalam secara total. Lukamu sekarang hanya tertutup bagian luarnya saja agar pendarahanmu berhenti, tapi dalamnya masih belum sembuh. Kamu perlu diobati lebih lanjut dan aku yakin Acolyte di istana dapat memberikan penanganan terbaik untukmu.”

“Tetap saja, nggak mungkin! Lebih baik aku diobati di rumah Laruen, atau di kedai, atau.. atau di manapun pokoknya bukan di istana! Asal aku beristirahat, aku yakin luka ini pasti akan sembuh meskipun nggak memakai jasa Acolyte.”

Leighton terdiam melihat tatapan mata Vrey yang tajam, menggambarkan betapa besar penolakan gadis itu untuk pergi ke istana. Memang Vrey tahu sebenarnya hidup di istana sangatlah menakjubkan. Pakaian bagus tersedia, tempat tinggal nyaman dan mewah, makanan lezat berlimpah. Dia sudah pernah merasakannya untuk beberapa hari saat Leighton membawanya ke sana, setelah pertempuran dengan Valadin di Granville. Namun, di balik semua itu, dia tahu banyak yang membicarakan bahkan mencemoohnya di belakang.

Vrey segera menoleh ke arah lain, menyadari dia sudah memberikan pandangan yang tidak enak terhadap Leighton. Raut wajah Leighton membuatnya merasa bersalah. Kamar berukuran luas yang mereka tempati diselimuti kesunyian selama 30 detik penuh, keduanya tidak bersuara, hanya terdengar suara samar mesin kapal Nue Azure dan awak kapal di luar. Vrey sibuk memikirkan kalimat apa yang perlu diucapkannya agar Leighton tidak terluka atau salah paham, sementara Leighton hanya menatap kosong tangan Vrey yang meremas-remas kain ungu penutup tubuhnya.

“Kamu..” Leighton memecah keheningan. “Kamu takut tidak diterima di sana?” tanya Leighton hati-hati.

Vrey menggigit bibir, mencoba menyusun kata-kata. Dia membuka mulutnya, tapi dengan cepat menutupnya kembali. Sebelum Vrey sempat berkata apa-apa lagi bahkan sebelum dia dapat berpikir, Leighton sudah meraih pipinya.

“Lihat aku, Vrey,” ucap Leighton lembut. Terlalu lembut, membuat Vrey tidak kuasa menarik diri. Tubuhnya menolak menjauh. Seakan Vrey sudah sangat lama tidak mendengar suara itu. Dia rindu suara Leighton. Meskipun mereka sudah berbincang beberapa kali saat pertama bertemu kembali dan sesaat setelah naik kapal udara hingga detik itu, Vrey tetap merindukannya. Terutama suara yang kini digunakan Leighton, suara paling lembut yang laki-laki itu dapat keluarkan. Vrey sama sekali tidak menyangka dirinya bisa seperti itu. Selama ini yang dia kira, dia bukan gadis yang mudah luluh. Leighton mampu meruntuhkan dinding pertahanannya dan selain Leighton, Valadin juga salah satu orang yang dapat melakukannya. Ya, Valadin, seseorang yang begitu berarti baginya, baik saat dia masih seorang Eldynn maupun sampai tangannya sudah sangat ternoda. Vrey sempat membencinya, apalagi setelah apa yang diperbuat Valadin pada Leighton. Tapi, dia tahu di dalam lubuk hatinya yang terdalam, dia tidak bisa membenci Valadin.

Dada Vrey terasa sesak membayangkan Valadin terduduk sendirian di lantai Dunia Kehampaan. Ruangan gelap gulita tanpa ujung, sepi, sendiri, tidak ada kehidupan. Hatinya sakit sekali memikirkannya. Vrey saja tidak sanggup berada di sana padahal rasanya belum ada sehari. Kalau tidak ada Valadin saat itu, mungkin Vrey sudah frustasi dan gila. Berkat Valadin pula, dia dapat keluar dari Kehampaan. Meskipun perasaan spesialnya terhadap Valadin sudah tidak ada dan Valadin telah melukainya beberapa kali, Vrey tetap menyayangi sosok Elvar rupawan itu. Bukan sebagai kekasih, tapi rasa sayang sebagai teman, sebagai keluarga. Seseorang yang tidak dapat tergantikan. Sebagian dari diri Vrey menyesal kenapa dia tidak menarik Valadin secara paksa untuk ikut keluar dari Kehampaan bersamanya.

“Kamu tidak perlu khawatir.” Suara lembut Leighton terdengar lagi, menarik Vrey dari pikirannya ke kenyataan. “Aku yakin tidak akan ada penolakan atas keberadaanmu. Kalau sampai ada, maka aku tidak akan melarangmu lagi untuk kembali ke Mildryd.”

“Tapi–”

“Percayalah padaku.”

Vrey mengangguk pelan, tentu dia percaya sepenuhnya. Leighton tersenyum lega dan mencium kening Vrey. Sebenarnya, Leighton tahu akan ada penolakan, terutama dari Permaisuri Raja, ibu tirinya. Tapi, dia sudah siap. Dia akan melindungi Vrey dari segala cemoohan. Bahkan dia siap jika harus melepas jabatannya sebagai raja, Leighton tidak menganggap hidup sederhana bersama Vrey adalah sebuah masalah. Lebih baik begitu daripada dia harus menikah dengan wanita yang tidak dicintainya.

Tak lama, Istana Laguna Biru mulai tampak dari balik kaca besar di ruangan itu. Vrey merintih merasakan perih lukanya yang kembali terbuka karena dia terlalu banyak bicara dan bergerak. Kain yang dipakai sebagai baju olehnya semakin basah terkena darah. Leighton memerintahkan awak kapal agar menambah kecepatan Nue Azure sambil merapalkan sihir penyembuh untuk menutup luka gadis itu kembali.

***

Vrey mengerjapkan matanya beberapa kali. Pemandangan di sekelilingnya tampak begitu asing. Dia terbaring di atas tempat tidur empuk, di dalam sebuah ruangan dengan interior mewah. Indra penciumannya menangkap aroma khas Leighton di ruangan itu. Sekali lagi dia mengerjapkan mata sebelum beralih ke posisi duduk. Perabotan penuh ukiran indah di atas karpet merah terbentang di depannya. Benar-benar memperlihatkan keanggunan dan kemewahan.

“Aku.. Ini di..? Tunggu, aku tadi..” Vrey mencoba menguras balik ingatannya. Dia tadi sedang dalam perjalanan menuju Istana Laguna Biru bersama Leighton, kemudian lukanya terbuka lagi dan Leighton mencoba menutupnya dengan sihir penyembuh, lalu dia lupa apa yang terjadi setelahnya. Teringat akan lukanya, Vrey langsung mengecek perutnya. Pinggangnya dililit perban putih bersih, luka akibat goresan pedang hitam Zward Eldrich milik Valadin kini tidak terasa sakit sama sekali.

Pintu ruangan tiba-tiba dibuka, tampak Leighton dengan seorang anak laki-laki kecil yang usianya sekitar lima tahun dan wanita separuh baya berambut pirang panjang dan bermata biru. Mirip seperti..

“Aelwen..?” Nama itu meluncur keluar tanpa disadari oleh Vrey.

“Oh? Kamu sudah sadar, syukurlah,” Leighton menghampiri Vrey dengan senyum lebar, diikuti oleh kedua orang lainnya. “Bagaimana keadaanmu?”

“Aku nggak apa.” jawabnya. “Siapa mereka?” tanya Vrey cepat, terlalu cepat malah.

Leighton menoleh ke arah wanita yang kini berdiri di sebelahnya, “Ini ibu dan adikku, Vrey.”

“Ibu.. IBUMU?!”

Oh, sial. Rutuk Vrey.

Vrey merasa kepalanya dijatuhi batu seribu ton. Dia dengan bodohnya sudah bertanya tanpa sopan santun. Namun, alih-alih marah, ibu Leighton justru tersenyum lembut. Senyum itu sangat mirip dengan senyum Leighton –Aelwen lebih tepatnya.

“Selamat datang di Istana Laguna Biru, Vrey,” sambutnya ramah. Vrey kini tahu siapa yang menjadi contoh bagi Leighton untuk mendukung penyamarannya sebagai Aelwen.

“I– iya.. Maksudku, eh, maksud saya.. Terima kasih,” Jawab Vrey gelagapan.

Ibu Leighton tertawa kecil melihat tingkah laku Vrey. Gadis itu salah tingkah, bingung sendiri harus bagaimana menghadapi ibu Leighton. Satu kesalahan konyol akan berakibat buruk, itu yang ada di pikirannya. Namun, setelah berpikir beberapa detik, tampak kekontrasan antara Raja Llewellyn dengannya. Ibu Leighton lebih tidak kaku, yang pasti seratus kali lebih lembut dari ayahnya.

“Kakak, ayo main,” ajak pangeran kecil yang menggandeng tangan Leighton. Vrey baru kali itu melihat Leighton bersama seorang anak kecil. Mereka terlihat akrab meskipun bukan dari ibu yang sama.

“Tidak apa, Leighton, ajaklah dia bermain sementara ibu berbincang dengan Vrey.”

Leighton melihat perubahan ekspresi Vrey. Ingin rasanya tertawa geli, Vrey terlihat gugup. Dia tahu ibunya senang Vrey ada di sana. Selama menjadi selir, ibunya hampir selalu disembunyikan dari publik. Tidak ada teman yang benar-benar dapat menemaninya. “Baiklah, kutinggal dulu, Ibu, Vrey.”

“Mereka sangat akrab, bukan?” tanya ibu Leighton setelah kakak-beradik itu keluar.

“Iya.” Tanpa sadar kedua ujung bibir Vrey melengkung ke atas.

“Baiklah, kita mulai dari mana, ya..” Ibu Leighton tersenyum. “Boleh aku duduk?” tanyanya sambil menunjuk tempat tidur yang ditempati Vrey.

“Ten, tentu saja. Silahkan, Yang Mulia.”

Vrey merasa dirinya seperti orang bodoh, jantungnya serasa akan menggelinding ke lantai.

“Tidak perlu seformal itu, Vrey. Aku tidak se-“galak” suamiku, Raja Llewellyn,” katanya seraya mengedipkan mata. Namun, tampak sekilas kesedihan saat menyebut nama mendiang suaminya. “Leighton sudah menceritakan semuanya padaku. Aku benar-benar berterima kasih atas jasamu dan teman-temanmu menyelamatkan seisi Ther Melian. Kalian benar-benar hebat.”

“Sama-sama, Yang Mulia.” Vrey memaksakan seulas senyum di tengah kegugupannya.

“Oh, tidak perlu memanggilku “Yang Mulia” karena aku memang tidak berhak.” Ibu Leighton tersenyum sedih. “Kurasa kamu sudah tahu dari Leighton, aku hanyalah selir. Kalau bukan karena dulu Permaisuri tidak dapat memberikan keturunan selama sepuluh tahun, maka aku bukanlah siapa-siapa.”

Vrey makin tidak tahu harus berkata apa.

“Kamu mau medengar sedikit ceritaku? Kamu tahu, selama ini aku tidak punya teman sebagai tempat mencurahkan isi hatiku.”

Vrey hanya mengangguk kecil. Sebenarnya dia ragu, tapi sudahlah. Malah dia lebih heran kenapa ibu Leighton dengan sangat terbuka mau bercerita padahal dia hanyalah pencuri dan mereka tidak pernah bertemu sebelumnya.

“Aku adalah putri seorang bangsawan biasa yang tinggal di Yamuna. Saat itu sedang ada pesta di Granville, aku dan ayahku diundang pergi ke Istana Laguna Biru,” Ibu Leighton memulai ceritanya dengan pandangan menerawang. “Aku yang masih berusia dua puluhan jatuh cinta pada Raja Llewellyn. Sayangnya, dia telah memiliki Permaisuri. Selama sepuluh tahun, aku berulang kali dijodohkan. Namun, aku selalu menolak. Hingga suatu hari, seorang dari Kerajaan Granville mengundangku ke istana. Dia berkata Raja Llewellyn mencari seorang selir untuk meneruskan garis keturunannya karena Sang Permaisuri tidak dapat memberikan keturunan.”

Ibu Leighton tertunduk dengan senyum sedih menghiasi bibirnya. “Aku senang. Meskipun hanya sebagai selir, aku senang bisa bersama orang yang kucintai. Banyak yang membicarakanku, mulai dari pelayan terendah hingga bangsawan tinggi. Tapi, aku tidak peduli. Sampai akhirnya, Permaisuri hamil ketika Leighton akan dinobatkan jadi putra mahkota,” Senyumnya lenyap, digantikan dengan wajah tanpa ekspresi. “Tanganku begitu kotor, aku berusaha membunuh anak kecil yang tidak berdosa itu. Aku haus kekuasaan, Raja Llewellyn seakan sudah tidak peduli padaku saat Permaisuri hamil hingga anaknya lahir. Aku merasa dikucilkan. Aku berusaha agar Leighton yang menjadi raja, bukan anak itu. Bahkan akibat keserakahanku, Leighton sampai melarikan diri. Aku benar-benar jahat.”

“Anda.. Anda menyesal?” tanya Vrey dengan semua keberanian yang ada.

“Tentu aku menyesal.”

“Kalau begitu, Anda bukan orang yang jahat.”

Ibu Leighton agak terkejut mendengar kata-kata Vrey. Gadis berambut coklat di depannya ini memang berbeda. Gadis itu jujur, blak-blakan dengan apa yang ada di pikirannya.

“Kalau aku –saya– adalah Anda, maka mungkin saya akan melakukan hal yang sama.” kata Vrey tegas. “Anda bukan orang jahat.”

“Oh, Vrey, terima kasih.” Ibu Leighton tersenyum lebar. “Aku harap aku mempunyai anak perempuan sepertimu. Tapi, mungkin sebentar lagi keinginan itu akan tercapai.”

“Maksud Anda?”

Tangan kanan ibu Leighton terulur, membelai rambut Vrey lembut. “Kamu anak baik, Vrey. Leighton tidak salah memilihmu.”

Sentuhan lembut itu membuat Vrey terkejut. Dia tidak pernah tahu bagaimana rasanya dibelai oleh seorang ibu. Meskipun yang kini ada di hadapannya bukan ibunya, tetap saja rasa nyaman itu sangat berkesan.

“A, ah, mana mungkin pencuri rendah sepertiku adalah anak baik.” ucap Vrey.

“Vrey, kalau kamu bukan anak baik, kamu akan membiarkan Leighton kelaparan saat kamu menemukannya.” Ibu Leighton tersenyum lagi. “Aku tidak pernah berniat menjodohkan Leighton, tapi desakan dari berbagai pihak terus memaksaku. Aku memberinya kebebasan agar dia menemukan kebahagiaan, hanya itu yang paling kuingini. Dan aku tidak akan melarangnya jika dia memilihmu.”

“Tapi, Anda tahu jelas tentang cemoohan dan hal buruk lainnya kalau Leighton berada di dekat saya.”

“Dengar, Vrey.” Tangan Vrey digenggamnya, bola mata ungu dan biru saling bertemu. “Kamu harus bisa mengalahkannya. Aku saja bisa, apalagi kamu yang sudah menyelamatkan Ther Melian. Kamu adalah gadis yang kuat. Lama-kelamaan mereka akan lelah sendiri dan berhenti membicarakanmu. Aku akan selalu ada untuk membantu.”

Sebelum Vrey sempat mengatakan apa-apa, pintu kamar diketuk. Terdengar suara Leighton yang meminta izin masuk.

“Baiklah, aku tinggal kalian dulu. Aku yakin kalian ingin saling melepas rindu,” Ibu Leighton beranjak pergi, namun berhenti sebentar dan menoleh. “Tinggalah di sini. Aku sangat menyukaimu dan mendukung penuh jika kamu tinggal di sini.” katanya sebelum menghilang di balik pintu.

Vrey memastikan ibu Leighton sudah berjalan jauh dengan daya pendengaran Vier-Elv tajamnya sebelum membuka mulut. “Aku nggak mungkin tinggal di sini.” Meskipun dia sempat luluh oleh perkataan ibu Leighton, tetap dia merasa tidak enak. Dia masih tidak ingin tinggal di istana.

“Kurasa aku perlu menghubungi Putri Ascha dan Rion.” kata Leighton tiba-tiba. “Aku akan menjamu mereka beserta Lauren dan Karth juga yang lainnya. Sebagai perayaan kembalinya dirimu.”

“Apa?” Mata Vrey melebar. “Apa-apaan, jangan mengalihkan pembicaraan.”

Leighton menghela napas. “Maaf, Vrey. Tapi, kamu sudah dengar sendiri, kan? Ibuku yang menyetujuinya. Dia sangat suka padamu.”

“Lakukan sesuatu! Kamu pasti bisa melakukan sesuatu, kan?”

“Vrey, dengar. Bukan hanya ibuku, aku sendiri benar-benar ingin kamu tinggal di sini. Coba pikirkan ini, aku akan sangat sibuk dan susah menemuimu kalau kamu ada di Mildryd. Kalau kamu di sini, kamu bahkan bisa menemaniku mengurus urusan kerajaan dan lainnya.”

Memang benar sebagai raja yang baru, Leighton tidak punya banyak waktu luang. Kalau adapun, itu akan sangat terbatas. Dia tentu tidak mau kalau jarang bertemu Vrey.

“Pikirkan lagi dengan kepala jernih, Vrey. Kumohon.”

“Oh, tolong, kepalaku masih jernih!” omel Vrey. “Tetap saja, Leighton. Nggak mungkin. Ibumu masih keturunan bangsawan, tapi aku? Aku bukan siapa-siapa, sama sekali tidak termasuk orang yang layak.”

“Kalau begitu, jadilah salah satunya,” jawab Leighton.

“Maksudmu?”

“Menikahlah denganku, Vrey.”

“A– apa? APA?! Tunggu.. Astaga..” Vrey memegangi kepalanya. “Kamu bercanda. Kamu nggak mungkin serius, iya kan?”

Leighton menatapnya lurus-lurus. “Apa aku terlihat sedang bercanda?”

Tidak. Jawab Vrey dalam hati.

“Astaga, aku diserbu banyak hal secara beruntun. Ini terlalu tiba-tiba,” Gadis Vier-Elv itu menghela napas panjang untuk menenangkan diri. “Lihat, Leighton, aku.. aku masih seperti gadis 18 tahun. Sementara kamu sudah bertambah usia, bertambah dewasa. Sungguh, aku sama sekali nggak merasa sudah berapa lama aku di Kehampaan. Sama sekali nggak terasa, bahkan rasanya nggak sampai sehari.”

“Kamu tidak sadar?”

Vrey mengerjapkan mata, “Sadar akan apa?”

Leighton berdiri dan mengambil sebuah cermin dari laci, diserahkannya cermin indah dengan bingkai penuh ukiran itu pada Vrey. Vrey tercengang melihat pantulan wajahnya, dia terlihat lebih dewasa, bukan lagi seperti gadis berusia delapan belas tahun.

“Mungkin karena adanya distorsi ruang dan waktu,” Leighton cepat menambahkan menyadari raut muka Vrey. “Yang pasti dirimu secara bertahap berubah jadi lebih dewasa sesuai dengan umurmu, berbeda dari pertama kita bertemu tadi pagi. Bagaimana pun, empat tahun sudah lewat di sini. Kamu sudah berumur 22 tahun.” kata Leighton.

Vrey memejamkan mata, kepalanya mulai berdenyut. “Astaga, aku benar-benar kehilangan empat tahun hidupku tanpa aku sadari. Empat tahun..”

Sementara Vrey masih sibuk dengan pikirannya sendiri, Leighton mengeluarkan kotak beludru merah kecil dari saku pakaiannya kemudian berlutut di depan Vrey, tangan kanannya meraih tangan Vrey.

“Lei–”

“Menikahlah denganku, Vrey,” Leighton membuka kotak itu, sebuah cincin silver bertahtahkan batu berlian berkilau yang sangat indah tertanam diantara bantalan merah.

Vrey terdiam, tercengang, dia yakin wajahnya merah padam. Dia benar-benar tidak mengira Leighton akan melamarnya. Siapa sangka orang yang baru saja kembali dari “dimensi lain” tiba-tiba dilamar, seakan tidak ada waktu lain lagi. Kilatan keseriusan terpancar jelas dari kedua bola mata biru laki-laki itu.

“Maaf, mungkin ini terlalu mendadak untukmu. Tapi, Vrey, aku kehilangan dirimu selama empat tahun dan aku tidak mau kehilangan gadis yang paling kucintai lagi. Empat tahun bukan waktu yang singkat, Vrey.”

“Aku.. aku ini cuma pencuri rendahan.”

Leighton menggeleng, “Akupun juga. Aku juga pernah menjadi seorang pencuri dari komplotan Kucing Liar, bahkan sampai sekarang aku masih menganggapnya begitu. Sama sepertimu. Tanpamu dan semua teman-teman dari Kucing Liar, maka mungkin aku sudah mati kelaparan,” Sebuah pelukan menyelimuti tubuh Vrey. Begitu nyaman, begitu hangat, dan penuh kasih sayang. “Aku tidak peduli dengan latar belakangmu, aku mencintaimu apapun, siapapun dirimu. Maukah kamu menjadi ratuku sekarang dan selamanya?”

Tetesan air mata menciptakan sungai kecil di pipi Vrey, satu anggukan mewakili luapan perasaannya. Dia bukan tipe gadis yang cengeng, namun apa daya, air mata menetes tanpa dia sadari. Leighton tersenyum lega sambil memasangkan cincin silver itu di jari manis Vrey. Vrey terkesima melihat cincinnya, sangat indah.

“Sekarang dan selamanya, aku akan terus mencintaimu,” ujar Leighton mantap. “Itu janjiku.” Dia mundur sedikit untuk menciptakan jarak antara mereka sebelum menunduk, menyapukan bibirnya pada bibir Vrey. Vrey memejamkan matanya. Ciuman itu sangat lembut, meski begitu keduanya tahu sejuta perasaan sayang tercurah di dalamnya.

Vrey masih tidak menyangka, sama sekali tidak percaya dia akan menjadi pendamping hidup Leighton. Dia baru saja menerima lamaran Leighton! Yang berarti dia akan menjadi Ratu Kerajaan Granville yang baru. Seorang pencuri sepertinya menjadi seorang ratu. Sekalipun Vrey tidak pernah bermimpi untuk menjadi seorang ratu dalam hidupnya.

Leighton tersenyum sembari menghapus air mata Vrey. Hatinya sungguh berbunga, hari yang seharusnya menjadi hari di mana dia akan melepas Vrey selamanya kini menjadi hari di mana dia melamar gadis itu.

“Aku harus berterima kasih pada Valadin.” ucap Leighton.

Vrey mengangguk. “Aku nggak mungkin ada di sini sekarang kalau bukan karenanya.” Air mata kembali menetes dari kedua ujung mata Vrey. “Aku bodoh sekali, kenapa aku nggak memaksanya ikut keluar dari Kehampaan? Kenapa aku meninggalkannya sendirian?”

“Dia tahu apa yang dia pilih, Vrey.”

“Tapi, Kehampaan itu sangat mengerikan! Nggak ada seorang pun di sana, seberkas cahaya pun nggak ada!”

Leighton kembali merengkuh Vrey ke dalam pelukannya. Vrey terisak, dia sama sekali tidak ingin kehilangan Valadin. Valadin memiliki arti besar dalam hidupnya, Valadin yang mencintainya, Valadin yang pernah dicintainya. “Valadin..” desah Vrey. “Valadin..!”

Tangan Leighton bergerak naik-turun membelai rambut Vrey. Gadis itu pasti sangat merasa kehilangan. Sama seperti saat dia kehilangan Vrey, orang yang sangat berarti baginya. Meskipun Leighton tahu Vrey tidak memiliki perasaan apa-apa lagi pada Valadin, selalu ada ruang di hati Vrey untuk Valadin karena laki-laki itu penting baginya.

“Omong-omong,” Vrey menatap Leighton penuh keheranan setelah berhenti menangis, “bagaimana kamu bisa menyiapkan cincin padahal kudengar dari Laruen hari ini kamu akan melepasku selamanya?”

Pertanyaan Vrey jelas membuat Leighton tertawa kecil.

“Hei! Kenapa kamu malah tertawa?”

“Maaf, maaf. Kamu memang sama sekali tidak berubah, Vrey,” ucapnya di sela tawa. “Sebenarnya cincin ini sudah ada sebelum kita pergi ke Lembah Angin, tepatnya saat kita berada di kota Ignav. Kebetulan seorang pedagang perhiasan yang sering menempuh perjalanan Granville-Dajhara sedang singgah di sana.”

“Jadi..” kamu memang berencana melamarku dari sangat jauh hari sekali? Vrey tidak mungkin mengatakannya.

“Ya, jadi memang aku sudah punya rencana,” jawab Leighton seakan bisa membaca pikiran Vrey. “Kalau itu yang ingin kamu tanyakan.”

Vrey mendengus. “Percaya diri sekali. Beruntung aku nggak menolakmu.”

“Kamu mau tahu kenapa aku percaya diri?”

“Kenapa?”

“Karena aku tahu kamu tidak akan menolak.” Leighton tertawa puas.

Photobucket

Advertisements

4 thoughts on ““Event After” oleh Jessica Nathania

  1. Vrey yg keberadaannya ga akan ditolak lagi..
    Vrey yg akan menjadi permaisuri Granville~ ❤ ❤

    Trs Leighton menyatakan cintanya pd Vrey padahal Vrey baru aja kembali XD pasti kaget banget itu, :3

    Suka~ ^^

  2. Valadin kena Friendzone sama Familizone XD
    Sisi ibu Leighton akhirnya diceritakan dan Leighton melamar Vrey, meski cmn didalam kamar dan bukan dihadapan teman2nya XD

  3. Pingback: Ther Melian fanfiction contest FINALE! « Shienny's Rants

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s