Book Publishing 101 #Part 7

Setelah sekian lama menghilang dari blog ini akhirnya saia menemukan waktu untuk menulis dan sebuah topik yang saia rasa menarik untuk diangkat dalam rangkaian post “Book Publishing 101.”

Kali ini saia ingin membahas tentang salah satu hal yang jadi masalah bagi penulis (termasuk saia) saat mulai menyusun sebuah cerita, baik novel, cerpen, maupun naskah komik, yaitu memberi nama untuk para karakter.

Seberapa penting sih nama karakter?

Untuk menjawab pertanyaan itu mari kita coba mengganti nama-nama karakter utama dari novel saia Ther Melian Recollection.  Seandainya saja nama ‘Elya’ dan ‘Lucca’ kita ganti menjadi ‘Angelina dan ‘Brad’ bagaimana jadinya? Coba kita simak di sinopsis yang telah diedit seperti di bawah ini…

 ‘Saat berburu, Angelina menemukan seorang pemuda sekarat di antara jasad prajurit Legiun Falthemnar dan membawanya pulang untuk dirawat. Karena pemuda itu tak ingat jati diri atau bahkan namanya sendiri, Angelina memanggilnya Brad, yang artinya anak hilang.’

Saia gak tahu bagaimana dengan teman-teman sekalian, tapi terus terang saia membayangkan dua wajah ini begitu membaca sinopsis diatas…

Brangelina Pitt

Brangelina Pitt

Continue reading

Book Publishing 101 #Part 4

Understanding Genre

Pertama. Jujur aja deh… Saia nggak akan mengklaim sebagai expert atau ahli dalam topik genre yang akan saia ulas kali ini >_< Entri ini pun, saia tulis sebagai bentuk keinginan saia untuk belajar dan memahami setiap genre, dan mengidentifikasikan tulisan saia sedekat mungkin dengan genre yang saia inginkan.

Kedua. Mengapa tulisan mengenal genre ini saia golongkan ke entri Book Publishing?  Karena suka atau enggak suka kemampuan mengenali genre tulisan, dan menentukan dengan benar termasuk genre apa karya yang kita tulis, serta mengarahkan fokus cerita hingga tepat pada genrenya bisa berdampak besar terhadap seberapa besar kemungkinan karya tersebut dipublikasikan. (Lebih jelas tentang hal ini akan saia bahas di akhir entri)

Dan Terakhir… Sebelum mulai membahas, saia mengingatkan dahulu kalau tulisan ini—seperti biasa—ditulis berdasarkan pengalaman pribadi, dan didukung oleh sedikit riset yang saia lakukan via mesin pencari google, dan berbekal materi dari kelas Novel Writing Class yang pernah saia ikuti.  Jadi kalau teman-teman menemukan hal-hal yang sekiranya terlewat oleh saia, silahkan menambahkan di kolom komentar pada blog ini. Atau tulislah entri serupa di blog teman-teman, dan nanti tautannya akan saia pasang di halaman ini untuk memperkaya informasi ^_^

What is Genre

Oke mari kita mulai topik ini dengan pertanyaan paling sederhana… Genre itu apaan sih? ^^;

Continue reading

WINNER Ther Melian fanfiction contest

Selamat Tahun Baru 2013

Semoga di tahun baru ini segala harapan dan kerja keras kita dapat terwujud~

Nah sesuai janji, hari ini kami akan mengumunkan tiga pemenang utama “Ther Melian fanfiction contest”

Setelah memilih 7 karya finalis dari 21 karya  peserta lomba, kami akhirnya berhasil menentukan tiga karya terbaik, mereka adalah:  (diurutkan secara alfabetical)

1. “Liontin Kristal” oleh Brown

2. “Malam Terpanjang” oleh Ghia K.

3. “Tilas Mawar Cadas” oleh Luz Balthasaar

Selamat kepada para pemenang, masing-masing berhak atas hadiah berupa uang tunai senilai Rp 250.000,- dan paket buku masing-masing Rp 150.000,-(buku bisa dipilih sendiri oleh pemenang dari website: http://gramediapustakautama.comhttp://elexmedia.co.id,http://penerbitkpg.com)

Karya pemenang beserta finalis lainnya dapat dibaca di “Ther Melian Anthology” yang akan terbit awal Februari 2013.

Ther Melian Anthology

Seluruh panitia dan penyelenggara lomba mengucapkan terima kasih sekali lagi atas partisipasinya. Kami juga meminta maaf apabila dalam pelaksanaan lomba ini ada hal-hal yang dirasa kurang berkenan, semoga kami dapat memperbaikinya pada kesempatan lain.

Akhir kata, kami berharap agar melalui lomba ini-walaupun kecil- kami dapat menyalakan semangat untuk menulis fiksi fantasi dalam diri teman-teman.

Sampai bertemu lagi pada kompetisi-kompetisi lainnya, dan selamat menyambut 2013~

Ther Melian fanfiction contest FINALIST!

Yak~

Setelah seharian menikmati cerpen-cerpen keren hasil karya peserta “Ther Melian fanfiction contest” kami akan menutup pengumuman tahap ke II hari ini dengan nama-nama tujuh finalis yang  berhasil masuk ke babak final.

Tidak mudah memilih 7 karya terbaik diantara 21 karya yang memiliki keunikannya masing-masing.  Namun setelah melalui berbagai pertimbangan, kami akhirnya berhasil menemukan tujuh finalis. Mungkin teman-teman yang mengikuti keseluruhan penayangan cerpen hari ini sudah bisa menebak siapa-siapa saja finalisnya bukan, mereka adalah: (diurutkan secara alfabetical)

1. “Awal Baru” oleh Elwin

2. “Festival Pertama” oleh Katherin H.S.

3. “Kenangan” oleh Feby Anggra

4. “Liontin Kristal” oleh Brown

5. “Malam Terpanjang” oleh Ghia K.

6. “Tilas Mawar Cadas” oleh Luz Balthasaar

7. “Vrey & Ornata” oleh R.A. Zhang

Selamat kepada para finalis, tujuh karya diatas mendapatkan slot istimewa dalam buku “Ther Melian Anthology” yang akan terbit awal Februari 2013.

Ther Melian Anthology

Continue reading

“Vrey’s Confusion” oleh Fairy Lucyka

Vrey’s Confusion

Takut.

Perasaan itu selalu mengganggunya. Perasaan yang telah menggelayuti hatinya selama satu tahun belakangan ini. Perasaan yang akan selalu mengikutinya, selama ia masih berada di tempat terkutuk itu.

Vrey tidak mampu memungkiri perasaannya sendiri. Ia merasa takut. Takut akan segala yang ada di sekitarnya. Ia, Vrey sang pencuri handal, yang selama ini terkenal akan keberanian dan kenekadannya, hanya mampu pasrah melawan perasaannya itu.

Hanya perasaan takut yang terpancar dari iris violetnya. Setiap orang yang menatap balas matanya, yang terpancar adalah rasa takut. Hal ini tentu mengundang tanda tanya besar. Mengapa Vrey harus takut?

Alasannya hanya satu yaitu Leighton.

Ya, Leighton Thaddeus Granville, sang raja kerajaan Granville yang dikenal Vrey secara tak sengaja. Perkenalan secara kebetulan tersebutlah yang akhirnya membawa kedua insan tersebut berpetualang bersama, untuk menyelamatkan dunia, yang pada akhirnya membangun sebuah perasaan di antara mereka berdua. Perasaan cinta.

Leighton, pemuda yang sekarang menyandang status sebagai kekasih Vrey sekaligus status sebagai pemimpin kerajaan Granville. Orang terpenting yang dimiliki oleh Vrey sekarang, setelah rekan-rekannya di komplotan Kucing Liar dan juga Laruen, saudara kembarnya.

Banyak kejadian yang menyebabkan ketakutan Vrey terbangun. Dan ia sendiri sebenarnya sudah menyadari hal tersebut sejak lama.

Status. Status dirinya. Status Leighton.

Continue reading

“Recall of The Past” oleh Mimosa Hana

Napasnya tersengal-sengal  dan ekspresi wajahnya tampak kepayahan.     Leighton menabrakkan tubuhnya sekali lagi ke arah pintu dan suara benturan yang keras kembali terdengar.  Namun seperti menegakkan benang basah, usahanya sia-sia saja.   Pintu kamar pengasingan itu tetap berdiri kokoh dengan angkuhnya.   Baut-baut logam yang memperkokoh pintu seolah ikut menertawakan dirinya karena tidak ada satupun yang melonggar akibat benturan yang berulang-ulang.

Tenaga pemuda berambut pirang itu kini nyaris habis, tetapi ia tidak ingin berhenti.   Ia harus segera melakukan sesuatu untuk menyelamatkan Vrey dan Rion.    Matanya memandang ke sekeliling untuk mencari alat yang dapat membantunya untuk kabur dari tempat itu.  Ia mengambil sebuah kursi tua yang terletak di sudut ruangan dan mengayunkannya ke arah pintu, menimbulkan bunyi derak yang cukup keras.

“Ayo, buka!  Aku harus keluar dari sini!”  Leighton kembali membenturkan kursi yang sudah tak berbentuk lagi.  Ia melemparkan kayu terakhir ke lantai batu dengan kesal.  Di kamar itu barang yang tersisa hanyalah meja dan dipan kayu yang disangga rantai logam.  Jika ia bisa melepas rantai-rantai tersebut, ia bisa menjadikannya sebagai alat penjebol pintu.  Namun bagaimana caranya melepas rantai-rantai tersebut?

“SIAL!”  Leighton memukulkan tangannya ke tembok.  Ia benci berada di situasi seperti ini.  Ia benci merasa tidak berdaya.  Ia kecewa dengan sikap Sang Raja yang sama sekali tidak menghiraukan suratnya.  Ia juga benci dengan kenyataan bahwa Sang Raja, ayahnya, lebih mementingkan keselamatan  kerajaan dibanding mendengarkan dirinya.

Suara langkah kaki yang datang mendekat membuatnya waspada.  Suara itu begitu ringan dan nyaris tidak terdengar.  Hanya ada satu orang yang memiliki ciri khas seperti itu dan bahkan sebelum Leighton melongokkan kepalanya lewat celah jeruji berbentuk kotak di pintu, pemuda itu sudah mengenali sosok yang mendatanginya.

Continue reading