Book Publishing 101 #Part 7

Setelah sekian lama menghilang dari blog ini akhirnya saia menemukan waktu untuk menulis dan sebuah topik yang saia rasa menarik untuk diangkat dalam rangkaian post “Book Publishing 101.”

Kali ini saia ingin membahas tentang salah satu hal yang jadi masalah bagi penulis (termasuk saia) saat mulai menyusun sebuah cerita, baik novel, cerpen, maupun naskah komik, yaitu memberi nama untuk para karakter.

Seberapa penting sih nama karakter?

Untuk menjawab pertanyaan itu mari kita coba mengganti nama-nama karakter utama dari novel saia Ther Melian Recollection.  Seandainya saja nama ‘Elya’ dan ‘Lucca’ kita ganti menjadi ‘Angelina dan ‘Brad’ bagaimana jadinya? Coba kita simak di sinopsis yang telah diedit seperti di bawah ini…

 ‘Saat berburu, Angelina menemukan seorang pemuda sekarat di antara jasad prajurit Legiun Falthemnar dan membawanya pulang untuk dirawat. Karena pemuda itu tak ingat jati diri atau bahkan namanya sendiri, Angelina memanggilnya Brad, yang artinya anak hilang.’

Saia gak tahu bagaimana dengan teman-teman sekalian, tapi terus terang saia membayangkan dua wajah ini begitu membaca sinopsis diatas…

Brangelina Pitt

Brangelina Pitt

Oke itu emang contoh yang super ekstrim ^^;

Tapi saia ingin menunjukkan bahwa memilih nama yang salah bisa berakibat fatal kepada naskah kita. Selain harus menghindari nama-nama yang terlalu populer (untuk lebih detilnya akan saia bahas lebih lanjut di bagian berikutnya) kita juga perlu memikirkan nama-nama yang ‘believeable’ atau  secara umum dapat diterima dalam setting novel dimana tokoh tersebut akan berperan.

Saia pribadi selalu berusaha menciptakan nama karakter yang sesuai, terasa/ terdengar ‘pas’, dan tidak menimbulkan perasaan bahwa karakter tersebut semata rekaan atau ciptaan.

Bayangkan kalau kalian mengambil sebuah novel romance remaja dengan setting Jakarta dan menemukan pada sinopsis novel tersebut nama karakter utamanya adalah Xena Maria Gabriella dan Hercules Alfonso Cuaron (oke yang ini saia 100% ngawur dan efek nyesel gak nonton Gravity di bioskop). Tapi bisa ngebayangin kan betapa ‘nggak-banget’ nya membaca sinopsis novel romance remaja lokal yang menampilkan nama-nama seperti diatas?

Alih-alih tertarik mengetahui kisah dalam novel tersebut, penamaan yang terlalu ajaib seperti contoh diatas mungkin akan bikin kalian tertawa terpingkal-pingkal menurunkan penilaian kalian atas novel tersebut bahkan sebelum kalian membaca ceritanya.

Fiction are Not Reality

Memang di era ini tidak terlalu aneh bahwa ada orang tua di kota seperti Jakarta yang mungkin menamai putra-putrinya dengan nama-nama seperti Xena dan Hercules (mungkin aja si ortu ini di tahun 90-an menggemari  serial Xena dan Hercules lalu menamai anaknya demikian). Saya bahkan mengetahui sendiri beberapa orang tua yang menamai putra-putrinya dengan nama karakter manga/ anime populer seperti ‘Kira’  dari Death Note, dan ‘Ciel’ dari The Black Butler.

Lantas, kalau nama-nama yang tidak umum seperti itu sudah cukup banyak disekitar kita, kenapa nama-nama tersebut nggak cocok untuk muncul dalam karya fiksi?

Ijinkan saia mengutip dari Tom Clancy untuk menjawab pertanyaan diatas.

The difference between fiction and reality? Fiction has to make sense.”  Kalau diterjemahkan pakai gugel translate artinya kurang lebih seperti ini: “Apa perbedaan antara karya fiksi dan realita? Karya fiksi harus masuk akal.”

Yup, karya fiksi harus masuk akal.

Nama yang terlalu ‘ajaib’ dan aneh dapat serta merta membuat pembaca potensial novel (atau editor penyeleksi naskah) mengernyitkan dahi dan meragukan kualitas naskah kita karena nama karakter yang terasa tidak masuk akal.

Memang nama bukanlah satu-satunya—dan tidak semestinya menjadi—metode penulis untuk membangun karakter dalam novel. Namun nama memegang peran penting untuk membangun dan menghidupkan seorang karakter.

Untuk menguji pendapat diatas, coba kita perhatikan nama-nama dibawah ini: (semua nama saia pinjam dari web ini)

Bening dan Cendekia.

Apa hal pertama yang terbayang oleh kalian saat membaca masing-masing nama diatas?

Kecuali mungkin kita pernah memiliki teman/ kenal dengan orang yang namanya seperti tertera diatas dan kepribadiannya bertolak belakang dengan makna nama mereka, kecil kemungkinannya bahwa seorang karakter penipu bermuka dua dan diberi nama ‘Bening’ dapat diterima dengan baik oleh pembaca. Demikian halnya dengan karakter bernama ‘Cendekia’ namun digambarkan malas, bodoh, tinggal kelas sampai berkali-kali bahkan terancam di DO.

Masing-masing nama diatas telah memiliki makna sendiri dan tentunya tidak akan mudah membuat pembaca menerima sifat karakter yang 100% bertolak belakang dengan makna nama tersebut.  Tentu saja masih ada pengecualian untuk kasus-kasus khusus. Dengan eksekusi yang tepat, kita masih bisa menamai karakter penipu dalam novel kita dengan nama ‘Bening’. Bahkan ironi antara makna nama dan kepribadian sang karakter dapat dijadikan bahan yang menarik untuk mempermanis jalan cerita. Namun tanpa pengolahan yang baik pemilihan nama yang tidak tepat dapat merusak bangunan kredibiltas sebuah kisah fiksi, atau merusak believeability-nya.

Memilih nama untuk karakter dalam novel dapat diibaratkan memilih nama  untuk seorang anak. Nama itu akan melekat dan menjadi bagian dari keseluruhan identitas si anak/ karakter tersebut, sehingga sangat penting bagi orang tua/ penulis untuk mempertimbangkan semua aspek sebelum memutuskan nama untuk anak/ karakter nya.

Berikut beberapa tips yang saia kumpulkan dari berbagai sumber—termasuk pengalaman pribadi saia—mengenai hal-hal yang perlu diperhatikan saat memberi nama karakter.

1. Sesuaikan nama karakter dengan genre novel.

Apakah novel yang kita tulis bergenre romance, horor, fantasi, atau komedi? Masing-masing tema membutuhkan nama-nama karakter yang tentunya sesuai dengan karakteristik genre.

Untuk novel fantasi bersetting Indonesia, kita bisa bereksperimen dengan nama-nama yang unik, seperti Bumi atau Cahaya. Namun sebaliknya nama-nama tersebut mungkin tidak sesuai untuk novel bergenre komedi remaja (apalagi kalau novelnya menggunakan gaya bahasa yang gaul).

2. Tentukan era dimana ceritamu bersetting sebelum memilih nama.

Sebagai contohnya, jika kita menulis novel dengan setting jaman Victorian di Inggris (seperti manga Emma) maka sudah sewajarnya kita memilih nama-nama Inggris yang wajar digunakan oleh orang-orang pada era tersebut; misalnya: James, George, Anna, dan Margaret. Nama-nama modern seperti Suri (Cruise?) dan Rayden tidak akan diterima oleh pembaca yang sudah terbiasa membaca novel yang bersetting era Victorian.  Dengan riset sederhana di google kita bisa mengetahui nama-nama apa yang umum digunakan pada suatu era dan menghindari kesalahan fatal dalam pemilihan nama.

3. Sesuaikan nama karakter dengan asal muasal mereka (baik itu negara atau etnis)

Bila kita menulis sebuah novel remaja yang bersetting di Surabaya misalnya, tentu wajar bila memiliki tokoh-tokoh dengan nama-nama seperti Adine dan Dea. Namun apabila kita tiba-tiba memunculkan tokoh love interest untuk diperebutkan Adine dan Dea, yaitu seorang pemuda tampan bernama Hachiro Adiwangsa dan tidak menyertakan penjelasan sama sekali mengapa bisa ada tokoh bernama Jepang di sebuah novel bersetting lokal, kita akan kesulitan meyakinkan pembaca dan editor bahwa para karakter dalam kisah kita ini beneran hidup dan tinggal di kota Surabaya.

Hal yang sama juga berlaku untuk novel fantasi, walaupun memang setting fantasi berbeda dengan dunia nyata, namun sebagai penulis kita tetap perlu memperhatikan konsistensi dan keselarasan saat memberi nama para karakter kita, khususnya kalau mereka diceritakan berasal dari kota/ desa/ negara yang sama.

Sebagai contoh, coba bandingkan contoh dibawah ini:

Caine,  Drake, dan Fillian, adalah tiga kesatria terbaik yang mengabdi pada Tuan Godfrey.

Dengan yang ini:

Cemerlang,  Diego, dan Fang Yin, adalah tiga kesatria terbaik yang mengabdi pada Tuan Gorou.

Contoh mana yang lebih nyaman dibaca? Mana yang nama-nama karakternya lebih menyatu dan lebih believeable?

Contoh pertama menggunakan nama-nama dari situs ini. Sehingga saat dibaca keempat nama tersebut turut memberikan rasa dan bangunan setting cerita dalam benak pembacanya.  Sedangkan contoh kedua mengambil nama-nama random dari Indonesia, Spanyol, Cina, dan Jepang. Sistem asal comot nama ini tentunya bikin pembaca garuk-garuk kepala dan mempertanyakan setting novel ini dimana?

Saia ngerti sih kalau itu fantasi, yang tentunya aturan dunianya nggak sama 100% dengan relita. Tapi bahkan dalam fantasi pun konsistensi pemilihan nama harus tetap diperhatikan. Karena pemilihan nama akan membantu menghidupkan dunia yang kita ciptakan, membuatnya lebih believable dan diterima oleh nalar pembaca umumnya.

Pada contoh pertama, kita bisa langsung membayangkan penggalan kalimat tersebut  berasal dari sebuah novel fantasi yang berlatarkan era medieval Inggris. Sedangkan contoh kedua kita mungkin akan garuk-garuk kepala membayangkan dari novel seperti apa tokoh-tokoh tersebut berasal. Sehingga alih-alih menghidupkan dan memberi rasa pada bangunan dunia, nama-nama tersebut justru menjatuhkan kredibilitas cerita.

Untuk menunjukkan bagaimana pemilihan nama sangat penting untuk membangun believeability dan menghidupkan sebuah universe dalam kisah fantasi, saia akan ambil contoh lain dari serial A Song of Ice and Fire karya Om George R.R. Martin.

Bagi yang belum mengikuti serial ini, saia akan menjelaskan sekelumit saja tentang settingnya agar kalian bisa membayangkannya. Sebagian besar tokoh-tokoh utama dalam novel ini seperti Eddard, Catelyn, Sansa, dan Arya tinggal di benua yang bernama Westeros, mereka dikenal sebagai kaum Westerosi.

Nun jauh di seberang benua Westeros, hiduplah bangsa nomaden yang dikenal dengan nama kaum Dothraki. Beberapa karakter yang berasal dari kaum Dothraki antara lain: Drogo, Rakharo, Jhiqui, dan Irri.

Dari contoh ini kita bisa merasakan sendiri bukan, perbedaan cara pemberian nama untuk kaum Westerosi dan kaum Dothraki yang dilakukan oleh Om George untuk menghidupkan universe ceritanya. Hanya melihat nama mereka saja kita bisa ‘merasakan’ perbedaan budaya dan kultur antara karakter-karakter tersebut bukan? 🙂

4. Hindari nama-nama selebriti atau nama tokoh dalam novel sejenis

Seperti yang diilustrasikan dengan contoh Brad dan Angelina diatas, menamai karakter dengan nama-nama tokoh/ selebriti akan mempengaruhi imajinasi pembaca (bahkan sebelum mereka mulai membaca cerita kita). Hindari juga menamai karaktermu dengan nama karakter dari novel/ serialisasi lain yang telah dikenal.

Coba bayangkan bagaimana perasaanmu jika kamu kebetulan berjalan-jalan di toko buku, kemudian menemukan sebuah novel fantasi yang baru terbit, novel tersebut bertemakan dunia sihir dan tokoh utamanya adalah anak berusia sepuluh tahun yang bernama “Harry”. Walaupun nantinya setelah dibaca ternyata kisah Harry yang ini berbeda total dengan kisah “Harry” yang itu, namun kesan pertama yang muncul saat membaca nama sang tokoh utama bisa jadi membuat beberapa pembaca potensial urung membeli buku tersebut, kan?

5. Baca nama karaktermu keras-keras

Jangan memilih nama yang sulit untuk dibaca. Nama-nama dari generator seperti  ‘Krokhazog’ ‘Cruoxuhre’, ‘Eoraexal’ mungkin terlihat ‘keren’ diatas kertas. Tapi cobalah minta beberapa teman kita untuk membacanya keras-keras, kita mungkin akan mendapatkan 10 hasil ejaan yang berbeda dari setiap nama.

Demikian pula dengan pembaca/ calon editor kita, apabila mereka harus bersusah payah hanya untuk menyebutkan nama sang tokoh utama setiap kali tokoh tersebut muncul dalam lembaran novel kita, besar kemungkinan nama tersebut justru menjadi bumerang yang menurunkan nilai naskah kita di mata mereka

6. Berhati-hatilah dengan nama-nama yang mirip

Terlalu banyak karakter yang memiliki nama serupa akan membuat pembaca binngung, apalagi jika kisahmu memiliki lebih dari 5 tokoh utama. Cara sederhana untuk menghindari kebingungan pembaca, kita bisa memilihkan inisial berbeda-beda untuk tokoh-tokohmu.

Saia akan mengambil contoh dari novel saia sendiri Recollection. Inisial nama para tokoh utamanya adalah E (Elya), L (Lucca), S (Sorren), K (Kael), V (Valadin), R (Recion).  Pada saat draft awal Recollection ditulis, karakter Recion masih bernama Elcion. Namun karena saia merasa bahwa nama Elcion terlalu mirip dengan Elya (sama-sama berinisial E memiliki awalan El) maka saia memutuskan untuk mengubah nama Elcion menjadi Recion agar tidak tertukar dengan Elya.

Selain inisial hindari juga nama-nama yang terdengar serupa, misalnya :

Billy dan Willy adalah sobat karib sejak kecil, namun semua berubah saat mereka mengenal gadis cantik bernama Jilly…

Oke, itu contoh yang terlalu ekstrim ^^; Tapi coba deh, kalau beneran ada novel kisah cinta segita antara Billy, Willy dan Jilly ini apa yang akan kita rasakan saat membacanya? Baca sinopsis diatas aja udah pusing, kan? Bayangkan betapa pusingnya nanti saat membaca  satu halaman penuh yang berisi narasi aksi dan dialog antara tiga tokoh itu…

7. Lakukan test market

Saat kita sudah memutuskan nama-nama karakter untuk cerita kita, catatlah daftar nama tersebut dan mintalah seorang teman yang belum pernah membaca atau mengetahui tentang cerita novel kita untuk melihat nama-nama tersebut dan mencoba membacanya keras-keras. Kita juga bisa meminta teman tersebut mengatakan apa hal pertama yang terpikirkan oleh mereka saat membaca nama karakter kita.

Misalnya kita sudah memutuskan bahwa protagonis kita adalah seorang anak yatim berhati mulia yang bernama ‘Krokhazog’.  Namun apabila semua oang yang membaca nama tersebut langsung membayangkan sosok Dark Lord berjubah hitam dengan suara tawa ‘MWUAHAHAHAHAHAHAHA’ yang cetar membahana, maka ada baiknya kita pertimbangkan untuk mengganti nama tersebut.

8. Jangan takut bereksperimen

Tentunya nggak asik juga kan kalau protagonis wanita pada novel kita yang wajahnya rupawan bak bidadari diberi nama ‘Jelita’ dan protagonis pria yang tampan, berkulit mulus bak gading diberi nama… ‘Gading’   😐

Nama yang terlalu apa-adanya dan terus terang seperti contoh barusan nggak oke juga kalau diterapkan di novel, kesannya kita seolah-olah menggunakan ‘nama’ tersebut sebagai satu-satunya metode untuk menegaskan identitas karakter. Padahal identitas karakter yang baik haruslah terlihat tidak sekedar dari nama, namun dari tindak tanduk, ucapan, dan perbuatan mereka di sepanjang kisah.

Untuk mensiasati ini kita dapat memilih nama-nama yang lebih netral, atau kalau sudah tidak dapat menemukan nama yang cocok kita bisa bereksperiman dan memadupadankan berbagai nama untuk menemukan nama yang unik. Namun tentu dengan tetap memerhatikan konsistensi dan keselarasan nama karakter dengan setting yang melatari novel tersebut.

Misalnya untuk karakter bernama Jelita tadi, kita bisa menggantinya dengan nama lain seperti ‘Amelia’ (yang juga berarti cantik). Atau jika kita merasa bahwa nama Amelia terasa kurang ‘pas’ untuk sang protagonis, kita bisa menggabungkan nama ‘Amelia’ dan ‘Jelita’ menjadi ‘Amelita’.

Nah sampai di sini mungkin kita masih merasa bahwa nama ‘Amelita’ terlalu panjang dan teman-teman kita juga kesulitan mengejanya, pada tahap ini kita bisa memotongnya lagi sehingga menemukan nama ‘Melita’ yang masih terdengar seperti Jelita namun tidak terasa ‘segamblang’ sebelumnya. (semua nama beserta artinya diambil dari web ini)

9. Carilah inspirasi sebanyak-banyaknya untuk nama karakter

Dari contoh-contoh yang saia sajikan diatas, mesin pencari google masih menjadi favorit saia untuk mencari nama bagi karakter. Berbagai website yang menyediakan nama-nama bayi dalam berbagai bahasa tersedia di jagad maya, dengan pencarian sederhana kita bisa mencari nama dari berbagai era dan dari seluruh belahan dunia.

Apabila nama-nama yang sudah tersedia terasa tidak menarik, kita selalu bisa memanfaatkan name generator yang juga banyak tersedia di jagad internet. Namun perlu diingat agar kita selalu berhati-hati saat menggunakan name generator, agar tidak melahirkan karakter yang terlalu ajaib namanya sampai tidak bisa dieja, atau bahkan disangka Dark Lord villain seperti Krokhazog, protagonis yatim kita yang malang…

Buku telepon (yellow pages) juga merupakan sumber nama yang menarik, khususnya jika kita sedang menulis naskah yang bersetting lokal. Kita bisa melihat mana nama-nama yang umum dipakai oleh masyarakat disekitar kita, dan apakah nama yang kita pikirkan terlalu ajaib sampai-sampai nggak ada kembarannya di buku telepon. Namun perlu diperhatikan apabila kita mencomot nama dari buku telepon, maka sebaiknya kita tidak mencomot mentah-mentah lengkap dengan nama keluarganya. Lakukan padu padan, pemotongan, dan penggabungan dengan nama lain untuk menciptakan nama karakter yang unik.

Buku arti nama bayi yang banyak tersedia di toko buku juga sangat berguna untuk memilih nama bagi karakter-karakter kita. Biasanya di buku bayi, nama-nama yang tertera juga dilengkapi dengan asal-usul dan arti nama tersebut. Jangan lupa melakukan kros-cek dengan mesin pencari google untuk memastikan apakah nama yang kamu pilih untuk karaktermu sudah sesuai dengan era dan setting dimana karakter tersebut berasal nantinya 🙂

Final Note…

Saia rasa demikian sharing saia tentang penamaan karakter dalam novel. Bagaimana penamaan yang baik dapat turut membangun keutuhan dan kredibilitas sebuah karya fiksi, dan bagaimana penamaan yang salah justru dapat menjadi bumerang bagi sebuah karya.

Semoga ocehan panjang ini bermanfaat bagi teman-teman yang saat ini tengah berjuang menamai karakternya. Apabila teman-teman punya pendapat lain, atau pengalaman pribadi yang menarik berkaitan dengan penamaan karakter dalam novel yang kalian tulis, kalian dapat membagikannya di kolom komentar ^_^

Advertisements

5 thoughts on “Book Publishing 101 #Part 7

  1. Kasihan Krokhazog. Ia jadi bulan-bulanan Shienny di sini. Padahal aku bisa sebut namanya dengan adaptasi dialek fantasiyah dalam satu dua kali baca menjadi Krohaa-syoh. *ditendang ke langit*

    Hehehehe…. Aku mampir lewat ya, Shien. ^^/

    • hahahaha itu nama hasil generator kok, dan dari beberapa kali generate, itu nama yang terparah emang XD jadi emang nasibnya buat dijadiin bulan2 an :v :v

      thanks udah mampir ^_^

  2. Kak nanya dong, dulu kakak waktu ngasih naskahnya ke Gramedia prosedurnya gimana ya? Dan caranya biar diterima selain faktor internal dari novelnya apa ya? Makasih sebelumnya! Duh maaf comment sebelumnya delete aja, belom dicentang notify ke e-mail…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s