“Langit Malam Falthemnar” oleh Daniel Widya Suryanata

Setelah seharian diskusi yang melelahkan mengenai rencana kepergian mereka untuk mencari kekuatan dari para Aether, Valadin serta keempat orang lainnya pun pulang ke tempat mereka masing-masing untuk beristirahat. Valadin sengaja mengantarkan Laruen pulang karena hari sudah sangat larut. Ellanese pun ikut bersama mereka walau ia sengaja berjalan agak jauh di belakang Valadin dan Laruen.

Sejujurnya Laruen merasa sangat gugup. Hal itu wajar saja karena mereka semua akan pergi esok hari untuk mencari kekuatan para Aether, dan itu bukanlah perkara mudah. Mereka semua akan melewati berbagai pertarungan yang setiap saat dapat mengancam nyawa mereka. Walaupun Laruen tahu bahwa teman-teman seperjalanannya sangatlah kuat dan dapat diandalkan, tetapi ia meragukan dirinya sendiri. Ia meragukan dirinya akan berguna bagi kelompoknya, dan bahkan ia ragu apakah ia cukup kuat untuk mempertahankan nyawanya sendiri.

Valadin, selaku pemimpin dari kelompok tersebut, mengetahui kegelisahan kelompok itu. Ia bahkan tahu benar bagaimana kegelisahan Laruen. Valadin tidak pernah meragukan kemampuan Laruen, namun ia masih meragukan kepercayaan diri gadis itu. Ksatria Elvar itu kemudian berhenti berjalan, memaksa Laruen untuk berhenti berjalan juga.

“Lord Valadin, ada apa?” Tanya Laruen.

Valadin balas menatap Vier-Elf itu sambil tersenyum. “Laruen, maukah kamu menemaniku duduk sebentar saja?”

Laruen mengangguk, Vier-Elf itu mengikuti Valadin duduk. Laruen duduk sambil memeluk kedua kakinya, berharap bisa melindungi kakinya dari dinginnya udara malam Falthemnar. Di hadapan Laruen dan Valadin terbentang hamparan bintang di tengah gelapnya lautan malam, pemandangan malam Falthemnar yang luar biasa indah.

Valadin membiarkan kebisuan itu menggantung selama beberapa lama, seakan membiarkan dirinya larut dalam pemandangan Falthemnar itu. Laruen pun turut merenung menikmati kebisuan malam itu.

“Laruen,” akhirnya Valadin memecah kebisuan itu. “Kalau kau tidak yakin akan perjalanan esok hari, kau boleh memilih untuk tidak ikut.”

Mendengar hal itu Laruen bukan main terkejutnya. Rasa heran, marah, serta lega bercampur aduk di dalam benak Laruen. Tetapi gadis itu tidak membiarkan dirinya meledak, ia mengambil nafas panjang untuk menenangkan diri. “Apa maksud Anda, Lord Valadin?” Tanya Laruen dingin.

“Kurasa cukup jelas,” balas Valadin. “Kalau kau tidak yakin untuk mengikutiku mencari kekuatan para Aether, kau boleh tetap berada di tempat ini. Itu adalah pilihanmu, Laruen. Tidak akan ada yang melarang ataupun mencelamu dengan keputusanmu.”

Mendengar hal itu, Laruen langsung melirik ke arah Ellanese. Ia yakin pastilah Ellanese adalah orang yang pertama kali akan mencelanya apabila ia mengurungkan niatnya untuk mengikuti Valadin. Ellanese tampak tidak peduli dengan percakapan Valadin dan Laruen, ia tampak sedang mengamati tongkat sihirnya dengan serius. Tetapi terlepas dari apa komentar Ellanese mengenai dirinya, jauh di lubuk hati Laruen, ia tidak ingin mundur. Dendamnya terhadap manusia masih menjadi salah satu motivasinya untuk mengikuti perjalanan ini.

Laruen kembali mengarahkan pandangannya pada hamparan bintang. “Sudah kubilang, aku tidak akan mundur,” jawab Laruen mantap. “Dan tolong jangan pernah membujukku untuk mundur, Lord Valadin.”

Ksatria Elvar itu kembali membiarkan keheningan muncul di antara mereka. “Baiklah, maafkan aku, Laruen.”

“Lagipula seseorang pernah mengatakan kepadaku,” kata Laruen sambil tersenyum. “Jangan pernah terjebak oleh kata takut sebagai alasan untuk menunda sesuatu.” Gadis Vier-Elf itu bangkit dari duduknya. “Ini adalah sesuatu yang harus kulakukan, Lord. Aku tidak akan menundanya.” Kemudian Valadin pun bangkit dan mereka bertiga kembali berjalan.

Kata-kata tersebut sangatlah berarti bagi Laruen karena membawa kenangan tersendiri di dalam hidupnya. Kata-kata itu dan pemandangan langit malam Falthemnar membawanya kembali pada beberapa tahun silam, di masa ia belum menjadi seorang petarung seperti sekarang ini.

***

Bertahun-tahun silam, Laruen kecil adalah seorang Vier-Elf pendiam. Ia selalu merasa tersisihkan oleh teman sepermainannya hanya karena ia adalah seorang keturunan Elvar dan manusia di antara teman-temannya yang adalah keturunan murni Elvar. Laruen juga adalah seorang yang pemurung. Ia akan mengurung diri di kamarnya sepanjang hari.

Berminggu-minggu kemudian Laruen seakan memiliki tempat pelarian baru. Ia menghabiskan sebagian besar waktunya di pinggiran hutan Telssier. Gadis itu akan pergi ke hutan pada pagi hari dan baru kembali saat malam hari. Melihat hal itu, ibu Laruen menjadi gelisah sehingga ibu Laruen meminta tolong kepada Valadin untuk membujuk Laruen agar gadis itu mau bergaul kembali dengan teman-teman sepermainannya.

Hari berikutnya, Valadin secara diam-diam mengikuti Laruen yang hendak pergi ke hutan. Di dalam hutan, betapa terkejutnya Valadin mengetahui bahwa Laruen memiliki bakat untuk berkomunikasi dengan hewan, bakat yang cukup langka di kalangan Elvar sendiri. Sepanjang hari, Laruen bercengkerama dengan hewan-hewan di hutan, dan baru akan kembali ke rumah setelah hari beranjak gelap.

Selama beberapa hari lamanya Valadin terus mengikuti dan mengamati Laruen. Valadin pun tahu bahwa Laruen memiliki teman dekat yaitu seekor elang yang dinamainya Peregrine. Akhirnya Valadin pun memberanikan diri dan memutuskan untuk berterus terang pada Laruen.

Tentu saja gadis itu merasa kaget dan marah saat Valadin mengakui bahwa Valadin telah membuntuti dirinya selama beberapa hari belakangan. Tetapi sesaat setelah itu Laruen menjadi ketakutan kemudian menangis di hadapan Valadin.

Akhirnya Valadin mengerti ketakutan Laruen. Vier-Elf itu takut apabila orang-orang terdekatnya mengetahui ia punya bakat aneh untuk berkomunikasi dengan hewan. Laruen takut ia akan semakin dijauhi apabila Elvar lain mengetahui kemampuannya ini, karena selama ini Laruen belum pernah melihat ada Elvar yang mampu berkomunikasi dengan hewan-hewan di hutan seperti dirinya.

Butuh waktu bagi Valadin untuk menjelaskan kepada Laruen bahwa bakat seperti itu tidak hanya dimiliki oleh Laruen saja. Elvar yang memiliki bakat seperti itu, atau disebut juga dengan Ierre, di kemudian hari dapat menjadi seorang petarung yang sangat handal. Tidak lupa Valadin menambahkan kisah-kisah Ierre petarung yang berjasa besar bagi kaum Elvar.

Mendengar hal itu membuat Laruen sangat gembira. Apalagi sejak saat itu Valadin jadi sering menemani dirinya untuk bermain di dalam hutan. Laruen merasa teman dekatnya bertambah, bukan hanya Peregrine dan hewan-hewan di hutan saja.

***

Beberapa lama setelah Valadin mengetahui bakat Laruen, ksatria Elvar itu mulai membujuk Laruen untuk mengikuti ujian menjadi seorang pemanah. Valadin merasa bakat dan akurasi yang dimiliki oleh Laruen akan membuatnya menjadi seorang pemanah yang hebat. Sejak detik itu pun Laruen begitu bersemangat untuk menjadi seorang pemanah. Ia selalu memimpikan untuk menjadi pemanah sungguhan yang di kemudian hari akan berjasa bagi kaum Elvar.

Tetapi betapa terpukulnya Laruen setelah mengetahui sulitnya ujian untuk menjadi seorang pemanah. Ia harus dapat mengenai semua target yang bergerak tanpa terkecuali, dengan kondisi ia sendiri bergerak mengejar target tersebut. Ditambah lagi persyaratan karena ia adalah Vier-Elf, maka ia harus dapat mengenai target yang jauh lebih kecil dibandingkan target yang diharuskan bagi Elvar.

Merasa persyaratan tersebut terlalu berat bagi dirinya, Laruen mulai menjadi pemurung dan penyendiri lagi. Sejak saat itu Valadin mulai berjuang keras untuk mengembalikan semangat gadis itu. Mengembalikan semangat Laruen bukanlah hal yang mudah karena kini ia menjadi lebih tertutup, bahkan kepada Valadin sekalipun.

***

“Ini tidak adil!” isak Laruen. Akhirnya kegigihan Valadin berbuah, Laruen mau berbicara lagi dengannya. “Hanya karena aku seorang Vier-Elf, aku diperlakukan demikian oleh mereka,” jerit Laruen. Valadin hanya diam mendengarkan semua keluh kesan Laruen.

Beberapa menit lamanya Laruen terisak dan menjerit sementara Valadin hanya diam tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Setelah Laruen mulai tenang, Valadin membuka percakapan.

“Laruen,” ucap Valadin lembut. “Setiap orang menghadapi kekecewaan pada satu atau lain waktu. Tetapi pemenang adalah orang yang tidak mau membiarkan kekecewaan mematahkan semangatnya.” Laruen tertegun mendengar kata-kata itu.

Valadin melanjutkan, “Aku tahu kau takut dengan persyaratan berat tersebut. Aku tidak bisa menyalahkan rasa takutmu itu. Tetapi jangan pernah terjebak oleh kata takut sebagai alasan untuk menunda sesuatu, Laruen.” Gadis itu memandang Valadin dengan tatapan heran. Jelas sekali bahwa Laruen belum memahami benar arti kata-kata Valadin.

Laruen mulai berbaring di rerumputan seraya meresapi kata-kata yang Valadin tujukan padanya. Valadin pun ikut berbaring di sebelahnya. Di hadapan mereka menghampar langit malam Falthemnar yang penuh dengan bintang. Seakan sedikit beban terlepas daripadanya, Laruen bersenandung kecil, memandangi langit malam Falthemnar selama beberapa waktu, kemudian tertidur lelap.

***

Hari masih sangat pagi ketika seseorang menampakkan diri di hutan di dekat Mildryd. Sosok tersebut memakai jubah hitam bertudung yang menyelimuti semua tubuhnya. Orang itu membawa sebuah busur kayu tua serta sebuah tabung anak panah yang di dalamnya berisi beberapa anak panah. Sebuah tas kecil tergantung di punggungnya. Seekor elang yang terbang tinggi mulai menukik turun menghampiri orang tersebut dan bertengger di tangan kiri orang itu.

Laruen menyingkap tudungnya dan merapikan rambutnya. Ia melihat sekelilingnya dan belum menangkap tanda-tanda kehidupan. Memang, hari masih terlalu pagi, bahkan untuk hewan sekalipun.

Beberapa hari yang lalu Laruen tidak sengaja mendengar percakapan antara Valadin dan Lady Ellanese. Mereka membicarakan mengenai hutan di dekat kota Mildryd yang terkenal penuh dengan hewan liar nan lincah. Valadin juga mengatakan bahwa tempat tersebut adalah tempat berlatih yang sangat cocok bagi calon pemanah. Tetapi Valadin dengan tegas melarang Ellanese untuk memberitahukan hal itu kepada Laruen karena Valadin tahu hutan Mildryd sangat berbahaya untuk seorang gadis kecil.

Akan tetapi bukan Laruen apabila tidak melanggar peraturan. Setelah mendengar percakapan itu, ia segera mempersiapkan keberangkatannya secara diam-diam. Bahkan ibunya pun tidak ia beritahu mengenai rencananya itu. Tengah malam tadi Laruen meninggalkan rumah. Ia menumpang secara kereta barang yang meninggalkan Falthemnar pada tengah malam secara diam-diam.

Laruen meletakkan tasnya di tanah, kemudian dengan telaten melipat jubah hitam yang digunakannya untuk membaur dengan kegelapan saat menumpang kereta. Ia kemudian mengelus Peregrine dan membisikkan beberapa patah kata kepadanya.

Gadis itu sadar betul bahwa untuk dapat memaksimalkan kemampuan memanahnya, ia membutuhkan bantuan Peregrine. Untuk dapat memanah sesuatu yang kecil dari jarak jauh, ia memerlukan informasi dari Peregrine mengenai seberapa cepat targetnya bergerak. Elang itu bahkan dapat mengawasi target yang mungkin lolos dari pandangan Laruen sekaligus mengamati bahaya yang mengancam di sekitar Laruen. Jadi yang akan dilakukan Laruen beberapa hari ke depan adalah berkoordinasi dengan Peregrine saat sedang memburu targetnya.

“Baik, ayo kita mulai, Peregrine,” bisik Laruen. Peregrine mengepakkan sayap tanda setuju kemudian terbang berputar-putar di atas Laruen. Laruen mulai menyiapkan busurnya dan mengambil sebatang anak panah. Tak lama kemudian Peregrine mulai bersuara nyaring, memperingatkan Laruen bahwa Peregrine telah melihat target mereka.

“Kelinci Mildryd,” seringai Laruen merekah. “Kelinci terlincah dan tercepat di daratan TherMelian.” Kemudian Laruen mulai berlari dan bersiap memanah targetnya. Peregrine terbang mendahului Laruen dengan bersemangat.

***

Sudah lima belas hari lamanya Laruen meninggalkan Falthemnar untuk berlatih di hutan Mildryd. Sejak saat itu sudah tidak terhitung berapa banyak hewan yang menjadi target anak panahnya. Hal itu tentu melelahkan bagi Laruen, tetapi sekarang ia sudah mendapatkan kepercayaan dirinya kembali.

Laruen sendiri tidak bisa mempercayai staminanya. Sebelum ini ia selalu mudah kelelahan setelah berlari beberapa kilometer saja. Namun sejak ia memulai latihan ini, ia tidak terlalu kelelahan walaupun sudah berlari sepanjang hari mengejar targetnya.

Gadis itu juga tidak dapat mempercayai keberuntungannya. Hutan Mildryd terkenal dengan Daemonnya yang banyak dan ganas. Daemon adalah monster yang muncul dari kabut gelap. Beberapa manusia bahkan pernah mati karena diserang kumpulan Daemon di hutan ini. Tetapi sejak ia menginjakkan kaki di hutan ini lima belas hari yang lalu, ia belum pernah menemukan seekor Daemon pun.

Akan tetapi Laruen tidak mau berlama-lama merenungi hal tersebut. Ia segera membereskan barang-barangnya kemudian berbaring untuk berisitirahat. Besok pagi ia akan mencari kereta barang yang akan mengangkutnya kembali ke Falthemnar. Dan beberapa hari kemudian, ujian pemanah akan dilaksanakan. Laruen tidak ingin menghabiskan seluruh energinya untuk berlatih. Ia ingin tampil semaksimal mungkin pada ujian tersebut.

Laruen merapatkan selimut sampai ke lehernya. Di sampingnya, Peregrine pun ikut beristirahat. Namun sesaat sebelum Laruen tertidur, bulu kuduknya meremang. Ia dapat merasakan ada bahaya mengancam di sekitarnya. Peregrine pun mengepak-ngepakkan sayapnya dengan gelisah. Daemon! Laruen kecil dapat merasakan aura gelap mereka walau dalam kegelapan malam sekalipun.

Vier-Elf itu segera mempersiapkan busur serta anak panahnya. Gadis itu menunggu dengan siap, menunggu sinyal dari Peregrine yang akan memberitahunya lokasi Daemon itu. Peluh mulai membasahi leher Laruen. Ini pertama kalinya ia harus berhadapan dengan Daemon.

Laruen menunggu selama beberapa menit sebelum akhirnya Peregrine memberitahunya bahwa Daemon tersebut akan datang dari arah Selatan Laruen. Gadis itu mempertajam indera penglihatannya. Ia menangkap tiga sosok berbadan bungkuk yang sedang merangkak di tanah.

Tiga! Batin Laruen menjerit. Tidak bisa dipungkiri bahwa ia sangat panik sekarang. Gadis itu dapat mengidentifikasi ketiga Daemon tersebut. Daemon tersebut bernama Naix. Naix adalah Daemon berbadan kecil dan bungkuk yang memiliki cakar yang sangat berbahaya. Tulang-tulang mencuat dari punggung Daemon itu. Laruen pernah membaca bahwa Daemon itu dapat menghabisi mangsanya dengan beberapa cakaran, karena itu Naix ditakuti dan disebut juga dengan julukan Life Stealer.

Saat ketiga Naix sudah memasuki jarak panah Laruen, Laruen segera melepaskan tiga anak panah untuk menyerang seekor Naix. Naix tersebut tumbang dengan masing-masing sebuah anak panah di mata kanan, dahi, serta jantungnya.

Melihat temannya tumbang, dua Naix lainnya langsung berlari dan menyerang Laruen. Laruen tidak punya pilihan selain berlari menghindari dua Daemon tersebut. Laruen mengerti bahwa ia harus menyerang sambil kabur dari para Naix karena ia sama sekali tidak boleh tersentuh oleh para Naix itu.

Tidak mudah untuk menyerang sambil berlari. Sudah sekitar satu menit Laruen berlari menghindari pohon-pohon lebat untuk kabur dari dua ekor Naix yang mengejarnya. Setelah berhasil memperbesar jarak dengan dua Naix itu, Laruen langsung melancarkan serangan bertubi-tubi. Tiga anak panah meleset dan menancap dalam di sebuah batang pohon. Dua anak panah sisanya berhasil mengenai seekor Naix tepat di perut Daemon tersebut. Naix yang terkena tembakan anak panah Laruen langsung tergeletak tak bernyawa.

Naix terakhir semakin kalap. Mahluk itu berlari dua kali lebih cepat dibandingkan sebelumnya. Laruen harus berlari lebih cepat lagi untuk menghindarinya. Namun gadis itu tidak berhasil untuk memperbesar jarak dengan pengejarnya. Dengan kondisi seperti itu, Laruen tidak akan punya kesempatan untuk membidik dengan tepat sambil menjaga jarak.

Langkah Laruen terhenti, ia menoleh ke belakang dan melihat pengejarnya hanya berjarak tujuh meter darinya. Laruen menelan ludah dengan panik. Ia sadar ini hanyalah satu-satunya kesempatan yang dimiliknya.

Enam meter lagi! Laruen mengangkat busurnya.

Lima meter lagi! Laruen mengambil dua anak panah dari tabung yang tergantung di punggungnya.

Empat meter! Gadis itu bersiap untuk menembakkan dua anak panah sekaligus.

Tiga meter! Laruen berkonsentrasi pada targetnya. Dua buah anak panah sudah siap ia tembakkan

Dua meter! Laruen mengunggu. Cengkeramannya pada busur dan anak panah semakin erat.

Satu meter! Laruen dapat melihat dengan jelas seluruh tubuh Naix itu. Gadis itu langsung melepaskan dua anak panah sekaligus yang mengarah tepat ke kepala Daemon itu.

Lima putuh senti! Dua anak panah menancap dalam di kepala Naix. Tetapi mahluk itu tidak menghentikan serangannya.

Sepuluh senti! Laruen pasrah. Ia memejamkan mata dan menyilangkan kedua tangannya, mencoba untuk melindungi kepalanya dari serangan Naix.

Detik demi detik berlalu. Laruen belum merasakan sakit. Ia memberanikan diri untuk membuka matanya. Di hadapan gadis itu, Naix pengejarnya sudah terkapar di tanah. Darah mengucur dari lubang di kepala mahluk itu.

Dengan terengah-engah, Laruen kembali ke tempatnya semula untuk melanjutkan istirahat. Gadis itu duduk, memandangi kedua tangannya yang masih gemetaran. Berlatih sendiri di alam liar selama lima belas hari sudah merupakan prestasi bagi gadis penyendiri itu, tetapi membunuh tiga Naix merupakan prestasi yang luar biasa.

Belum pulih benar kekuatan Laruen, gadis itu kembali dikejutkan dengan tanah yang bergetar. Burung-burung beterbangan ketakutan meninggalkan pepohonan. Kabut gelap muncul, menutupi separuh cahaya bulan. Aroma Daemon yang lebih kuat menggantung di udara.

Tentu saja! Naix hidup secara berkelompok, pikir Laruen. Kalau mereka dapat hidup berkelompok, pastilah mereka punya pemimpin. Seekor Naix yang jauh lebih kuat. Benar-benar terkutuk! Rutuk Laruen.

Gadis itu mengambil kembali busur dan tabung panahnya. Ia bergegas mencari tempat untuk sembunyi. Dalam sekejap Laruen dapat menemukan pepohonan yang juga ditutupi oleh semak-semak. Benar-benar tempat sembunyi yang tepat.

Pemimpin Naix itu muncul. Badannya sangat besar dibandingkan Naix biasa, mungkin sekitar dua kali tinggi tubuh Laruen. Tulang belulang mencuat di sekujur tubuhnya, mencabik daging yang melapisi rangka tubuhnya. Naix besar itu menggeram ketika melihat salah satu anaknya mati dengan panah menancap di tubuh. Ia melolong marah dan kembali menggetarkan tanah.

Ketegangan menyelimuti Laruen. Ia sangat berharap pemimpin Naix itu pergi karena tidak mendapatkan pembunuh anaknya. Tetapi prediksi Laruen salah. Naix besar itu tetap menunggu dengan sabar sambil memeriksa sekelilingnya.

Laruen melirik tabung anak panahnya. Hanya tersisa dua anak panah yang tidak akan cukup untuk merobohkan Naix besar itu. Laruen kembali mengamati Naix besar itu dengan seksama hingga ia menemukan bagian tubuh yang tidak dilapisi dengan tulang. Bagian itu cukup rentan untuk diserang.

Dengan perlahan, Laruen menyiapkan sebatang anak panah. Gadis itu berkonsentrasi membidik bagian tubuh Naix yang tidak terlindungi. Sepersekian detik sebelum melepas anak panah, Laruen dapat merasakan konsentrasinya buyar. Kepalanya terasa sangat berat. Anak panah yang sudah dilepaskannya meluncur dan menghantam bagian tubuh Naix yang terlindung oleh tulang tebal.

Naix tersebut merasakan ada sesuatu yang menghantam tubuhnya. Ia kembali mencari-cari penyerangnya. Laruen beruntung Daemon itu belum dapat menemukan tempat persembunyiannya.

Sekarang kepala Laruen terasa amat berat. Seakan efek kelelahan dari latihan selama lima belas hari menderanya secara mendadak. Pandangan Laruen mulai memudar, telinganya pun berdengung.

Sebelum Laruen benar-benar kehilangan kesadaran, ia kembali mengambil sebatang anak panah. Gadis itu mencoba berkonsentrasi sebisa mungkin, mengalahkan rasa pusing yang menyerangnya. Laruen menajamkan indera penglihatannya dan memfokuskan pandangannya pada bagian tubuh yang diincarnya. Laruen juga menajamkan indera pendengarannya sehingga ia dapat mendengar suara pelan Peregrine. Laruen melepaskan anak panah terakhirnya, setelah itu pandangannya memudar seluruhnya, dan akhirnya ia kehilangan kesadaran.

***

Kini Valadin, Laruen, serta Ellanese sudah sampai ke depan rumah Laruen. Kenangan yang tak terbendung menyerang Laruen sehingga ia lebih banyak bersikap diam dalam separuh sisa perjalanan itu.

Ya, Laruan memang tidak mengikuti ujian pemanah tersebut karena kelelahan yang berlebihan. Saat Laruen siuman saat itu, ia sudah berada di dalam rumahnya sendiri, terbaring lemah di atas tempat tidur. Tidak ada luka apapun pada tubuhnya, namun saat itu kepalanya masih terasa sangat berat. Ibunya berkata bahwa Valadin-lah yang menemukan Laruen di hutan Mildryd dan membawa dirinya pulang. Laruen baru resmi menjadi seorang pemanah saat ujian pemanah berikutnya, dimana ia memperoleh nilai sempurna dari semua yang diujikan.

Gadis itu tersenyum lebar pada Valadin dan Ellanese kemudian masuk ke dalam rumahnya, meninggalkan Valadin dan Ellanese. Kedua Elvar itu mulai berjalan meninggalkan rumah Laruen dengan anggun.

“Sampai kapan kamu mau menyembunyikan kebenaran peristiwa itu pada Vier-Elf itu, Valadin?” Ellanese memecah keheningan di antara keduanya. Nada bicara Elvar wanita itu tetap angkuh dan dingin walau ia berbicara dengan Valadin, partnernya sendiri.

***

Beberapa tahun yang lalu, setelah Valadin memberitahu Laruen mengenai ujian pemanah, ia mengajak Ellanese berbincang mengenai hutan di dekat Mildryd. Tentu saja Valadin sudah mengatur jadwal kedatangan Laruen kecil sehingga gadis itu dapat menguping pembicaraan mereka.

Rencana Valadin berjalan dengan mulus. Selanjutnya ia hanya perlu mengikuti Laruen dari Falthemnar sampai ke hutan Mildryd. Bagi Valadin, mudah saja membuntuti gadis itu tanpa diketahui.

Selama lima belas hari lamanya, Valadin terus mengikuti Laruen. Valadin selalu berpatroli di luar jangkauan Laruen untuk mencegah para Daemon mendekati gadis itu. Saat Laruen tampak kelelahan, Valadin menyalurkan energinya untuk Laruen tanpa diketahui oleh gadis itu. Hal tersulit yang harus dilakukan Valadin adalah menjaga kestabilan aliran energinya sehingga Laruen tetap mendapat sedikit energi darinya.

Selama lima belas hari lamanya rencana Valadin berjalan mulus. Akan tetapi pada hari terakhir, sekumpulan Naix secara kebetulan melintas. Jumlah mereka banyak sehingga Valadin tidak dapat mencegah seluruh Naix tersebut untuk mendekati Laruen. Valadin bertarung mati-matian dengan para Naix. Setelah mengalahkan Naix terakhir yang dapat ia cegah, Valadin kehilangan sebagian besar energinya, sehingga aliran energi yang mengalir pada Laruen pun terganggu. Karena itulah konsentrasi Laruen buyar ketika sedang melawan pemimpin Naix.

***

Valadin tersenyum. Ia memandang partnernya kemudian berkata, “ada kebenaran yang seharusnya tetap disembunyikan, Ellanese.”

Ellanese tampak cuek. “Aku masih tidak mengerti kenapa kamu mau bersusah payah untuk gadis itu, Valadin,” balas Ellanese dengan nada yang lebih dingin. “Kamu pasti tahu dengan jabatan setinggi dirimu, mudah saja untuk menurunkan standar penilaian ujian pemanah bagi Vier-Elf itu,” lanjut Ellanese yang berhati-hati dalam pemilihan kata agar ia tidak mengucapkan kata ‘Laruen’. “Bahkan kamu dapat meloloskannya menjadi seorang pemanah bila kamu mau.”

Kali ini Valadin tertawa hambar. “Aku tidak akan sebaik itu, Ellanese. Kau tahu itu.”

“Kukira selama ini kamu menyukai gadis itu,” balas Ellanese sinis.

“Aku tidak menyukai gadis itu,” balas Valadin singkat. Valadin membiarkan keheningan muncul di antara mereka berdua selama beberapa lama. “Aku menyayanginya, Ellanese.” Tatapan Valadin melembut.

Ellanese tampak pasrah. “Sungguh, mengenal dirimu ternyata lebih sulit dibandingkan merapal mantra, Valadin,” celetuk Ellanese bingung, tetapi masih bernada sinis.

“Kalau aku memudahkan ujiannya, atau bahkan langsung meluluskannya, itu berarti aku menyayanginya dengan pembenaran, Ellanese,” kata Valadin dengan tenang. “Tetapi aku menyayanginya dengan kebenaran. Oleh karena itu aku akan tidak akan menentang aturan dari para Elvar dan mengambil masalah dari pada Laruen, melainkan mencoba membantunya dengan sepenuh hati.”

“Mungkin yang kukatakan sekarang belum kau mengerti kini, Ellanese. Tetapi kuharap di masa mendatang kamu dapat mengerti hal ini.” Mendengar itu Ellanese tampak tidak tertarik untuk memberikan jawaban.

“Dan satu lagi,” lanjut Valadin. “Yang mengusir pimpinan Naix saat itu bukan aku, Ellanese. Laruen yang melakukannya, bahkan tanpa bantuan energi dariku.” Kata-kata Valadin tersebut membuat Ellanese terkejut.

“Pada saat ia kehilangan fokusnya, ia berkoordinasi dengan Peregrine untuk memperkirakan arah dan kecepatan angin. Alam bawah sadarnya kemudian mengarahkan anak panah terakhirnya dengan segala informasi yang bisa didapatkan tubuhnya saat itu. Mungkin tubuhnya tidak sadar, tetapi alam bawah sadar dan nalurinya bekerja secara sempurna.”

“Itulah mengapa kita membutuhkannya dalam perjalanan mencari kekuatan para Aether,” Valadin tersenyum puas. Ia memandang tangan kanannya, membayangkan dirinya telah mendapatkan kekuatan dari ketujuh Aether.

Secara diam-diam, di bawah langit malam Falthemnar, Valadin berjanji untuk melindungi Laruen dan semua anggota kelompoknya, dan untuk mendapatkan kekuatan para Aether dan mengembalikan kejayaan bangsa Elvar.

Photobucket

Advertisements

5 thoughts on ““Langit Malam Falthemnar” oleh Daniel Widya Suryanata

  1. Spt kata c Shienny, aku suka rasa ‘sayang’ antara Valadin n Laruen di sini

    Ada… white lie ya ..
    Ga disangka ternyata Laruen dibantu sm Valadin, trs adegan favoritku… (sama lagi) wkt Laruen mengalahkan ketua daemon itu dgn kekuatannya sendiri :3

    • Aduh maaf baru reply setelah sekian lama. Karena lagi sibuk juga, ehehehe.
      Iya, white lie 🙂

      Thx for reading yah 😀

  2. Sebenarnya sudah pernah komen di FB, tp yah gpp deh XD
    Ada beberapa bagian yang kesannya dipercepat, tp overall ini cerita masa lalu yang bagus.
    Valadin yang berusaha membantu Laruen muda, melihatnya sebagai sahabat yang berharga ^_^

  3. Pingback: Ther Melian fanfiction contest FINALE! « Shienny's Rants

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s