“Tale of Karth and Laruen” Felicia Bluebell

Sang pria Elvar berjubah gelap bergerak bagai bayangan di antara pepohonan hutan, rambut peraknya sesekali memantulkan cahaya rembulan. Dengan diam dan perlahan ia mendekati reruntuhan di antara padang tandus. Seorang gadis Vier-Elv—separuh Elvar separuh Manusia— bersandar di salah satu dari bongkahan-bongkahan besi besar yang telah patah. Ia mendengar dengkuran pelan, tanda bahwa si gadis Vier-Elv tertidur.

Sang Elvar pun menepuk bahunya perlahan, dan seketika itu juga gadis Vier-Elv itu terbangun. Sembari mengusap wajahnya untuk menghapus bekas-bekas air mata serta menyembunyikan matanya yang sembab, Vier-Elv tersebut mencoba mengenali wajah Elvar di depannya. “…Karth?” “Laruen,” balas Karth.

Karth menghela nafas sebelum melanjutkan, “Setidaknya, ingatlah untuk kembali ke Citadel, ibumu mengkhawatirkanmu.” “Maaf,” ucap Laruen menyesal. Ia memandang ke setiap bagian reruntuhan tempatnya berada, reruntuhan Istana Ther Melian. “Sudah hampir setahun, apakah masih ada harapan bagi Vrey dan Lourd Valadin?” tanyanya.

Karth menghela nafas panjang dan duduk di samping Laruen, “Aku tidak tahu.” Keheningan meliputi mereka berdua selama beberapa saat. Karth memandang ke arah Laruen, “Air matamu..” “Apa?” Laruen memandang Karth dengan sebelah alis terangkat.

“…Apakah mereka tumpah karena Vrey, atau karena Lourd Valadin?” tanya Karth seraya menatap Laruen penuh arti. Laruen menjadi salah tingkah karena pertanyaan tersebut dan dengan tergagap menjawab, “A…apa maksudmu, Karth? Te…tentu saja untuk keduanya!” Ia memalingkan wajah dengan kesal. Namun Karth menyadari kebenaran yang tersembunyi di balik air mata Laruen.

“Aku tahu kamu sedih, tapi semakin cepat kamu menerima kemungkinan mereka tiada, semakin ringan pula beban kesedihanmu,” kata Karth. Laruen mendelik memandang Elvar berambut perak itu. Ia berteriak marah, “Jadi aku harus menyerah, katamu?! Vrey adalah saudari kembarku, satu-satunya keluarga kandungku yang masih hidup. Hidup! Aku tidak akan mau menerima kenyataan dia tiada, tidak selagi ada kemungkinan kecil dia masih bisa diselamatkan! Dan Lourd Valadin…” Laruen memalingkan matanya yang kembali digenangi air mata dari tatapan Karth.

Karth menatap Laruen dengan dingin dan tajam, mengejutkan gadis itu.“Kaupikir hanya dirimu saja yang tidak ingin menyerah? Aku mungkin tidak begitu mengenal saudarimu, tapi Lourd Valadin adalah seorang atasan serta sahabat yang berharga bagiku! Aku sudah mengenalnya jauh sebelum kamu lahir. Dan Leighton, pikirkan Leighton, gadis yang dicintainya lenyap dari permukaan Terra, tapi ia terus menanggung beban kesedihan itu diantara tugasnya sebagai Raja baru Kerajaan Granville!” bentak Karth.

Laruen kembali memalingkan wajahnya. Karth menghela nafas dan  bangkit. Ia mengulurkan tangannya pada Laruen, “Sudah waktunya pulang.” Laruen menerima uluran tangan Karth, namun Ia sadar ada sesuatu yang mengganggu Elvar dari klan Shazin tersebut.

Karth memandang sekelilingnya dengan curiga, “Laruen,” “Ada apa?” tanya Laruen heran. “Apa kamu membawa senjata?” tanya Karth. “Tidak,” Laruen mendengar gerakan di balik pepohonan, ia juga menyadari kabut gelap sudah turun.

Karth menghunuskan pedangnya, “Tetap di belakangku kalau begitu.” Diiringi jeritan mengerikan, tiga ekor Gullon menyerang mereka. Dengan cekatan, Karth menghabisi Gullon-Gullon itu. Laruen menatap sekelilingnya dengan panik, nyaris dua puluh Gullon mengepung mereka.

Seandainya Karth sendirian, Gullon-Gullon itu bisa dihabisinya dengan mudah. Namun bila ia bergerak menyerang Gullon-Gullon di depannya, ada kemungkinan Laruen akan diserang oleh Gullon lain. Karth terpaksa menunggu Gullon-Gullon itu menghampirinya cukup dekat untuk membunuh mereka.

“Banyak sekali…” ucap Laruen ketakutan. “Dan sepertinya mereka sudah berpuasa cukup lama untuk setuju bergabung menjadi kelompok sebesar ini,” tambah Karth seraya menghabisi dua ekor Gullon yang melompat ke arah mereka. Karth kembali mengayunkan pedangnya dan tiga ekor Gullon lain terbunuh. Seharusnya aku membawa lebih banyak senjata, pikir Karth.

Lalu ia teringat akan belati yang disimpan di balik jubahnya. “Jaga dirimu dengan ini dan jangan menyerang kecuali mereka menyerangmu,” perintah Karth seraya memberikan belatinya pada Laruen, yang dibalasnya dengan anggukan patuh. Karth maju menghadapi lima Gullon sekaligus, sementara Laruen menikam lambung seekor Gullon yang mengincar lehernya. Karth sesekali melihat ke arah Laruen untuk mengetahui keadaannya.

Dalam waktu singkat, Gullon-Gullon tersebut dihabisi oleh Karth. “Laruen, kamu terluka?” tanya Karth khawatir. “Tidak, ini hanya darah Gullon yang kubunuh tadi,” jawab Laruen. “Bagus,” ucap Karth lega, dan menghampiri Laruen.

Tapi Karth lengah, ada satu Gullon besar yang tersisa menerkamnya dari belakang. Laruen memekik ngeri ketika Gullon tersebut mencabik lengan Karth hingga menjatuhkan pedangnya serta memaksa Karth berlutut. Karth segera mengambil pedangnya dengan tangan yang tidak terluka dan menghabisi Gullon tersebut ketika makhluk itu kembali menerkamnya. Laruen menghampiri Karth untuk memeriksa lengannya yang terluka.

Karth meringis melihat lukanya sendiri. “Astaga,” Laruen menahan nafas ketika melihat betapa parah luka tersebut. Dagingnya tercabik, lukanya dalam dan parah. Darah mengalir deras hingga separuh kulit berwarna cokelat keemasan di lengan bawah Karth kini tertutup warna merah.

Laruen memotong sebagian kain dari jubah Karth untuk mengikat lukanya, berharap hal tersebut bisa menghentikan pendarahan yang dialaminya.

“Ayo,” Karth memaksakan diri untuk berdiri, “Mungkin benar daemon lain hanya tersisa sedikit, tapi aku tidak ingin mengambil resiko beberapa dari mereka terundang bau darah.” Laruen memandang luka Karth, “Tapi lukamu…” “Akan disembuhkan oleh penyembuh-penyembuh Citadel,” potong Karth tegas.

Karena salah satu dari dua komodo yang ada telah kabur, Laruen membantu Karth naik sebelum dia sendiri naik dan memacu komodo itu menuju Telssier Citadel.

Bertahanlah, Karth.

***

Tidak butuh waktu terlalu lama bagi mereka untuk sampai di Telssier Citadel. Kini Laruen dan ibun angkatnya sedang  berada di gubuk kecil Lynica, salah satu dari beberapa penyembuh Citadel. “Sungguh, aku tidak pernah menyangka seorang Shazin sepertimu bisa terluka hanya karena beberapa daemon, mungkin beberapa luka kecil, tapi tidak separah ini,” ucap Elvar wanita itu seraya membersihkan luka Karth. Laruen mengangkat sebelah alisnya, “Dua puluh Gullon kelaparan yang menyerang sekaligus kaubilang sedikit?”

“Aku kenal seorang Shazin yang menghabisi lebih banyak tanpa luka, dan tanpa bantuan gadis Vier-Elf di sisinya,” jawab Lynica seraya tersenyum mengejek. Wajah Laruen merah padam karena kesal. “Aku tidak membantunya!” bantah Laruen. Lynica mendengus keras, “Pantas saja dia terluka, kamu hanya menjadi penghalang baginya untuk menghabisi seluruh daemon itu.”

Laruen terdiam, sebagian karena kesal dan sisanya karena dia tahu ucapan Lynica benar. Lynica merapal mantra penyembuh, dan seberkas cahaya muncul dari telapak tangannya. Luka di tangan Karth sudah tidak tampak lagi. Lynica menghela napas, “Sudah selesai.” Melihat wajah Lynica yang memucat, kekesalan Laruen segera menguap, “Lynica, kamu nggak apa-apa?”

Lynica memandang Laruen dengan tajam. “Kaupikir seseorang bisa baik-baik saja setelah seharian menyembuhkan prajurit-prajurit yang terluka karena memburu daemon? Sekalian saja kautanyakan pada burung merpati apakah ia bisa terbang seminggu tanpa henti. Aku butuh istirahat, Vier-Elf bodoh! Dan begitu juga teman Shazinmu ini,” katanya sebal. Rasa khawatir Laruen kembali menjadi kekesalan luar biasa setelah mendengar komentar Lynica.

Laruen dan ibunya membantu Karth berdiri, wajahnya pucat karena kehilangan cukup banyak darah. “Pastikan dia cukup istirahat dan banyak makan, Vier-Elf bodoh,” kata Lynica saat mereka bertiga beranjak pergi. Laruen berbalik, wajahnya merah padam. “Namaku Laruen, bukan Vier-Elf bodoh! Dasar nenek lampir!” bentak Laruen sambil menjulurkan lidah ke arah Elvar berambut pirang jagung itu.

Laruen tampak puas ketika mendengar pekikan kesal Lynica. Karth memandang Laruen sambil menaikkan sebelah alis. “Nenek lampir?” tanyanya. “Dia benar-benar mirip Leidz Ellanese, mulai dari rupa hingga sifatnya. Aku tidak akan heran bila mengetahui mereka itu masih berkerabat, mungkin hanya sedikit terkejut,” jawab Laruen.

Memang, Lynica memiliki karakteristik yang serupa dengan Ellanese. Rambut pirang jagung panjang, mata amber yang memikat—ketika tenang dan sedang tidak menatap seseorang seakan mereka adalah serangga menjijikan, tentunya—serta wajah cantik luar biasa. “Lynica akan bertambah marah bila mengetahui dirinya disamakan dengan seseorang yang disangka telah mengkhianati bangsanya dan mencoba melenyapkan seluruh makhluk hidup dari permukaan Terra,” ujar Karth seraya tersenyum usil. Kini giliran Laruen yang menaikkan sebelah alisnya.

Karth mengetahui penyebab kebingungan Laruen dan menjawab, “Hal itu tidak sepenuhnya kesalahan Ellanese, dia tidak punya pilihan lain karena dirasuki oleh Velith. Tapi banyak orang menimpakan kesalahan itu padanya. Bahkan beberapa kebencian yang seharusnya kita terima, ditujukan kepadanya.” Karth menatap tangannya, teringat akan darah para Gardian tidak bersalah yang telah ditumpahkannya. Terlintas di benaknya bayangan jasad Izahra yang disantap para daemon dan tubuh Eizen yang terbujur kaku.

“…Karth?” Laruen menatapnya khawatir. Ia tersenyum lemah, “Aku tidak apa-apa.” Laruen menghela nafas dan membukakan pintu rumahnya. “Kamu benar-benar butuh istirahat,” katanya penuh perhatian. Laruen menuntunnya menuju salah satu dari beberapa bangku di ruangan tersebut.

Karth memperhatikan gadis Vier-Elv yang kini duduk di sampingnya. Ia menyadari betapa berbedanya Laruen sejak pertama kali bertemu dengannya. Laruen bukan lagi gadis kecil penakut yang bersembunyi di balik punggung Valadin ketika bergabung dengan Legiun Falthemnar. Karth merasa geli mengingat keterkejutan gadis itu ketika Ia dengan santai menyetujui tawaran untuk menjadi partner-nya.

Kini, Laruen kecil yang cengeng dan pemalu sudah menjadi seorang wanita dewasa. Laruen menjadi lebih kuat, lebih tegar, lebih anggun, lebih… cantik. Laruen menyadari tatapan Karth. “Ada apa?” tanyanya.

Karth menyentuh rambut Laruen yang kini mulai panjang. “Ah, ini,” kata Laruen, “aku lupa memotongnya.” Karth memainkan rambut pirang tersebut diantara jemarinya. “Tidak perlu,” katanya, “kamu lebih cantik dengan rambut panjang.” Pipi Laruen memerah seketika.

“Karth, jangan mengerjaiku lagi!” katanya. Karth tertawa kecil, “Tapi memang kamu lebih cocok berambut panjang.” Ibunya, yang baru tiba membawa makanan dari dapur, ikut bergabung dalam percakapan mereka. “Karth benar, Laruen, kamu cocok dengan rambut panjang,” kata wanita Vier-Elv itu.

“Ah, Ibu!” protes Laruen pada pernyataan ibunya, yang dibalas dengan tawa kecil wanita itu.

***

Laruen sedang asyik memupuk tunas-tunas beberapa tanaman ketika Karth muncul tanpa peringatan di belakangnya. “Astaga, Karth, kamu selalu mengejutkanku bahkan setelah bertahun-tahun menjadi partnerku,” ujar Laruen seraya menepuk dada. Karth terkekeh, “Apa lagi yang kamu harapkan dari seorang Shazin? Bodoh sekali mengharapkan aku muncul dengan mencolok.”

Laruen tersenyum, “Kalau kamu sedang tidak sibuk, mungkin kamu mau membantuku disini?”

Karth memperhatikan tunas-tunas yang telah tumbuh di sekitar reruntuhan. “Sepertinya aku bisa memikirkan tempat berkebun yang lebih cocok dan lebih aman dari tempat ini,” komentarnya. Laruen menunjuk belati yang terselip di sabuknya. “Aku sudah mengantisipasi perihal keamanan,” jawabnya, “dan aku selalu pulang sebelum gelap sekarang, jangan khawatir.” Laruen melanjutkan kegiatan berkebunnya, “Lagipula, menurutku tidak ada tempat yang lebih baik lagi dari tempat ini.”

Karth terduduk di samping Laruen. “Kamu serius?” tanyanya. “Mmhm,” gumam Laruen seraya mengangguk, “aku sudah memikirkan kata-katamu bulan lalu, tentang menerima kemungkinan bahwa mereka sudah tiada.”

“Cukup sulit sebenarnya, tapi akhirnya aku sudah bisa menerimanya,” lanjut Laruen “Entah kenapa, perasaan berat dan kehilangan yang tidak pernah pergi dariku sudah tidak terasa lagi. Aku menemukan ketenangan batin, dan hal itu menjernihkan pikiranku. Aku menjadi sadar, bukan hanya aku yang mengalami perasaan-perasaan tersebut.”

Laruen memalingkan wajahnya ke arah Karth dan meneruskan, “Aku ingin agar orang lain yang juga mengalami kehilangan ini untuk bisa menemukan ketenangan batin walau sedikit. Aku ingin agar semua orang melihat tempat ini sebagai tempat yang berguna, bukan sebagai tempat pengingat segala kesedihan waktu itu. Inilah alasanku, Karth.”

Karth menghela nafas dan menepuk kepala Laruen. “Kamu sudah tumbuh dewasa, Laruen,” pujinya seraya tersenyum lembut. Laruen sedikit tersipu dan membalas, “Tidak juga. Aku pernah berpikir bahwa Vrey dan Valadin jauh lebih berharga bagi semua orang dibandingkan aku, dan aku juga pernah bertanya-tanya kenapa bukan aku yang…” Ucapan Laruen terhenti ketika Karth meletakkan jarinya di bibir Laruen.

“Sshh, Laruen,” bisiknya.

Karth menatap Laruen dengan mata penuh kepedulian, “Jangan pernah berpikir seperti itu lagi. Aku sudah pernah bilang padamu, kamu berharga, berharga bagi ibu angkatmu dan bagiku.” Laruen memalingkan wajahnya yang memerah, “Aku tidak mengerti, aku berharga… bagimu?” Karth memalingkan wajah Laruen kembali ke arahnya, “Kamu ini benar-benar tidak peka, ya?”

Saat itu juga Laruen menyadari bahwa tatapan Karth tidak berisi kepedulian semata, namun juga kasih sayang.

“…Karth?” Laruen tampak kebingungan. Ekspresi pria Elvar itu melembut, dan ia berkata, “Aku mencintaimu, Laruen, bukan sebagai partner ataupun keluarga, tapi sebagai seorang wanita.” Pengakuan yang mendadak itu mengejutkan Laruen.

Karth menarik wajah Laruen menuju wajahnya sendiri. Laruen sudah bisa merasakan nafas hangat Karth menerpa wajahnya. Pipi gadis itu merona karena ini adalah pertama kalinya wajahnya sedekat ini dengan wajah seorang Elvar. Ketika bibir mereka nyaris bertemu, Laruen memejamkan mata dan…

…mendorong Karth menjauh. Mata Karth memandang Laruen dengan pandangan bertanya-tanya. Tubuh gadis itu gemetar dan air mata mengalir turun melalui pipinya. Dengan mata cokelat kemerahannya yang digenangi air mata, Laruen membalas tatapan Karth.

“…af,” ucap Laruen pelan, “Maaf, Karth… Aku tidak bisa. Aku Vier-Elv, Karth, sedangkan kamu Elvar. Usiaku tidak akan bisa mencapai seratus tahun, waktu yang singkat bagimu yang bisa hidup bahkan melewati ribuan tahun. Aku baru saja mencapai dua puluh tahun sedangkan kamu sudah melewati enam ratus tahun. Tubuhku akan menua dan berkeriput, sedangkan kamu memiliki kemudaan abadi. Aku hanya akan menjadi penghalang bagimu.”

Laruen meletakan tangannya di pipi Elvar tampan itu. “Kita tidak bisa bersatu, Karth, bukan hanya karena perbedaan diantara kita, tapi juga dampaknya pada anak-anak kita nanti.”

Laruen berhenti sejenak sebelum melanjutkan, “Kamu mendengar sendiri kata-kata Vrey waktu itu ‘kan? Reuven, ayah kami, termakan oleh rasa kehilangannya sejak kematian Lyra, ibu kandung kami, dan rasa kehilangannya begitu besar hingga meninggalkan anak-anaknya sendiri. Aku tahu kamu tidak akan berbuat kesalahan yang sama, Karth, tapi apa kamu yakin kamu tidak akan menjadi seperti ayahku? Menjadi seperti arwah seseorang yang telah meninggal namun tidak bisa pergi ke alam baka dan terus terikat di dunia?”

Karth menatap gadis Vier-Elf di depannya dengan kekecewaan yang tersembunyi. Aku tahu semua itu, aku tahu resiko mencintai dirimu, dan mengabaikan semua itu aku tetap terus mencintai dirimu, pikir Karth. Ia menarik tangan Laruen yang berada di pipinya dan menggenggamnya. Kini matanya menunjukkan penyesalan.

“Maaf sudah mengganggumu seperti ini, Laruen,” katanya dengan senyum menyesal, namun ekspresinya tetap lembut. “Lagipula, seharusnya aku sadar di hatimu hanya ada Lourd Valadin,” lanjutnya seraya melepaskan tangan Laruen. Gadis itu menjadi salah tingkah ketika mendengar permintaan maaf Karth dan terkejut mendengar ucapannya barusan.  “Tunggu! Karth, a–aku…” Laruen dengan terbata-bata mencoba menghentikan Karth ketika pria itu bangkit untuk pergi, tapi terlambat.

Bayangan Karth hilang di balik pepohonan yang rimbun.

Sempat terpikir oleh Laruen untuk menyusulnya, tapi ia menepis dorongan untuk melakukannya. Aku sudah menolaknya, pikir Laruen, bukan hal yang pantas bagiku untuk mengejarnya. Laruen memikirkan kembali ucapan Karth sebelumnya. Di hatimu hanya ada Lourd Valadin, itu adalah fakta. Tetapi kenapa ia sendiri meragukan fakta itu?

Memang benar hati Valadin tertarik dengan Vrey walau tak berbalas, dan di Ignav pria itu lebih memilih Ellanese ketimbang Laruen. Namun nyaris setiap malam Valadin dan Vrey hadir di mimpinya. Terkadang hanya Valadin yang muncul menemuinya, malah. Kenapa ia ragu bahwa ia mencintai pria itu?

Lamunan Laruen buyar ketika ia mendengar sebuah suara. “Dasar Vier-Elv bodoh,” umpat suara itu, suara yang terdengar khas di telinga Laruen. Laruen berpaling hanya untuk mendapati pemilik suara itu berada tak jauh darinya. “Lynica!” Laruen terkejut melihat wanita itu berkacak pinggang dan menatapnya kesal.

“Kamu… mendengar semuanya?” tanya Laruen malu-malu. Lynica memutar bola matanya, “Kaupikir aku nenek lampir yang tuli, hah? Aku mendengar semuanya,” Laruen merasa kepalanya seperti diinjak Gadya. “Oh, ya. Setiap detail kotor yang ada, dari awal sampai akhir,” tambah Lynica iseng, karena dia senang melihat darah seakan mendidih di wajah Laruen yang semakin memerah.

Laruen kebingungan, “Ba–bagaimana bisa… Kamu, tapi, Karth itu Shazin…”  Pertanyaan Laruen yang ditanyakan dengan terbata-bata segera terpotong sekaligus terjawab oleh Lynica. “Yah, hal seperti ini bukan hal yang aneh jika kamu terus mencoba menyelinap dan mengejutkan seorang Shazin tertentu selama bertahun-tahun,” kata Lynica seraya menatap reruntuhan. Sesaat Laruen sempat melihat sesuatu di mata Lynica, dan hal itu adalah hal yang sama dengan apa yang dilihat Vrey di mata Reuven.

Rasa kehilangan.

“Lynica?” panggil Laruen. “Dulu sekali, bahkan sebelum kawan Shazin-mu itu lahir, aku adalah seorang anggota Legiun Falthemnar,” kata Lynica seraya berjalan perlahan menuju reruntuhan. Laruen terkejut mendapati bahwa Lynica pernah menjadi anggota pasukan elit Bangsa Elvar. “Aku adalah seorang Vestal muda yang, katakanlah, berbeda dari Vestal-Vestal lain pada umumnya,” lanjut Elvar berambut kuning jagung itu tanpa menghentikan langkahnya.

“Anggota yang lain menganggap sikapku tidak pantas untuk seorang Vestal. Terlalu emosional, terlalu bersemangat, terlalu ambisius, gegabah, pemberontak, dan terlalu naif.” Laruen merasa geli ketika sadar bahwa hal itu juga menggambarkan sikap Ellanese. Oh, betapa banyak kemiripan antara Lynica dan Ellanese!, pikirnya.

“Tapi mereka tetap menerimaku karena waktu itu kemampuan penyembuhanku tidak diragukan keampuhannya, dan belum ada serangan yang berhasil menembus pelindungku. Lalu aku mendapatkan seorang Shazin sebagai partnerku. Dia lebih tua seratus tahun dariku, tapi tingkahnya tidak jauh berbeda dari seorang anak kecil. Bahkan ketika kami pertama kali bertemu, Ia menyelinap kebelakangku dan berteriak di dekat telingaku! Aku sampai jatuh karena kaget, dan tidak tanggung-tanggung jatuhnya karena aku jatuh ke dalam sebuah kolam. Aku…Oh, berhenti tertawa Laruen, ini kenyataan!” Lynica menghentikan langkahnya dan memelototi Laruen yang tertawa terpingkal-pingkal.

“Akhirnya ada ketenangan,” kata Lynica ketika Laruen sudah berhenti tertawa.

Lynica kembali berjalan perlahan dan melanjutkan, “Aku sangat kesal waktu itu, apalagi reaksinya sama denganmu. Jadi aku mencoba untuk membalas perlakuannya, walaupun hal itu nyaris terbilang mustahil. Dan benar, tak peduli seberapapun keras aku mencoba untuk menyelinap dan mengejutkannya, dia selalu berhasil untuk mengejutkanku duluan. Hal itu terus berlangsung selama bertahun-tahun, dan itu adalah permainan kami yang sangat menyenangkan.”

Sekilas, Laruen melihat seulas senyum di wajah Lynica.

“Akibat dari permainan itu adalah aku bisa menyelinap dan memata-matai sesama Elvar, bahkan Shazin berkemampuan rata-rata. Tetapi tidak sekalipun aku berhasil memata-matainya. Kamu tahu kenapa? Karena dia adalah salah satu dari sedikit Shazin dengan level tinggi, yang awalnya kuragukan karena kekanak-kanakannya dan…” Lynica berhenti sejenak, “…dan karena dia tidak keberatan dengan Manusia, dia terlalu baik untuk seorang Shazin.”

Wanita itu kembali melanjutkan, “Tapi itulah keunikan dirinya. Dan tanpa kuketahui kapan dan bagaimana, perasaanku padanya mulai tumbuh. Karena sifatnya yang kekanakan, kurang peka, dan santai, aku menyembunyikan hal ini dari siapapun. Tak terpikir sedikitpun olehku bahwa dia mungkin merasakan hal yang sama. Tapi suatu hari…”

Lynica kini berhenti di depan bongkahan besi dengan panjang sekitar dua meter. “Dia melamarku. Tentu saja, aku mengatakan ‘ya’ tanpa ragu. Itu adalah tahun-tahun lama yang membahagiakan,” Suara Lynica menggambarkan kebahagiaan murni. Ia menghela nafas, “Kamu bisa menebak sisanya, kami pensiun dari Legiun Falthemnar, pindah ke Telssier Citadel, mendapatkan seorang anak lelaki yang sehat…” Laruen terkejut, “Kamu memiliki suami dan bahkan anak?! Tapi, dimana mereka sekarang?”

Lynica menyentuh bongkahan besi di depannya, “…Mereka sudah tiada.” Elvar itu melanjutkan dengan suara datar, “Anakku adalah salah satu dari para Shazin yang gugur di Gua Aetnaus. Ia hanya sedikit lebih muda dari teman Shazin-mu itu ketika ajal menjemputnya. Dialah Shazin yang kuceritakan di gubukku.” Laruen merasa bersalah, itu adalah akibat perbuatan Valadin.

Belum sempat ia berkata apa-apa, Lynica kembali melanjutkan, “Suamiku gugur pada saat Perang Terra karena melindungi seorang Vier-Elv. Sejak itu sikapku selalu dingin terhadap kaum-mu, Laruen, dan karena itu aku kesal padamu saat kamu membuat teman Shazin-mu terluka. Maaf.”

Laruen menggeleng, “Tidak, seharusnya aku yang minta maaf. Karena ulah kami, banyak orang sudah…” Lynica memotong perkataan Laruen, “Bukan salahmu saja, tapi juga salahku. Karena aku salah mendidik keponakanku, ia dirasuki…” Laruen menjadi lebih terkejut lagi, “Keponakan?!” Lynica mengangguk, “Ayah Ellanese adalah kakakku, dan aku mengajari Ellanese nyaris segala yang diketahuinya.”

“Nah, maksudku dari menceritakan pengalamanku adalah: Percayalah padanya, Nak, dia tahu konsekuensinya. Dan kukira kamu cukup cerdas untuk mengetahui bahwa kamu sendiri menyukainya.” Pipi Laruen merona, “A-aku…” Lynica memutar bola matanya, “Aku pernah mendengarmu bercerita pada ibu angkatmu bahwa kamu memimpikan saudarimu dan Valadin mencoba mengatakan sesuatu. Apa yang mereka katakan?”

Laruen berpikir sejenak, lalu menggeleng. “Tidak ingat,” katanya. “Cobalah lebih keras!” perintah Lynica. Pikiran Laruen melayang pergi, dan dia mengingat mimpi itu. Valadin dan Vrey, dua orang yang sangat disayanginya. Mereka memeluknya dan berbisik dengan suara samar. Awalnya Laruen nyaris tidak mendengar apa-apa. Tapi ia kemudian mendengar sesuatu.

…Laruen ,panggil mereka, kami ingin kamu untuk…

Laruen terbelalak, kini ia tahu. Cepat-cepat ia berdiri dan membungkuk pada Lynica. “Terima kasih, Ly, maksudku Leidz Lynica.” Lynica tersenyum lembut dan menggeleng, “Tidak perlu pakai Leidz. Dia tidak pergi ke Citadel, ke selatan, carilah di sepanjang sungai Arquus.”

“Sekali lagi terima kasih, Lynica,” kata Laruen. Ketika ia hendak menaiki komodonya, Laruen bertanya, “Omong-omong, bagaimana kamu bisa tahu Karth menuju ke sana?” Lynica menghela nafas, “Karena aku melihatnya, Vier-Elv Bodoh!”

Laruen menembus pepohonan hutan Telssier dengan cepat. Tak berapa lama kemudian, ia sudah dapat melihat tanah terbuka di tepi sungai Arquus. Laruen menghentikan komodonya.

Itu dia.

Gadis Vier-Elv itu melompat turun dan berlari ke arah pria Elvar di depannya. Karth berbalik, namun terlambat. Laruen sudah menabraknya hingga jatuh terduduk. “Laruen! Ada ap…” kata-katanya terhenti ketika ia menyadari bahwa Laruen memeluknya erat.

“Aku memang seorang Vier-Elv bodoh,” kata Laruen, masih memeluk Karth. “Aku samasekali tidak mengetahui siapa sebenarnya pria yang kucintai dan mencintaiku juga setelah selama ini.”

Karth terbelalak, “Tetapi bukannya Lourd Valadin…” Laruen memotong ucapan Karth, “Aku dan Vrey pernah mencintai pria yang sama: Lourd Valadin. Tapi itu pernah, dan kini Vrey mencintai Leighton dan aku… aku mencintaimu, Karth. Maaf karena aku sudah begitu bodoh selama ini.” Karth tersenyum lembut dan menepuk kepala Laruen, “Dimaafkan.”

Tiba-tiba Elvar itu tersenyum iseng, “Tapi kamu tetap harus dihukum!”

Laruen bingung, “Hukuman ap…” Laruen belum sempat bertanya ketika Karth mencium bibirnya. Ciuman itu singkat, tapi cukup untuk membuat Laruen tersipu dan salah tingkah. Karth terkekeh, “Itu hukumannya.” Ekspresi Elvar itu kembali lembut, “Aku mencintaimu, Laruen.”

Awalnya Laruen malu, tetapi akhirnya ia membalas, “Aku juga.” Bibir mereka kembali bertautan, kali ini lebih lama dari sebelumnya, tanpa mengetahui bahwa sepasang mata amber mengawasi mereka dari kejauhan. Mata amber milik seorang wanita yang juga pernah mencintai seorang Shazin, dan mengharapkan kebahagiaan mereka.

Laruen tahu, dia sudah memenuhi keinginan Vrey dan Valadin. Yaitu:

Menemukan kebahagiaan.

Photobucket

Advertisements

4 thoughts on ““Tale of Karth and Laruen” Felicia Bluebell

  1. Laruen yang ngga yakin-yakin amat sama perasaannya, dan dia takut sama hubungannya dg Karth krn umur,,

    Tapi.. Laruen diyakinkan oleh Lynica, plus perkataan Vrey n Valadin kalau dia harus menemukan kebahagiaan, akhirnya dia membalas cinta Karth ~ ^^

    Gyaaaaaaaaaaaa ❤

  2. Pingback: Ther Melian fanfiction contest FINALE! « Shienny's Rants

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s