Book Publishing 101 #Part 6

Yahoooo apa kabar semuanya, maaf karena sudah lama sekali nggak menulis update apapun di sini. Kesibukan real life udah benar-benar menyita waktu saia sampai-sampai nggak sempat meluangkan waktu apalagi pikiran untuk menulis di blog ini.

Eniwei, mumpung weekend ini ada sedikit waktu luang saia akan coba melanjutkan rangkaian entry Book Publishing 101 . Kali ini saia ingin menulis sedikit tentang bagaimana mengembangkan plot cerita yang memiliki satu pokok pikiran yang jelas alias FOKUS.

Kenapa saia memilih fokus ketimbang menulis karakter, menjalin plot yang rumit dan penuh intrik, atau bagaimana menulis adegan yang cetar membahana mengharu biru?

Selain karena request dari seorang teman melalui jejaring kicau twitter, saia sendiri menganggap bahwa fokus yang baik jauh lebih penting ketimbang semua elemen diatas.

Coba deh diingat-ingat, pernahkah teman-teman membaca buku (atau bahkan menonton film) yang memiliki jajaran tokoh keren, plot yang menjanjikan, bahkan dibumbui adegan-adegan menarik. Namun saat sesi membaca/ menonton berakhir teman-teman hanya terduduk bengong sambil berpikir… Ceritanya tadi tentang apaan sih?

Nah, saat kita membaca buku atau menonton film dan berakhir bingung ceritanya tadi tentang apa, itu hanya berarti satu hal. Penulis buku atau film tersebut tidak berhasil menyampaikan ceritanya dengan baik karena tidak fokus.

Story development

Lantas, bagaimana menjaga agar cerita yang kita tulis memiliki fokus?

Hal pertama yang harus kita tetapkan adalah MAIN IDEA alias konsep atau ide dasar untuk mengembangkan cerita. Sebagai contoh ide dasar dari seri novel saia Ther Melian  adalah “Perbenturan kepentingan.”

Tentunya ide dasar itu nggak muncul begitu aja, awalnya saia memulai dari keinginan untuk menulis novel tanpa big bad evil alias tokoh jahat yang tertawanya “MUWAHAHAHAHA” dan biasanya juga digambarkan memiliki cita-cita mulia: menghancurkan dunia. Dari sana saia mulai menulis beberapa draft awal dan merevisi plot demi plot, barulah saia akhirnya bisa menemukan ide dasar dari kisah yang ingin saia sampaikan.

Nah setelah ide dasar ditetapkan, hal yang selanjutnya adalah TEMA.

Tema merupakan ‘nyawa’ dari keseluruhan cerita yang akan kita tulis. Tema cerita yang baik biasanya bisa disingkat menjadi satu kalimat (atau populer juga disebut loglines). Sebelumnya saia pernah membahas tentang tema dan logline ini pada entry tentang menulis cerpen

Saat itu saia menulis:

“Tema memberi kita sebuah fokus. Fokus tentang apa pesan apa yang ingin kita sampaikan pada pembaca saat mereka selesai membaca cerpen kita. Dari situ kita bisa memilah mana adegan yang benar-benar penting, mulai membuang segala sesuatu yang nggak perlu. Cerpen pun akan menjadi satu jalinan cerita yang padat dan jelas, enggak merembet kemana-mana.”

Hal yang sama berlaku untuk bentuk cerita yang lebih panjang, misalnya novel. Tema memberi tujuan atau arah untuk plot cerita kalian. Dengan adanya tema, selain cerita ngga akan melebar seperti yang saia sebutkan diatas, kalian juga bisa memfokuskan cerita pada satu ide pokok atau satu plot besar yang akan menunjang keseluruhan kisah.

Banyak sekali draft-draft awal novel dan cerpen karya saia yang kemudian  harus saia revisi atau bahkan saia buang karena saia tidak bisa merumuskan ide dasar saia menjadi sebuah tema yang solid.

Setelah tema dirumuskan, hal berikut yang harus kita ingat adalah berhati-hati agar cerita yang ditulis tidak menjadi kacau karena kita terlalu asyik menulis bermacam sub-plot*  yang akhirnya mengambil alih elemen plot utama sehingga mengaburkan tema utama cerita.

*sub-plot: plot sekunder, atau percabangan cerita yang merupakan bagian dan masih terkait dengan plot utama.

Sebagai contoh, pada draft awal novel Ther Melian Chronicle,  Desna bukanlah pengawal Putri Ashca, melainkan kelompok perampok jalanan yang secara tidak sengaja berpapasan dengan kelompok Vrey dan Leighton saat mereka sedang bertemu dengan Putri Ashca. Berkembang dari sana, saia menulis sub-plot mengenai kisah cinta antara Desna dan Putri Ascha yang perlahan-lahan tumbuh.

Seperti yang teman-teman lihat sendiri di versi finalnya ide ini saia hapus total dan saia menulis sub-plot Desna sebagai pengawal sekaligus kekasih sang Putri.

Mengapa demikian?

Karena sub-plot yang  saia rencanakan tersebut akan terlalu menyita halaman, sehingga tema cerita buku ke dua Ther Melian (yang semestinya berpusat pada perkembangan hubungan antara Leighton dan Vrey sebagai akibat pertentangan mereka dengan kelompok Valadin) menjadi kabur.

Dengan mengubah karakter Desna sekaligus status hubungannya  dengan Putri Ascha, kedua tokoh tadi (beserta sub-plot mereka) justru menjadi sarana bagi saia untuk memajukan jalannya plot utama, yaitu hubungan antara Leighton dan Vrey; dan bukannya mengalihkan perhatian pembaca ke sub-plot yang tidak perlu.

Penyakit kita (well penyakit saia sih benernya) saat menulis biasanya kita begitu asyik merancang back story atau kisah latar untuk masing-masing karakter, dan kadang kala sebagai kreator kita suka latah memasukkan semuanya ke dalam cerita. Tanpa sadar bahwa hal itu justru membuat kisah yang ditulis menjadi tidak fokus kepada tema.

Sebaiknya sih semua adegan dan sub-plot di dalam kisah yang ditulis haruslah berkaitan atau mendukung tema plot utama. Kalau saat menulis draft kita merasa bahwa suatu adegan atau sub-plot melenceng terlalu jauh dari tema utama, ada baiknya kita pertimbangkan untuk merevisi atau bahkan sekalian menghilangkan adegan tersebut.

Tips sederhana yang bisa dilakukan agar kita tetap fokus adalah menulis besar-besar apa tema cerita kita, serta siapa tokoh utamanya, lalu menempelkannya di dekat meja tempat kita biasa menulis atau jadikan wallpaper laptop masing-masing. Dengan demikian kita akan selalu ingat untuk FOKUS pada IDE dan TEMA.

Final Note

Dari pengalaman-pengalaman tersebut saia belajar bahwa fokus adalah hal penting yang membantu kita saat merangkai cerita. Kalau mau diibaratkan, karakter dan plot itu ibarat kepingan-kepingan LEGO, sedangkan fokus adalah gambaran dasar mengenai bentuk yang ingin kita bangun.

Bayangkan kalau kita membangun dengan ratusan bahkan ribuan keping LEGO (karena umumnya ide-ide baru akan bermunculan di saat kita menulis, dan mencari data atau riset mengenai suatu kebudayaan) Tanpa adanya fokus, besar kemungkinan kita akan asyik sendiri bermain bongkar pasang dengan LEGO dan akhirnya bangunan yang hendak kita buat tidak terwujud.

Lalu apakah itu artinya kita nggak boleh mengganti bentuk bangunan walau saat menyatukan kepingan-kepingan LEGO kita menemukan bahwa bangunan yang hendak kita rancang tidak memungkinkan untuk diwujudkan dengan kepingan yang kita miliki?

Jawabannya boleh saja.

Di tengah menulis cerita, kita masih dapat mengganti plot dan karakter bukan? Nah kenapa nggak boleh mengganti fokus dan tema. Fokus dan tema dapat diganti kalau penulis merasa cerita yang disusunnya menjadi tidak menarik.

Namun yang perlu diingat adalah saat kita mengganti tema tersebut kita harus meninjau ulang seluruh cerita yang telah kita tulis. Apakah bagian-bagian awal yang sebelumnya kita tulis berdasarkan tema yang lama masih relevan dengan tema baru ini, atau sebaiknya direvisi pula?

Nggak lucu bukan, kalau awalnya kita sedang membangun menara Eiffel lalu tengah jalan bangunannya diubah jadi Piramida Giza tanpa mengubah bagian kaki menaranya?

Sebagai bahan latihan, cobalah membedah judul-judul film atau novel yang populer dan menganalisa ide dan tema utamanya.

Saia coba untuk menganalisa sebuah film yang menurut saia cukup oke, yaitu Pacific Rim.  Setelah menontonnya (dua kali  XD ) Saia mencoba menganalisanya dan menurut saia, IDE dasar kisah film itu adalah:

“Dengan bekerjasama manusia dapat mengatasi segala permasalahan.”

Ide itu saia amati muncul nyaris pada semua aspek film, tidak hanya pada adegan pertempuran akhir di dasar laut, namun juga pada konsep neural-drift untuk menyatukan pikiran dua pilot yang mengendalikan jaeger.

Ide tersebut juga terlihat pada TEMA Pacific Rim, yaitu:

“Ketika kaiju alien mengancam keselamatan bumi, manusia harus bersatu dan menggunakan teknologi  ultra cool giant mecha untuk mengalahkan mereka.”

Perhatikan bagaimana dalam loglines/ tema tersebut ide dasar mengenai bagaimana manusia bekerjasama untuk mengatasi masalah tersampaikan dengan jelas.

Merumuskan IDE dan TEMA memang nggak mudah, ada kalanya saia sendiri harus menulis dan merevisi draft berkali-kali sampai menemukan IDE dan TEMA yang mewakili kisah yang hendak saia sampaikan. Namun setelah berhasil merumuskan dua hal tersebut, saia merasa proses penyelesaian dan revisi berjalan dengan lebih lancar karena saia sudah tahu harus  FOKUS kemana  🙂

Advertisements

One thought on “Book Publishing 101 #Part 6

  1. tanya,, tanyaa,, kaaak,,, *ngacung jari tinggi-tinggi*
    kalo mau nulis cerita pasti kita harus punya ide dan tema. Idenya apa, temanya tentang apa, dll. dan mengembangkannya dalam alur cerita. Yah, seperti ada reka adegan film di otak kita kan? nah terus kita tinggal nulis sesuai dengan jalan pikiran atau alur adegan itu. iya kan??
    tapi sering banget aku dapet masalah yang ngejengkelin, yang bikin males untuk nulis. masalahnya aku sering mereka-reka adegan ide yang muncul di otak. Tapi nggak tau gimana caranya mengungkapkan cerita itu dalam kata-kata. nahlo, bingung deh! jadi kalo ditanya ama temen-temen gimana kelanjutan cerita yang saya buat, yah aku bilang ‘gak bisa diungkapkan dengan kata-kata’ (dalam artian yang sesungguhnya).
    nah gimana tuh cara nyiasatinya??
    trima kasih banget sebelumnya,, 🙂
    *maap kalo agak melenceng dari writing tips di atas….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s