“Recall of The Past” oleh Mimosa Hana

Napasnya tersengal-sengal  dan ekspresi wajahnya tampak kepayahan.     Leighton menabrakkan tubuhnya sekali lagi ke arah pintu dan suara benturan yang keras kembali terdengar.  Namun seperti menegakkan benang basah, usahanya sia-sia saja.   Pintu kamar pengasingan itu tetap berdiri kokoh dengan angkuhnya.   Baut-baut logam yang memperkokoh pintu seolah ikut menertawakan dirinya karena tidak ada satupun yang melonggar akibat benturan yang berulang-ulang.

Tenaga pemuda berambut pirang itu kini nyaris habis, tetapi ia tidak ingin berhenti.   Ia harus segera melakukan sesuatu untuk menyelamatkan Vrey dan Rion.    Matanya memandang ke sekeliling untuk mencari alat yang dapat membantunya untuk kabur dari tempat itu.  Ia mengambil sebuah kursi tua yang terletak di sudut ruangan dan mengayunkannya ke arah pintu, menimbulkan bunyi derak yang cukup keras.

“Ayo, buka!  Aku harus keluar dari sini!”  Leighton kembali membenturkan kursi yang sudah tak berbentuk lagi.  Ia melemparkan kayu terakhir ke lantai batu dengan kesal.  Di kamar itu barang yang tersisa hanyalah meja dan dipan kayu yang disangga rantai logam.  Jika ia bisa melepas rantai-rantai tersebut, ia bisa menjadikannya sebagai alat penjebol pintu.  Namun bagaimana caranya melepas rantai-rantai tersebut?

“SIAL!”  Leighton memukulkan tangannya ke tembok.  Ia benci berada di situasi seperti ini.  Ia benci merasa tidak berdaya.  Ia kecewa dengan sikap Sang Raja yang sama sekali tidak menghiraukan suratnya.  Ia juga benci dengan kenyataan bahwa Sang Raja, ayahnya, lebih mementingkan keselamatan  kerajaan dibanding mendengarkan dirinya.

Suara langkah kaki yang datang mendekat membuatnya waspada.  Suara itu begitu ringan dan nyaris tidak terdengar.  Hanya ada satu orang yang memiliki ciri khas seperti itu dan bahkan sebelum Leighton melongokkan kepalanya lewat celah jeruji berbentuk kotak di pintu, pemuda itu sudah mengenali sosok yang mendatanginya.

“Maxen,”  Leighton menggumamkan nama sang kepala pengurus rumah tangga.     Laki-laki berusia lima puluh tahun itu membungkukkan setengah badannya tanda menghormat.

“Saya mendengar bahwa Sang Raja menitahkan kepada prajurit untuk membawa Anda ke tempat ini.  Saya turut menyesalkan adanya kejadian seperti ini, padahal Pangeran Leighton baru saja tiba di istana.”

Leighton menghela napas berat, memaksakan diri tersenyum.  “Apa kabar mengenai aku dikurung sudah menyebar ke seluruh istana?  Jika itu terjadi, aku tidak heran.”

“Saya tidak tahu mengenai itu.  Sebenarnya saya melihat beberapa prajurit membawa Anda pergi setelah mengantar Putri Ashca dan pengawalnya ke ruang tamu.   Saya datang kemari atas keinginan saya sendiri dan juga karena titah sang Raja,” kata Maxen.

Kedua mata Leighton membesar,  “Perintah dari Ayah?”

“Saya diminta untuk memastikan bahwa Anda benar-benar dimasukkan ke tempat ini,”  kata Maxen.  “Sang Raja khawatir Anda akan meloloskan diri dari istana sekali lagi.”

Leighton tertawa sinis.  “Bagaimana mungkin, Maxen?  Aku dibawa ke tempat ini oleh beberapa pengawal yang sudah terlatih.  Mereka tidak akan bersikap bodoh dengan membiarkan aku kabur dari tempat ini.  Ayah tidak akan segan-segan memenggal kepala mereka jika hal itu terjadi.

Maxen terdiam sejenak.  Bibirnya yang tertutupi kumis lebat perlahan terangkat.  Leighton tertegun.   Selama ia tinggal di istana, ia baru satu kali melihat senyum langka kepala pengurus rumah tangga itu.   Pancaran hangat dari wajah Maxen membuat bahu Leighton yang tegang mulai mengendur.

“Saya jadi kembali teringat dengan kejadian sewaktu Anda masih berusia dua belas tahun.  Dulu Anda pernah dikurung di tempat ini, bukan?”

Leighton mengangkat alisnya, lalu tersenyum kecut.  “Ingatanmu benar-benar tajam, Maxen.”

***

Istana Laguna Biru, sebelas tahun yang lalu

Leighton kecil mengarahkan pandangannya ke arah jendela saat sang guru ketatanegaraan, Maxen, menjelaskan materi di depan kelas.  Kelas itu sendiri hanya terdiri dari lima belas anak, empat belas di antaranya adalah anak-anak para bangsawan yang dititipkan untuk dididik di istana.  Ia merasa bosan dan mengantuk.  Nyaris setiap hari jadwalnya padat oleh pelajaran dan latihan  pedang.  Waktu luangnya hanyalah pada saat sela-sela waktu makan.  Bahkan pada malam haripun ia harus membaca bahan pelajaran esok harinya karena sewaktu-waktu guru yang mengajar bisa memberikan ujian mendadak.

Langit biru yang bersih dari awan membuatnya rindu untuk berlarian di bukit yang letaknya agak jauh dari istana.  Beberapa tahun yang lalu ia masih bisa menikmati asyiknya bermain lempar tangkap bola dengan ayahnya dan bergulingan di rumput yang lembut dan harum.  Meskipun bukan suatu kegiatan yang rutin, ia selalu mengantisipasi ajakan ayah dan ibunya berpiknik di dekat Danau Granville, menikmati makan sore sembari menunggu matahari terbenam.   Kegiatan yang sudah mulai ditinggalkan oleh orangtuanya sejak ia mulai memasuki jenjang pendidikan.

Ah, betapa indahnya masa lalu.

Tanpa disadar, sebuah kapur melayang ke arah kepala pirang Leighton.   Eskpresi wajah Leighton yang lugu saat terbangun membuat satu kelas tertawa keras.

“Pangeran, ini bukan saatnya tidur!  Kelas ini baru saja berlangsung sepuluh menit,”  omel Maxen.   “Saya tidak akan segan-segan menghukum Anda.”

“Aku minta maaf,” kedua pipi Leighton bersemu merah.  Ia langsung membenamkan wajahnya ke buku pelajaran untuk menutupi rasa malunya.

“Sebagai hukuman, saya minta Anda untuk menjelaskan di depan kelas mengenai silsilah Kerajaan Granville dari masa ke masa yang baru saja saya terangkan.  Jika ada yang salah, saya akan menambahkan pekerjaan rumah Anda untuk hari ini,” ujar Maxen.

Leighton segera berdiri dan berbicara terbata-bata.  Berkat ingatannya yang sangat kuat, tidak ada satupun yang luput pada penjelasannya sehingga Maxen kemudian menyuruh agar Leighton kembali duduk di tempatnya.   Leighton kembali menekuni buku pelajarannya karena tidak ingin mendapat hukuman kedua.

Saat sesi waktu belajar berakhir, Leighton segera membereskan meja dan  bermaksud kembali ke kamarnya.  Ketika ia baru saja hendak membuka pintu, seseorang menyerukan namanya.

“Pangeran, saya meminta maaf sebelumnya,”  Maxen datang mendekat dan membungkuk di depan Leighton.   Leighton menaikkan kedua alisnya.

“Maxen, tidak perlu seperti itu.  Aku tahu aku salah karena tidak memerhatikan pelajaran di kelas,”  ujar Leighton.  “Aku juga minta maaf.”

Raut wajah Maxen agak berubah.  “Ini bukan mengenai pelajaran di kelas, meskipun saya juga ingin meminta maaf atas kelakuan saya tadi.  Saya ingin menyampaikan bahwa hari ini Sang Raja tidak bisa menemani Anda makan siang.  Beliau baru saja berangkat ke Lavanya untuk urusan kerajaan.”

Leighton menatap Maxen sesaat, kemudian menyunggingkan senyum tipis.  “Baiklah, aku mengerti.  Sebaiknya aku kembali ke kamar sekarang.”

“Apa perlu saya minta pada pelayan untuk membawakan makan siang ke kamar Anda?”  tanya Maxen.  Leighton mengedikkan bahunya.

“Aku tidak terlalu lapar,”  Leighton segera membuka pintu kelas,  “Tapi terima kasih tawarannya.  Bawakan saja ke kamar.”

***

Suara ketukan di pintu membuat Leighton tergugah dari lamunannya.  “Masuk,”  serunya.  Pintu kamarnya terbuka lebar, dua bocah laki-laki yang sebaya dengannya mendorong troli masuk.   Leighton tersenyum saat melihat kedua sahabatnya, Emil dan Edward, memasuki ruangan.

“Hei, kukira yang mengantarkan makan siang pelayan lain,”  Leighton beranjak dari jendela dan berjalan ke arah sofa.   “Ada apa kalian kemari?”

“Kami dengar Sang Raja tidak bisa hadir untuk merayakan ulangtahun Pangeran, jadi kami meminta agar diizinkan mengantarkan makan siang,”  tutur Emil.

“Kami ingin menemani Pangeran hari ini.”

Leighton menggeleng-geleng kepalanya, tersenyum lebar.  “Astaga, kalian tidak perlu datang ke sini hanya untuk menyemangatiku.  Aku sudah terbiasa ditinggal oleh Ayah, jadi aku tidak apa-apa.”

Emil memandang kembarannya, Edward, seolah meminta bantuan pada saudaranya.  Edward angkat bicara.  “Kami datang ke sini bukan untuk itu.  Kami… ingin memberikan sesuatu pada Pangeran sebagai hadiah ulangtahun.”

“Eh, benarkah?  Kalian tidak perlu sejauh i…” belum sempat Leighton meneruskan pembicaraan, Emil dan Edward membuka tudung saji di atas troli.  Tampak sebuah kue kecil berselimut krim coklat  dengan dua belas lilin di atasnya.

“Selamat ulangtahun, Pangeran!”  Edward membawa piring berisi kue itu ke hadapan Leighton, tersenyum riang.  “Maaf kalau kuenya tidak sebesar kue ulangtahun Pangeran tahun lalu!”

“Ini yang terbaik yang bisa kami berikan pada Pangeran,”  tukas Emil.

“Kue ini… untukku?”  Mata Leighton terbuka lebar saat ia menerima piring tersebut.  “Kalian buat sendiri?”

Emil mengusap tengkuknya, pipinya yang bundar merona kemerahan.  “Sebetulnya kami berencana untuk membuat kue yang lebih besar dan lebih bagus dari ini, tapi…”

“…tahun depan kami pasti akan membuat yang lebih baik lagi!”  Edward menggosok hidungnya dengan bangga.  “Berhubung kami sama sekali tidak diperbolehkan memakai bahan-bahan di dapur, kami hanya bisa “meminjam” sedikit untuk membuat ku…”

“Edward!”  Emil buru-buru mencubit lengan kembarannya.  “Jangan disebut.”

“Soal apa?”  Edward berkacak pinggang.  Emil membisikkan sesuatu ke telinganya, wajahnya terlihat ketakutan.  Wajah Edward pun terlihat pucat saat mendengar bisikan kembarannya.  Namun Leighton terlanjur mendengar semuanya.  Sebelah alisnya terangkat.

“Jadi kalian mencuri bahan-bahan dari dapur?” tanyanya dengan nada tajam.  Emil menelan ludah.

“Maafkan kami, Pangeran, kami bermaksud untuk menggantinya dengan uang saku kami,”  Emil menunduk.  “Berhubung kami baru mendapat uang saku minggu depan, kami terpaksa melakukan itu.”

“Pangeran, kami mohon jangan beritahu ibu kami.  Kami janji akan menggantinya,”  sesal Edward.  “Aku juga… aku juga akan memberikan uang saku bulan depan untuk menggantinya dua kali lipat dari apa yang kami ambil.  Karena itu, Pangeran, maafkan kami.”

Leighton menekuk dahinya beberapa lama, tetapi sesaat kemudian ekspresi marah di wajahnya menghilang.  Ia tertawa lebar.  “Astaga, kalian mudah sekali dikelabui!  Kalian kira aku marah?”

Emil mengangkat wajahnya, tercengang.  “Pangeran… Pangeran tidak marah?”

“Tentu saja tidak, bodoh,”  Leighton meletakkan piring tersebut di atas meja, lalu menjitak kepala kedua sahabatnya pelan.  “Untuk apa aku marah setelah mengetahui alasan kalian mencuri bahan-bahan di dapur?  Aku akan memaafkan kalian satu kali ini, tapi aku tidak ingin kejadian ini terulang lagi.  Itu bukan perbuatan baik, kalian tahu?  Bagaimana jika kalian sampai ketahuan oleh ibu kalian?  Aku yakin pantat kalian akan dipukuli habis-habisan.”

Edward membungkuk.  “Maafkan kami, Pangeran, kami janji tidak akan melakukannya lagi.  Hanya sekali ini saja, kami ingin menyenangkan hati Pangeran.”

Leighton memutar bola matanya, lalu tersenyum.  “Baiklah, aku hargai usaha kalian. Ini hadiah terbaik yang pernah aku dapatkan.  Tapi… apa kalian hanya menyiapkan ini sebagai ulangtahunku?”

Emil dan Edward bertatap muka.  Edward kembali mengalihkan pandangannya pada Leighton.  “Sebetulnya… kami ingin mengajak Pangeran piknik bersama kami, jika Pangeran tidak keberatan,”  gumam Edward.  “Tapi sebaiknya tidak perlu, setelah ini Pangeran harus bersiap-siap menghadiri pesta ulangtahun…”

Leighton memutar tubuhnya dan berjalan ke arah jendela.  “Ayahku tidak akan datang pada pesta ulangtahunku.  Jadi aku juga tidak perlu datang.”

“Eh?”  Emil ragu.  “Tapi, Pangeran, seluruh bangsawan dari berbagai pelosok negeri akan dat…”

“Emil, apa kamu sudah lupa?”  Leighton menekan telapak tangannya ke arah kaca jendela.  Ia berbalik menghadap pasangan kembar itu, tersenyum kecut.

“Aku sudah pernah mengatakannya pada kalian, bukan?  Orang yang paling penting bagiku saja tidak datang, kenapa aku harus datang?”

“Ibu Pangeran pasti akan datang, begitu juga dengan keluarga dari pihak Ibu,”  bujuk Edward.  “Karena itu, Pangeran harus…”

“Siapkan keranjang piknik.  Kita pergi keluar dengan lubang rahasia yang pernah kita temukan di belakang istana.  Jangan sampai ada orang lain yang tahu,”  perintah Leighton.  “Aku hanya ingin menghabiskan waktu dengan kalian.  Ini adalah perintah dariku, dan aku harap kalian bersedia menurutinya.”

***

Kamar Tahanan, masa kini

“Saat itu Pangeran memutuskan untuk berpiknik dengan mereka tanpa sepengetahuan orang lain.  Saat persiapan pesta ulangtahun sudah siap, kami para pelayan sibuk mencari Pangeran kemana-mana, bahkan kami sampai mencari Anda sampai ke Menara Albinia.  Namun Pangeran tidak berhasil ditemukan.  Hingga akhirnya ada seorang tukang kayu yang mengabarkan bahwa Pangeran luka parah akibat jatuh dari bukit, kami semua bergegas ke sana.  Emil dan Edward tampak ketakutan sekali saat itu,”  tutur Maxen.  “Mereka khawatir terjadi sesuatu dengan Anda.”

Leighton menggigit bibirnya.  Kedua nama itu tetap masih melekat di benaknya, dan secuil perasaan bersalah mulai tumbuh kembali.  Apa yang mereka lakukan setelah ayahnya memutuskan untuk mengusir Emil dan Edward karena dianggap mencelakakan dirinya?

“Saya yakin Anda pasti masih khawatir dengan keadaan Emil dan Edward, karena itu saya berusaha mencari informasi tentang mereka,”  Maxen melanjutkan ceritanya, seolah membaca pikiran Leighton.

Leighton mendekati celah jeruji kotak di pintu. “Mereka baik-baik saja?”  cecar Leighton.  “Ada di mana mereka sekarang?”

“Tenang saja, Pangeran, mereka baik-baik saja,”  ujar Maxen.  “Berdasarkan informasi yang saya terima, mereka berdua membuka toko kelontong di suatu tempat yang jauh.  Kehidupan keduanya jauh lebih baik dari sekarang.”

“Oh, syukurlah,”  Leighton mengembuskan napas lega.  “Syukurlah mereka baik-baik saja.  Syukurlah.”

Maxen menghela napas.  “Pangeran, ada yang perlu saya bicarakan mengenai hal ini.  Apa Anda tahu kenapa saya memutuskan untuk berbicara masa lalu?”

Leighton mengerutkan alisnya.  Sikapnya langsung berubah menjadi waspada.  “Apa ini ada kaitannya dengan Ayah?”

“Tepat sekali,”  ujar Maxen.  “Sebagai guru Anda dan kepala pengurus rumah tangga Kerajaan Granville, saya ingin mengingatkan Anda bahwa Anda hanya mempunyai kesempatan satu kali kembali ke istana ini.  Saya rasa Anda sudah tahu kenapa Anda ditahan di sini, bukan begitu, Pangeran?”

Leighton mengepalkan tangannya begitu erat hingga kuku-kukunya menghunjam kulit.  Emosi kembali menguasai pikirannya.  Kata-kata yang mengalir dari mulutnya begitu dingin dan lirih.  “Aku sudah lama membuang identitasku sebagai pangeran, Maxen.  Aku tidak akan pernah kembali ke kerajaan ini.  Aku sudah muak dengan segalanya.”

“Anda adalah calon putra mahkota, Pangeran.  Sang Raja pun menginginkan Anda tetap di sini untuk menjadi penerusnya.  Saya mohon agar Anda memikirkan hal ini baik-baik dan dengan kepala dingin,”  kata Maxen.   Leighton menggelengkan kepalanya.

“Maxen, aku mencintai ayahku.  Meskipun beliau sibuk, selalu bersikap keras dan teguh pendirian, aku tetap menyayangi dan menghormatinya.  Alasan kenapa Ayah mengurungku di sini belasan tahun yang lalu adalah agar aku belajar untuk bersikap disiplin dan bertingkah laku selayaknya keluarga kerajaan.  Aku mengerti  sikap keras yang ditunjukkan Ayah, beliau hanya berusaha mendidikku dengan caranya sendiri,”  Leighton menatap nanar,  “Tapi kali ini berbeda.  Aku tidak akan menjadi calon putra mahkota sesuai keinginan Ayah karena aku sudah punya tujuanku sendiri.  Aku… semenjak aku melarikan diri tiga tahun yang lalu, aku menemukan apa yang sesungguhnya ingin aku lakukan.  Aku ingin berjuang untuk masa depanku sendiri.  Karena itulah, Maxen, aku harus menyelamatkan teman-temanku.  Itu pilihanku.”

Keheningan tercipta.  Kedua mata Leighton terasa perih dan berair saat menatap Maxen tanpa berkedip, tetapi ia harus bertahan.  Ia harus bisa bertahan.

Tatapan tajam Maxen melembut seketika.  Laki-laki paruh baya itu tertawa kecil.  “Baiklah, akan saya sampaikan hal ini pada Sang Raja.  Saya pamit dahulu, Pangeran.”

Maxen membalikkan tubuhnya dan berjalan menuruni tangga.  Leighton memegang celah jeruji kotak di pintu agar bisa melihat kepergian Maxen.  “Maxen, tolong sampaikan maafku pada Ayah.  Aku pasti akan bisa meloloskan diri dari sini dan tidak akan kembali untuk sementara waktu.”

Laki-laki itu menghentikan langkahnya sesaat, lalu memalingkan wajahnya.  Senyum langka Maxen tersungging untuk kedua kalinya di bibir.  “Anda memang putra dari Sang Raja, Pangeran, sama-sama teguh pendirian.  Saya yakin jauh di lubuk hatinya Sang Raja menghargai keteguhan hati Anda.  Semoga Anda berhasil, Pangeran.”

***

Malam itu langit pekat.  Leighton berjalan mondar-mandir di dalam kamar dengan gelisah.  Setelah Maxen pergi, ia sempat melihat Putri Ashca, Desna, dan Maxen berjalan ke sebuah gazebo di taman depan istana beberapa jam yang lalu.   Selama beberapa saat berteriak-teriak seperti orang gila, berharap bahwa setidaknya Desna dapat mendengarnya.  Namun tiada hasil.  Tidak sekalipun Desna memberikan petunjuk bahwa ia mendengarkan suara Leighton.  Akhirnya Putri Ashca dan Desna beranjak dari gazebo.  Mereka meninggalkan taman dan menuju dermaga, mungkin untuk kembali ke Kota Laguna Biru atau bahkan naik kapal udara dan kembali ke Lavanya.

Tenggorokannya masih terasa sakit dan suaranya nyaris habis.  Leighton merasa putus asa karena harapan satu-satunya sudah pergi.  Ia kembali memejamkan matanya, membayangkan bahwa saat ini Vrey dan Rion akan dihukum mati dan tidak ada yang bisa mencegahnya dari itu.

Leighton duduk di atas lantai batu, membiarkan dirinya diselimuti kegelapan, hingga tiba-tiba ia mendengar suara ketukan di jeruji.  Desna berada di ambang jendela.

“Desna?!”   Leighton terlonjak berdiri.  “Apa yang kamu lakukan di sini?  Apa Putri Ashca masih di Istana?  Astaga, aku tidak menyangka aku bisa sesenang ini bertemu denganmu!”

“Satu persatu bertanyanya!”jawab Desna.  “Putri Ashca curiga karena kamu tidak menemuinya lagi setelah masuk ke balairung Raja.  Dia membuat alasan agar bisa tinggal lebih lama di sini.  Untung saja kamu berteriak-teriak seperti monyet tadi.”

“Jadi kamu mendengarku tadi siang?”  tanya Leighton lega.

“Tentu saja!  Kamu pikir aku tuli?  Suaramu berisik sekali.  Aku heran kenapa tidak ada yang bisa mendengarnya,”  jawab Desna galak.

Leighton tidak memedulikan kekasaran Desna.  Ia begitu senang melihat Desna di depan jendela kamarnya sampai ia tidak memedulikan lagi situasi yang terjadi.

“Apa kamu bisa membantuku keluar dari sini?”  tanya Leighton.  “Aku akan menjelaskan apa yang terjadi begitu kita bisa pergi meninggalkan Istana.”

Desna mengamat-amati jeruji besi yang menutupi jendela kamar pengasingan.  “Aku bisa menggunakan cairan es milik Putri Ashca untuk menghancurkannya,”  katanya.  “Mundur sedikit.”

Leighton melangkah mundur, sementara Desna menuangkan isi tabung ke jeruji jendela.  Cairan bening berasap tumpah ke atas jeruji, dalam sekejap jeruji itu membeku.  Setelah beberapa saat Desna menghunus belati kembarnya, menggunakan gagang kedua belatinya untuk menghantam jeruji beku dan memecahkannya dengan mudah, nyaris tanpa suara.

“Ikuti aku,” kata Desna sebelum menghilang dari depan jeruji.

“Perlahan-lahan Leighton memanjat keluar dari jendela dan merambat turun dari dinding menara.  Dia terus mengikuti Desna memanjat melalui tepian beranda-beranda istana, menyelinap di antara kegelapan malam hingga akhirnya tiba di paviliun tamu.

Putri Ashca sudah menunggu, dia terlihat lega saat melihat Leighton dan Desna.  “Syukurlah kalian selamat!  Sudah aku duga pasti ada sesuatu yang terjadi,”  katanya.

Tapi sebelum Putri Ashca sempat bertanya lebih lanjut, Leighton segera memotongnya.  “Kita harus segera meninggalkan istana,”  katanya.  “Aku benar-benar minta maaf atas hal ini, akan aku jelaskan di perjalanan nanti.  Kita harus segera pergi sekarang.”

Putri Ashca awalnya terlihat bingung, tetapi ia menuruti keinginan Leighton.  “Baiklah,”  katanya,  “Desna, minta pelayan di depan paviliun untuk menyediakan kereta, katakan padanya kita harus kembali ke Kamala untuk mengurus sesuatu.”

Desna memutar bola matanya ke atas.  “Walaupun di dalam kereta kerajaan, mustahil menyelundupkan Pangeran Leighton agar bisa keluar dari tempat ini.  Ada prajurit di mana-mana.  Bagaimana caranya bisa keluar tanpa disadari?”

“Itu bukan masalah,”  kata Leighton.  Dia membuka pintu ruang penyimpanan yang ada di bagian belakang paviliun dan memilih beberapa pakaian dengan cepat.  Di dalam setiap paviliun memang terdapat ruang penyimpanan yang diisi oleh pakaian. Leighton membawa salah satu pakain tersebut dan membawanya ke balik partisi.

“Biar aku yang mengurus hal itu,”  kata Leighton dari balik partisi.  “Apa kamu bisa mengurus sesegera mungkin keretanya?  Kita harus keluar dari istana, malam sudah semakin larut.”

“Aku akan lebih senang kalau kamu mau menceritakan rencana…” ucapan Desna terpotong ketika melihat Leighton keluar dari balik partisi dan menuju cermin besar yang ada di ujung ruangan.

Keheningan memenuhi paviliun saat Leighton membuka kepangannya dan menata rambut layaknya perempuan.  Ia menoleh dan mendapati baik Putri Ashca dan Desna menatapnya tanpa berkedip dengan mulut ternganga lebar-lebar.

Desna akhirnya bisa mengatasi rasa terkejutnya.  Ia mengerjap seakan mengusir halusinasi.  “Apa yang kamu pakai itu?”

“Seragam untuk pelayan wanita,”  jawab Leighto  sekenanya.  “Mereka menyediakan beberapa setel di setiap paviliun tamu untuk dikenakan pelayan yang mungkin dibawa tamu kerajaan.”

“Aku tahu itu pakaian apa,”  jawab Desna gusar.  “Yang kutanyakan, KENAPA kamu memakai itu?”

Leighton menyeringai puas sambil berputar untuk membuat roknya berkibar.  “Inilah caraku melarikan diri dari istana tiga tahun yang lalu.  Aku berjalan keluar dari gerbang Laguna Biru tepat di depan hidung para penjaga,”  jawabnya.  “Dengan pakaian ini, tidak ada yang bisa mengenaliku.  Bahkan kalaupun aku berparade di depan ayahku sekalipun, aku ragu beliau akan mengenaliku.”

Putri Ashca masih menatap Leighton tanpa berkedip.  “Aku juga sependapat denganmu,”  katanya.

Desna pura-pura terbatuk.  “Memang… dengan pakaian itu, tidak seorang pun yang akan melirik dua kali padanya.”  Setelah terdiam sejenak, dia melanjutkan,  “Tentu saja mengesampingkan beberapa orang dengan selera keindahan yang tidak bercela, atau… aneh.”

Leighton memelototi Desna dengan gemas.  “Bagaimana kalau kamu segera mengurus kereta kita?  Kita harus pergi dari sini secepatnya!”

“Benar,”  Desna segera beranjak keluar dari paviliun.  Tak lama kemudian, kereta sudah disiapkan.  Leighton bersembunyi di balik bayang-bayang sebelum mendapatkan tanda dari Putri Ashca bahwa keadaan sudah aman dan ia bisa segera naik ke dalam kereta.

Malam semakin larut.  Putri Ashca dan Desna bercakap-cakap dengan suara lirih saat kereja melaju kencang, meninggalkan Laguna Biru.  Leighton mengarahkan tatapannya keluar jendela.  Bulan sabit bersinar terang di luar, menyelimuti segala yang ada di kota itu.  Kini ia akan pergi meninggalkan tempat kelahirannya.  Mungkin untuk selamanya.  Leighton menutup matanya, menarik napas perlahan, dan membuangnya dalam desisan pelan.  Percakapannya dengan Maxen kembali terngiang di telinganya.

“Anda memang putra dari Sang Raja, Pangeran, sama-sama teguh pendirian.  Saya yakin jauh di  lubuk hatinya Sang Raja menghargai keteguhan hati Anda.  Semoga Anda berhasil, Pangeran.”

Leighton membulatkan tekadnya.  Ayah, akan aku buktikan bahwa aku bisa menempuh jalan hidupku.  Meskipun saat ini kita bertentangan, aku tidak akan menyerah begitu saja.  Akan aku buktikan bahwa keteguhan hati ini, yang aku dapatkan darimu, dapat mengubah takdirku.  Aku akan tetap mencintaimu, Ayah.

Photobucket

Advertisements

4 thoughts on ““Recall of The Past” oleh Mimosa Hana

  1. Leighton ingat2 kembali pada masa lalunya..
    Aku suka persahabatan antara Leighton dgn Emil dan Edward, meskipun skg dia hrs berpisah dr mereka krn dulu Leighton terluka saat kabur dgn mereka..

    Sifat Leighton memang spt itu dr dulunya, hehe :3

    Ah, fanfic yg manis ❤

  2. Pingback: Ther Melian fanfiction contest FINALE! « Shienny's Rants

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s