“Vrey’s Confusion” oleh Fairy Lucyka

Vrey’s Confusion

Takut.

Perasaan itu selalu mengganggunya. Perasaan yang telah menggelayuti hatinya selama satu tahun belakangan ini. Perasaan yang akan selalu mengikutinya, selama ia masih berada di tempat terkutuk itu.

Vrey tidak mampu memungkiri perasaannya sendiri. Ia merasa takut. Takut akan segala yang ada di sekitarnya. Ia, Vrey sang pencuri handal, yang selama ini terkenal akan keberanian dan kenekadannya, hanya mampu pasrah melawan perasaannya itu.

Hanya perasaan takut yang terpancar dari iris violetnya. Setiap orang yang menatap balas matanya, yang terpancar adalah rasa takut. Hal ini tentu mengundang tanda tanya besar. Mengapa Vrey harus takut?

Alasannya hanya satu yaitu Leighton.

Ya, Leighton Thaddeus Granville, sang raja kerajaan Granville yang dikenal Vrey secara tak sengaja. Perkenalan secara kebetulan tersebutlah yang akhirnya membawa kedua insan tersebut berpetualang bersama, untuk menyelamatkan dunia, yang pada akhirnya membangun sebuah perasaan di antara mereka berdua. Perasaan cinta.

Leighton, pemuda yang sekarang menyandang status sebagai kekasih Vrey sekaligus status sebagai pemimpin kerajaan Granville. Orang terpenting yang dimiliki oleh Vrey sekarang, setelah rekan-rekannya di komplotan Kucing Liar dan juga Laruen, saudara kembarnya.

Banyak kejadian yang menyebabkan ketakutan Vrey terbangun. Dan ia sendiri sebenarnya sudah menyadari hal tersebut sejak lama.

Status. Status dirinya. Status Leighton.

Perbedaan di antara mereka terlalu mencolok. Ia tahu hal itu, namun dengan mantap Leighton meyakinkannya.

 “Jangan khawatir, Vrey. Kau tak perlu takut. Selama aku berada di sampingmu, semua akan baik-baik saja. Dan aku akan semakin senang jika kau ada di dekatku.”

Kata-kata yang terdengar manis awalnya. Namun setelah berjalannya waktu, kata-kata tersebut bagaikan duri bagi Vrey. Kata-kata tersebut seakan tak berlaku lagi bagi para penghuni istana tersebut.

Saat ini Vrey tinggal di dalam salah satu rumah mewah di dalam Istana Laguna Biru kerajaan Granville, berkat bujukan Leighton. Pada awalnya, gadis berambut coklat tersebut menolak tawaran Leighton. Tentu saja ia menolaknya. Ia tidak pantas untuk menginjakkan kakinya dan tinggal di dalam istana megah tersebut. Apalagi dengan keadaannya sebagai seorang pencuri dan juga seorang Vier-Elf—walaupun saat ini ras bukanlah pembeda lagi. Namun, bagi Vrey ia tidak layak untuk tinggal di sana.

Walau begitu, tawaran tersebut Vrey terima juga, tentu saja dengan berbagai macam bujukan  yang Leighton katakan pada gadis itu. Tapi bukan berarti bujukan-bujukan tersebut mampu meyakinkan Vrey secara menyeluruh, di dalam hati kecilnya masih terdapat keraguan dan ketakutan akan keputusannya. Akan tetapi,  bukan Vrey jika ia mundur setelah ia mengambil sebuah keputusan. Dengan penuh kepercayaan diri dan kenekadan, ia akhirnya memasuki istana tersebut.

Dan sekarang ia terlihat menyesali keputusannya tersebut.

***

Sang surya telah menunjukkan sinarnya saat sesosok wanita berjalan mengarah ke sebuah pintu putih. Dengan perlahan ia mengetuk pintu tersebut.

“Nona Vrey. Yang Mulia Raja memanggil anda untuk agar anda sarapan bersama dengan beliau,” tuturnya. Tak ada balasan suara dari balik pintu.

“Nona Vrey? Nona diharapkan untuk bersiap dan segera bertemu dengan Yang Mulia Raja, Nona.” Wanita tersebut mengulangi perkataannya kembali. Kali ini, ia tak mendapatkan balasan jawaban kembali.

“Nona Vrey? Nona Vrey?” ia mengeraskan suaranya. “Nona Vrey?” Ia masih belum mendapatkan balasan jawaban juga. Karena ia merasa janggal dengan kesunyian yang ada di balik pintu itu, akhirnya dengan perlahan ia mendorong pintu putih yang berada di hadapannya saat ini.

“Nona Vrey, saya akan masuk,” ucapnya. Wanita tersebut memasuki ruangan kosong, tak ada tanda kehadiran seorang manusia. Yang ada hanyalah sebuah jendela yang terbuka lebar. Dengan sebuah untaian kain yang cukup panjang terjulur mengarah ke bawah yang dililitkan pada besi balkon.

Dengan terkejut, sang pelayan wanita tersebut berteriak dengan kencang. “Nona Vrey!!” Teriakan yang cukup mengguncangkan seluruh isi istana.

***

Hari sudah menjelang siang ketika Vrey berlari menyusuri sebuah lorong sempit yang menghubungkannya dengan dunia luar. Ia mendengar kegaduhan terjadi di dalam istana.

Pasti mereka tengah mencariku, batinnya. Ia berlari dengan sekuat tenaga. Dengan mengandalkan pendengarannya yang tajam, ia juga memantau kondisi di sekitarnya.

Tak ada suara kehidupan, berarti keadaannya cukup aman. Setelah berlari selama lima menit, Vrey mampu melihat siluet hutan yang terbentang luas di hadapannya.

Akhirnya, gumamnya dalam hati. Dengan perasaan menggebu-gebu, ia melangkahkan kaki jenjangnya agar bergerak lebih cepat. Tak melihat ke belakang lagi, langkah kakinya mengantarkan Vrey menuju jajaran pohon-pohon pinus yang tumbuh lebat di hutan di depannya.

Saat ia menginjakkan kaki di antara rimbunan pohon-pohon itu, barulah Vrey memperlambat ayunan kakinya. Dengan napas yang cukup memburu, ia tetap berjalan cepat.

Merasa cukup masuk ke dalam hutan, dan mencari tahu apakah ia sendirian di dalam hutan, barulah ia berhenti. Ia menyandarkan punggungnya di salah satu batang pohon. Dari tempatnya bersandar, ia masih dapat melihat tembok pembatas Istana Laguna Biru yang berdiri kokoh.

Vrey memandangi Istana tersebut dengan pandangan sendu. Perasaannya kalut, antara menyesal dan takut. Ia menyesal karena mengkhianati Leighton dengan pergi dari istana. Namun, ia sendiri takut dengan posisi dirinya di dalam sana.

Maafkan aku, Leighton, gumamnya dalam hati. Hanya kata-kata itu yang bisa ia katakan untuk Leighton melalui sebuah surat yang ia letakkan di meja rias di dalam kamar mewahnya.

Ia mendongakkan kepalanya ke atas dan menghela napas, mengumpulkan tenaganya yang serasa hilang sejenak. Dan untuk terakhir kalinya, ia menolehkan kepalanya menuju arah Istana.

“Selamat tinggal, Leighton,” gumamnya, sebelum akhirnya Vrey memutuskan untuk bergerak lebih jauh ke dalam hutan, meninggalkan Istana dan Leighton.

***

Suara deru mesin terdengar halus di hampir seluruh bagian dari Kamala. Juga terdengar suara derap langkah sekumpulan orang yang berjalan di dek kapal. Vrey yang tengah terbaring di salah satu dek kapal, memenjamkan matanya sejenak. Ia menangkap suara itu dari dalam kamarnya. Suara-suara itu membawa dirinya mengenang kembali masa-masa di mana dirinya bersama dengan teman, saudara dan juga Leighton, melakukan perjalanan berbahaya. Sebuah kenangan yang amat sangat ia rindukan.

Terdengar ketukan halus di pintu deknya dan sebuah suara yang berkata bahwa tempat yang ia tuju telah dekat, sehingga ia diharapkan untuk bersiap-siap untuk mendarat. Mendengar hal itu, dengan sigap Vrey membenahi dirinya dan beberapa barang yang ia bawa saat ia kabur dari istana.

Setelah ia siap, ia keluar meninggalkan dek itu, dan berjalan menuju anjungan kapal. Dari tempatnya berdiri, ia dapat melihat sebuah siluet kota kecil yang berdiri di tengah-tengah hutan.

Telssier Citadel.

Tempat yang menjadi saksi bisu peristiwa besar lima tahun lalu, yang hampir saja merenggut nyawanya.

Pelariannya menuju Tellsier Citadel tak memiliki arti apapun. Ia hanya menginginkan sebuah tempat yang nyaman, hanya untuk merenungi dirinya sendiri. Membantunya lari sejenak dari perasaannya sendiri.

Ia sendiri tahu bahwa Tellsier Citadel adalah tempat Laruen dan keluarga kecilnya tinggal, dan kedatangannya saat ini akan membuat mereka terkejut. Namun jika ia kembali ke Myldrid saat ini, keadaannya akan semakin buruk. Kawan-kawannya di komplotan ‘Kucing Liar’ akan menyuruh Vrey kembali ke istana lagi, padahal Vrey tak menginginkan hal itu.

Sehingga keputusan terakhir adalah ia akan ke Tellsier Citadel, menemui Laruen, menceritakan masalahnya pada Laruen, dan semua akan kembali baik-baik saja.

***

Vrey tiba di Tellsier Citadel di saat matahari telah menyingsing ke barat. Gerombolan rumah-rumah yang terletak di atas pohon, jembatan-jembatan menggantung saling menghubungkan antara satu rumah dengan rumah yang lain terlihat dari pintu gerbang kota.

Vrey melajukan Komodonya menuju sebuah pondok kecil di pinggiran kota. Setelah ia sampai, ia menambatkan Komodonya tak jauh dari pondok. Dengan cekatan, ia memanjat naik sebuah tangga tali yang terjulur dari arah atas. Sesampainya ia di atas, ia berdiri di hadapan sebuah pintu kayu. Dengan ragu-ragu ia mengetuk pintu tersebut.

“Ya?” sebuah suara menjawab ketukan Vrey. Dan dalam sekejap pintu tersebut terbuka, mempertunjukkan sesosok wanita berkepang yang tengah menggunakan sebuah celemek di tubuhnya.

Dalam sekejap, Vrey bergerak menuju wanita itu dan memeluknya. Wanita tersebut terkejut dengan apa yang terjadi. “Vrey?” ucap wanita itu setelah beberapa saat menelaah keadaan. Ia mendorong jauh Vrey dari tubuhnya. Ia melihat Vrey tengah menggigit bibirnya, berusaha mencegah air matanya tumpah. “Apa yang terjadi padamu, Vrey?” tanyanya.

Vrey bergeming. Ia menggelengkan kepalanya pelan. “Tak ada apa-apa,” dustanya.

Laruen menatap Vrey dengan pandangan bingung, namun melihat keadaan Vrey yang cukup kacau, ia hanya membungkam mulutnya. Ia menarik tangan Vrey. “Ayo, masuk. Hangatkan dirimu dahulu di dalam,” ujarnya seraya menyingkir dari depan pintu, membukakan jalan agar Vrey dapat masuk ke dalam.

Vrey mengangguk singkat, lalu melangkah masuk ke dalam rumah mungil Laruen. “Kau tunggulah di sana,” ucap Laruen seraya menunjuk sebuah perapian kecil di ujung ruangan. Vrey mengangguk dan berjalan ke sebuah kursi yang terletak tak jauh dari perapian, sedangkan Laruen berjalan menuju ruang makan, meninggalkan Vrey sendirian.

Mungkin, saat ini Leighton sedang mencariku, pikirnya.

Sebuah ketukan pelan membuyarkan konsentrasi Vrey. Ia menolehkan kepalanya ke arah pintu depan, dilihatnya terdapat tiga sosok, seorang Elvar dewasa dan dua Vier-Elf kecil, yang masuk ke dalam rumah.

“Bibi Vrey!?” teriak salah satu Vier-Elf, seraya berlari ke arah Vrey, yang duduk terdiam di atas kursi. Dalam sekejap dua makhluk kecil berlari ke arahnya dan memeluk Vrey dengan erat. “Bibi Vrey!” “Bibi Vrey!” teriak mereka dengan semangat dan ceria, mereka semakin mengencangkan pelukan mereka di tubuh Vrey.

Vrey yang merasakan kerinduan mendalam pada kedua keponakannya, membalas pelukan mereka. “Lama tak jumpa, Reuven, Lyra,” ujarnya. Sebuah senyuman tersungging di wajahnya. Ia membenamkan wajahnya ke kedua tubuh yang sedang memeluknya erat.

“Hai, Vrey. Tumben sekali kau datang ke sini.” Vrey menengadahkan kepalanya, melihat ke arah asal suara yang bertanya padanya.

Sesosok Elvar berambut perak berjalan mendekat ke arah Vrey dan kedua bocah itu berpelukan. Vrey tersenyum tipis. “Ya. Lama tak jumpa, Karth. Maaf kalau merepotkanmu atas kedatanganku yang mendadak ini.”

Karth mengangkat bahunya sedikit. “Tak masalah. Lagipula ini juga adalah rumahmu juga.”

“Rupanya kalian sudah kembali.” Laruen berjalan menuju arah Vrey. “Bagaimana petualangan kalian di hutan, Reuven, Lyra?”

Mendengar namanya dipanggil, kedua bocah Vier-Elf itu melepaskan pelukan dari tubuh Vrey, lalu melihat ke arah Laruen. Senyum cerah merekah dengan lebar di kedua wajah bocah kecil itu.

“Menyenangkan sekali, Bu!” ujar Reuven dengan semangat. Lyra mengangguk kepalanya mantap, “kami akan kembali lagi ke sana besok. Benar bukan, Ayah?” tanya Lyra seraya mendongakkan kepalanya ke arah Karth.

Karth tersenyum dan mengangguk kecil. Pria itu bergerak menuju kursi lain di dekat perapian. Sedangkan Laruen tersenyum tipis, duduk di samping Vrey.

“Lalu ada apa Bibi Vrey datang ke sini?” tanya Reuven tiba-tiba.

“Hanya untuk berkunjung saja,” jawab Vrey. Ia menepuk pelan pipi Lyra.

“Sendirian saja, Bibi? Lalu mana Paman Leighton?” Lyra menatap dalam pada Vrey.

Mendengar pertanyaan Lyra, gadis berambut coklat itu terpaku. Matanya menatap kosong kedua keponakannya yang tengah memandang dirinya dengan pandangan  bertanya. Pikirannya terasa hampa saat Lyra mempertanyakan kehadiran Leighton.

Melihat gelagat Vrey, Laruen dengan segera mengarahkan pandangan kedua bocah tersebut, menghadap dirinya. “Nanti saja kalian bertanya pada Bibi Vrey, sayang. Bibi Vrey sekarang membutuhkan istirahat,” ucapnya seraya melirik ke arah Karth agar membawa kedua buah hatinya menjauh sejenak, “Bibi Vrey baru saja sampai dari perjalanan panjang. Jadi, lebih baik kalian bertanya besok saja, ya?”

Reuven dan Lyra menatap Laruen sejenak, lalu mengarahkan pandangan mereka ke arah Vrey yang tengah menatap kosong ke arah mereka. Reuven mendesah kecil, sedangkan Lyra menggembungkan pipinya. “Baiklah, Bu,” jawab mereka bersamaan.

“Terima kasih, Reuven, Lyra.” Laruen tersenyum, lalu mengecup kening kedua buah hatinya kecil. “Kalau begitu, kalian sekarang bersihkan diri kalian dahulu sebelum makan malam. Ikut ayah kalian sana.” Ia menepuk pelan punggung kedua bocah itu.

Reuven dan Lyra pun mengikuti langkah Karth yang telah bergerak menuju ruang mandi. Setelah merasa ketiga orang itu tak mampu mendengarkan pembicaraan yang akan terjadi di ruang tengah, Laruen menepuk pelan punggung Vrey, yang sedari tadi tegang.

“Ada apa?” tanyanya lembut. Ia mengusap perlahan punggung saudari kembarnya.

Vrey menghela napas panjang. Ia menggelengkan kepalanya pelan. “Tak ada apa-apa, Laruen,” kilahnya. Namun suaranya terdengar bergetar.

“Benarkah?”

Vrey mengangguk kecil. Ia menoleh ke arah Laruen. “Ya. Aku tidak apa-apa.”

Melihat kepalsuan yang terasa pada kata-kata Vrey, Laruen bangkit berdiri. Ia tak mau menanyai lebih jauh lagi dengan keadaan Vrey seperti saat ini, “Kalau begitu, kau istirahat saja dahulu, Vrey. Kurasa kau juga lelah bukan? Setelah perjalanan cukup panjang dari Granville ke sini.”

“Ya, aku cukup lelah memang. Terima kasih.”

Laruen mengangguk pelan. “Ayo, kuantarkan kau ke kamar.” Vrey mengikuti langkah Laruen menuju salah satu kamar kosong. “Beristirahatlah. Jika kau mau membersihkan badan dahulu, kau bisa menggunakan ruangan itu.” Laruen menunjuk sebuah ruangan kecil di ujung. “Selamat istirahat, Vrey,” ucap Laruen sebelum meninggalkan Vrey sendirian.

“Hmm. Terima kasih.”

Maafkan aku, Laruen. Aku tak bisa berkata banyak dahulu saat ini, namun besok aku akan mengatakannya padamu. Aku janji, gumam Vrey dalam hati.

***

Di pagi hari yang cerah sudah terdengar suara dentingan alat makan dan celotehan anak kecil yang dengan gembira menceritakan petualangan yang baru kemarin mereka lakukan di ruang makan.

“Kemarin Ayah menunjukkan cara memasang jerat di hutan. Ayah sungguh cekatan dalam memasang jerat. Kami menunggu beberapa waktu, tak lama setelahnya seekor tupai terjerat di dalamnya. Oleh Ayah tupai itu dibakar sebagai makan siang kami,” ujar Lyra dengan semangat, “rasanya lezat sekali.” Ia meletakkan kedua telapak tangannya di kedua pipinya, seakan ia merasa tupai bakar masih berada di dalam mulut mungilnya.

Suasana ruang makan terasa hidup karena celotehan kedua bocah mungil tersebut, Laruen tersenyum melihat tingkah anaknya, sedangkan Karth mengacak pelan rambut Lyra. Vrey memasang senyum palsu di wajahnya, ikut tersenyum dengan apa yang dikatakan oleh keponakannya.

Setelah acara makan pagi telah selesai, Karth mengajak kedua bocah Vier-Elf itu untuk menjelajah hutan lagi. Dengan gembira mereka berangkat menuju hutan Tellsier, mereka berjanji akan membawakan hadiah untuk Vrey. Vrey hanya tersenyum tipis, membalas perkataan Reuven dan Lyra.

Setelah ketiga orangb tersebut menghilang di antara pepohonan, Vrey mendudukkan dirinya di teras rumah Laruen. Ia menatap kosong hamparan hutan di hadapannya.

“Apa yang sedang kau pikirkan, Vrey?” Laruen mendekat menuju arah saudaranya duduk.

Vrey bergeming, ia tak menjawab pertanyaan Laruen. Gadis berambut coklat itu tak mau menatap Laruen yang duduk di sampingnya.

“Kau tak mau menceritakan masalahmu padaku” tanya Laruen.

Vrey menunduk. “Bukan begitu, tapi….”

Laruen memiringkan kepalanya, mencari jawaban dari Vrey.

Vrey menggelengkan kepalanya pelan. “Tapi aku tidak tahu harus bagaimana menceritakannya padamu,” ujarnya.

“Ceritakanlah pelan-pelan. Aku akan mendengarkannya.” Laruen mengusap pelan telapak tangan Vrey  yang diletakkan di antara kedua tangannya.

Vrey menghela napas panjang. “Aku lari dari Leighton.”

“Aku tahu,” balas Laruen.

“Dan itu semua berawal dari perasaanku sendiri. Ketakutanku.”

“Ketakutan?” Laruen terkejut mendengar perkataan Vrey. Saudarinya yang terkenal tak mengenal rasa takut selama ini, baru saja mengatakan ‘ketakutan’.

Vrey mengangguk. “Ya, ketakutanku akan Leighton dan juga istana terkutuk itu.” Ia tertawa pahit. “Konyol memang kalau kau mendengarkan aku ketakutan. Tapi itulah kenyataannya.”

“Apa yang kau takutkan?”

“Status.”

Laruen membelalakkan iris coklatnya, terkejut dengan penuturan Vrey. “Status?”

“Ya, status. Statusku dengan Leighton. Yang terlampau cukup jauh. Hal ini sudah menjadi pembicaraan seluruh penghuni istana sejak aku masuk ke sana. Banyak yang tak menyetujui akan kedatanganku ke sana. Namun sepertinya Leighton melawan hal itu. Dan hasilnya, saat ini aku memang bisa tinggal di sana, namun kehadiranku tak dihiraukan oelh mereka.

“Awalnya aku tak terlalu mempedulikan hal itu. Yang kupikirkan hanyalah aku harus berada di samping Leighton. Menyemangatinya setiap ia membutuhkan sebuah dorongan semangat. Membantunya agar ia dapat membangun kembali kerajaannya lebih baik lagi. Kehadiranku di sana tak lebih untuk memberinya semangat, karena aku memang mencintainya. Aku hanya ingin bisa bersama dengan Leighton, di dekatnya, di sampingnya setiap saat.

“Namun lama kelamaan aku sendiri tidak tahan dengan desas-desus di belakang kami. Banyak di antara bangsawan wanita yang secara terang-terangan tak menerimaku. Mereke memperlakukanku dengan tak menyenangkan. Bahkan jika aku berada di dekat mereka, aku bisa mendengar dengan jelas, cemoohan mereka terhadapku.

“Aku tak terlalu mendengarkan hal itu, namun kabar itu semakin lama semakin menyebar. Para dayang dan pelayan di istana juga secara perlahan ikut melawan kehadiranku di istana. Banyak di antara mereka tak mau lagi membantuku—walaupun ada beberapa dayang yang masih setia membantuku—kebanyakan dari mereka akhirnya menolak untuk melayaniku lagi.”

Terdengar desahan tertahan keluar dari bibir mungil Vrey. “Dan pada akhirnya, hal itu sampai pada keluarga kerajaan. Mereka secara perlahan menghindariku—walaupun aku tahu mereka sejak awal tak terlalu menerima kehadiranku—namun sejak kabar itu berhembus di dalam istana, sikap mereka jauh berbeda. Dan itu semakin membuatku takut.

“Aku takut kehadiranku hanya akan mempersulit keadaan Leighton. Jika sampai para bangsawan menentang dirinya, maka ia akan kesulitan untuk menjaga keadaan Kerajaan. Jadi pada akhirnya aku memutuskan untuk lari darinya. Menghilang dari hadapannya, agar ia tak perlu merasakan hal yang sama denganku. Aku hanya ia bahagia,” jelas Vrey. Sebulir air mata menuruni kelopak matanya.

Laruen tertegun mendengar penjelasan Vrey. Ia tidak tahu bahwa saudaranya mengalami hal berat selama ia tinggal di dalam Istana Granville. Selama ini jika Vrey datang berkunjung bersama Leighton, gadis itu akan selalu tersenyum. Sebuah senyuman bahagia. Tapi Laruen tak tahu bahwa dibalik senyuman itu Vrey menyimpan sebuah kepahitan di dalam hatinya.

“Apa Leighton tahu akan hal itu?” tanya Laruen.

Vrey menggeleng. “Tidak. Leighton tidak tahu. Aku juga tidak memberitahukannya. Jika aku memberitahunya, hanya akan membuatnya sulit. Jadi aku merahasiakan hal ini.”

“Tapi jika kau tak memberitahukan masalah ini pada Leighton, maka—“

Vrey mengarahkan kepalanya ke arah Laruen. “Ia tak perlu tahu hal ini. Jika ia mengetahui hal ini, maka hanya akan mempersulit dirinya. Lebih baik biarkan aku yang berkorban kali ini. Dahulu ia sudah terlalu banyak berkorban untukku. Jadi, kali ini biar aku saja yang berkorban untuknya.” Ia tersenyum tipis. “Bukankah cinta membutuhkan sebuah pengorbanan?”

“Cinta memang membutuhkan pengorbanan, Vrey. Namun bukan begini caranya. Cara ini hanya akan menyiksa kalian berdua. Bukan hanya kau saja tapi juga Leighton.”

“Tidak. Ia tak akan tersiksa dengan caraku—“

“Leighton akan tersiksa juga, Vrey. Jika ada salah satu orang yang kalian cintai tiba-tiba menghilang dari hadapannya, tanpa meninggalkan jejak ataupun tak memberitahukannya, apakah orang tersebut tak tersiksa?

“Cinta memang memerlukan pengorbanan, namun tidak dengan cara seperti ini. Vrey, dengarkan aku. Selama kalian saling mencintai, perasaan kalian tak berubah sama sekali, aku yakin kau akan mampu melewati semua masalah ini.”

Vrey menggelengkan kepalanya. “Tidak. Itu tidak mungkin. Itu tidak akan—“

“Vrey!” Laruen menggenggam erat tangan Vrey. “Tidak ada kata mustahil selama kalian berdua melewatinya bersama. Perasaan cinta merupakan perasaan paling kuat yang dimiliki oleh manusia. Dan tak ada kekuatan lain yang mampu mengalahkan kuatnya perasaan cinta, Vrey. Percayalah.”

Laruen menatap lekat iris violet Vrey. Vrey mendapati sebuah keyakinan besar terpancar dari tatapan Laruen, bahwa masalah ini akan bisa diselesaikan dengan baik. “Percayalah, Vrey.”

Vrey menundukkan kepalanya, menghindari tatapan Laruen. Ia tidak tahu harus berkata apa. Apa yang dikatakan Laruen memang terdengar masuk akal. Namun ia takut untuk meyakini hal itu. Takut bahwa kenyataan akan berkebalikan dengan apa yang diyakininya.

“Dan kurasa sekarang kau bisa mengklarifikasi semua permasalahanmu, Vrey.”

Mendengar apa yang dikatakan saudarinya, ia menegakkan kepalanya. Terkejut dengan apa yang ia dengar. “Klarifikasi?” tanyanya.

Laruen tersenyum, ia menunjuk ke sebuah arah dengan telunjuk jarinya. Mengarah ke seorang pemuda yang tengah berjalan menuju pondok Laruen.

“Leighton!?” Vrey berdiri dari tempatnya duduk, lalu menuruni tangga, berjalan menuju arah Leighton.

“Apa yang kau lakukan di sini? Bagaimana kau bisa—“

Telunjuk tangan Leighton diletakkan tepat di bibir Vrey. Pemuda itu tersenyum pada gadis di hadapannya. “Aku tahu kau akan ke sini. Karena melihat dari sifatmu, kurasa kau tidak akan kembali ke Myldrid, dan membuat teman-temanmu khawatir.” Vrey menatap Leighton dengan tatapan terkejut. Lalu tanpa mengetahui apa yang terjadi, Vrey berada dalam dekapan Leighton. Leighton memeluknya dengan erat.

“Maafkan aku.” Walau samar, Vrey mampu mendengar apa yang dikatakan Leighton. “Maafkan aku, Vrey. Karena kebodohanku, akhirnya kau mengalami semua itu.”

“Kau mendengarnya?”

Leighton menganggukkan kepalanya pelan. “Aku mendengarkan semuanya. Dari awal.”

Vrey melebarkan iris violetnya. Ia mendengarkan apa yang tadi kuceritakan, berarti sejak tadi Leighton telah….

“Aku mengetahuinya sejak awal, namun aku berpura-pura tak mengetahuinya, Vrey. Semua gunjingan yang ditujukan padaku dan juga padamu. Tapi bukan berarti aku menginginkan kau tersiksa seperti itu, hanya saja aku mencari waktu yang tepat hingga akhirnya mereka semua bisa membungkam mulut mereka. Dan aku terlalu terlambat untuk beraksi. Hingga akhirnya kau memilih jalanmu seperti ini.”

Vrey merasakan tubuhnya dijauhkan oleh Leighton. “Seperti apa yang dikatakan oleh Laruen tadi, perasaanmu terhadapku tak berubah bukan?”

Vrey menggeleng pelan. “Tidak.”

“Jika perasaanmu belum berubah, aku yakin kita bisa melewati masalah ini. Perasaan kita akan mampu menyelesaikan masalah ini,” ucap Leighton, berupaya meyakinkan Vrey.

“Tapi itu tak semudah—“

“Karena itu, aku sudah memutuskannya.” Leighton mengambil jarak dari Vrey. Secara tiba-tiba, Leighton berlutut di hadapan Vrey, dengan posisi kaki kiri berada di depan, dan tangan menengadah ke atas. Leighton memandang Vrey lekat. “Maukah kau menikah denganku, Vrey?”

Vrey terkesiap dengan tindakan Leighton.

“Jika aku menikahimu sekarang juga, mereka semua tak akan memprotes kehadiran dirimu. Kita bisa hidup bahagia seperti yang kita bayangkan.”

Tanpa ia kehendaki, bulir air mata keluar dari kelopak matanya. Vrey tak mampu membendung perasaannya. Melihat reaksi Vrey, Leighton berdiri dan memeluk Vrey.

“Aku bersedia.” Vrey mengucapkan dengan suara kecil, sehingga hanya Leighton yang mampu mendengarnya. Terdengar isak tangis dari mulut Vrey.

Leighton tersenyum gembira mendengar jawaban Vrey. “Aku tahu. Aku tahu kau akan menerimanya.” Ia mempererat pelukannya.

Vrey menyandarkan kepalanya ke dalam dekapan Leighton. Saat ini ia yakin bahwa perasaannya terhadap Leighton adalah nyata. Dan kata-kata yang baru saja pemuda itu ucapkan adalah hal yang selalu ia dengarkan sejak awal.

Bersamaan dengan jawabannyalah, ia dapat melihat sebuah kebahagiaan besar akan menaungi kehidupannya. Seumur hidupnya. Selalu bersama dengan orang yang ia cintai. Yaitu, Leighton.

Cinta tak memandang status atau pun perbedaan. Selama perasaan cinta ada dalam diri manusia, segala macam penghalang tak akan mampu mengganggu hubungan kedua anak manusia yang tengah menjalin cinta. Karena cinta adalah sumber kehidupan.

Photobucket

Advertisements

2 thoughts on ““Vrey’s Confusion” oleh Fairy Lucyka

  1. Kebingungan

    Hal yang wajar ada, tapi tak terpikirkan

    Dgn status yg berbeda spt itu, keinginan utk kabur itu pasti ada, apalagi kalau nggak kuat.. nah..

    Akhirnya Leighton melamar Vrey ^^ jdnya tak akan ada penghalang lagi di antara mereka, hore 😀

  2. Pingback: Ther Melian fanfiction contest FINALE! « Shienny's Rants

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s