“Sang Shazin” oleh Andry Chang

Sang Shazin oleh Andry Chang

klik untuk memperbesar

Namaku Karth. Aku adalah anggota Shazin, sebuah klan pembunuh gelap yang juga adalah pasukan elit di Legiun Falthemnar.

Walau menjadi Shazin bukan pekerjaan terhormat, aku terus menjalaninya bertahun-tahun penuh pengabdian. Prinsipku, siapapun yang terbukti adalah sumber masalah atau bahaya di Negeri Elvar harus dilenyapkan.

Jadi di sinilah aku, berkelebat nyaris tanpa suara, searah dan seiring hembusan angin. Melompati pohon demi pohon seperti kera, kadang berayun di akar-akar rambat yang bergelantungan. Sosokku yang tinggi, ramping dan cukup berotot membuat gerakanku lebih lincah dan lentur. Rambut kelabuku yang panjang berikat berkibar bagai ekor rubah.

Di Hutan Telssier ini, tiap batang dan daun pepohonan, semak-belukar, tiap ceruk tanah, aliran air dan pergerakan udara kumanfaatkan agar selalu tersamar tiap saat. Walhasil, makhluk manapun akan sulit mengenali sosokku, mendengar gemersik gerakku, bahkan bau tubuhku.

Tak terkecuali sasaranku kali ini, seorang pria parobaya yang berdiri seorang diri di tepi telaga. Ia berkumis tebal, mengenakan bandana, sepasang anting besar dan rompi bersulam. Matanya tampak berkaca-kaca, sepenuhnya tertuju pada sebuah pusara tak jauh dari batas air.

Saat berikutnya, terdengar suara lembut pria manusia itu. “Ayah datang lagi, Lyra. Tak terasa, sudah bertahun-tahun sejak kau beristirahat selama-lamanya…”

Sang ayah tak mampu lagi menahan air matanya yang membuncah.

“Ya, Lyra, selama itu pula waktu serasa terhenti. Ayah tahu, ayah harus merelakanmu, seperti halnya ibumu saat penyakit merenggutnya. Saat ternyata kau menyusul ibumu, hati ayah hancur luluh. Bahkan suamimupun hilang tak tentu rimba.

Kini ayah sudah lelah, Lyra. Lelah. Ayah tak tahan lagi hidup tanpa keluarga tercinta. Katakanlah, Lyra, ayah harus bagaimana?”

“Mudah saja. Jangan bergerak dan sambutlah kematianmu, Olaf.” Kata-kata itu meluncur dari bibirku sederas tubuhku yang terjun dari pohon terdekat. Belatiku terayun, siap mengiris leher calon korbanku itu.

Tak kusangka, Olaf malah membenturkan kepalanya pada kepalaku persis di belakangnya. Kakiku tersurut mundur dua langkah, kepalaku pening bukan kepalang.

Olaf menghunus sebilah pedang pendek dan berseru, “Jadi kau ingin mengantarku ke akhirat? Hmm, setahuku aku tak punya musuh.”

“Kau punya, Olaf,” jawabku tenang. “Jangan tanyakan siapa, karena aku takkan mengatakannya.”

“Tak masalah,” tanggap Olaf sambil menepuk dada. “Ambil nyawaku, kalau bisa.” Pria kekar itu maju sambil menyabet-nyabetkan pedangnya.

Dengan lincah aku berkelit ke samping, sepenuhnya menghindari terjangan. Tiba-tiba Olaf memutar tubuh sambil bertumpu pada satu kaki, sabetan pedang deras menerpa ke arah tubuhku.

Aku bereaksi dengan mundur menghindar. Sebagian daya sabetan ditahan baju kulitku, sebagian menggores dadaku.

Baik, saatnya main keras. Kuhunus senjata andalanku, pedang berbilah tipis yang membelit pinggangku bagai sabuk. Pedang lembut ini lantas kugerakkan meliuk-liuk bagai ular. Olaf berusaha menangkis, namun lebih banyak ujung pedangku mematuki tubuhnya daripada yang berdenting di bilah pedang si gipsi.

Mulai putus asa, Olaf dengan nekad mengulurkan tangannya, menangkap bilah pedang lembut.

“Bodoh, kaukira semudah itu merebut senjataku?” Kuhentakkan tanganku, kutarik pedang sekuat tenaga. Tanpa disadari lawan, pedang lembut tiba-tiba terulur makin panjang. Bilah-bilahnya terbagi-bagi, setiap bagiannya tersambung dengan semacam benang.

“Waktunya kau mati.” Secepat kilat aku bergerak memutar, membelitkan bilah pedang cambuk ke sekujur leher Olaf. Terkesiap, Olaf berusaha melepaskan pegangan pada bilah pedang, namun terlambat. Wajah tegangnya mengendur, berganti senyuman damai.

“Lyra, ayah menyusulmu.” Itulah kata-kata terakhir Olaf saat kepalanya terpisah dari tubuh dan sosoknya roboh tepat di atas pusara.

Dengan langkah santai kuhampiri jenazah korbanku. “Kau sungguh tangguh, Olaf. Semoga rohmu tenang, berkumpul lagi bersama anak-istrimu di alam baka.”

Ya, tugasku tuntas. Namun ada dua hal mengganggu benakku. Nampaknya sasaranku ini hanya seorang gipsi, penghibur keliling yang tak berbahaya. Bukan pemburu, penjahat atau ancaman berarti bagi Negeri Elvar. Mengapa ia harus dilenyapkan? Bila ada kesempatan nanti, aku akan mencaritahu jawabannya sendiri.

Lagipula, rasanya aku pernah mendengar nama “Lyra” sebelumnya.

Kakiku melangkah amat cepat, membawa tubuhku menjauh dari tempat kejadian.

==oOo==

Dari semua tempat di Ther Melian, tak ada yang lebih kukagumi sekaligus kubenci daripada Ibukota Negeri Elvar, Falthemnar.

Sebabnya, seorang Shazin sepertiku tak dapat melenggang tenang menyusuri jalan. Biasanya, aku cukup mengenakan jubah bertudung saja. Namun, kantung berdarah hasil kerjaku ini membuatku terpaksa melompat dari atap ke atap rumah dan gedung, menghindari tatapan curiga para Elvar lain.

Tibalah aku di sebuah gang sempit. Kuhampiri sosok bertudung putih yang sedang berdiri berpangku tangan di sana. “Salam, Leidz Clarissa. Tugas telah tuntas,” ujarku sambil membungkuk tanda hormat.

Serta-merta kusodorkan kantung berdarah itu ke hadapan si wanita. Clarissa tak menyentuh kantung itu. Ia hanya melihat isinya dan mengangguk.

“Kerja bagus seperti biasa, Karth,” ujar Clarissa sambil menyerahkan sebuah kantung kecil padaku. Kuterima kantung itu, melirik isinya dan mengangguk.

“Terima kasih,” kataku. “Bila tak ada perintah lagi, Leidz, sebaiknya aku segera kembali pada pasukanku…”

Clarissa menyela,” Ada satu tugas lagi untukmu.”

“Siapa yang harus kulenyapkan?”

“Kali ini kau hanya perlu mencari seseorang, bukan melenyapkannya.”

Kujawab, “Maafkan aku, Leidz. Bukankah sebaiknya Elvar lain saja yang…”

“Tidak. Harus kau.” papar Clarissa. “Saat ini, hanya kau yang kupercaya. Lagipula, aku akan ikut denganmu.”

Aku terperangah, “Tapi Leidz…”

“Tak apa, Karth. Tentunya kau senang bila sekali-kali bekerja terang-terangan, bukan?”

Menegaskan maksudnya, Clarissa membuka tudungnya. Tampak olehku seraut wajah cantik bermahkotakan rambut hijau berombak, panjang sepinggang. Tatapan mata hijaunya menyiratkan kekuasaan, kekuatan kehendak yang pantang dibantah oleh siapapun, termasuk aku. Ya, aku hanya bisa terpana.

Clarissa melanjutkan. “Orang yang kita cari ini adalah Lourd Reuven.”

Nama itu tak membuatku terkejut. Lourd Reuven, mantan perwira Legiun Falthemnar, salah seorang Rahval terbaik di kalangan Elvar. Setahuku, puluhan tahun yang lalu, ia dan Leidz Clarissa pernah cukup dekat. Clarissa sering meminta bantuan Reuven menggubah lagu-lagu ritual penyembahan pada para Aether. Hanya lagu-lagu gubahan Reuvenlah yang bisa Clarissa nyanyikan dengan penjiwaan sempurna, jadi bisa kupahami alasan Sang Vestal mencari Rahval itu sekarang.

“Baiklah, Leidz. Tugas kulaksanakan,” ujarku akhirnya.

Clarissa mengangguk. “Bagus. Coba kau cari informasi tentang keberadaan Reuven, lalu laporkan hasilnya padaku,” ujarnya sambil berbalik pergi.

“Daulat, Leidz.”

Masih dengan kantung berdarah di tangan, aku melesat pergi dari tempat pertemuan. Aku tahu, kini aku harus melenyapkan barang bukti buah tanganku ini. Apa mau dikata, waktu istirahat tak kunjung tiba.

==oOo==

Di bawah pancaran matahari senja, aku tiba di depan rumah seorang Elvar. Tanpa sadar aku tersenyum. Perpaduan dinding putih berpahat dan rumpun-sulur tanaman yang melingkupinya tak pelak menimbulkan rasa sejuk nan teduh dalam diriku. Tanganku terulur, mengetuk lembut pintu depan.

Suara seorang pria menyambut dari dalam rumah, “Siapa di sana?”

“Ini aku, Karth, ‘ia yang berjalan dalam bayangan’,” jawabku.

Pintu rumah terbuka. Sesosok Elvar pria berambut pirang sebahu dan mengenakan kemeja putih panjang selutut muncul di ambang pintu. Tak salah lagi, wajah rupawan dan sorot mata biru yang lembut dan bersahabat itu milik Valadin.

Kedua tangan si tuan rumah menepuk bahuku. “Karth, sungguh kejutan yang menyenangkan! Angin apa yang membawamu jauh dari Telssier Citadel ke kediamanku ini?”

“Angin pekerjaan, Lourd Valadin.” Kuatur nada bicaraku agar tak terlalu formal. “Tenang saja, aku hanya ingin menanyakan suatu hal penting pada anda.”

Sang Eldynn, Ksatria Suci dan Perwira Legiun Falthemnar itu menatapku sejenak, lalu mundur dari pintu. “Hm, kita bicarakan di dalam saja.” Benar, Valadin adalah sahabatku, namun pekerjaan mencegahku terlalu akrab dengan siapapun.

Tak lama kemudian, aku dan Valadin duduk berhadap-hadapan di ruang tamu.

Valadin membuka pembicaraan. “Nah, apa yang bisa kubantu?”

Tanpa basa-basi, kuberitahu dia tentang tugasku mencari Lourd Reuven. Sebagai sahabatnya, kemungkinan Valadin punya petunjuk tentang keberadaannya.

“Reuven, ya.” Ekspresi Valadin tiba-tiba berubah. Dahinya berkerut, seakan tengah mencicipi buah yang masam. “Kurasa aku tahu siapa penugasmu itu. Selain aku, ada satu orang lagi yang berharap Reuven tak pernah meninggalkan Negeri Elvar. Tapi tenang saja, aku takkan menyebut namanya. Justru aku akan memberi kalian petunjuk.”

“Apakah itu?”

“Menurutku, Reuven ada di Benua Ther Melian, entah ia masih hidup atau sudah tiada. Dan tempat terbaik untuk mencarinya adalah di hutan lebat.”

“Hutan lebat?” Dahiku mengerut. “Kurasa bukan Hutan Telssier atau di wilayah Elvar, karena Elvar manapun takkan terlalu sulit menemukannya.”

“Tepat sekali,” ujar Valadin, senyumnya makin cerah. “Jadi sekarang kau tahu tempat untuk memulai tugasmu.”

“Ya, terima kasih atas petunjuk anda, Lourd Valadin.”

Saat aku hendak bangkit dan minta diri, Sang Eldynn menyela, “Tunggu, Karth. Sebagai ganti bantuan tadi, aku ingin menawarkan sesuatu padamu.”

“Apakah itu, Lourd?” Aku duduk kembali.

Valadin menatap lurus mataku. “Dengar, Karth. Kita sudah bersahabat cukup lama, bukan? Pertanyaannya, bisakah kau kupercaya?”

Kutatap balik dia. “Tentu, Lourd Valadin. Anda bisa mempercayaiku.”

“Baiklah. Aku akan mengungkapkan sebuah rencana besar padamu.” Saat mengatakannya, sorot mata Valadin bagai api yang berkobar-kobar.

Aku terpana. Firasatku, ini akan lebih besar dari dugaanku yang tergila.

==oOo==

Dengan sangat hati-hati Clarissa melangkah melintasi tanah lembab, becek dan berlumpur di Mumtaz, desa yang terletak di sisi Barat Daya Hutan Kabut di wilayah Kerajaan Lavanya, di Jazirah Timur Benua Ther Melian.

“Kau yakin kita harus ke desa ini, Karth?” Sang Vestal melihat pemandangan sekitarnya dan mengerutkan dahi.

“Aku hanya mengikuti petunjuk Lourd Valadin, Leidz,” ujarku santai. “Selain Telssier, hutan paling lebat di Ther Melian adalah Hutan Kabut. Hanya di desa inilah kita bisa menyewa pemandu terbaik agar tak tersesat di hutan itu.”

Clarissa diam seribu bahasa. Beberapa saat kemudian, aku memasuki kedai minum satu-satunya di desa. Sementara Elvar wanita itu memilih berdiri saja di luar.

Tak sampai setengah jam, aku keluar bersama seorang pria. Melihat pria berkulit gelap, berjanggut kasar, kotor dan mengenakan baju kulit rusa itu, Clarissa langsung melabrak, “Karth, bunuh orang ini! Pemburu laknat! Beraninya kau muncul di hadapanku!”

Bukan bertindak, aku hanya bicara, “Leidz Clarissa, tenanglah. Ini teman lamaku, Deevgan. Dia memang seorang pemburu, tapi hanya dialah yang bisa kita andalkan. Deevgan mengenal Hutan Kabut seperti anaknya sendiri.”

Clarissa protes, “Kau berani menentang perintahku dan bergaul dengan perusak alam, Karth? Bunuh dia sekarang juga, atau…”

“… Atau kau akan memaksaku melanggar sumpah sebagai Shazin?” ancamku. Tanganku menggenggam gagang belati, siap menghabisi Elvar angkuh itu.

“Hmph, baik, kutarik perintahku,” ujar Clarissa akhirnya. “Tapi aku akan membuat perhitungan denganmu setelah ini semua selesai.”

Terserah. Aku tak peduli. Bagaimanapun caranya, walau harus mengendurkan prinsipku sendiri, tugas harus dituntaskan.

“Kita bicara di tempat lain saja,” ujar Deevgan sambil pasang wajah masam. “Mari, Leidz yang terhormat.”

==oOo==

Setelah kekusutan paham terurai, aku, Clarissa dan Deevgan kini menyusuri hamparan pepohonan di Hutan Kabut.

Mencari Reuven di tempat seperti ini jelas bagai mencari jarum dalam tumpukan jerami. Kabut tipis yang menggantung di udara sepanjang hari mempersempit jarak pandang. Jadi Deevgan mengandalkan indera peraba, penciuman dan pendengaran serta pengetahuannya untuk menentukan arah.

“Lihat lumut itu,” ujar Deevgan sambil meraba batang pohon. “Kurasa kita sudah dekat Sungai Kaligo.”

Aku terkesiap. Tak terasa sudah lebih dari tiga hari kami menjelajah. Bahkan Leidz Clarissa yang cerewetpun tampak lesu.

Terpaksa aku lagi yang mengambil keputusan. “Kita keluar sejenak dari hutan. Siapa tahu di sana ada lebih banyak pohon buah-buahan untuk menambah perbekalan.”

Clarissa hanya mengangguk lemah.

Setibanya di tepi Sungai Kaligo, kami bertiga terus berjalan ke arah Timur Laut. Setengah hari lewat, mataku tertumbuk pada sebuah rumah di kejauhan.

“Nah, selamat datang di rumahku,” ujar Deevgan tiba-tiba. Melihat mata Clarissa yang melebar, tak dapat kusembunyikan senyum puasku.

“Hmph, rupanya kau juga sudah tahu sejak awal,” rutuk Elvar wanita itu.

Saat istri dan putri semata wayang Deevgan menyambut si pemburu dengan penuh mesra, ekspresi Clarissa berubah. Asumsiku, nampaknya ia menginginkan menjadi istri dan ibu, merasakan kasih sayang keluarga.

“Mari, masuklah,” ujar Deevgan ramah. “Anggap saja rumah sendiri.”

Aku dan Clarissa melangkah masuk, sementara Deevgan sibuk melepas rindu.

Tiba-tiba, Clarissa tampak bagai tersambar petir. Kulayangkan pandang ke sumber kejutan, dan baru kusadari aku telah bertindak ceroboh.

Di dinding kayu rumah si pemburu tergantung kepala-kepala pelbagai jenis hewan yang pernah diburunya. Rusa, babi hutan, harimau, bahkan salah satu satwa yang dianggap suci di Ther Melian. Itulah rusa bertanduk tunggal, Shadhavar.

Sebelum aku sempat mencegah, Sang Vestal yang ternyata cukup lincah terlanjur melesat keluar rumah. Kususul dia, namun terlambat. Clarissa tampak berdiri di kejauhan, belatinya menempel di leher putri Deevgan.

“Priya!” Istri Deevgan berteriak histeris.

“Oh, nama yang bagus!” sindir Clarissa. “Sayang, itu tak bisa menutupi dosa-dosa ayahmu!”

“Leidz Clarissa! Kita masih bisa bicarakan ini!” seruku. “Ingat, ini bukan wilayah Elvar. Mustahil pemburu seperti Deevgan tahu tentang larangan membunuh Shadhavar!”

Clarissa membentak, “Pembunuh Shadhavar harus membayar dengan nyawa. Entah dirinya sendiri, atau orang yang ia sayangi. Itu aturan mutlak!”

Bahkan sang ayah mengiba. “Kumohon, lepaskanlah anakku! Aku bersumpah takkan memburu Shadhavar lagi seumur hidup!”

“Enak saja, takkan kubiarkan pemburu melenggang tanpa hukuman!” bentak Clarissa. “Karth, bunuh Deevgan!” Jelas, alasan apapun takkan bisa menggoyahkannya.

Aku terpaku sesaat dalam keraguan, dalam kondisi serba-salah ini. Saat berikutnya, kutemukan diriku berhadap-hadapan dengan lawanku, yaitu… Deevgan.

Pastinya, belati yang menyatu dengan sarung tanganku yang disebut katara yang mendahuluiku bicara. Sengaja kulambatkan gerakanku. Deevgan mengayunkan lembingnya secepat mungkin, menangkis rentetan tusukanku dengan susah-payah. Namun, dari sorot matanya kurasa ia mengerti maksudku.

Saat tubuhku membelakangi Clarissa, gerak bibirku menyampaikan pesan. “Akan kuserang Elvar itu mendadak. Rebutlah anakmu, bawa keluargamu lari.”

Saat aku mencoba mencari kesempatan, tiba-tiba serampai melodi memenuhi udara. Itu irama kecapi yang mengiringi suara nyanyian seorang Elvar pria. Tanpa sadar aku dan Deevgan berhenti bertarung, terbuai oleh nyanyian indah tiada tara itu.

Aku terkesiap. Ini lagu yang pernah kudengar beberapa kali, terakhir tiga tahun yang lalu. Namun yang menyanyikannya terakhir kali adalah seorang wanita bernama…

Ah, aku lupa namanya.

Lagipula, kini Elvar pemusik sihir yang disebut Rahval yang kucari itu telah hadir di hadapanku.

“Lourd Reuven,” ujar Clarissa. “Seharusnya aku tahu…” Cekalannya pada Priya mengendur. Gadis kecil itu menyelinap, menghambur ke pelukan bundanya.

“Leidz Clarissa,” sahut Reuven dengan nada dingin, sedingin tatapan mata ungu gelapnya. Denting kecapi terhenti seketika. Sang Rahval berdiri tegap dan gagah, rambut coklat yang menutupi sebagian wajahnya berkibar diterpa angin.

Reuven melanjutkan. “Urusan apa yang membawa seorang Tetua Vestal dan seorang Shazin jauh ke hutan terpencil di ujung benua ini?”

“Mencarimu,” jawabku.

“Nah, karena kalian sudah menemukanku, apa kalian akan membujukku agar kembali ke Falthemnar? Itu permintaanmu bukan, Leidz?”

Kata-kata Reuven rupanya tepat sasaran. Leidz Clarissa tak mengucapkan sepatah katapun, hanya menatap Elvar berambut coklat itu penuh harap.

Ah, rupanya Clarissa masih menaruh hati pada Reuven. Pantas saja ia rela meninggalkan tugasnya, menjelajah separuh benua demi mencari satu orang ini. Menebak isi hati orang lain ternyata memang bukan bakatku.

Reuven hanya tinggal berkata “ya”, dan tuntaslah tugasku.

“Jawabanku ‘tidak’. Silakan kalian pulang, jangan mengganggu ketenangan hutan dan keluarga ini.” Nada bicara Reuven tetap datar, menegaskan maksudnya.

Penolakan mentah-mentah itu membuat wajah Clarissa pucat seketika.

“K-kau… Mengapa?” Mata wanita itu berkaca-kaca. “Sengaja aku menunggu puluhan tahun. Aku yakin, waktu selama itu akan mampu membuatmu melupakan wanita itu… manusia itu.”

Reuven menggeleng. “Tidak, aku selamanya takkan bisa melupakan istriku tercinta, walaupun ia telah lama tiada. Dialah pilihanku, belahan jiwaku, bukan kau. Jadi pulanglah, Clarissa. Aku akan selalu berdoa agar kau menemukan cinta sejatimu. Bisa jadi ia adalah pemuda teman seperjalananmu itu.” Ia menunjuk ke arahku.

Aku terperangah. Mungkin Reuven benar. Sesungguhnya, sangat sulit bagi seorang Elvar untuk jatuh cinta. Sekali ia memilih kekasih, bahkan menikah, selamanya hatinya akan terikat pada pasangannya walaupun terpisah oleh kematian. Jadi, jatuh cinta lagi akan berlipat kali lebih sulit, bahkan nyaris mustahil.

Aku yakin Leidz Clarissa memahami itu. Namun ia nekad menentang kenyataan, mencoba menggapai cinta yang mustahil diraihnya. Kini, yang dituainya hanya kekecewaan mendalam.

“Oh, jadi memang sudah tak ada lagi harapan yang tersisa bagiku,” tutur Clarissa di sela isak tangisnya. “Bila demikian, akupun tak punya pilihan lagi. Karth, Elvar bernama Reuven itu telah berkhianat, membawa aib besar bagi kaum kita. Ini tugas baru bagimu. Bunuh Reuven!”

Kali ini, sebagai Elvar berdarah murni, aku memilih untuk patuh. Dengan pedang cambuk dan katara, kuserang Reuven. Sang Rahval menghindar dengan lincahnya, terus bergerak menjaga jarak.

Kembali kecapi berdenting. Kali ini gelombang suara yang dihasilkannya menggerakkan udara di sekitarnya, melesat bagai hujan belati tajam.

Kutarikan pedang cambukku membentuk medan pelindung tubuh. Benturan udara dan logam terdengar bergemerincing.

Tiba-tiba, Reuven memetik senar kecapi dengan empat jari sekaligus, menembakkan gelombang suara besar yang langsung menghantam tubuhku. Walhasil aku roboh dan muntah darah.

Tiba-tiba, tubuhku terasa dirasuki cahaya hangat. Aku bangkit, tenagaku pulih seketika. Ini pasti sihir penyembuhan dari Sang Vestal, Clarissa.

Secepat kilat kulesatkan katara ke leher Reuven. Ia berhenti memetik, mengayunkan kecapinya dan menangkis. Gerakannya agak terlambat, karena tusukanku melenceng ke bahunya. Reuven meringis, darah mengalir dari luka barunya.

Lalu, aku dan Reuven jual-beli serangan, kali ini dalam jarak dekat. Dalam posisi menguntungkan ini, kulecutkan pedang cemetiku bagai badai. Secepat apapun Reuven menangkis, darah terus bercipratan dari tubuh Elvar petarung jarak jauh ini.

Walhasil, pakaian serba-ungu Reuven kini kemerahan oleh darahnya sendiri. Sang Rahval terkapar di tanah, hanya bertopang sikunya.

Leidz Clarissa menapak maju. “Sayang sekali kau harus berakhir seperti ini, Reuven,” ujarnya. “Yah, setidaknya kau takkan kesepian di akhirat. Ada istrimu dan ayah mertuamu yang akan menemanimu di sana.”

Mata Reuven terbelalak. “Apa? Olaf? Jangan-jangan kalian telah…”

“Itu buah karya si Shazin. Nah, ucapkan selamat tinggal pada dunia, Reuven. Karth, tuntaskan tugasmu.”

Namun aku hanya terpaku. Hanya satu pikiran di benakku. Jika Olaf adalah ayah mertua Reuven, maka anaknya, Lyra adalah… Astaga! Ternyata selama ini aku diperalat demi dendam pribadi!

“Karth, tunggu apa lagi? Habisi dia, sekarang!”

Sebelum aku sempat bergerak, tiba-tiba Reuven bangkit dan menerjang ke arah Clarissa, otak segala celakanya. Gelombang suara tajam penuh murka dari kecapinya menghujani aura pelindung Sang Vestal tanpa ampun.

Kewalahan, Leidz Clarissa terus bergerak menghindar. “Karth, tolong aku!” teriaknya. “Tunaikan sumpahmu sebagai Shazin!”

Terlambat. Bilah-bilah gelombang tajam terlanjur menembusi dan menyayat tubuh Clarissa. Kalaupun tak tewas, ia pasti lumpuh total.

Beberapa saat kemudian, kulihat Reuven berjalan perlahan ke arahku. “Aku mengerti, kau hanya menjalankan perintah. Aturan Klan Shazin telah membutakan nuranimu,” ujarnya dingin. “Pergi kau, sebelum aku berubah pikiran.”

Aku terperangah. Bisa saja Reuven mencacah tubuhku saat aku lengah tadi.

Namun, saat aku hendak berbalik pergi, mataku tertumbuk pada sesuatu di balik punggung si pengampun. “Lourd Reuven, lihat!”

Reuven membalikkan tubuh ke arah telunjukku terulur. Dari reaksinya yang mundur setapak, jelas ia setuju denganku.

Tampak sesosok makhluk bangkit perlahan-lahan dari tempat Leidz Clarissa terkapar. Rupanya, tubuh Elvar wanita itulah yang berubah wujud dan terus membengkak, hingga melampaui bahkan merobohkan pohon di dekatnya.

Wujud Clarissa kini lebih mirip pohon daripada manusia. Ranting bersebaran seperti rambut, cabang-cabang seperti tangan dan belitan akar seperti gaun yang menjuntai, menyusur tanah.

Ada satu kata yang bisa menggambarkan sosok ini.

“Daemon!” rutuk Reuven dengan gigi gemeletak.

Si pohon raksasa menanggapinya. “Ya. Akulah Zvahal, Daemon pohon yang digdaya. Telah bertahun-tahun aku mendekam di tubuh Elvar ini. Segala perasaan negatifnya, termasuk rasa cemburunya membuatku makin kuat.”

Aku meludah. “Lantas kau mengambil-alih tubuh Leidz Clarissa saat ia sekarat? Cih! Di antara segala makhluk, kaulah yang terendah. Dasar benalu! Keluar saja kau dari tubuhnya!”

“Beraninya kau menyebutku benalu!?”

Nampaknya aku berhasil membuat Daemon itu marah. Keenam tangan sulurnya berlecutan, membuat aku dan Reuven pontang-panting menghindar. Walhasil, lecutan itu menjebol dinding rumah Deevgan.

Sambil terus menghindar, Reuven mendekat ke arahku. Dari isyarat matanya aku paham seketika, kami harus bahu-membahu untuk mengalahkan Daemon ini. Kujawab dia dengan satu anggukan cepat.

Detik berikutnya aku melesat, menghunjamkan kataraku di punggung si Daemon pohon. Satu dahan meliuk, melecut. Aku berkelit. Dahan hanya menggores kulit lenganku. Tiba-tiba, dahan kedua menghantam telak perutku, membuatku terpelanting. Tak ayal kepalaku terbentur dinding rumah.

Saat peningku berangsur hilang, tampak Reuven jadi bulan-bulanan Zvahal.

Aku menerjang, bertaruh hidup-mati.

Kataraku menusuk, menghentikan laju lengan runcing yang menyasar hati.

Kubelitkan pedang cambuk dengan segenap kekuatan, membelenggu Zvahal.

Lalu aku berteriak, “Sekarang!”

Sang Rahval memainkan kecapinya, kembali melesatkan gelombang-gelombang tajam yang mengiris tubuh si raksasa.

Di bawah tekanan, Zvahal malah tertawa. “Haha, pisau-pisau kecil itu takkan bisa menghancurkanku! Dasar bo… hah! Hah? Mustahil! Aku Daemon terkuat!”

Sekuat apapun raga, pasti ambruk bila disayat-sayat tanpa henti.

“Tidak! Aku tak rela takluk! Tak rela!” Seiring kata terakhirnya, tubuh Zvahal pecah berhamburan ke segala penjuru. Yang tertinggal hanya tubuh sekarat sang inang, Clarissa, di pelukanku.

Dengan wajah membiru, Sang Vestal menoleh ke arah Reuven.

“Maafkan aku… karena terlalu… mencintaimu… Lourd… Reuven…”

Tubuh Clarissa bergetar hebat, lalu tangannya terkulai.

Tak sengaja kutitikkan air mata.

Jenazah Sang Tetua Vestal kukuburkan di tepian sungai ini. Walau tak menyimpan rasa pada Clarissa, Reuven ikut menangis dan memainkan lagu bernada lirih. Setelah lagunya rampung, Sang Rahval berbalik untuk pergi.

“Tunggu, Lourd Reuven!” seruku.

“Mau apa lagi?” gerutu Elvar bermata ungu itu tanpa menoleh. “Kita sudah tak ada urusan lagi. Bahkan aku telah meminta Deevgan dan keluarganya pindah ke desa. Pergilah, Karth. Anggap saja aku sudah mati.”

“Tapi, Lourd, selain Clarissa, ada Elvar lain yang peduli pada hidup-matimu.”

“Siapa dia?”

“Sahabatmu, Lourd Valadin.”

Mendengar nama itu, Reuven menoleh. “Lantas, mau apa dia? Menyuruhmu memaksaku agar kembali?”

Aku menyanggah, “Bukan. Beliau hanya menitipkan pesan bahwa beliau telah bertemu dua wanita yang sangat mirip denganmu.”

Reuven tercekat. Beberapa saat kemudian, kembali ia bertutur dengan nada lebih ramah. “Apakah kedua wanita itu kini sehat-walafiat?”

“Lourd Valadin tak memberitahuku lebih jauh.”

“Begitukah? Hm. Bisa bantu aku? Bila Valadin menanyaimu, katakan saja kau gagal menemukanku.”

“Tak masalah. Bagaimana dengan anda sendiri, Lourd Reuven?”

Reuven mengembangkan senyum langkanya. “Hutan Kabut adalah rumahku. Semua makhluk di sini adalah sahabatku. Yah, kurasa aku akan baik-baik saja.”

“Baiklah. Sampai jumpa lagi, Lourd Reuven.”

Mataku tak lepas menatap Sang Rahval Pertapa yang pergi menjauh. Firasatku berkata, aku akan bertemu lagi dengannya. Tiba-tiba terbersit di benakku, wajah Reuven sangat mirip dengan wajah sahabat karibku. Mungkinkah ia…? Ah, belum tentu. Sebagai makhluk elok-rupawan, pasti banyak Elvar yang mirip satu sama lain.

Secepat kilat kulangkahkan kakiku, menyusuri tepian Sungai Kaligo ke arah Utara. Tujuan selanjutnya, bergabung dengan Laruen di Hutan Telssier.

Photobucket

Advertisements

One thought on ““Sang Shazin” oleh Andry Chang

  1. Pingback: Ther Melian fanfiction contest FINALE! « Shienny's Rants

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s