“Rahasia Aelwen” oleh Marmalade

Hari masih pagi saat Vrey mengendap-endap masuk ke kamarnya. Tadi pagi-pagi sekali ia diam-diam keluar-lagi- untuk berburu Nymph di hutan. Nymph adalah makhluk yang tinggal di hutan, bentuknya menyerupai manusia mini dan memiliki sepasang sayap di punggungnya. Vrey berburu Nymph untuk diambil sayapnya yang akan dia jadikan jubah Nymph yang konon mempunyai kekuatan magis yang besar. Ia melakukannya sejak lama. Kejam memang, tapi begitulah  hidup. Kau tidak akan bertahan kalau kau selalu menggunakan perasaanmu. Itulah yang selalu Vrey tanamkan di otaknya.

Vrey sudah mengunci pintu kamarnya saat seseorang dengan tiba-tiba menepuk pundaknya.

Aelwen.

“Astaga, Aelwen! Berhenti mengendap-endap seperti itu. Kamu mau membuatku cepat mati ya?” seru Vrey kesal.

Namun, Aelwen hanya menatapnya tajam, sampai-sampai Vrey merasa kikuk . Aelwen adalah teman sekamar Vrey sejak tiga tahun lalu. Vrey menemukan gadis itu, kehujanan dan kedinginan di dekat kedai Kucing Liar. Vrey mengajaknya pulang dan memberinya makan serta pakaian. Aelwen memohon supaya Vrey dan teman-teman anggota Kucing Liar lainnya-Gill,Rufius, Blaire, Clyde, dan Evan -menerimanya untuk tinggal bersama di kedai. Memang tidak mudah, tapi melihat kemampuan Aelwen dalam mengobati serta ketrampilan dalam mengurus pekerjan rumah, akhirnya Aelwen diterima di kedai itu. Apalagi, sejak kedatangan Aelwen kedai jumlah pengunjung di kedai bertambah banyak, terutama pengunjung laki-laki.

Aelwen menelengkan kepalanya dan menatap Vrey sambil mengerutkan keningnya. “Akhir-akhir ini kau sibuk sekali ya Vrey.”

“Aku…” Vrey bingung harus menjawab apa. Aelwen belum pernah menatapnya seperti itu. Aelwen biasanya selalu lembut dan ramah. Kenapa dia? Pikir Vrey. “Gill memberiku pekerjaan. Dia menyuruhku mencari beberapa tanaman langka di hutan.

Aelwen menghela napas mendengar jawaban Very. “Entahlah, Vrey. Aku merasa kamu membohongiku. Tapi, yah apa pun yang sedang kamu lakukan, kamu harus hati-hati. Kamu nggak tahu apa saja bahaya yang ada di luar sana.“

Vrey mendorong bahu pelan Aelwen sebelum dia selesai bicara. Vrey selalu begitu jika Aelwen sudah mulai pidato bagaimana harus menjaga diri, berhati-hati sepanjang waktu. Vrey bahkan mulai hafal setiap detail kata-katanya. Aelwen memang seperti itu. Ia selalu bilang, harus ada yang mengambil peran ini bila tinggal satu atap dengan mereka. Tapi, menurut Vrey, sikap Aelwen itu sudah mendarah daging dalam dirinya. “Oh, ya. Sebelum aku lupa, nanti siang Gill meminta kita semua berkumpul di kedai. Dia ingin mengumumkan sesuatu.”

Vrey mengangguk sambil duduk bersandar di tempat tidurnya. Rasa lelah baru menyerangnya sekarang. Vrey merasa tulang-tulang di tubuhnya pecah. Mungkin tidur selama beberapa hari baru bisa memulihkan keadaanya.

“Hm, Vrey, ” Aelwen menatapnya ragu, terlihat memikirkan sesuatu. “Kau tidak bertemu diam-diam dengan pemuda dari kota sebelah ‘kan?”

Sekarang giliran Vrey yang menatap Aelwen tajam. “Astaga, Aelwen! Kamu ini kenapa sih? Tadi kamu membuatku kaget setengah mati. Sekarang kamu menuduhku yang bukan-bukan.”

Aelwen hanya mengangkat bahu. “Aku cuma memastikan. Jadi?”

“Tentu saja tidak!” seru Vrey kesal.

Bukannya merasa bersalah, Aelwen malah tertawa geli dan terlihat lega. “Bagus kalau begitu. Akhir-akhir ini keadaan kurang aman.”

***

“Dengar, aku punya pekerjaan baru untuk kalian,”ucap Gill sambil menatap anggota komplotannya satu per satu. Siang itu, mereka semua-Gill, Vrey, Aelwen, Blaire, dan Evan berkumpul di kedai. “Pekerjaan macam apa? Tunggu, mana Rufius dan Clyde?” tanya Vrey. Ia memperhatikan sekelilingnya. Aneh, rasanya aku masih melihat mereka tadi pagi, pikir Vrey.

Gill menatapnya bosandan menaikkan alisnya yang tebal. “Mereka sedang ada pekerjaan lain. Sepertinya aku sudah memberitahu kalian tentang hal itu kemarin. Apa kamu sudah lupa?”

Vrey hanya menggaruk kepalanya dan tersenyum kikuk. Melihat tingkah Vrey itu Gill Cuma bisa menggelengkan kepalanya. “Jadi, semalam aku mendapat tawaran menggiurkan dari salah satu kenalanku. Ada seorang bangsawan yang mendatanginya. Kurasa kalian pernah mendengarnya, ia cukup terkenal. Namanya, Nerinne, istri Tuan Willem.”

Semua menggangguk paham mendengar ucapan Gill barusan. Tuan Willem memang salah satu bangsawan  yang terkenal di Mildryd. Ia juga pedagang yang sukses di kota itu. Sama seperti Vrey, Tuan Willem adalah seorang Vier-Elv. Ia menikahi Nerinne, seorang manusia. Keluarganya dikenal sebagai penjual barang-barang antik yang sulit ditemukan.

“Kenapa orang terkenal seperti dia meminta bantuan kita? Apa itu tidak aneh?” tanya Aelwen.

Gill tersenyum puas. “Pertanyaan bagus, nak. Jadi, Nerinne sedang mencari sebuah benda pusaka milik ayah suaminya, Lourd Moran. Ia salah satu Elvar yang terkenal. Nerinne sudah melakukan berbagai cara untuk menemukan benda pusaka ini tapi belum berhasil. Pencarian ini agak sulit dilakukan karena kabarnya Lourd Moran sudah meninggal beberapa tahun yang lalu, bunuh diri. Ia tinggal di kota Andros. Jadi, kita harus mencuri benda pusaka itu di kediamannya di kota Andros.”

Blaire, Vrey, dan Aelwen terkejut mendengarnya. “Tapi, kota Andros ‘kan cuma bisa menerima laki-laki? Tempatny  juga jauh sekali.  Lagipula, Rufius dan Clyde sedang tidak ada di sini. Kami nggak mungkin bisa masuk ke kota itu dan mencuri benda pusaka yang diminta Nerinne!” seru Blaire.

Gill tersenyum sinis melihat reaksi Blaire. “Blaire, kita nggak akan menjadi komplotan Kucing Liar kalau kita nggak bisa menemukan cara licik untuk mendapatkan apa yang kita mau.”

“Yah,” kata Aelwen. “Kurasa aku tahu apa yang kamu rencanakan Gill.”

Senyum Gill bertambah lebar mendengar ucapan Aelwen barusan. “Tunggu, apa sih maksud kalian berdua?” Tanya Vrey ketus.

“Siapa pun yang akan pergi mengerjakan tugas ini, akan menyamar jadi laki-laki,” jawab Aelwen.

Blaire menggumamkan keluhan sedangkan Vrey cuma bisa membelalakkan matanya. Selama ini, mereka sudah menerima pekerjaan yang berbahaya. Mencuri apa saja mulai dari uang, hewan keramat,  sampai benda-benda pusaka. Tapi mereka belum pernah menerima pekerjaan untuk mencuri sekaligus menyamar. Dasar Gill berengsek! Rutuk Vrey dalam hati. Seenaknya saja dia memberi pekerjaan.

“Nah, untuk itu aku putuskan Vrey dan Aelwen yang akan pergi mencuri benda pusaka ini. “ jelas Gill. Vrey  sudah akan memotong ucapan Gill sebelum Gill menatapnya tajam. “Aku tidak menerima protes. Alasanku memilih Vrey karena dia yang paling bisa diandalkan saat ini. Lalu, alasanku memilih Aelwen karena dia memiliki pengetahuan yang luas dan cerdik. Dia bisa membantumu mencuri benda pusaka ini, Vrey.”

“Memangnya benda pusaka apa yang harus kami curi?” tanya Aelwen.

Gill kembali menatap anggotanya satu per satu sebelum menjawab, “Sebuah clockwork  tua milik keluarga Lourd Moran yang diberikan secara turun temurun. Juga sebuah foto keluarga usang milik keluarga Lourd Moran. Di foto itu tampak Tuan Moran dan Istrinya juga Tuan Willem yang masih bayi.”

 ***

Sudah dua hari berlalu sejak Gill memberitahu Blaire Vrey, dan Aelwen. Siang itu, Blaire sedang membantu Vrey berpakaian . Rencananya Vrey dan Aelwen akan berangkat hari ini dengan menggunakan kapal udara yang sudah disiapkan Nerinne. Salah satu alasan Gill menerima pekerjaan ini, selain bayarannya yang besar, Nerinne juga sudah menyiapkan semuanya. Mulai dari bekal di perjalanan hingga alat transportasi, semua sudah disiapkan Nerinne dengan matang.  Vrey dan Aelwen hanya bertugas mencuri clockwork dan foto itu. “Nah, Vrey. Kau sudah kelihatan gagah. Kurasa kau sudah siap,” ucap Blaire bangga akan hasil karyanya. Vrey memandang dirinya dari bawah hingga ke atas di cermin. Ia meminjam salah satu pakaian Rufius. Memang agak kebesaran, tapi Blaire sudah mengikat bagian pinggang Vrey dengan talinya supaya Vrey lebih mudah bergerak. Rambut Vrey yang biasa diikat ke atas kini diikat biasa membuatnya tampak semakin mirip laki-laki.

“Yah, kurasa aku cukup tampan,” ucap Vrey. Blaire tertawa mendengarnya, mau  tak mau Vrey juga tertawa geli. Namun, tawa mereka mendadak berhenti saat Aelwen masuk ke kamar dan dia juga sudah siap berangkat dengan dandanan barunya. Aelwen menatap Vrey dan Blaire bergantian. “Apa? Apa aku terlihat aneh?” tanya Aelwen. Tiba-tiba ia merasa darah mengalir turun dari wajahnya. Ia mulai berkeringat dingin. Sama seperti Vrey, Aelwen juga meminjam baju Rufius. Hanya saja baju Rufius pas di badan Aelwen.

Blaire yang pertama kali menemukan suaranya. “Tidak, hanya saja kau terlihat sangat…cocok. Seolah kau memang  laki-laki.” Kehilangan kata-kata, Blaire menyikut lengan Vrey. Vrey menoleh bingung. Tiba-tiba ia merasa wajahnya panas. “Apa?” tanya Vrey.

Sebelum Blaire sempat menjawab, Aelwen sudah berdeham untuk memotong pembicaraan mereka. “Sebaiknya kita berangkat sekarang, Vrey. Nerinne sebentar lagi pasti sampai.”

 ***

Tidak sampai sejam kemudian, Nerinne tiba di kedai. Setelah menyiapkan bekal dan peralatan, Vrey, Aelwen, dan Nerinne serta awak kapal pun berangkat menuju kota Andros. Perjalanan ke Andros memerlukan waktu kurang lebih 5 hari dengan kapal udara. Selama di perjalanan, Nerinne banyak bercerita tentang keluarganya. Nerinne bercerita, dulu hubungan Willem dengan orang tuanya-Lourd Moran dan Nyonya Livia-sangat dekat. Lourd Moran dan istrinya adalah pasangan suami istri yang bahagia walaupun pernikahan mereka bisa dibilang ditentang berbagai pihak. Lourd Moran lahir dari keluarga Elvar terpandang di kotanya, tapi Nyonya Livia berasal dari keluarga manusia biasa. Karena tidak mendapat restu dari keluarga maupun kerabat, akhirnya Lourd Moran pergi dari Falthemnar, kota asalnya. Ia juga membawa LIvia bersamanya.

Mereka hidup berpindah-pindah sebelum akhirnya menetap di Mildryd. Berawal dari kesukaan mereka berdua pada benda antik, akhirnya mereka membuka usaha perdagangan barang antik. Tak lama setelah membuka usaha, Livia melahirkan anak pertamanya, Willem. Lourd Moran tadinya ingin mempunyai seorang anak lagi, tapi karena keadaan ekonomi mereka belum memadai, akhirnya mereka memutuskan untuk mempunyai seorang anak saja.

Willem tumbuh menjadi seorang Vier-Elv yang tampan dan pintar. Banyak gadis yang menyukainya. Apalagi usaha keluarga Willem saat itu sudah berkembang pesat. Keluarganya terkenal sebagai pedagang barang antik di seluruh negeri. Namun, seolah mengikuti jejak ayahnya, Willem menikahi Nerinne-yang sama seperti ibuunya-seorang manusia. Meskipun sempat mendapat gunjingan, pernikahan Willem dan Nerinne cukup bahagia. Namun, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Nyonya Livia meninggal karena sakit parah. Tentu saja ini pukulan berat untuk keluarga kecil mereka. Terutama Lourd Moran.

Bahkan beberapa bulan setelah kematian Nyonya Livia, Lourd Moran memutuskan untuk pergi ke kota Andros. Keputusan Lourd Moran ini mendapat protes keras dari Willem dan Nerinne. Tapi hal itu tidak mengurungkan niatnya untuk tetap pergi. Setelah pertengkaran hebat dengan anaknya, Lourd Moran pergi ke Andros. Willem semakin marah kepada ayahnya.

Melihat tingkah suaminya, Nerinne berusaha membujuk Willem untuk berbaikan dengan ayahnya. Hingga beberapa bulan kemudian, mereka mendapat kabar kalau Lourd Moran meninggal. Willem dan Nerinne sangat terkejut. Rasa bersalah menikam Willem. Ia tidak ingin makan atau pun keluar kamar. “Jadi, itu sebabnya Anda berusaha mencari cara untuk menemukan benda pusaka peninggalan Lourd Moran sendirian?”tanya Vrey memotong cerita Nerinne.

Nerinne tersenyum sedih mendengarnya. “Sebenarnya  ada hal yang belum kuceritakan pada kalian. Sebelum aku mencari Gill, aku sempat bermimpi. Dalam mimpi itu aku bertemu dengan ibu mertuaku, Livia. Ibu memintaku untuk mencari ayah. Dia bilang ayah dalam bahaya. Aku tahu itu mustahil, bahwa ayah sudah meninggal. Tapi, entah kenapa aku merasa ibuku benar. Aku harus mencari tahu keberadaan ayah. Kalau pun ayah sudah meninggal, setidaknya aku harus mendapatkan clockwork dan foto itu. Mungkin itu bisa meringankan beban suamiku. Itu satu-satunya harta peninggalan ayah.”

Aelwen tiba-tiba melangkah ke arah Nerinne dan menepuk bahunya pelan. “Tenang saja, Nerinne. Kami pasti akan membantumu menemukannya.” Very hanya bisa menatap mereka dengan perasaan janggal.

 ***

“Kamu yakin ini jalan masuknya, Vrey? tanya Aelwen. Mereka sedang memasuki hutan, jalan masuk menuju kota Andros. Setelah sampai tadi, ternyata mereka tidak langsung tiba di kota Andros. Untuk sampai ke kota itu mereka harus melewati hutan dan sebuah jembatan gantung besar. Pantas saja, aku sudah merasa tidak semudah itu untuk sampai ke kota terkutuk itu, keluh Vrey dalam hatinya.

“Tentu saja aku yakin. Sudahlah, kamu diam saja Aelwen. Sebentar lagi pasti kita sampai,” sahut Vrey kesal. Aelwen menatapnya heran. Baru saja Aelwen ingin menanyakan sesuatu sebelum ia mendengar suara aneh di belakang mereka. Aelwen langsung menghampiri Vrey dan menariknya mendekat. “Kamu dengar itu?”

Vrey mengangguk mantap. Kekesalannya sudah menguap dan kini ia siaga sepenuhnya. Mereka menajamkan indera dan memperhatikan keadaan sekeliling dengan seksama. Tiba-tiba seekor binatang melompat keluar dari semak-semak. Vrey sudah mengeluarkan Aen Glinr dan Aelwen juga sudah mengeluarkan pedangnya. Namun, sebelum bisa menyerang, Hewan itu sudah tumbang ke tanah. Aelwen segera maju untuk memastikan. Hewan itu mirip Shadhavar, hanya saja ia memiliki 3 tanduk berlubang di kepalanya. Jika tidak dalam posisi seperti ini, Vrey pasti sudah tergoda untuk mengambil tanduk hewan itu.

“Hewan ini terluka,”kata Aelwen sambil meraba luka di bagian punggung hewan tersebut. Aelwen segera menangkupkan tangannya di atas luka itu. Perlahan-lahan luka itu menutup. Napas hewan itu pun kembali teratur. “Kenapa kamu menolongnya? Bagaimana kalau nanti kamu kelelahan atau bagaimana kalau setelah pulih hewan ini malah balik menyerang kita?!” seru Vrey.

Aelwen hanya menatapnya bingung. Jujur saja ia menolong hewan tersebut tanpa berpikir. Ia sudah terbiasa menolong orang lain yang terluka. “Aku hanya…” Belum sempat Aelwen menyelesaikan ucapannya, perhatian mereka teralihkan karena hewan itu membuka matanya dan bangun perlahan. Hewan itu menatap Aelwen sejenak seolah mengucapkan terima kasih sebelum menghilang ke dalam hutan. “Lihat ‘kan? Hewan itu nggak menyerang kita. Kamu berlebihan,” ucap Aelwen merasa menang.

Vrey hanya memutar matanya. “Belum saja. Dengar ya, aku yakin untuk menyelesaikan pekerjaan ini nggak akan semudah dan semulus perjalanan kita kemarin. Aku merasa ada sesuatu yang menunggu kita di depan sana.”

 ***

Setelah menerobos hutan semalam suntuk dan beristirahat sebentar pagi harinya, akhirnya mereka menemukan jembatan gantung tempat masuk ke kota Andros. Butuh perjuangan keras melewati jembatan gantung ini karena jembatan itu ternyata sudah sangat lapuk. Salah langkah saja bisa berakibat fatal. Namun, pelajaran yang mereka dapat dengan bergabung di komplotan Kucing Liar membuat Vrey dan Aelwen bisa melewatinya tanpa memerlukan waku yang panjang. Namun, saat sampai di ujung jembatan ternyata mereka sudah ditunggu oleh sesosok Elvar tinggi besar yang sudah kelihatan gatal menendang mereka keluar dari tempat itu.

Vrey Aelwen kembali mengeluarkan senjata mereka. “Siapa kalian?” tanya Aelwen.

Elvar itu tersenyum sinis. “Nah, seharusnya aku yang bertanya begitu pada kalian. Jarang sekali aku mendapat tamu seorang Vier-Elv,” Elvar itu memandang Vrey dengan tatapan jijik. “Dan seorang…Acolyte?” tanyanya sambil melihat Aelwen dengan tatapan menilai.

Vrey sudah ingin menantang Elvar itu sebelum Aelwen menahan tangannya. “Kami datang bukan ingin meladeni omong kosongmu itu. Ada sesuatu yang harus kami lakukan di kota Andros,” kata Aelwen. Elvar itu menaikkan alisnya mendengar ucapan Aelwen. Ia kembali tersenyum sinis sebelum menjawab, “Karena itulah aku di sini. Aku adalah Elvar penjaga tempat ini. Tidak ada seorang pun yang bisa masuk ke Andros tanpa seizinku.

Kini giliran Vrey yang tersenyum sinis. “Oh ya? Mungkin hari ini sejarah itu akan berubah, tua bangka. Minggir sebelum kami terpaksa membuat hidupmu lebih pendek.” Vrey dan Aelwen sudah siap menyerang sebelum Elvar itu sudah ada di depan mereka dan menyerang dengan tenaga penuh. Tiba-tiba saja Vrey dan Aelwen terpental jauh ke belakang. Vrey merasa dirinya seperti dihantam batu besar, ia merasa tulang-tulangnya remuk. Namun, Aelwen bangun dengan cekatan. Ia sudah maju di depan Vrey, siap menyerang Elvar itu lagi tapi tiba-tiba Elvar itu sudah ada di belakangnya dan mencekik leher Aelwen dan melempar pedangnya. Vrey yang melihat hal itu langsung bangun dan maju menyerang sebelum ada yang menerobos semak-semak di pinggir jembatan yang tadi nmereka lewati. Rupanya itu Shadhavar bertanduk tiga yang tadi ditolong Aelwen. Shadhavar itu berdiri di antara Vrey dan si Elvar itu dan  menatap si Elvar lama. “Orin?” Elvar itu menatap Shadhavar bertanduk tiga itu heran sebleum menghampirinya dan mengelus punggung Shadhavar itu.

Ia melihat beka luka yang sudah mulai sembuh di Orin, si Shadhavar, lalu menatap Vrey dan Aelwen bergantian. “Kalian yang menyembuhkan Orin?” tanya Elvar itu.

Aelwen mengangguk ragu-ragu. Elvar itu tiba-tiba menyarungkan pedangnya. Ia tidak lagi menatap Vrey dan Aelwen dengan tatapan sinis. “Terima kasih sudah menyelamatkan Orin, anak muda. Sebelumnya, perkenalkan, aku adalah Hetch, penjaga gerbang kota ini. Ini adalah temanku, Orin. Aku sudah lama menjadi penjaga gerbang  sehingga tidak bisa selalu menjaga Orin. Belakangan ini semakin banyak pemburu liar yang berkeliaran di hutan sekitar sini. Orin sering  kali terluka akibat ulah keji mereka. Aku sudah pasrah karena tidak bisa mengobati luka Orin. Selama ini aku hanya bisa menjaga supaya lukanya tidak bertambah lebar. Terima kasih sekali lagi. Sebagai ucapan terima kasih aku akan membiarkan kalian masuk ke kota. Tapi ingat ini hanya berlaku untuk kali ini saja. Lain kali au tidak akan segan-segan menikmati pertarungan indah seperti tadi.”

***

Rupanya mencari keberadaan benda pusaka itu tidak semudah dugaan mereka. Vrey dan Aelwen sudah menanyakan keberadaan Lourd Moran kepada penduduk sekitar, tapi tampaknya tidak ada yang mengenali ciri-ciri Lourd Moran. Sampai suatu ketika, ada seorang kakek tua yang datang menghampiri mereka berdua dan mengatakan sesuatu tentang Lourd Moran. “Kurasa aku tahu apa yang kalian cari,” bisik kakek tua itu, seolah ia tidak ingin ada orang lain yang mendengar percakapan mereka. “Kalian bisa menemukannya di kediaman Elvar penguasa di sini, Galkhan.“

Vrey dan Aelwen saling menatap heran. Kemarin mereka melewati kediaman Galkhan yang sedang dibicarakan kakek ini. Jaraknya tidak terlalu jauh. Aelwen sudah ingin menanyakan satu hal lagi sebeleum melihat kakek tua itu sudah menghilang, berbaur dengan penduduk yang berlalu lalang di sekitar mereka.

***

“Kau diam di sini. Aku akan memeriksa keadaan di dalam sana,” kata Vrey sambil bersiap-siap menyusup melalui jendela sebuah rumah. Aelwen mengangguk mantap. Ia menunggu di bawah sementara Vrey sudah masuk e dalam rumah. Tak lama kemudian, kepala Vrey menyembul dari jendela dan menyuruh Aelwen masuk. Setelah sampai di dalam, mereka melangkah diam-diam menuju ruangan yang ada di depan mereka.

Vrey membuka kenop pintu perlahan dan…cklek! Ternyata pintu tersebut tidak dikunci. Vrey dan Aelwen langsung melangkah kedalam dan kemudian menutup pintu itu lagi. Di dalam ruangan itu hanya ada sebuah lemari. Menuruti instingnya, Aelwen menyuruh Vrey membantunya menggeser lemari itu. Benar dugaan Aelwen, dibaliknya ada sebuah pintu rahasia. Vrey mencoba membuka pintu itu tapi ternyata terkunci. Very mundur perlahan sebelum mengangkat tangannya, dan membisikkan “Erumptio ! ”

Muncul ledakan kecil dan pintu itu pun terbuka. Very dan Aelwen segera melangkah ke dalam. Mereka sangat terkejut ketika melihat Lourd Moran tak sadarkan diri, disekap di dalam ruangan itu.  “Astaga, Lourd Moran! Apa yang terjadi?” seru Vrey. Vrey dan Aelwen langsung menghampiri Lourd Moran dan membantunya membuka ikatan.

“Wah, wah. Kita kedatangan tamu rupanya. Siapa kalian?”

Vrey dan Aelwen langsung menoleh ke asal suara. Sesaat, Vrey sempat mendengar Aelwen menggumamkan kata ‘Lourd Galkhan’. Ah tidak mungkin Aelwen kenal dengan orang ini, pikir Vrey.

“Wah, Moran. Tak kusangka masih ada yang peduli padamu. Kukira mereka sudah menganggapmu mati.”

“Diam kau, tua bangka! Tega sekali kau berbuat seperti ini!” seru Vrey kesal.

“Nah, itu tindakan konyol, Nak. Tidak ada yang berani membentak Galkhan. Kau tahu?” tanya LOurd Galkhan sinis. Perlahan ia berjalan menghampiri  Vrey sambil menjulurkan tangan kanannya. Tiba-tiba Vrey merasa tubuhnya seperti disengat  listrik. Ia jatuh ke lantai dengan posisi aneh sebelum akhirnya pingsan.

“Hentikan!” seru Aelwen sambil mengayunkan pedangnya ke arah Lourd Galkhan. Tapi Lourd Galkhan berhasil menahan serangan Aelwen dan mencekik Aelwen dengan tangan kanannya. Aelwen berusaha membebaskan diri.

“Aneh,” kata Lourd Galkhan. “Seharusnya hanya keturunan raja yang kebal terhadap serangan listrikku.” Lourd Galkhan memperhatikan wajah Aelwen seraya tersenyum sinis. “Pantas saja rasanya aku pernah melihatmu sebelumnya. Apa yang kau lakukan di sini Pangeran Granville tau perlu kupanggil Leighton?”

Kini giliran Aelwen yang tersenyum sinis. “Tidak ada urusannya denganmu, tua bangka!” Dengan tenaga yang tersisa Aelwen menendang kaki Lourd Galkhan dan langsung menusuk jantungnya. Setelah memastikan Lourd Galkhan sudah meninggal, Aelwen segera menghampiri Vrey, tapi ia  masih pingsan.

Suara rintihan dari arah Lourd Moran membuat Aelwen langsung menhampirinya. “Terima kasih, Pangeran Leighton. Kau sudah menyelamatkan nyawaku.”

Aelwen-Leighton menautkan alisnya mendengar ucapan Lourd Moran tadi. “Bagaimana Anda tahu?” Namun, sebelum sempat menjawab Lourd Moran sudah pingsan ditelan kegelapan.

***

Beberapa hari kemudian…

Aelwen sedang membersihkan kedai ketika rombongan Kucing Liar sudah pulang ke kedai. Vrey. Setelah kejadian Lourd Moran waktu itu, Aelwen dan Vrey belum banyak bicara.  Saat perjalanan Lourd Moran sempat siuman dan menceritakan kejadian sebenarnya. Rupanya selama di Andros, Lourd Moran diculik oleh Lourd Galkhan yang haus akan kekuasaan. Ia menculik Lourd Moran untuk menghisap kekuatannya. Lourd Galkhan juga mengabarkan bahwa Lourd Moran sudah meninggal supaya tidak ada yang curiga dengan hilangnya Lourd Moran.

“Terima kasih, Pangeran Leighton. Tanpa kau dan kekasihmu mungkin aku tidak bisa berjumpa dengan keluargaku,” kata Lourd Moran waktu itu.

Leighton langsung merasa panas mendengarnya. “Vrey bukan kekasihku, Lourd. Belum” kata Leighton sambil tersenyum malu. “Oh ya, maukah Anda merahasiakan identitasku dari yang lain. Kurasa sekarang belum saatnya mereka mengetahuinya. Aku ingin memberitahunya sendiri, “kata Leighton sambil menatap Vrey yang sedang bicara dengan Nerinne jauh di depan mereka.

“Pasti, Pangeran. Tentu saja. Kau sangat menyayanginya, ya?”

Lamunan Aelwen buyar saat seseorang menepuk pundaknya. Vrey. “Gill menyuruh kita ke dalam. Dia bilang ingin membahas pekerjaan baru. Kau mau ikut?” tanya Vrey.

Aelwen menatap Vrey lama sebelum menjawab. “Iya , tentu saja.”

Photobucket

Advertisements

4 thoughts on ““Rahasia Aelwen” oleh Marmalade

  1. Saat Vrey n Blaire mengakui wajah tampan Vrey, mereka smakin ‘melongo’ wkt Aelwen masuk XD

    Untung Aelwen menyembuhkan Orin.. Kalau nggak, entah bgmn mereka masuk..

    Trnyt bnr, Lourd Moran dlm bahaya, n dia diselamatkan Vrey n Aelwen.. untung ada Leighton ~ 😀

    Bukan ikut2an, tapi adegan favoritku juga adegan yg terakhir 😀

  2. Pingback: Ther Melian fanfiction contest FINALE! « Shienny's Rants

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s