Book Publishing 101 #Part 4

Understanding Genre

Pertama. Jujur aja deh… Saia nggak akan mengklaim sebagai expert atau ahli dalam topik genre yang akan saia ulas kali ini >_< Entri ini pun, saia tulis sebagai bentuk keinginan saia untuk belajar dan memahami setiap genre, dan mengidentifikasikan tulisan saia sedekat mungkin dengan genre yang saia inginkan.

Kedua. Mengapa tulisan mengenal genre ini saia golongkan ke entri Book Publishing?  Karena suka atau enggak suka kemampuan mengenali genre tulisan, dan menentukan dengan benar termasuk genre apa karya yang kita tulis, serta mengarahkan fokus cerita hingga tepat pada genrenya bisa berdampak besar terhadap seberapa besar kemungkinan karya tersebut dipublikasikan. (Lebih jelas tentang hal ini akan saia bahas di akhir entri)

Dan Terakhir… Sebelum mulai membahas, saia mengingatkan dahulu kalau tulisan ini—seperti biasa—ditulis berdasarkan pengalaman pribadi, dan didukung oleh sedikit riset yang saia lakukan via mesin pencari google, dan berbekal materi dari kelas Novel Writing Class yang pernah saia ikuti.  Jadi kalau teman-teman menemukan hal-hal yang sekiranya terlewat oleh saia, silahkan menambahkan di kolom komentar pada blog ini. Atau tulislah entri serupa di blog teman-teman, dan nanti tautannya akan saia pasang di halaman ini untuk memperkaya informasi ^_^

What is Genre

Oke mari kita mulai topik ini dengan pertanyaan paling sederhana… Genre itu apaan sih? ^^;

Pertama, genre bukan format buku.

Novel Grafis misalnya, novel grafis bukan genre, melainkan istilah untuk menyebut buku komik yang memiliki ketebalan serupa (bahkan melebihi novel) Misalnya: V for Vendetta, Watchmen Beberapa contoh novel grafis yang populer lainnya dapat dilihat di tautan ini.

Kedua, genre tidak sama dengan format literatur.

Cerita pendek, novel, novella, dan puisi bukan genre. Mereka adaah format atau bentuk literatur yang ditentukan oleh jumlah kata. Cerita pendek misalnya, adalah format fiksi yang terdiri dari 500-5000 kata. Novella bisa terdiri dari 17.500-40.000 kata, sedangkan novel biasanya terdiri dari 45.000-80.000 kata.

Nah jadi, apa itu Genre?

Genre adalah kategori karya-karya fiksi populer. Ada kriteria-kriteria yang menentukan/ menjadi ciri-khas dari masing-masing genre. Nah berdasar kriteria itu, ada beberapa genre utama yang dikenal dalam dunia literasi-fiksi. NAMUN untuk bahasan kali ini sengaja saia batasi empat genre saja ya, agar tidak terlalu melebar. Selain itu pertimbangan saia, genre-genre ini tergolong akrab bagi pembaca di Indonesia.

1. Science Fiction and Fantasy

Walau sering dianggap sebagai satu genre yang sama, sains-fiksi dan fantasy sebenarnya adalah dua genre yang berbeda. Dalam sains fiksi, penulis menggunakan  elemen imajinatif yang masih memungkinkan untuk terjadi dalam koridor dan hukum-hukum sains dan alam untuk penggerak plot cerita. Sedangkan dalam fantasi, penulis menggunakan elemen-elemen supernatural seperti sihir, makhluk-makhluk ajaib (Naga, Dewa-Dewi, Aether) sebagai penggerak utama plot cerita. (sumber: Science Fiction and Fantasy Writers Association® SFWA®)

Harry Potter dan Narnia adalah dua judul novel fantasi yang sangat terkenal. Contoh lain novel science fiction populer dapat dilihat di sini, dan novel fantasy populer dapat dilihat di tautan ini.

2. Horror

Sesuai dengan namanya, genre horor bertujuan menimbulkan rasa ngeri, tidak nyaman, atau bahkan menakuti pembacanya. Salah satu penulis horror yang terkenal adalah Stephen King, kamu juga bisa melihat contoh-contoh novel horror yang populer di tautan ini.

3. Detective, Mystery & Crime

Genre detective dan mistery hampir nggak bisa dipisahkan satu sama lain. Kisah-kisah dalam genre ini biasanya berpusat pada aktivitas sang protagonis (biasanya berprofesi sebagai penegak hukum, namun ada pula yang tidak) memecahkan suatu kejahatan, biasanya pembunuhan. Sedangkan genre crime-fiction biasanya diceritakan dari sudut pandang pelaku kejahatan. (sumber: Mystery Writers of America®)

Kalian tentu sudah kenal novel-novel misteri karya Agatha Christie, kan? Nah beberapa judul novel yang populer dalam genre ini dapat dilihat di sini.

4. Romance

Genre ini berfokus pada kisah pencarian kebahagiaan seorang wanita dan pria melalui hubungan asmara. Ada dua elemen dasar yang menjadi ciri khas genre romance, yaitu satu kisah asmara sebagai pusat seluruh cerita, dan ending yang memuaskan/ ending bahagia bagi para protagonisnya. (sumber: Romance Writers of America®) Beberapa judul novel romance yang populer dapat dilihat pada tautan ini.

Oh iya, sekedar mengingatkan—walau saia rasa sampai di sini teman-teman tentunya sudah menyadari—kalau genre tidak sama dengan klasifikasi pembaca.

Memang… mengetahui untuk siapa kita akan menulis novel (anak-anak, remaja, dewasa muda, pria atau wanita) sangat penting. Bahkan sama pentingnya dengan mengetahui genre tulisan kita. Namun dalam entri kali ini saia hanya akan membahas mengenai genre saja. Lagipula setelah mengetahui genre karya yang hendak kita tulis, kita dapat dengan mudah menyesuaikan konten-nya untuk usia dan jenis kelamin pembaca yang disasar. Misalnya karya fantasi untuk anak-anak tentunya nggak akan mengumbar adegan kekerasan yang berdarah-darah, apalagi seks.

Tidak ada standar khusus untuk penyesuaian konten ini, biasanya kepekaan dan etika penulis sendiri yang berperan besar (serta sensor ketat editor dan kebijakan penerbit tentunya ^_^) Namun apabila teman-teman membutuhkan panduan untuk menentukan apa yang appropriate dan tidak untuk dibaca golongan usia tertentu, menurut saia panduan Rating ERSB ini bisa dijadikan referensi.

Sub Genre

Nah, empat genre diatas  pun sebenarnya masih dapat diturunkan lagi ke dalam beberapa sub genre. Bahkan ada beberapa penulis yang dengan sukses mengawinkan dua genre, sehingga dikenal sebagai sebuah genre terpisah. Saia akan ambil contoh Paranormal Romance.

Sesuai namanya genre ini masih tergolong genre Romance, namun telah diimbuhi dengan elemen dari genre fantasy/ science fantasy/ horror. Beberapa elemen fantasi yang umumnya ditemui dalam genre ini antara lain time travel, futuristik, sihir, hantu, vampir, dan shapeshifter atau pengubah wujud. Beberapa judul paranormal romance yang populer dapat dilihat di tautan ini.

Determining your Genre

Yang perlu diingat sebagai penulis, kita berperan penting untuk menentukan apa fokus utama dari kisah yang kita tulis. Dan pada akhirnya fokus itu pula yang menentukan jatuh di genre/ subgenre mana tulisan kita.

Contoh:

“Sebuah novel tentang protagonis wanita yang jatuh cinta pada sesosok hantu tampan.”

Premis diatas bisa jatuh ke dalam genre Romance ataupun Paranormal Romance, tergantung cara penulis memainkan fokus ceritanya.

Apabila penulis menekankan pada elemen romance, dalam artian novel tersebut memang bertujuan untuk membuat pembacanya turut merasakan debar-debar jantung si protagonis , dan seluruh konflik yang disajikan hanya mengarah kepada pasang-surutnya hubungan mereka, serta bertumpu pada pencarian kebahagiaan antara si wanita dan si pria. Dan di akhir kisah, protagonis dan pujaannya hatinya akhirnya bersatu (tanpa memedulikan konsekuensi maupun logika mengapa protagonis yang manusia dan hantu bisa bersatu). Maka genre novel ini tergolong Romance.

Namun apabila penulis lebih mengedepankan elemen fantasi, menekankan cerita pada sebab-akibat yang memungkinkan si protagonis dapat melihat hantu. Lalu penulis juga berusaha membangun sebuah dunia dalam ceritanya dimana manusia hantu bisa bersatu, beserta segala konsekuensi-konsekuensi fisik maupun magis yang harus dialami si protagonis dan si hantu saat mereka  bersatu. Maka seluruh konflik yang disajikan dalam novel ini tentunya akan berpusat pada dinamika hubungan antara alam hidup dan alam mati, alih-alih pada pasang-surutnya emosi bahagia kekasih beda dunia itu. Dengan sendirinya novel ini akan jatuh dalam kategori Paranormal Romance, Dark Fantasy, atau bahkan Fantasy (khususnya bila fokus cerita sama sekali tidak berkaitan dengan pencarian kebahagiaan antara si wanita dan di si pria.)

Why Genre are Important?

Ok, jadi kita udah tahu tentang genre, dan udah tahu tentang sub genre. Kita juga sudah tahu bagaimana menggolongkan kisah yang kita tulis.

Lalu pentingnya apa sih? Kenapa menulis aja kudu ngerti genre segala?

Well, ternyata jawabannya sangat penting kalau kita ingin karya kita diterima oleh pembaca, dan khususnya bila kita ingin karya kita diterbitkan ^_^

Saat menulis sebuah cerita, kadang kita bisa terlalu asyik bereksperimen, menambahkan elemen ini dan itu bahkan sampai mengaburkan batas antara genre. Terkadang kita lupa bahwa setiap genre mempunyai kriterianya sendiri.

Mengapa kriteria genre itu penting? Karena genre digunakan oleh publisher dan toko buku untuk mengelompokkan jenis-jenis karya fiksi. Coba deh diingat-ingat, kalian sering melihat salah satu label-label genre diatas saat berjalan-jalan di toko buku bukan? Entah itu romance, detective atau fantasy.

Jaringan toko buku mengelompokkan dan melabeli buku berdasar genre bukan tanpa alasan. Setiap genre sudah mempunyai komunitas pembaca yang cocok dengan genre tersebut. Dan bukanlah hal yang aneh bahwa para pembaca itu sudah memiliki ekspektasi atau harapan akan genre-genre yang sudah mereka akrabi.

Pembaca genre romance misalnya, mereka membaca novel romance dengan harapan menemukan dua protagonis yang saling jatuh cinta akan bersama di akhir novel, karena ini memang merupakan sebuah kriteria standar dari genre romance. Apabila kita menulis genre romance tanpa mengetahui dahulu kriteria ini, dan memutuskan membuat twist besar pada akhir kisah dengan membuat sang antagonis tiba-tiba membunuh kedua protagonis. Maka besar kemungkinan novel itu akan ditolak oleh penerbit, atau kalaupun terbit, akan susah mendapat tempat di hati pembaca setia genre romance.

Semua novel (dalam genre yang sama) akan memiliki beberapa pakem atau elemen serupa. Coba deh klik tautan  contoh novel dalam masing-masing genre yang ada diatas. Baca sinopsisnya dan bandingkan satu-persatu, pastinya kamu menyadari ada kesamaan tak tertulis diantara masing-masing novel dalam genre yang sama, bukan?

Hal itu karena penggemar atau pembaca setia dari masing-masing genre mengharapkan novel berikutnya yang mereka baca masih memiliki elemen serupa dengan novel yang sudah pernah mereka baca.

Fans novel misteri tentu mengharapkan protagonisnya akan berkutat memecahkan kejahatan sepanjang novel dan berhasil menemukan pelakunya di akhir novel. Sedangkan fans novel horror, mungkin berharap untuk dibikin merinding dan berdebar-debar ngeri sejak bab pertama, dan biasanya lebih terbuka pada akhir kisah yang tidak bahagia atau tidak terduga.

Sehingga bukan rahasia lagi bahwa penerbit pun lebih menyukai naskah-naskah yang jelas genrenya, dan naskah yang memiliki pakem dan elemen-elemen yang umumnya ditemui dalam masing-masing genre.

Tentunya itu menjadi tantangan bagi kita yang berusaha menulis naskah yang baik. Di satu sisi kita dituntut untuk mengikuti pakem bahkan formula yang sudah ada agar tidak mengecewakan pembaca (dan tentunya agar karya kita dapat dijual) Namun di sisi lain sebagai penulis kita tentunya ingin menulis sebuah karya yang bukan sekedar kopi-paste dari karya-karya sejenis dalam genre yang kita tekuni.

Ada satu istilah dalam dunia desain yang sering saia dengar. “Think out of the box!” Berpikirlah diluar kebiasaan! Kalau kita terapkan dalam dunia tulis-menulis dalam kasus ini mungkin kalimat itu bisa diartikan kurang lebih “Berpikirlah di luar formula standar genre!”

Memang benar, dengan berpikir di luar formula, bukan nggak mungkin kita dapat menghasilkan karya yang unik, lain daripada yang lain, bahkan mungkin menciptakan sub-genre baru yang nantinya akan jadi populer. Tapi ingat kita juga nggak mau merusak standar sebuah genre, apalagi merusak kenyamanan membaca para fans setia dari masing-masing genre. Kuncinya adalah menemukan keseimbangan yang tepat antara elemen dan pakem genre yang boleh dilanggar maupun tidak.

Ada satu hal lain yang selalu saia tekankan ke mahasiswa saia. “It’s true you have to think outside the box. But first you have to know the box!”  Sebelum berpikiran untuk menabrak batasan dan melanggar pakem-pakem genre, ada baiknya kita mengenal dulu sedalam-dalamnya tentang genre yang ingin kita tulis. Lagipula, sebelum bisa melanggar peraturan kita harus mengetahui dan  memahami peraturan itu dulu kan? Kalau nggak tahu dan nggak paham, lantas apanya yang mau dilanggar? ^^;

Nah bagaimana caranya memahami peraturan-peraturan dan pakem-pakem dari setiap genre fiksi tersebut? Sayangnya nggak ada cara lain daripada membaca sebanyak mungkin karya-karya literasi dari genre yang ingin kalian tekuni.

Memang, kita bisa dengan mudah mencari tahu tentang formula standar setiap genre melalui internet. Namun, tanpa membaca sebanyak mungkin, kita nggak akan benar-benar merasakan dan memahami jiwa dari masing-masing genre.

Seorang penulis yang baik harus paham perasaan pembacanya, dan cara paling sederhana untuk memahami itu adalah dengan menjadi pembaca itu sendiri. Bacalah sebanyak mungkin, khususnya buku-buku dari genre-genre yang ingin kalian tulis. Kalau ingin menulis romance, bacalah novel-novel romance. Kalau ingin menulis fantasi, lahaplah semua novel fantasi yang bisa kalian temukan. Atau, kalau masih belum bisa menentukan genre apa yang sesuai untuk kalian, bacalah novel-novel dari berbagai genre sampai menemukan yang paling pas untuk kalian.

Semakin banyak membaca, lama kelamaan pemahaman akan pakem-pakem genre akan muncul dengan sendirinya dalam benak kita. Dan dengan sendirinya insting kita akan terasah untuk menentukan mana yang boleh dan enggak boleh dilakukan dalam setiap genre. Pastinya hal itu akan memudahkan kita saat menentukan genre apakah yang sesuai untuk kita, dan tentunya saat menulis naskah kita, bukan?

Advertisements

13 thoughts on “Book Publishing 101 #Part 4

    • Yup, makanya yang 3 itu masih dijadikan satu kan ^^

      Eniwei pembagian kategori genre emang ngga bisa persis sama, waktu browsing kemarin saia nemu beberapa klasifikasi.

      Bahkan ada yg ngegolongin “Young Adult” dan “Historical Romance” jadi genre tersendiri. Padahal di source lain His-Rom itu subgenre perpaduan romance dan history.

      Makanya saia pilih 4 itu aja utk dipake buat contoh, karena 4 itulah genre yg paling ‘umum’ (rata2 daftar klasifikasi genre yg saia temukan pasti nyantumin 4 genre itu) dan paling dikenal pembaca.

      Hampir di semua klasifikasi yg saia temukan genre sci-fi dan fantasy digabung, demikian juga crime-mysteri-detective 🙂

  1. Eh baru mau tanya soal thriller. Udah keduluan elwyn :))

    Tambahan aja, mengenai bahan bacaan. IMO. Sebaiknya, jangan membatasi jenis bacaan kita. Semisal, walaupun ingin jadi penulis fantasi, jangan melulu yang dilahap itu genre fantasi aja. Takutnya, malah idenya itu terkurung dalam “kotak fantasi”. Biasakan juga baca genre2 lain. Untuk buka wawasan aja. 🙂

  2. “sebelum bisa melanggar peraturan kita harus mengetahui dan memahami peraturan itu dulu kan? Kalau nggak tahu dan nggak paham, lantas apanya yang mau dilanggar?”

    SETUJU berat sama statement ini! Saya yang masih belajar untuk menjadi penulis pun masih harus belajar lebih banyak!
    Izin copas ke dokumen pribadi kak Shienny ^o^

  3. Pingback: Lomba Novelet #fikfanDIVA | Takpernahpadam84's Blog

  4. wahh, benar-benar menambah pengetahuan,
    selama saya mencoba menulis naskah, saya tidak tahu pengelompokan setiap genre. heee…

    hemmd, kak Shiennyms.
    sekarang saya sedang mencoba menulis naskah fantasy, tapi ada kisah romancenya juga.
    gimana genrenya nanti kak.
    :’)

    • sama-sama mega, terima kasih udah mampir ^_^

      kalau fantasi dengan romance, kembali lagi tergantung fokus ceritanya. Kalau penggerak utama plot nya tetap elemen fantasinya, dan romancenya hanya bumbu, genre nya bisa masuk fantasi murni (kalau kadar romance nya benar2 minimal dan nggak terlalu berpengaruh pada plot utama) atau fantasy-romance (kalau kadar romancenya cukup banyak dan menjadi salah satu sub plot penting)

      kalau sebaliknya kadar fantasi nya yang ringan dan seluruh plot digerakkan oleh konflik percintaannya, novel kamu malah bisa jadi masuk kategori romance 🙂

  5. Hello kak, aku penulis naskah newbie 😀 udah sering nulis fiksi di forum fiksi hehe tp baru berani buat naskah akhir2 ini..

    Kak, kalo semisal magic dan action fantasy itu masuk genre apa??
    Makasih infonya ^^

    • Halo Septa, masih genre fantasi kayaknya (ini saia masih ngomongin fantasi secara general ya, karena di dalem fantasi itu masih banyak sub genre turunannya ^^ misalnya : high-fantasy, low fantasy, steampunk, dll) kapan2 kalo keburu ngeriset saia akan coba bahas :3

  6. terimakasih infonya.
    tapi saya masih agak bingung dg genre supernatural yg menurut saya hampir sama dg horror, krn tokohnya sm2 berupa makhluk remang2 a.k.a makhluk halus. kira2 bedanya genre supernatural & horror sendiri apa? bisa dijelaskan?

    thx before ^^

    • Acha, dari yang saia baca di wikipedia sih:
      Horror fiction, horror literature and also horror fantasy is a genre of literature, which is intended to, or has the capacity to frighten its readers, scare or startle viewers/readers by inducing feelings of horror and terror. It creates an eerie and frightening atmosphere. Horror can be either supernatural or non-supernatural.

      Atau kira2 genre horor itu tujuan utamanya untuk menakuti dan meneror pembaca sepanjang cerita. Genre horor sendiri bisa memiliki plot driver yang berupa elemen non-supernatural atau supernatural (misalnya: The Ring, Insidious)

      ====

      Sedangkan genre supernatural sebagaimana dikutip dari wikipedia: Supernatural fiction (properly, “supernaturalist fiction”) is a literary genre exploiting or requiring as plot devices or themes some contradictions of the commonplace natural world and materialist assumptions about it.

      yang kira2 artinya: pada genre supernatural, plot driver nya adalah pada perbenturan antara dua dunia, yaitu dunia normal/ dunia sehari-hari yang kita kenal dan dunia yang ‘tidak normal’ tempat makhluk2 ajaib seperti vampir, demon, spirit/ hantu.

      ====

      Dua genre ini emang sering digabungkan oleh beberapa penulis novel dan film, sehingga wajar kalau akhirnya jadi rancu. Yang perlu diingat, novel/ film yang genre nya horor belum tentu bergenre supernatural bila penulis tidak menggunakan elemen2 supernatural (vampir, hantu,dll) untuk menimbulkan rasa ‘teror’ pada benak pembaca. Contohnya adalah film horror yang berfokus pada serial killer, contoh: film2 Hannibal Lecter, SAW.

      Sebaliknya juga, film/ novel yang genre nya Supernatural belum tentu bergenre horror, khususnya bila penulis tidak memasukkan elemen2 supernatural dengan tujuan menakuti pembaca. Genre supernatural bisa saja di cross dengan genre romance (misalnya: twilight) atau komedi (misalnya: hotel transylvania)

      Kesimpulan sederhananya:

      horror: menakut2i, meneror, membuat ngeri pembaca

      supernatural : perbenturan dua dunia (manusia x werewolf, hantu, vampir, spirit, dll)

      moga2 cukup jelas ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s